OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 49 : MENYELESAIKAN PR


__ADS_3

Muna sudah membersihkan tubuhnya, mengganti pakaian dengan baju tidur. Melepas atribut dalam yang konon katanya tidak baik untuk di bawa tidur, dan Muna sudah terbiasa akan hal tersebut.


"Mae abang sudah sampai nih" Chat Kevin yang sama sekali tidak di tunggu Muna, bahkan ia sudah tampak tertidur nyenyak.


Kevin hampir melempar ponselnya, karena kesal tidak mendapat balasan dari Muna.


Tapi di urungkannya, sebab ia lebih memilih melakukan panggilan video call pada wanita yang sudah membuatnya tidak waras itu.


Muna yang sudah terlelap antara sadar dan tidak, dengan mata masih terpejam meraba meja yang berada di samping tempat tidurnya. Menggeser sembarang agar suara ponsel itu tidak lagi meronta.


Menghadapkan ponsel itu kewajahnya, seolah bercermin dengan mata yang masih burem. Memicingkan mata untuk memastikan siapa yang menghubunginya malam-malam.


Kevin hanya diam memandang gerak gerik gadis pujaannya tersebut. Sekilas ia sangat menikmati tampilan pada layar kaca di depannya, pakaian tidur tipis dan mencetak pemandangan pegunungan kembar tanpa pelapis di sana, sungguh membuat sesuatu mengeras dan bangkit dalam tubuhnya. Dan itu harus segera ia tuntaskan sendiri di kamar mandi.


Tanpa bicara dan kata, sambungan vicall itu Kevin tutup dengan sendirinya. Sekedar memastikan gadisnya tidak membalas chatnya karena memang telah tidur terlelap.


Muna bagaikan mengigau, melihat ponsel itu tiba-tiba gelap, sehingga ia kembali melanjutkan tidurnya.


"Sarapan bubur,


di jembatan layang.


Mun, elu bisa tidur,


Setelah jalan ama abang sayang?" tanya babe pada Muna yang sudah tampak rapi pergi bekerja.


"Tanam padi dari benih,


Sebelom jadi nasi di masak dulu.


Iiih si babe niih,


Ngeledek Muna mulu." Jawab Muna tak mau kalah.


"Tiang listrik di sambar gledek.


Ikan sarden di dalam kaleng.


Babe kaga ngeledek,


Sumpah dah babe ikut seneng."


"Iye...iye. Emang tuh si babang Kevin udah bikin nyak ama babe jatuh cinta pan?"


"Hahaaaay...elu tau aje Mun."


"Nyak, be. Muna pergi duluan ye. Sarapan ude Muna siapin di meja. Muna sarapan di kantor aje. Oh iye... mungkin hari ini pulang deket magrib ya. Assalamualaikum." Pamit Munda agak tergesa sebab ia ingin segera memastikan, jika semalam ada jejak vicall yang sepertinya sempat tersambung. Tapi Muna tidak merasa melakukan percakapan, padahal durasi kurang lebih 2 menit. Entahlah... Muna tidur sudah seperti kebo sajaπŸ€”.


"Pagi Siska... hayoo lagi ngapain. Jangan elu bilang, buat mie instan lagi. Nih...aye bawain sarapan lebih, buat elu." Tebak Muna sembarang pada Siska yang memang akan memulai


aksinya memasak mie instan.

__ADS_1


"Waah... Muna kamu baik banget. Makasiih ya Muna. Sarange." Centil Siska pada Muna.


"Sarange juga Sis. Aye juga belom sarapan. Sengaja mau sarapan bareng elu di mari." Ujar Muna sambil membuka tutup bekalnya. Dan keduanya mulai menikmati sarapan yang Muna bawakan.


"Sis... loe kok tinggal di kost? Asli mana sih?"


"Aku asli Banten, ke sininya aku kabur, nyelinap di pik-up tukang sayur yang biasa mondar mandir Jakarta."


"Ngapa loe kabur...?"


"Orang tuaku banyak utang di kampung. Jadi aku mau di kawinin sama bandot tua yang kaya tempat orang tuaku ngutang itu."


"Ha...ha... hidup loe udah kayak kisah novel aja. Setelah loe kabur, elu malah dapet jodoh pria muda tajir melintir yang sayang pake bingit sama kamu, Sis." Canda Muna.


"Amiiin. Semoga begitu, tapi itu hanya dalam kisah novel Mun. Buktinya, sampe sekarang hidupku pas-pasan saja. Padahal aku sangat ingin kuliah atau minimal khursus lah. Supaya ga selamanya jadi OB seperti ini."


"Sama Sis, aye juga sekarang lagi nabung, buat kuliah di jurusan ekonomi. Aye tuh pengen banget kerjanya tuh di bagian keuangan, bukannya urus sapu sama pel kayak gini."


"Kalo gitu kita harus saling dukung dan semangat Mun. Supaya kita jadi sarjana. Atau kita kuliah bareng aja."


"Iye... tariiik Sis. Semongko...!!!"


Muna tidak dapat menghindar panggilan vicall dari Kevin. Muna pasrah saja jika obrolannya nanti di dengar oleh Siska.


"Assalamualaikum." sapa Muna duluan.


"Walaikumsallam, Mae sudah di kantor?"


"Iye... nih lagi sarapan bareng Siska." Muna menggeser kamera ke arah Siska, yang langsung tertunduk hormat melihat jika yang di layar kaca itu adalah CEO sang pemilik perusahaan.


"Siap bosku."


"Sebelum ke sana, beli dulu semua bahannya. Tadi abang cek semua stok habis."


"Iye... nanti setelah selesai kerja di mari, aye belanja deh."


"Oke deh Mae. See u n I miss u, beiibph."


"Bab... beb... bab.. bep, abang norak."


"Norak juga sama pacar sendiri."


"Inget masih training woooy."


"Bodo... udah ya Mae. Hati-hati.."


"Iye ... abeng juga hati-hati di jalan. Doa bang, doa."


"Iya sudah bu ustadjah. Muuach."


Panggilan vicall terputus.

__ADS_1


Siska menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan yang baru saja ia dengar dan lihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Kamu sadar ga siih Mun. Kisah hidup mu itu sudah mirip dengan drama Korea tau..., iiih pengeeen." Jerit Siska masih takjub.


"Iih... pa'an siih loe."


"Jadi bener kamu pacaran sama CEO kita ini...? pantesan kamu tetap kerja di lantai ini."


"Stt... jangan keras-keras. Ini rahasia kita saja ya Sis. Belom ada yang tau soalnya, jadian juga baru semalem."


"Cie...cie yang baru jadian. Tapi, kamu dah sering ke apartemennya?"


"Dua kali, pas do'i sakit. Tapi waktu itu kami belom pacaran. Benernya... lama sih do'i bilang suka. Cuma ayenya pan sadar Sis, kita pan cuma OB. Kagak selevel ama kasta mereka. Tapi tu orang pepet terus. Ya, akhirnya aye keserempet juga deh."


"Mantap... hebat kamu Mun."


"Udah... yu buruan siap-siap." Ajak Muna pada Siska. Saat sarapan dan obrolan mereka selesai.


"Inget... rahasia." Bisik Muna sebelum mereka berbaris untuk berdoa memulai kegiatan.


Muna lebih cepat menyelesaikan tugasnya di kantor mengingat ia masih punya satu tugas khusus dari Kevin.


Namun yang berada di lantai 37 bukan hanya terdiri dari ruangan Kevin, Ferdy dan pantry saja. Masih ada 2 bidang yang sangat jarang meminta bantu jasa tenaga Muna untuk di berikan tugas lembur. Tentu saja, mereka sudah di breafing oleh Ferdy.


Sebelum meninggalkan kantor sebelum jam makan siang, Muna pun meminta ijin pulang dukuan pada pa Bondan kepala bagian sekretaris di lantai itu, juga meminta ijin pada Jali selalu ketua Timnya.


Cuaca agak mendung sepertinya akan turun hujan, tetapi tidak mengurangi suasana riang gembira hati Muna untuk pergi berbelanja dan siap menyelesaikan PRnya di appartemen Kevin.


Bitterballen Mozarela dan Stammpot adalah menu yang Kevin ingin cicipi dari hasil olahan tangan Muna. Tidak hanya itu yang Muna buat, menyesuaikan cuaca yang akan hujan. Muna juga membeli bahan untuk membuat Breine boon soup yaitu sup kacang merah khas Belanda. Sup ini paling cocok dihidangkan saat musim dingin atau keadaan disaat hujan turun. Yang Muna yakini pasti akan di sukai oleh Kevin, yang pernah cerita jika maminya keturunan Belanda. Sehingga dengan penuh percaya diri Muna beraksi di dapur Kevin.





Bersambung...


Eeaaa... eeaaa


dan nyak otor berhasil nyomot pic dari goggle dong yaah.


Demi babang Kevin yang kesininya makin nyak sayang


Komen, like, mawar, kopi bahkan vote kalian yang selalu ngalir tuh


Semangat beeeuut lho buat nyak.


Doa Nyak moga kalian sehat selalu da murah rejeki, Amiin.


Happy reading n always happy yaak

__ADS_1


lopeh-lopeh buat semua


β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€­


__ADS_2