OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 81 : GELAGAPAN


__ADS_3

Mentari telah berarak pulang ke peraduannya, menciptakan pemandangan semburat jingga keunguan tersampir sempurna di atas langit senja, masih di area pantai Anyer.


Mungkin hari ini adalah hari yang Tuhan ciptakan menjadi hari yang paling istimewa untuk keluarga Herman ayah Siska. Betapa tidak, setelah melewati hampir tujuh purnama menangisi kehilangan putri sulungnya yang raib tanpa kabar dan berita.


Herman bukan orang kaya juga bukan penguasa, sehingga hanya bersujud dan berpasrah pada Tuhan yang maha esa, memohon sekira dosa-dosanya di ampuni, agar Tuhan mendengar pintanya 'cukup ingin tau kepastian anaknya baik-baik saja'. Namun, Tuhan adalah maha mengetahui segala yang di butuhkan bahkan lebih dari yang ia inginkan.


Siska kembali kerumah mereka, dalam keadaan selamat bahkan datang bersama dewa penyelamat.


Adakah hal yang dapat Herman lakukan selain berjanji akan serius menjaga amanat?


Herman sudah meyakinkan dirinya, dengan ikhlas merelakan rumah dan tanahnya untuk di jual pada Kevin, demi membayar hutang, dan memulai usaha baru yang ia dengar sangat menjanjikan perekonomian keluarganya membaik.


Tangis dan duka nestapa yang pernah Tuhan percayakan untuk menjadi ujian hidup mereka,kini telah berganti dengan samar warna pelangi, yang sangat indah.


Herman menyadari, bahwa ujian tidak hanya berbentuk kesusahan tetapi kekayaan juga, maka ia bertekad tidak ingin merusak kepercayaan yang Kevin berikan. Ia sungguh ingin memulai semua dari nol.


Gelak tawa terurai pada wajah 4 anaknya yang kini duduk, juga berdiri di belakang bak pick-up yang baru di belikan Kevin untuk ia gunakan memulai usahanya. Sementara istrinya Tinah menitikkan air mata haru saat Herman menceritakan semuanya tanpa terkecuali, saat perjalanan mereka pulang dari pantai menuju rumah mereka yang kini telah menjadi milik Kevin.


Tinah ibu Siska, tidak memiliki alasan menyalahkan keputusan suaminya karena telah menjual rumah mereka tersebut. Toh, mereka masih boleh menggunakan rumah itu seolah masih menjadi pemilik.


Muna berjalan sendiri di bibir pantai, menikmati senja yang sempurna. Ingin pulang bersama Siska, namun ingat akan isi chat Kevin untuk tetap menunggunya tiba di pantai. Muna pun merasa tidak benar jika mengindahkan permintaan kekasihnya untuk melawan atau sekedar membantah pintanya.


"Abang, kenapa lama sekali berurusanye. Muna hampir pulang jalan kaki nungguin abang datang."


"Cie...cie. Yang kangen sama abang. Maaf Mae, urusan negara. Tidak bisa di tunda-tunda sayang." Jawab Kevin yang sudah meraih tangan Muna untuk ia genggam agar mereka bisa berjalan beriringan di sepanjang pinggiran pantai di kala senja itu.

__ADS_1


"Abaaang... lihat langitnye indah banget, cantik sempurna."


"Biasa saja... masih cantikkan Mae."


"Yaaaah... segala pake ngegombal. Abang norak."


"Siapa yang gombal. Benaran indahnya langit senja itu hanya biasa abang liat dalam beberapa menit dalam 24 jam. Dan itu ga ada apa-apanya di bandingkan cantiknya wajah Mae yang bisa abang liat tiap waktu. Apalagi kalo Mae sudah siap jadi bini abang."


"Hm...,


abang makasih ye. Udah antarin Muna ame Siska kemari. Abang ga liat betapa bahagianye wajah adik Siska dan ibunya, saat tau Muna belikan semua yang mereka inginkan tadi. Mae yakin, beberapa persen dosa abang mulai rontok karena kebaikan abang dari penggunaan duit yang abang kasih tadi." Celoteh Muna dengan nada riang.


"Dan kamu malah lebih tidak tau betapa pa Herman hampir guling-guling sujud syukur saat semua hutngnya bisa lunas bahkan punya usaha baru untuk memperbaiki ekonomi keluarganya yang lemah" Kevin bermonolog dalam hati dan merasa enggan untuk menceritakan pada Muna akan hal besar yang sudah ia lakukan untuk keluarga Siska. Bukankah saat tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tau . Itulah yang Kevin lakukan, pelan pelan menuju totalitas perubahan diri menuju kebaikan.


"Abaaang..., ngapa diem aje siih dari tadi?"


"Sholat Mae... dah magrib. Kita ke mushola itu ya." Jawab Kevin yang sedari tadi tak mau melepas pegangan tangan mereka.


Selesai melaksanakan sholat di mushola terdekat, mereka berpindah lagi mencari tempat yang nyaman untuk makan bersama. Pandangan mata Kevin seolah tak pernah lepas memandang wajah Muna, seperti esok sudah tak bisa melihat wajah itu kembali.


"Mae... abang mandi sebentar ke penginapan. Mae... ga seklain mandi?"


"Muna kagak bawa baju ganti, bang." Jawab Muna sekenanya karena bajunya sudah terbawa Siska saat memilih pulang lebih dulu tadi.


Kevin tidak langsung melajukan mobilnya ke penginapan, namun mencari tempat sekitar area itu yang menjual pakaian seadanya.

__ADS_1


"Ngapain kita di mari... ini bukan penginapan abang pan, ini tuh lebih mirip toko pakaian."


"Iya..., Mae beli baju dulu, biar mandi dan sama sama seger nanti." Muna agak meremang mendengar kata-kata sama sama segar yang Kevin ucapkan.


Selintas di pikirannya apakah Kevin akan minta pertangggung jawaban soal pemakaian uang 5 jt yang ia habiskan tadi. Muna menyesal mendengar perintah Kevin untuk menghabiskan saja uang tadi dalam sehari, dan meruntuki kebodohannya sebab mungkin saja itu hanya sebagai alasan atau pancingan Kevin, nanti akan meminta pengembalian dalam bentuk lain.


"Awas aje kalo abang berani macem-macem. Aye pites tujuh tu badan, biar pisah tulang kaki ame tulang tangannye. Truus jangan ngimpi jadi laki aye." Muna menyatukan dua tangan dan menautkan jari jemarinya sendiri, semacam melakukan pelemasan dan perenggangan otot tangannya agar nanti tidak merjadi keram mendadak jika saja akan melalukan adegan laga.


Mobil Kevin sudah terparkir sempurna di tempat parkir penginapannya. Muna tercenung melihat penampakan penginapan itu, yang ia kira semacam bidak petakan 2x2 yang hanya cukup untuk satu dipan saja. Ternyata ia salah. Muna lupa jika kekasihnya adalah seorang CEO kaya, yang biasa tidur dalam ruang yang mewah, nyaman dan dalam suhu dingin tentunya.


Muna kembali meremang saat di ajak Kevin memasuki sebuah kamar berukuran 3x5 yang di lengkapi sebuah kamr mand di dalamnya. Dan dengan santainya Kevin membuka lemari untuk mengambil handuk lalu memberikan pada Muna.


"Abang atau Muna duluan yang mandi... atau kita mandi bareng?"


Muna tergugu, ia gelagapan dengan tawaran mandi bersama Kevin. Seluruh nalar pikirannya tidak dapat berfungis dengan baik, akan tingkah polah seorang Kevin, yang baru saja tadi mengajaknya sholat tetapi kini justru ingin mengajaknya berbuat maksiat.


Bersambung...


Penggorengan, alat pembersih, semua senjata khas kaum emak-emak di kumpulin. Hari ini kite siaga satu ye... buat jaga-jaga kali segelan jebol di eps berikutnya.


Harap bersabar ini ujian.


Lopeh seKecamatan buat kalian


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ™πŸ™πŸ™β€οΈβ€οΈβ€οΈ

__ADS_1


__ADS_2