
Gita, Gilang dan Ninik sudah menyusul ke dalam bus yang akan mengangkut mereka ke tempat yang akan mereka tuju.
Kevin langsung buang muka, melihat ke arah luar jendela agar tidak melihat pasangan pengantin baru tersebut.
Keadaan di dalam bus sudah penuh, Gita sedari tadi hanya memegang tangan Ninik. Seolah tak dapat di pisahkan. Dan memilih duduk bersama teman satu kost nya itu, agar hubungannya dengan Gilang tidak kentara.
Tanpa pikir panjang, Gilang dengan cueknya saja duduk di sebelah Kevin. Yang memang hanya duduk sendiri di double **** itu.
Suasana cukup dingin, sama seperti cuaca yang sedang menyelimuti perjelanan mereka. Ada derai tawa, juga canda yang kadang keluar dari celetukan para pegawai lain yang sungguh sangat meneikmati momen perjalanan dinas ini.
Rombongan itu sudah tiba pada satu perusahaan cukup besar, bergerak dalam bidang yang sama seperti perusahaan yang sekarang Kevin kembangkan di Bandung.
Kedatangan mereka di sambut baik oleh direktur utama perusahaan tersebut dengan sangat ramah. Kemudian mereka juga di ajak untuk melihat sekeliling cara kerja produksi obat-obatan disana.
Bahkan Kevin merasa perusahaannya sangat kecil jauh sangat kerdil. Sebab perusahaan itu lebih fokus pada upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, melalui penyediaan produk-produk obat inovatif, program akses terapi bagi pasien, program peningkatan kapasitas (capacity building), dan edukasi masyarakat.
Dan inilah poin yang dapat Kevin tiru saat pulang nanti, sebab ini adalah masa mereka sedang mengkajinya.
"Lang... kamu perhatikan fokus mereka. Tidak melulu pada penjualan obat-obatan. Tapi bahkan lebih pada program terapi. Sepertinya kita harus menambah akses ke bagian itu. Saya sangat tertarik. Sebab jaman ini, masyarakat kita tak selalu membutuhkan obat, pil atau kapsul. Terapis juga sangat membantu percepatan kesembuhan penderita suatu penyakit." Kevin sudah lupa dengan kekesalannya tadi. Ia akan berubah menjadi lebih serius lagi saat mereka bekerja.
"Siap pa, sepertinya perusahaan ini terus mencari langkah yang lebih baik untuk mencegah, mendiagnosis, dan menangani berbagai penyakit, serta memberikan kontribusi yang berkesinambungan untuk kesehatan." Gilang tak kalah serius dalam hal menyimpulkan apa yang telah ia temui.
"Hmm... memang perusahaan ini dapat terus berupaya untuk meningkatkan akses pengobatan inovatif kepada pasien dengan bekerja sama dengan para pemangku kepentingan. Termasuk dalam Daftar Model Obat Esensial World Health Organization (WHO), di antaranya antibiotik, antimalaria, dan obat kanker. Selama delapan tahun berturut-turut Dow Jones Sustainability Indices (DJSI) memberikan penghargaan kepada perusahaan ini sebagai Group Leader yang memberikan kontribusi secara berkelanjutan di bidang Farmasi, Bioteknologi & Industri Riset Kesehatan. Kita tentu tidak ada apa-apanya di bandingkan prestasi mereka. Tapi setidaknya kita bisa meniru cara kerja mereka pelan-pelan. Bukan begitu Danu...?" Kevin juga melemparkan diskusinya sambil berjalan dengan para pegawai lainnya.
Sejak awal Kevin menjadi CEO di sana memang hampir tak penah terlihat menggunakan jabatannya untuk menjadi sosok arogan. Kecuali saat pemecatan Sita Sitata. Hanya saat itu Kevin terlihat menakutkan bagi anak buahnya. Selebihnya ia tak lain adalah sosok CEO yang sangat mau mendengar agar di dengarkan oleh para pegawainya.
__ADS_1
"Gilang... PR besar ini ada di pundakmu. Perjalan ini bukan ajang jalan-jalan semata, apalagi berbulan madu. Jika tak dapat semua di serap setidaknya seperempatnya lah bisa kita adopsi. Hari ini kegiatan kita cukupkan, besok kita lanjut ke pabrik pembuatan obat-obatan, seperti yang telah meraka jadwalkan untuk kita." Kevin menyampaikan pengumuman untuk semuanya, dan terspesial pada sang adik ipar.
Gita sudah seperti di sambar petir saja mendengar kata 'apalagi berbulan madu' yang sempat Kevin ucapkan tadi. Tenti saja semua kepala menoleh ke arahnya. Ghosting... ghosting. Gita boleh ghosting ga ya. Rasanya, lebih baik menyerap semua isi kajian tadi lalu berkutat dengan pembuatan laporan yang bertumpuk saja, dari pada harus menyandang malu seperti ini.
"Eh Git... kalian udah nikah?" akhirnya Salah satu pegawai yang ikut dan kebetulan dekat dengan Gita langsung menyenggol tubuh Gita.
"Hah...?" Gita terkejut dengan pertanyaan dadakan itu.
"Kamu sama Gilang, waktu kita di Lembang bukannya baru jadian pacarannya? Terus apa maksud pak Kevin bilang ke Gilang ini bukan ajang kalian bulan madu?" Nia mengulang kembali akan hal yang ia dengar dengan sangat jelas tadi.
"Ya... artinya. Ya memang bukan ajang bulan madu kan... ini kita berdinas. Iya, kerja. Just work." Senyum itu sedapat mungkin Gita sampirkan ke arah Nia.
Lawan bicaranya hanya sedikit mengangguk, mencoba percaya namun juga merasa lawan bicaranya itu menyimpan sebuah rahasia.
"Neng... duduk sama A'a aja." Tarik Gilang pada tangan Gita, saat mereka baru masuk ke dalam bus yang akan mengantar mereka kembali ke hotel.
"Echeemmm suit-suit." Sontak cuitan cuitan nakal menguar di dalam bus itu bergemuruh. Gilang mana peduli dengan orang-orang yang belum tau status mereka. Ia tidak sepeka Gita yang seharian ini menyandang malu yang sebenarnya tak perlu jadi bebannya.
Kevin sudah duduk di depan dengan Danu, kembali pada raut masam saat melihat Gilang mengarahkan Gita ke pojokan jendela untuk duduk bersama.
"Danu, kamu siapkan acara makan malam bersama sebelum kita pulang ya. Sepertinya pasangan pengantin baru itu, belum juga ingin mengkonfirmasikan perubahan status mereka." Kevin lagi memerintahkan pada Danu, hal yang ia anggap perlu untuk menyempurnakan kesan adikknya yang baru saja menikah itu.
"Maksud bapak? Gilang dan Gita sudah menikah?" Danu dengan gamblangnya menerangkan hal yang ia anggap perlu di perjelas di sini.
"Ia... siapa lagi pasangan berpacaran di perusahaan kita selain mereka?" Kevin balik bertanya pada Danu.
__ADS_1
"Tapi... kapan mereka menikah? Kok kami tidak di beri tahu?" Danu penasaran.
"Jangankan kamu, Gita sendiri tidak tau jika ia akan menjadi pengantinnya. Ha... ha... ha. Jumat, persis sebelum kita terbang ke sini, mereka sudah melaksanakan akad nikah. Untuk resepsi dan lain-lain akan di atur kemudian dalam tempo sesingkat-singkatnya." Kekeh Kevin.
"Kayak proklamasi aja. Jadi, Pak. kamar spesial yang kemarin bapak minta untuk mereka?" Danu polos atau be go ya gaes. Suka-sukanya saja pake acara nanya hal ke gitu pada Kevin.
"Ya iyalah buat pasangan pengantin baru, kamu tau sendiri nyonya Kevin ga ikut. Ngapain saya tidur di kamar begituan." Sarkas Kevin.
"Hahaaa... kali, bapak sudah terbiasa tidur di kamar mewah gitu." Kikuk Danu mengusap tengkuknya sendiri.
Bersambung...
Maaf ya readers upnya ga lancar.
Nyak bukan sakit, juga ga lagi sibuk.
Hanya sedang di landa rasa malas tiada tara, mungkin sedang berada dalam titik jenuh.
Juga sedang butuh waktu untuk menyiapkan karya selanjutnya.
Yang semoga berbakti, bernasib seperti OB MILIK CEO ini.
Ada saran mau cerita yang bagaimana?
Makasiih kesayangan nyak❤️
__ADS_1