
Kevin berjalan dengan satu tangan yang di masukan pada saku celananya, sementara yang satunya lagi masih memegang tangan Muna dengan kuat masih dengan tampang cuek dan datarnya.
Sampai di dalam lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai dasar. Tangan Muna masih di pegangi oleh Kevin, tanpa ada rasa cemas, malu atau khawatir akan isu yang jelas akan beredar seantero perusahaan itu nantinya.
"Abang... Muna kagak bakalan lari n ilang juga kali bang. Lepasin... ntar di lantai dasar banyak yang liat." Muna masing merengek namun tidak di tanggapi oleh Kevin.
Ting
Pintu terbuka di lantai 15. Tampak beberapa orang sudah berdiri di ambang pintu ingin masuk dan turun ke lantai dasar. Sebab saat itu memang jam pulang bekerja.
"Turun pakai tangga atau menunggu lift berikutnya!!" Hardik Kevin pada orang-orang yang ada di depan mereka. Yang tentu saja sempat melihat tangan Kevin yang tanpa malu tetap memegang pergelangan tangan Muna. Dan pintu lift tertutup kembali.
Sesampai di lantai dasar, tentu saja semakin banyak pasang mata melihat Kevin yang seolah menarik paksa Muna agar mengikuti arahnya.
Mobil Kevin sudah terparkir di depan pintu keluar, di siapkan oleh petugas yang memang telah Kevin perintahkan.
"Masuk Mun." Kevin membuka pintu mobilnya agar Muna masuk ke dalam mobil sport miliknya.
"Kita kemana? Muna pake motor Muna aja. Muna janji pasti ngikut deh."
"Kita pakai mobil ini atau kita pakai motormu?" Tawar Kevin berbauu ancaman.
Muna tidak mau memperpanjang perdebatan mereka. Dengan wajah yang di tekuk Muna pun masuk dan duduk manis seraya menundukkan kepalanya, agar orang-orang di luar tidak jelas melihat wajahnya yang pasti esok akan menjadi tranding topik di perusahaan itu.
Kevin mengajak Muna berhenti di sebuah cafe yang menyajikan masakkan khas Belanda.
Kevin mungkin tipe laki-laki yang egois sehingga ia tidak memberikan kesempatan untuk Muna memilih makanan yang akan mereka santap di sana.
Tampak pelayan cafe tersebut datang dengan membawa dua jenis minuman berbeda warna dan rasa tentunya. Yaitu Verse Munt Thee yaitu sebuah minuman dengan rasa mint yang khas, dapat di nikmati dengan tambahan lemon dan madu agar menambahh rasa segar dan enak untuk minuman tersebut. Minuman itu langsung Kevin sodorkan pada Muna.
"Ini buat Muna. Jamin Muna pasti suka."
Sementara Kevin lebih memilih Koffie Verkeerd yang merupakan kopi latte khas negara Belanda. Banyak yang mengarahkan bahwa koffie verkeerd mirip dengan cafe latte yang merupakan minuman khas Italia. Namun bagi Kevin kedua minuman itu selalu mengingatkannya pada maminya yang juga masih ada keturunan Belanda dari sang kakek.
"Seger banget ya bang, Muna suka."
"Apanya ..."
__ADS_1
"Minumannya lah."
"Kirain suka sama abang." Pancing Kevin.
Muna cuma nyengir.
"Tenang...tenang ye hati ...ini ujian. Jangan lupa ini si bang Ke adalah orang mesum. Kagak boleh baper." Muna mengingatkan dirinya sendiri dalam hati. Muna pura-pura sibuk saja meminum kembali minuman pilihan Kevin.
Kemudian pelayan datang lagi membawa sebuah nampan berisi kudapan yang juga populer di Belanda. Mungkin sama seperti gorengan di Indonesia. Namanya Bitterballen berbahan dasar daging sapi atau ayam yang di tambahkan bumbu-bumbu agar lebih terasa gurih, di goreng dan biasanya disajikan dengan mustar ‘Bitterbal’ dengan lapisan tepung roti yang renyah dengan isian lembut di bagian dalam.
Juga sebuah makan Stammpot yang merupakan salah satu hidangan tradisional Belanda yang halal, makanan ini berbahan dasar menggunakan kentang tumbuk yang kemudian di campur dengan sayuran seperti kale, wortel, endive atau sauerkraut.
"Nah, ini Mun sudah lengkap semua nih hidangan yang mau abang perkenalkan sama Muna. Tugas Muna sekarang adalah memakan semua makanan dan cemilan ini. Kemudian mempelajarinya."
"Ya elllah bang. Dikirain Muna di traktir doang makan makanan beginian. Ternyata Muna di suruh belajar selanjutnya."
"Ini perintah lho Mun, nanti abang naikin gaji Muna kalo berhasil bikin ini dengan enak dan sempurna buat abang."
Kedua mata Muna berbinar ceria.
"ini Stammpot dan ini bitterballen. Kemaren macaroni Muna udah lulus kan bikinya. Sekarang ini lagi PRnya." Kevin seolah mengerti jika tipe Muna tentu tidak bisa hanya di beri uang tanpa bekerja. Maka dengan trik ini Muna akan merasa tertantang dan penuh tanggung jawab akan pekerjaannya.
"Huum... ini pan cuma kentang yang di haluskan bang. Kaya Muna ngadon perkedel doang. Hanya campurannya lebih banyak aja dari biasanya." Ucap Muna menilai rasa sebuah makan di hadapannya.
Kevin tersenyum manis ke arah Muna sambil tetap menikmati hidangan yang sama dengan Muna namun di piring yang berbeda.
"Kalo ini nyang enii nih... mirip kroket aja bang. Tapi Muna blon pernah buat yang dari daging kayak gini."
"Berati Muna bisa dong buatinnya. Yuk buruan. Kita ke market cari bahan. Setelah ini Muna buat di apartemen abang, oke?" Ajak Kevin yang sudah terlihat buru-buru saja menghabiskan semua hidangan mereka.
"Boleh ga bang kagak hari ini buatnya, ini pan udah deket magrib. Muna kagak enak sama babe kalo pulang telat."
"Kan tadi abang sudah ijin sama babenya Muna. Abang yang anterin pulang deh."
"Kaga use deh bang. Anterin Muna ke kantor lagi aja. Pan motor Muna masih di sono."
"Ya sudah hari minggu aja, pas libur Muna masak di aparteman abang ya. Sekarang abang mau ajak Muna ke suatu tempat."
__ADS_1
Muna tidak memiliki alasan untuk menolak ajakan Kevin tersebut, sebab walau ia tau Kevin termasuk pria mesum. Tetapi, sejauh kedekatan mereka selama ini, Muna tidak pernah di perlakukan tidak senonoh oleh Kevin. Sehingga Muna tidakperlu merasa takut.
Matahari telah perlahan kembali keperaduannya, tampaklah sebuah pemandangan indah yang sangat memanjakan mata setiap orang yang melihat akan kebesaran ciptaan sang khalik. Kevin dan Muna kini telah berada si Seggara Ancol tempat yang cozy, nyaman dan tenang yang sangat mirip dengan Seminyak Bali.
"Aje gileee, abaaaang. Busyeeeet Indah banget matahari tengelemnye. Sumpe bang. Mune tuh kagak pernah kemari. Ya oloooh toloongin Muna bang.. toloongin. Pliis. Yaah jadi norak deh Muna." Dengan gaya katrok dan udik nya Muna tidak dapat menutupi keterkesimaannya pada pemandangan sunset di sana.
Kevin terkekeh melihat tampang takjub yang Muna tunjukkan.
"Abang bisa nolongin Muna dengan apa....? Ga usah teriak gitu, sudah seperti mau kelelep saja." Hardik Kevin dengan pelan, agak malu dengan keudikan gadis cantik yang ia bawa ke tempat itu.
"Hihiii.... maaf bang. Muna benar girang banget. Ini... tolong foto in Muna ye bang. Maaf... anggap aje abang bukan bos Muna." Muna menulurkan ponsel buluknya pada Kevin.
"Ga usah Mun. Biar pake punya abang aja, nanti abang kirim ke Muna deh."
"Ngapa...? Hape Muna jadul yak." Tebak Muna agak tersinggung.
"Tidak... hanya. Abang tidak biasa pake ponsel orang. Takut salah pencet." Bohong Kevin yang sebenarnya modus ingin menyimpan beberapa foto Muna.
Bersambung...
Cie...cie reader nyak Otor pada senyum-senyum niih 😁
Keliling kampung mencari duku
Apalah daya masih musim duren
Readerkuh, kasih jempol dulu
Buat ceritaku yang makin keren
Cakeeep 🤭🤭🤭
Ngarep banget si nyak otor yaaah
Lopeeh buat keleen semuanyg udah dukung yaaak❤️❤️❤️
__ADS_1