
Muna segera mengambil Spageti yang baru matang tadi. Lalu menyuguhkannya selagi hangat untuk Kevin.
"Muna... ga dengar pertanyaan abang?" tanya Kevin yang masih tampak kesal.
"Denger... tapi abang makan itu saja dulu. Sebab kalo dingin kejunya ga lumer lagi." Muna sengaja mengalihkan fokus Kevin.
"Baiklah... duduk Mun. Temani abang makan."
"Iye...." Jawab Muna menarik kursi kemudian duduk berhadapan dengan Kevin.
"Muna ga makan...?"
"Masih kenyang. Tadi Muna
makan 2 sosis goreng. Bareng pa Ferdy."
"Muna..., spagetinya enak. Pernah bikin ini sebelumnya?"
"Yaa... bikin ini sih gampang. Pan kastanya lebih tinggi setingkat dari mie instan. Muna sering bikin ini, tapi baru buat dengan bahan lengkap. Muna pake keju biasa aja, jadi ga bisa melting kayak gitu."
"Sini rasain deh yang kejunya meleleh. A...a...a." Kevin dengan cueknya ingin menyuapi Muna.
"Iih abang, Muna kagak mau. Malu, pas ada yang lewat atau ada yang masuk...brabee urusannya. Semakin macem-macemlah orang bilangin Muna ntar." Muna kembali sedih.
"Ambil garpu dan piring lain deh kalo gitu." Perintah Kevin lagi.
"Buat apa?"
"Ya kalo malu abang suapin, ambil piring untukmu, biar abang bagi."
Muna berdiri mengambil garpu, lalu mendekat ke arah Kevin. Memutar dan melilit spageti itu dengan garpu, kemudian memasukannya dalam mulutnya.
"Udah...bang. Iye, enak yang pake keju leleh." Komentar Muna setelah mencicipi Spageti buatannya dari piring Kevin.
"Kok cuma dikit cobainnya?"
"Iye bang, soalnya kalo banyak ntuh cobaan. Kaya hidup Muna, ha...ha...ha." Keduanya saling terbahak setelah saling bertukar kalimat ringan membuat keduanya semakin akrab.
"Makanan abang sudah habis. Sekarang Muna jawab, siapa nama ketiga orang tadi?"
"Muna kagak mau jawab. Nanti mereka abang pecat. Kesian mereka bang."
"Kasian apanya? Mereka sudah menuduh kamu dan juga menghina saya Mun." Kevin mulai emosi.
__ADS_1
"Bukannya tadi pas kita di jalan abang bilang biarkan saja orang ngomong apa. Yang penting kita kagak ngerugiin orang lain?"
"Iya..., tapi ini sudah menginjak harga diriku."
"Ga usah di tanggepin. Suatu berita ntuh bang. Kaga bakal berkembang membesar kalo yang di beritain tuh kagak bener. Sendirinya bakal ilang, kaya embun pagi, yang bersamaan dengan waktu siang, akan hilang melenyap begitu saja, he...he. Santai aja bang. Muna tadi pagi di bilang per**, Muna biasa aja. Cuma nyiram aer doang ke palanye. Biar otaknya adem, nyadar dikit gitu. Kali masih molor, sambil ngomongnye." Muna menasehati Kevin.
"Segala kaya embun pagi. Tapi itu tidak bisa dibiarkan Muna. Mereka harus berhenti bekerja."
"Abang... jangan pecat mereka. Mereka butuh uang dari pekerjaan yang mungkin bagi abang hina ini. Salah satu dari mereka janda, ada juga yang menggunakan uangnya untuk menyekolahkan adik-adiknya juga biaya berobat ibunya. Ada juga yang menggantungkan nasibnya dari gaji itu untuk biaya kuliahnya, seperti cita-cita Muna. Aye mohon bang, biarin mereka tetap bekerja. Ya...abang." Pinta Muna pada Kevin.
"Ya sudah. Terima kasih makan siangnya. Minggu abang jemput ya. Mau besok sabtu, abang udah ada janji main golf sama kolega bisnis."
"He'em. Tapi, abang yang ijin ame babe yak. Muna kagak biasa keluar di hari libur."
"Berees." Kepala Muna pun di uyel-uyel oleh Kevin dengan gemas. Kemudian pergi meninggalkan Muna sendiri di sana. Sudah tidak ada yang bisa Muna kerjakan. Sebab wilayah kekuasaan tugas Muna memang hanya di lantai 37. Akhirnya Muna memilih mencari angin dirooftop gedung itu, untuk sekedar membuang rasa sumpeknya. Sebab sesungguhnya ia pun kecewa dengan tindakan Vera, Monik dan Koco.
Kevin tidak langsung ke ruangannya, tetapi ia menuju ruangan Ferdy.
"Ferdy... tolong kamu cari tau nama-nama OB yang bekerja di lantai ini selain Muna." Tanpa prolog Kevin sudah berselonjor di sofa ruangan Kevin.
"Kenapa?"
"Mau ku pecat."
"Mereka sudah menuduh Muna dan menghinaku."
"Kata siapa? Muna yang melapor padamu?" Ferdy masih bernada tenang.
"Mana mungkin Muna mengadu. Tapi, aku mendengarnya sendiri."
"Kalau kamu dengar sendiri, mengapa tidak langsung kamu tanya nama mereka?"
"Tadi aku cuma ga sengaja dengar."
"Pasti taunya dari Muna, dan dia juga sudah mencuci otakmu, memperalatmu, agar memecat mereka." Ferdy sengaja membuat hati Kevin geram.
"Apaan sih kamu Fer, Muna ga gitu orangnya." Bentak Kevin.
"SELLOOOW bosku...selow. Iya bucin, Muna tidak tipe cewek lemah dan suka ngadu. Makanya tadi pagi, saya sendiri juga sudah mendapati bagaimana temannya menuduhnya. Untuk itu hari ini, siang ini juga. Mereka bertiga sudah saya pindahkan ke gudang."
"Wow...sejak kapan kamu ambil keputusan sendiri??"
"Maaf..., sebelum kamu menyelesaikannya dengan emosi. Saya sudah antisipasi. Pokoknya urusan kaya begini, kamu tidak perlu turun tangan. Jangan sampai imej mu
__ADS_1
tambah jelek. Hanya karena di gunjing. Percuma kamu bela diri, jika lama-lama Muna juga akan memang kamu jadikan istri. Jadi, anggap kamu tidak tau saja untuk urusan video, atau apapun yang berkaitan dengan Muna." Terang Ferdy pada Kevin.
"Luar biasa kamu Fer. Jadi mereka sudah kamu pindahkan?" ulang Kevin tersenyum senang.
Ferdy mengangguk.
"Iya... dengan di pindahkannya mereka dengan alasan penyegaran bagi 3 orang lainnya yang sudah lama bekerja di bagian gudang, maka rolling ini akan terlihat natural dan seolah tidak ada hubungannya dengan kalian. Dan kamu tidak di anggap sebagai bos kejam. Tapi ingat, walau sedang mabuk cinta. Usahakan jangan terlihat mesra sama Muna di kantor Kasian dianya. Kamu sih ga papa, kan penguasa. Tapi dia pasti akan jadi sasaran bullying. Itu akan merusak mental Muna."
"Oke...oke saran dan ide kamu boleh juga. Artinya Muna sering-sering ku ajak ke apartemenku saja." Kekeh Kevin sambil berjalan keluar ruangan Ferdy.
"Woi...nikahin anak gadis orang dulu woi." Teriak Ferdy penuh canda.
Kevin terus saja melangkah meninggalkan ruangan itu kemudian masuk ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Jam kedua telah tiba, tampak Jali berjalan bersama 3 orang OB baru berjalan menuju pantry untuk meletakkan barang mereka pada locker di sana.
Dengan buru-buru kemudian mereka kembali berjalan menuju ruangan Ferdy.
"Permisi pa Ferdy. Pesan bu Cica, kami harus menemui bapak." Ujar Jali saat meraka berempat sudah berada dalam ruangan Ferdy.
"Oh, iya benar. Silahkan duduk." Jawab Ferdy dengan ramah di tandai senyum manisnya.
"Jadi begini. Sebenarnya saya baru saja mengecek sebaran wilayah kerja OB. Dan, 3 nama ini bahkan sudah lebih dari 3 bulan berada di gudang sejak masa training. Untuk itu, saya merasa perlu untuk melakukan penyegaran kerja."
Keterangan Ferdy di balas anggukan oleh 4 orang di sekitarnya.
"Untuk pembagian lantai berapa saja yang akan menjadi tanggung jawab mereka, Jali yang akan atur. Hanya, nanti tolong untuk Muna tetap bertugas di lantai ini. Sebab, tugasnya tidak hanya bersih-bersihkan. Tapi kadang memasak juga. Jadi biarkan dia tetap disini." Jali mengangguk mengerti.
"Kemudian pesan saya kepada yang baru bekerja dilantai ini. Tolong usahakan kebersamaan kalian di jaga. Jangan sampai saya mendengar yang satu dan yang lain saling gunjing. Tujuan kalian di sini adalah bekerja, bukan bergosip. Jika ada masalah di antara kalian, komunikasikan dengan baik. Saling membantulah kalian, ciptakan kekompakan dan keharmonisan dalam 1 tim. Dalam 3 bulan ke depan kalian dalam pantauan saya. Semoga di pahami." Tegas Ferdy.
"Baik ... kami mengerti."
"Silahkan lanjutkan pembagian kerja di posko kalian."
"Siap...kami permisi pak." Pamit Jali dan meraka pun kembali ke pantry posko mereka.
Bersambung..
Jempolnya jangan lupe di tinggal di mari yeee mpok kesayangan nyak❤️❤️❤️🌹☕🙏
Ini nyak kasih bonus tampang Muna yang lagi galau lari ke rooftop buang sedihnya.
__ADS_1