OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : ANAK ANAK DI CULIK


__ADS_3

Setelah sholat asar Muna dan Kevin akhirnya baru keluar dari kamar. Dengan rambut yang sudah Kevin keringkan. Juga jejak cinta yang Muna buat di leher Kevin banyak tadi, sudah Muna tutupi dengan foundition.


Kevin keberatan awalnya, tadinya ia ingin bervideo call dengan Gilang bermaksud ingin pamer, bahwa Muna juga jauh lebih jago dari Gita dalam hal bikin tato tidak permanen itu.


Tapi akal sehat Muna selalu mampu membuat Kevin luluh. Dengan alasan takut di tanya Aydan dan malu pada bunda Laras. Akhirnya Kevin manut saja, untuk menutup bercak mahakarya yang Muna buat sesuai permintaannya. Yaitu di leher Kevin. Banyak.


Makanan sudah di siapkan ART untuk mereka berdua, semua sudah tersaji lengkap hingga dissertnya.


ART juga bunda Laras paham. Jika kedua insan itu sedang tidak bisa di ganggu oleh hal sekecil apapun, sebab sudah melewatkan beberapa malam tanpa saling bertemu. Padahal beberapa tahun lalu mereka bahkan melewati beberapa purnama dari tempat masing-masing.


"Kenapa rumah sepi ya pap?" Muna sedikit bingung dengan suasana lengang di rumah Hildimar. Tapi, rasa penasaran mereka kalah dengan rasa lapar yang bahkan sudah terlewatkan oleh kegiatan saling memakan dan di makan di kamar tadi.


Muna memgambil alat pompa ASInya. Merasa payuudarra nya penuh terisi setelah makan tadi. Ia tau, jika saat itu Annaya juga sedang ingin mengisapnya secara langsung.


Kevin berjalan menuju kamar Annaya. Tapi tidak menemukan anak dan baby sitternya di sana.


"Mam... anak-anak pada kemana?" tanya Kevin kebingungan.


"Mana Muna tau, kan dari tadi Muna di ajak abang ke nirwana. Ga tau urusan di dunia nyata kali bang." Canda Muna yang sebenarnya ga tau kemana Laras mengamankan anak-anaknya.


"Serius Mae, anak anak kita di culik nih." Tegas Kevin masih mondar mandir berjalan keliling rumah.


"Bentar... Muna telepon bunda Laras dulu, pap." Muna mengakhiri kegiatannya memompa ASInya. Lalu segera mengambil gawainya untuk memastikan keberadaan anak anaknya.


"Hah...?" hanya kata itu yang sempat Kevin dengar saat Muna berbicara di telepon dengan Laras si baby sitter anaknya.


Kevin mendekat dengan suasana hati yang tidak karuan. Masa mereka baru mengurung diri kurang lebih 5 jam di kamar tadi, anak-anaknya sudah hilang.


"Apa kata Laras, Mae?" Kevin tak sabar.


"Tadi mama dan papi ke sini. Tapi kita tidak keluar kamar. Jadi Ay dan Nay di angkut ke rumah Mahesa." jelas Muna dengan nada santai.


"Video call mama Indira deh, mam. Biar kita jemput anak-anak." perintah Kevin masih dengan suasana hati yang tidak enak. Bahkan Annaya tadi belum sempat ia cium, masa sudah di bawa kabur saja oleh orang tuanya.


Muna patuh, dan segera mencari nama mama mertuanya itu menggunakan icon biru.

__ADS_1


"Mamam... angan angis ya... Ay cama uncel Dayen dengan anty Jayah...." rupanya telepon itu langsung di serahkan Indira pada Aydan. Maka dengan raut sukanya Aydan memamerkan dirinya yang sedang di apit oleh Daren dan Zahra.


"Mamam dan papap jemput ya Ay... tunggu di situ, okee." Ujar Muna lembut pada anaknya.


"Da mau mamam. Ay cama de Naya bobo cama oma dan opa ya... boyeh mam...?" Oh Aydan, begitu mudahnya oma Indira itu membersihkan otakmu. Sampai sampai tidak mau pulang ke rumah.


"Kasihkan oma ponselnya sayang, mamam mau bicara sama oma." Pinta Muna pada Aydan. Di balas dengan anggukkan serta perpindahan ponsrl tersebut ke tangan mama Indira. Kevin masih sebagai penonton yang budiman saat Muna melakukan panggilan itu.


"Mama... anak-anak kami jemput ya. Nanti mereka merepotkan mama di sana."Ujar Muna pada mama Indira yang terlihat memasang wajah sumringah dan bahagia.


"Biar saja mereka di sini dulu Mun. Ada Daren dan Zahra juga, weekend di sini." jawabnya masih dengan nada senang.


"Tapi kasian kalian terganggu weekendnya. 30 menit lagi kami jemput ya." Muna tetap bersikeras akan menjemput anak mereka.


"Muna... yang adil donk. Masa waktu kalian ke China, cucu mama boleh tinggal sama babe dan nyak mu. Giliran mama pinjam cuma satu malam saja tidak boleh." Bujuk mama Indira yang membuat Muna mengalihkan pandangannya pada Kevin, minta persetujuan.


"Kalian puas puasin bulan madu aja. Gimana ramuan mama udah di coba? mantep tidak?" lanjut mama Indira lagi, membuat wajah Muna merah jambu, sedikit malu. Muna menangkap anggukkan kecil dari Kevin yang sedari tadi nguping pembicaraan mereka.


"Ya sudah, tapi sampai besok saja ya ma. Nanti kami yang jemput mereka." ujar Muna mengendur.


"Tidak usah, nanti Daren yang antar mereka. Biarkan mereka juga dekat dengan pengantin baru itu, biar cepat ketularan dapat momongan." Celoteh mama Indira hampir tidak dapat berhenti.


"Mae... part selanjutnya lagi aja gimana?" tawar Kevin jahil.


"Ampun bang jago. Tiduran dulu ngape bang. Ini makanan aja belum turun sempurna ke perut, ude mau ngeronde lagi. Besok Muna bakalan ga bisa jalan kalo di gituin terus bang." Tolak Muna yang kembali mengambil botol selanjutnya untuk memompa ASInya.


"Mae kira mata abang ga sakit liat Mae, merah air susu di depan abang gini? Abang sih selow Mae, otong apa kabar?" tunjuk Kevin pada celana colornya yang sudah tampak menggunung di bagian bawah perut.


"Otooooong, otong. Tangkepan radarmu sensi banget sih. Masa baru liat orang merah susu aja udah bediri. Gimana kalo liat susu sapi lagi di perah? jangan jangan loe loncat dari sarangnye." cerocos Muna yang tak sempat melanjutkan kegiatannya. Karena sudah di gendong Kevin lagi menuju kamar mereka di lantai dua.


"Bang... jangan gencatan senjata lagi bang. Cape." Rengek Muna yang merasa kelelahan melayani yang sejak pagi tadi saja masih terasa loyo.


"Tidak... kita tidur saja mengumpulkan energi buat nanti malam sayang." Ujar Kevin sambil melepas pakaian yang Muna sandang.


"Tidur kok pakaian Muna di lepas semua bang?"

__ADS_1


"Abang cuma mau memandang istri polosan, seperti dulu kita baru nikah. Mumpung ga ada anak anak Mae." Alasan Kevin yang selalu punya ide mengelabui Muna.


"Tapi beneran tiduran ya bang."


"Iya sayang, sini abang peluk sampe magrib. Ntar malam kita makan di luar ya. Anggap kita bulan madu juga, seperti mama Indira bilang tadi." Ujar Kevin yang sungguh hanya meraih kepala Muna agar berbantal lengannya.


"Mae...."


"Hmmm..."


"Ramuan mama Indira masih ada?"


"Udah habis, di buat cuma 1 botol. Kayaknya cukup buat 5 hari saja." jawab Muna sambil memejamkan mata.


"Berarti yang di rasakan otong cuma efek setelah minumnya?" tanya Kevin penasran


"Ga tau... orang minuman itu cuma untuk memperlancar haid kok." tukas Muna seadanya dengan mata yang semakin berat.


"Terus si mumun pintar jepit kenapa?"


"Senam kegel pap. Olah raga, latihan pernapasan. Punya suami perkasa kaya abang mana bisa ga punya teknik khusus. Bisa bisa Muna di tinggal kawin lagi cari yang ketat." Muna dengan cueknya mengubah posisi tubuhnya yang sudah polos itu membelakangi Kevin.


Eh buseeet... Kevin di belakangi Muna bukannya cemberut, malah nyodok nyodok otong lewat belakang.


Apa mungkin Muna beneran bisa tidur kalo sudah begitu?


Bersambung...


Ya ampun segitunya readers nyak mau minta resep pelakor.


Jangan lupa....🤭


Cerita dan kesamaan nama, tokoh dan alur hanya fiktip belaka


wkwkwkwkwkk

__ADS_1


Selamat berlibur semua


❤️❤️❤️


__ADS_2