OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 119 : PESONA CALON PENGANTIN


__ADS_3

Kevin dan Muna sudah berada di dalam sebuah mall terbesar di Jakarta. Bertengger di sebuah outlet yang menjual berbagai perhiasan. Tidak usah di tanya kelasnya, sebab hanya selevel sultan saja yang berani menghentikan dirinya pada bagian pojok salah satu lapak mall itu.


Muna mana punya pengetahuan banyak soal perhiasan, sebab di matanya semua yang tampak berkilauan itu indah dan cantik, itu saja.


Muna bukan tipe gadis cerewet dan berani meminta. Apalagi dia menyadari di mana sekarang berada, sehingga ia hanya mencoba apa saja yang Kevin sodorkan untuknya. Hanya untuk memastikan ukuran cincin itu sedang atau tidak dengan jari manisnya.


Tidak ada drama di toko itu, tidak ada aksi gontok-gontokkan soal memilih dan memilah model cincin tersebut. Semua pilihan Muna percayakan pada Kevin yang punya selera dan uang. Muna merasa tak berguna untuk menyampaikan keberatannya, sebab isi protesnya hanya seputar harga bukan model, dan itu pasti percuma ia sampaikan, Kevin tidak pernah mau peduli dengan gerutuan di otaknya yang selalu merasa harga tersebut berlebihan.


"Pakaian beres, cincin sudah. Kita tinggal ambil beberapa foto untuk memeriahkan dekorasi ruangan pada malam resepsi kita ya Mae." Ujar Kevin yang memang selalu mendominasi segala jadwal yang akan mereka lakukan.


"Iye serah abang deh. Muna ngikut aje." Jawab Muna sambil tersenyum ke arah Kevin.


"Jangan senyum-senyum gitu Mae, ingat janji Mae belum di bayar." Seloroh Kevin mengingatkan.


Cup. Muna tidak ingin di tagih terus-terusan, di tempat lain. Sehingga akhirnya saat mobil hendak melaju ke rute selanjutnya, Muna segera mendaratkan ciumannya pada pipi Kevin.


"Huum... tunggu di tagih dulu baru di bayar ternyata." kekeh Kevin sambil mengusap pipinya senang.


Pipi Muna bersemu merah kuning hijau, sebenarnya malu melakukan hal itu. Tetapi janji ya memang harus di tepati. Lagi pula... apalah arti sebuah ciuman pipi, toh semua orang telah menganggap hal itu adalah biasa, apalagi kini. Halal mereka sudah menghitung hari saja.


Kevin dan Muna sudah di hadang beberapa orang yang di siapkan pihak WO untuk melakukan pengambilan foto di dalam ruangan. Kevin juga sudah memberikan pakaian yang Muna ingin gunakan tadi. MUA yang nanti akan merias mereka di hari H pun sudah tampak siap melayani mereka, taroh kata momen ini seolah bagai gladi bersih sebelum perhelatan akbar itu di gelar.


Bukan hal sulit bagi seorang MUA profesional untuk menaklukan wajah cantik Muna. Ia bahkan sudah memiliki bola mata yang di inginkan sebagian orang Asia yang ingin berpenampilan ke barat-baratan. Muna memang tidak berasal dari keluarga kaya, tetapi makanan sehat yang selalu ia konsumsi dan olah raga sepertinya sangat membantu untuknya memiliki kulit sehat, mulus dan tidak berjerawat. Sangat meringankan pekerjaan yang bertujuan memake overnya.


Kevin tidak dapat menyembunyikan keterpesonaanya pada penampilan calon istrinya yang kini terbalut dalam pakaian kebaya hijab berwarna silver pilihan gadisnya tadi. Tampilan itu sangat menunjukkan betapa cocok dan nampak begitu bersahaja, gadis belia pilihannya tersebut.


"Yaaah... orangnya udah cantik duluan. Berasa cuma jentikkan jari doang, taraaa... Udah kesulap cantik sempurna deeewwwh." Ucap seorang MUA yang merias Muna tadi.


Kevin dan Muna hanya saling pandang dan melempar senyum. Sama-sama terpesona dengan tampilan keduanya. Yang kini sudah sama-sama selesai di make over sebelum sesi foto di lakukan.


"Bang... pegimane kalo jambang abang di rapiin dikit. Biar agak beda saat kita nikahan ntar...?" tiba-tiba ide Muna muncul saat menyadari jambang sang calon suami sudah mulai tumbuh tak karuan, mungkin sibuk akan semua persiapan pernikahan mereka.

__ADS_1


"Boleh... tapi ntar. Selesai sesi foto ini. Sebab setelah ini kita ganti kostum lagi. Juga ada syaratnya?" cicit Kevin.


"Apaan...?" curiga Muna pada Kevin.


"Mae yang cukurin..." pinta Kevin manja setengah merengek pada Muna.


"Jiaaah... entuh bukan spesialis Muna, bang."


"Tidak peduli. Pokoknya harus Mae yang bersihin."


"Yaaah... manja." Ledek Muna.


"Oke... Mae yakin. Kalo yang cukurin abang mereka itu." Tunjuk Kevin ke arah para pria berpenampilan wanita yang dari tadi celametan menunggu perintah untuk mengerayangi Kevin walau hanya sekedar memegangkan pakaian atau spon bedak demi untuk bisa berdekatan dengan Kevin yang tampan.


"Iiisssh... kaga rela Muna bang. Iye deeh, ntar Muna yang cukurin jambang si abang." Jawab Muna sedikit keki, tapi juga geli mebayangkan calon suaminya di pegang para banci kaleng yang berpenampilan seksi dan cantik menurut versi mereka sendiri.


Kevin segera meminta pihak yang bersangkutan untuk menyiapkan foam, cream dan alat cukur yang akan mereka gunakan nanti setelah sesi foto ke satu ini. Sebab, setelah itu akan ada sesi foto selanjutnya, di mana mereka menggunakan pakaian tuksedo dan gaun pengantinyang juga sudah mereka pilih sebelumnya untuk prewed ini.


Sesi foto bareng agak ribet dan sedikit riweh, sebab Muna selalu beralasan ini dan itu demi menghindar kontak fisik yang berlebihan pada gaya yang di arahkan untuk mereka.


"Kite pan belom halal bang. Trus, Muna pan ini kostumnye berhijab, masa adegannye peluk-pelukan. Kaga cocok lah bang."


"Masuk akal... ya sudah buruan selesaikan saja sesi ini. Lanjut sesi berikutnya. Kita ganti kostum." Perintah Kevin yang menimbulkan kepanikan dari pengarah gaya dan orang yang bertugas mengambil foto tadi. Namun, tak berani melawan perintah Kevin.


Sekarang Muna dan Kevin sudah berada dalam ruang ganti. Muna sudah tidak menggunakan atribut hijab dan pakaian tadi. Sebab akan berganti dengan pakaian pengantin nasional bak seorang putri. Ia kembali menggunakan pakaian yang ia gunakan saat datang tadi. Sedangkan Kevin sudah tampak siap duduk berselonjor indah, menunggu datangnya sang permaisuri untuk mencukur jambang kesayangannya.


Muna membaca dengan seksama petunjuk pada botol kemasan foam dan cream yang di siapkan. Sementara Kevin memilih diam dengan manis menunggu Muna melayaninya. Padahal biasanya hal itu dapat ia lakukan sendiri, tetapi jiwa usil dan mencari alasan agar dapat di sentuh gadis kesayangan adalah hal termanis yang harus ia nikmati sekarang, sebelum besok sudah harus di pingit dan di larang untuk bertemu gadis pujaannya ini.


"Bismilahirahmanirahim. Semoga abang kagak luka oleh Muna ye." Doa Muna sebelum melakukan pekerjaan yang sungguh pertama baginya.


"Biar luka juga bang rela Mae, asal yang buat lukanya Mae."

__ADS_1


"Abang emang suka lebay." Jawab Muna yang sudah dengan lincahnya memulai aktifitas itu di area wajah Kevin.


"Bang... ini kalo di habisin boleh?"


"Terserah Mae saja."


"Muna kagak bisa buat modelnya... kayaknya ini jadi habis, botak semua klimis bang."


"Memangnya kenapa kalo habis semua...?"


"Ya kali... ketampanan abang jadi berkurang gitu, kalo ga ada jambangnya lagi."


"Mae buat botak sampe kepala abang juga ga papa, asal Mae yang botakin."


"Yakiiiin... ntar kagak ada cewek-cewek yang lirik abang lho kalo botak."


"Ngapain ngarep di lirik cewek-cewek, kalo bini abang sukanya abang botak." Jawab Kevin sambil meraba bagian dagunya yang sudah bersih tanpa jambang andalannya.


"Kaga... Muna kaga mau abang botak di kepala. Ini juga... Muna nyesel buang jambang abang, tenyata abang lebih tampan berjambang dikit timbang klimis gini. Maafin Muna ya bang." Jawab Muna seolah benar menyesal dengan hilangnya identitas tampilan calon suaminya itu.


Bersambung...



Gimana Muna cantik ye pake busana hijab.


Mawar n kupi jangan lupa kasih buat nyak otor yeee


Sebab, nyak riweh cari kostum buat Muna model ini


Keep stay n always happy ya

__ADS_1


Lopeeeh buat semua readers nyak yang pada bisa bikin pantun ketular nyak🤭


Makasiiih all❤️


__ADS_2