
Muna akhirnya menepati janji hanya bekerja ke rumah sakit saat week end saja. Setelah mengalami insiden yang tidak mengenakan beberapa waktu sebelumnya. Saat Muna ingin mencoba untuk masuk aktif tiap hari. Dengan alasan toh Kevin juga terlihat sibuk di perusahaannya.
Yang ternyata keaktifan kehadirannya itu di manfaatkan oleh seseorang yang selalu berusaha dekat dan bertindak manis padanya.
"Haii selamat pagi ibu direktur cantik?" Sapa dr. Budi Pramana ramah.
"Oh... Hai selamat pagi juga pa dokter Budi." Jawan Muna datar tanpa senyum.
"Saya perhatikan sudah sebulan saja ibu aktif bekerja. Benar-benar wanita tangguh dan pantang menyerah. Dengan perut yang makin membesar, tapi ibu masih getol saja turun bekerja." Budi mengambil tempat untuk duduk di samping Muna, hampir tak memberi jarak.
"Pekerjaan ini menyenangkan pa dokter, mampu mengusir sepi di rumah." Muna sedikit menggeser posisi duduknya, agar berjarak dengan dokter yang sangat terlihat ingin menggodanya.
"Huum... Jadi kesepian niih ceritanya? Suami sibuk di luar ya?" tebak Budi asal dengan suara yanh di buat serenyah mungkin, kacaang kali.
"Oh bukan, bukan itu maksud saya. Hanya saat di Apeldoorn, saya kan masih aktif kuliah. Jadi, pas di sini tiba-tiba jadi ratu yang selalu dikelilingi orang-orang yang menyayangi saya dengan kadar yang berlebihan, membuat saya kurang lincah." Tegas Muna.
"Huum...begitu. Waah... Tau akan bertemu direktur muda dan cantik seperti ini. Saya nyesal lho ambil spesialis penyakit dalam bu."
"Kenapa?"
"Jadi ga punya alasan menjadi dokter yang menangani kandungan ibu direktur." Kekehnya.
"Pa dokter Budi bisa saja." Dengan bibir atas yang di angkat sebelah, Muna menyeringai.
"Eh... Bu. Yakin kerja cuma ngusir sepi? Bukan karena jablai kan?"
"Gimana?"
"Sayang... Ngemall yuk. Kita belum belanja keperluan baby." Tiba-tiba Kevin datang ke tempat Muna dan dr.Budi sedang mengobrol. Bahkan di akhir ucapannya Kevin langsung melahap bibir Muna tanpa ragu dan malu, sadar jika dr.Budi masih berada di depan mereka.
"Hmm sayang... Di tungguin lho dari tadi. Permisi ya pa dokter Budi." Pamit Muna yang tak menghiraukan tatapan kesal dokter nekat tersebut.
Masih dengan pelukan erat dan terlihat mesra Kevin dan Muna sudah keluar dari lingkungan rumah sakit, kemudian masuk mobil. Kevin sendiri yang mengemudikan laju mobil tersebut.
Tetapi tidak ke arah mall seperti yang Kevin sampaikan tadi. Melainkan hanya bergerak 10 menit dan masuk ke halaman rumah mama Rona.
Wajah Kevin mendadak kaku. Diam seribu bahasa. Hanya tangannya yang masih mengait lengan Muna, bahkan lebih tepatnya menyeret Muna agar segera masuk ke kamar.
"Kita ga jadi ke mall?"
"Mandi...!!!" Perintah Kevin dengan nada dingin.
Muna menurut saja, toh waktu memang menunjukan pukul 4 sore.
"Kita jadi ke mall kagak nih bang?" tanya Muna yang masih menggunakan bathrobe dan berdiri di depan walk in closet untuk mencari pakaian apa yang akan ia kenakkan.
Kevin masih diam. Memilih rebahan saja di atas tempat tidur mereka dengan pakaian kerja yang masih lengkap.
"Yang... Jadi jalan ga? Kalo ga, Muna dasteran aja, trus ikutan rebahan deh, cape." Rengek Muna yang belum menyadari perubahan wajah suaminya.
__ADS_1
"Yaaang... Sayang kenapa sih?" desak Muna.
"Bang..., Kenapa?" Muna mulai sadar.
"Yaaang...iih. Ngape sih ni orang. Abang marah?"
"Menurut loe?" Kevin sudah tidak menggunakan panggilan sayangnya.
"Marah ngape?"
"Oh... Ga ngerasa?" nada suara Kevin naik satu oktav.
"Aduuh... Buruan kita jalan kagak nih. Muna kedinginan kalo pake beginian terus." Rengeknya yang mulai tak nyaman.
"Ya... Dan itu juga penting kamu ceritain sama lelaki lain di luar sana...!!!" Hardik Kevin.
"Oh mai got. Laki aye cemburu nih ceritanya. Bentar." Jawab Muna yang kemudian berjalan mengambil pakaian yang akan ia gunakan.
Namun sebelumnya mengambil lotion dan minyak kayu putih untuk di usap keseluruh permukaan perut dan tubuhnya. Otomatis bathdrobenya di biarkan jatuh melesat saja dong di lantai.
Muna dengan cueknya saja, begitu dramatisir terus mengusap lotion itu mulai dari mata kaki berarak makin ke atas, tanpa peduli dengan tatapan skeptis alias tak percaya Kevin akan pertunjukkan yang di pertontonkan istrinya untuknya. Sengaja. Ya... Jelas sekali dari gerak bahasa tubuh Muna ia sedang ingin menggoda iman suaminya sendiri.
"Mae mau goda abang?" Mulai kembali ke mode sayang.
"Kagak."
"Ya harus lah. Biar mata abang tuh jelas liat nih perut udah segede apa? Masa bininya di cemburui... Sape sih bang yang demen ame bini orang yang lagi bunting ini." celetuk Muna.
"Tuh... si dokter tadi apa coba kalo ga suka sama Mae."
"Urusan dia dong. Bukan urusan Muna bang. Sejak awal kenal aja dia tau Muna istrinya abang."
"Tapi dia masih single Mae."
"Bodo." Ganti Muna yang jutek.
"Mae... Istri abang itu cantik. Dia itu udah ngincar Mae bahkan sejak sebelum kita nikah yang. Dia jatuh cinta sama kamu."
"Mau jatuh cinta...? Ya jatuh aje, nyungsep sekalian. Salah aye apa?"
"Ya... Jangan kasih kesempatan dia deket Mae dong."
"Sapa yang kasih kesempatan?"
"Lah tadi ngobrol akrab, ketawa bareng, ramah gitu." Jengkel Kevin.
"Terus aye harus diem aje gitu ame orang yang negur aye gitu? Kurung bang, penjara aje aye sekalian. Jadi suami kok ga percaya diri banget sih." Muna sudah membalut tubuhnya dengan piyama tidur serba panjang.
Lalu mengambil tempat di sebelah Kevin. Dengan posisi miring membelakangi Kevin.
__ADS_1
"Kok jadi Mae yang marah sama abang. Kan mestinya abang yang marah sama Mae. Manis-manis ngobrol gitu di kantor. Pantesan janji ngantor 3 hari doang, eh kenyataannya 6 hari full." Umpat Kevin dengan dagu yang mengeras, jelas ia sangat kesal dari rupanya.
"Ohh... Baby. Jangan tiru papap ya. Papap orangnya suka gitu. Banyak alasannya suka muter-muter. Padahal kan papap tinggal bilang aja ke mam, sayang... Inget janji kerja cuma weekend ya mam. Lah ini, pake acara marah karena mam ngobrol sama dokter itu segala." Muna pura-pura bicara dengan calon anak yang masih ngedekem di perutnya.
"Emang... Kalo abang minta Muna ga turun kerja tuh nurut apa sama suami?"
"Ngobrol bang ngobrol. Beban perut aye ude berat, jangan suruh Muna tebak-tebakan isi kepala abang juga. Ya udah bulan depan kembali ke perjanjian awal 3 hari kerja, dan wajib di kawal. Ntar cemburu buta ga jelas lagi. Sendirinya suka ijin dinas luar 3 hari aslinya molor. Istri mana yang kaga kesepiam, hah?" ternyata amunisi Muna bahkan lebih banyak dari persediaan Kevin.
"Iya... Iya maaf sayang. Abang yang salah. Mae mana pernah turun full gitu kalo bukan karena abang yang juga sibuk. Tapi pliis yang, hindari si dokter Budi itu. Beneran dia itu temennya Belia, naksir kamu lho."
"Ya wajar laah... Aye hamil aje cantik apalagi ramping."
"Mae...? Dia itu dokter lo. Kali bini abang kepincut."
"Hah. Maaf ye bang. Muna sebage OB aje dapetnye CEO. Apalagi sekarang. Istri abang tuh direktur." Muna membalik arah tubuhnya ke hadapan Kevin.
"Sombong amat." Umpat Kevin.
"Abang siih... Kagak percaya diri banget. Sikap cemburu itu hanya ada bagi orang yang ngerasa dirinya kagak mampu, atau merasa rendah diri dari pesaingnya. Come on pap. Kevin itu sudah di atas segalanya lho di hati Muna. Kurang percaya apa lagi sih."
"Maaf... yang maaf. Abang cuma takut kehilanganmu."
"Lebay... Jadi bobol kartu belanja ga nih?"
"Jadi dong. Mae ganti baju deh. Abang mandi bentar." Semangat Kevin berkobar kembali mengajak istrinya belanja keperluan pakaian baby.
Bersambung...
Hah....??? segitu aja marahannya?
Kurang greget kan ya?
Makasih suport kalian semua ya🙏
Mawar di hinggapi kup-kupu,
Sebab indah mempesona.
Selamat hari ibu,
Untuk readerku semua
Tanam jangung tanam tebu,
Tanaman genjer tumbuh di rawa.
Jangan lupa berterima kasih pada ibu,
Di telapak kakinya adalah surga.
__ADS_1