
Risna dan Gilang masih betah ngobrol di tempat orang menikmati es buah segar di sekitar komplek rumahnya. Mengupas tuntas dan luas akan hubungan mereka di masa lalu dan bagaimana kedepannya.
“Kamu minta aku apa sih Lang…?” Tanya Risna melunak.
“Bukan apa-apa sih. Hanya minta tolong, jika kita bertemu lagi. Pliis jaga jarak, aku tidak mau calon istriku akan salah paham.” Pinta Gilang dengan lembut.
“Hah… bukannya kalian saling mencintai. Masa langsung goyah hanya karena kita saling peluk dan cium begitu saja. Norak kamu, Lang.” ucap Risna santai sambil menyeruput es kelapa muda pesanannya.
“Ini Indonesia, Na. Bukan London. Lagi pula, bukan hubungan kami yang akan goyah,Na. Tapi itu akan membuat imejmu sendiri akan buruk. Siapa tau saat kamu melakukan itu, jodohmu lewat. Mundur deh dianya.”
“Gilang… Gilang. Caramu mengayomiku seperti ini yang membuat aku sulit move on darimu.” Gilang tak ingin melanjutkan pembicaraan itu.
“Oh iya… soal proposal tadi, kamu bahkan belum sempat menerimanya lho. Kamu yakin tidak menyesal dan tidak takut akan di marahi oleh atasanmu, menolak tawaran perusahaan kami?”
“Salah sendiri main sosor gitu, akukan emosi Na.”
“Kamu kira aku ga emosi liat kamu, sampe loncat gitu.”
“Norak kamu Na.”
“Proposalnya masih ada di mobil. Jika kamu tidak menerimanya dan meyampaikan pada atasanmu, maka kamu sudah akan menghilangkan mata pencaharianku.”
“Gimana?”
“Perusahaan papaku bangkrut Lang. Mama di tipu para brondong nakalnya. Dan kini aku terjun langsung bekerja untuk menyokong ekonomi keluarga. Bisa mendapat jabatan kepala bagian pemasaran di Gemini Corps adalah anugrah bagiku, proposal kami bahkan sudah hampir 3 bulan ngantri di perusahaan MK. Farma itu untuk ajakan kerja sama. Dan, jika kali ini, bahkan proposal itu tidak sampai ke tangan kurirnya sekalipun. Mungkin aku akan kehilangan jabatanku.” Papar Risna serius.
“Kamu tidak sedang mengarang bebas kan, Na?” tebak Gilangmencari kejujurean di wajah wanita yang pernah ia cinta itu.
“Kamu kira aku sedang berusaha mendapat nilai 9 pada pelajaran bahasa Indonesia…?”
”Baiklah… pulang ini proposalnya akan ku ambil. Tapi aku tidak berani pastikan kerja samanya goal yas, Na.” Gilang luluh.
“Iya… terima kasih ya Lang.” Ujar Risna merasa senang. Lalu keduanya kembali menyusuri jalan untuk kembali ke rumah Gilang untuk pulang.
“Dari mana saja kalian” Todong ibu Gilang yang resah sejak tadi menyadari Gilang pergi bersama Risna.
“Menyelesaikan masalah bu.” Jawab Gilang yang di tangannya sudah memegang berkas proposal dari Risna.
“Syukurlah. Jika masalah kalian berdua sudah selesai. Ibu minta kamu harus beri penjelasan pada Gita. Tapi ibu tidak memaksa, hanya menyarankan, jika kamu memang masih inginkan dia jadi istrimu.” Ucap ibu Gilang dengan tatapan tajam kea rah Risna.
“Iya bu, ini Gilang pamit ya… mau ke Kost neng Gita. Assalamualaikum.” Gilang mengambil motornya di parkiran lalu meninggalkan Risna yang masih terlihat berdiri di teras rumah Gilang.
“Walaikumsallam.” Jawab ibu Gilang menyahuti salam anaknya yang langsung meninggalkan rumah tanpa mempedulikan Risna yang masih mematung.
“ibu… boleh Risna bicara?” Tanya Risna pelan.
Magrib hampir tiba, Gilang memilih singgah di masjid terdekat dengan posisinya sekarang. Sebelum benar sampai di kost Gita. Sudah menjadi kebiasaan Gilang untuk tidak meninggalkan sholat sebagai sarana ibadah juga tempatnya berbagi kesah menenangkan dirinya, saat dahi itu menyentuh sajadah.
__ADS_1
Gilang sudah tiba di kost Gita, tapi tidak menemukan gadis pujaannya di sana. Ia hanya bertemu Ninik.
“Nik… Neng Gita ada?”
“Ada, tapi aku bingung Lang. Tadi bilang ke akau, kalau ada kamu bilang dia ga ada?”
“Lalu kenapa kamu bilang ada?”
“Aneh aja gitu, kok Gita minta aku bohong. Terus buat apa tadi aku cape-cape sholat kalo harus bohongin kamu.”
“Alhamdulilah, ya Allah masih ketemu orang sebaik kamu Nik. Makasih ya.”
“Kalian kenapa sih, pulang kantor tadi aku nemuin dia ketiduran di atas sajadah kalian ada masalah?” Tanya Ninik ingin tau.
“Iya… tadi ada mantan aku datang kerumah, Jadi dia shock gitu.”
“Hmm… maaf ya Lang. Aku tidak bisa jauh ikut masuk masalah kalian. Dan aku ijin permisi, tuh sudah di jemput Reno, mau jenguk mamanya di rumah sakit. Kamu masuk aja.” Perintah Ninik pada Gilang.
Tok
Tok
Tok
Gilang mengetuk pintu kamar Gita agak ragu, dengan gemuruh jantung yang tak karuan, untuk pertama kalinya Gilang masuk kost Gita bahkan mengetuk kamr tidur calon istrinya itu.
“Tidak usah di bicarakan A’a. Neng ga ada apa-apanya dari dia.”
“Ngomong apa sih?”
“A’a juga masih cinta dia kan?”
“Neng ga enak ngomongnya gini, keluar atuh.”
“Ga… A’a pulang aja. Neng perlu waktu sendiri.”
“Jangan kaya anak kecil, kita udah mau nikah Neng.”
“Dengan dia juga kan.”
“Ya ga gitu … dengerin dulu neng.”
Aku denger kok dari sini.”
“Neng.. pliiis jangan gini. A’a ga bisa jelasinnya kalo neng kayak gini.”
“Pulang aja. Aku mau pikir ulang semuanya. Hatiku lelah.”
__ADS_1
“Baiklah. A’a kasih waktu neng marah, kecewa atau kesal. Tanpa memberi kesempatan A’a jelaskan dulu. Jangan lama mikirnya ya neng. Sebab, kalo kelamaan a’a takut kita berdua bakalan jadi bujang lapuk bersama.”
“Ga usah gombal …” Gita masih betah mengurung dirinya di dalam kamar. Gita takut untuk keluar. Dia takut luluh dengan semua rayuan Gilang yang pasti selalu mampu meluluhkan hatinya.
“Siapa yang gombal. Allah aja tau a’a cintanya hanya sama nengGi. Tanya aja…”
“Banyak bacot lu.” Kasar Gita menahan rasa Ge-eRnya di dalam sana.
“Neng… a’a pulang dulu ya. Besok kerja a’a jemput. Assalamualaikum.” Pamit Gilang melangkah meninggalkan kamar itu. Terlalu malas meyakinkan gadis yang nyata sedang dalam keadaan emosi. Bersabar dan membiarkan semuanya menjadi jernih dulu mungkin pilihan terbaik bagi Gilang saat ini.
"Walaikumsallam." Jawab Gita dengan suara pelan tanpa di dengar oleh Gilang.
Gita mengendap-ngendap keluar kamar meastikan Gilang benar sudah tidak ada di kost nya.
“DDUUUAAARRR” Siska mengaketkan Gita yang lebih mirip maling keluar kamarnya sendiri.
“Ya Allah… SISKAA..!!!” Seru Gita marah.
“Kamu kenapa keluar kamar sendiri sudah kayak maling aja, kenapa?”
“Takut masih ada A’a Gilang, Sis.”
“Oh… kenapa?”
“Kami sedang marahan.”
“Hmm… paling gegara Risna.” Jawab Siska lempeng.
“Sis… kamu sekarang udah jadi peramal ya?”
“Peramal kepalamu. Gilang udah cerita kali sama aku, Risna itu Cuma masa lalunya.” Jawab Siska sambil mengupas buah apel untuk di cemilnya.
“Kok a’a ceritanya ke kamu duluan sih Sis?”
“Lho… katanya kamu juga sudah pernah tau tentang Risna.” Lanjut Siska.
“Iya… taunya dari ibu aja. Kalo Risna itu nama mantannya a’a. Tapi ga bilang juga kalo mantannya itu masih suka nguber dia sampe kerumah, pekukan cipika-cipiki gitu. Sebel aku tuh.” Rutu Gita pada Siska.”
Bersambung…
Makasih buat yang masih setia ya.
Ekstra part ini puanjang lho.
Tapi kalo buka lapak baru juga tanggung. Jadi... maaf biar terus di mari yeee
Lope buat semua❤️
__ADS_1