OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 147 : KAKEK DAN CUCU


__ADS_3

Keadaan kakek Hildimar benar semakin membaik. Beliau jauh lebih segar dan semangat untuk sembuh dan sehat. Asalkan Muna selalu ada di dekatnya.


Selalu banyak canda dalam tiap obrolan Muna dan kakek. Mereka bagai sahabat yang lama tak jumpa. Semua tugas perawat hampir semua di ambil alih oleh Muna, mulai dari menemani kakek olah raga sampai menyuapinya makan. Semua Muna yang lakukan untuk kakeknya.


Via email, hasil DNA telah keluar, bahwa 100% Muna memang anak dari Rona dan Dadang. Maka tidak ada lagi praduga atau sekedar menduga belaka. Bahwa sangat jelas Muna Hidayatullah adalah Monalisa Hildimar, pewaris tunggal keluarga Hildimar.


Bagaimana hangatnya Muna melayani kakek Hildimar, demikian intens pula Muna melakukan video call dengan babe dan nyak yang tampak baik-baik saja.


Sepekan lamanya Muna berada di Belanda. Rona tidak buta dengan semua tingkah gerak gerik Muna yang tampak tulus dan ceria. Namun menyimpan kabut yang belum sepenuhnya di ketahui oleh Rona.


"Mun... Kamu merasa baik-baik saja selama di sini nak?"


"Pegimane ya mam. Muna selalu kangen babe ame nyak." Jawab Muna jujur.


"Yakin hanya kangen babe dan nyak? Siapa yang memberimu cincin di jari tengah kirimu itu?" Tanya Rona tiba-tiba yang membuat Muna sedikit terkejut. Ternyata wanita itu sangat memperhatikannya selama ini.


"Ini dari bang Kevin ma. Sebenernya... Tepat di hari sabtu saat kite berangkat ke mari. Adalah hari yang sudah disepakati untuk Muna melangsungkan akad nikah ame abang, ma." Ungkap Muna pelan.


"Hah... Apa...? Maaf Mun. Maaf, ternyata mama sudah mengagalkan pernikahanmu. Maafkan mama sayang... Lagi-lagi merusak tatanan hidupmu."


"Kagak ape-ape ma. Muna bae-bae aje." Ujar Muna menahan sedih. Tiba-tiba merasa rindu yang hebat melanda hatinya pada sosok seorang Kevin sang calon suami.


Rona beranjak berdiri memeluk tubuh Muna. Kemudian beranjak melangkah menuju kamar tuan Hildimar.


"Pa... Apakah papa berniat pulang ke Indonesia?" tanya Rona pelan pada sang papa yang terlihat duduk membaca buku.


"Belum... Papa rasa belum saatnya untuk pulang."


"Kapan papa siap?"


"Saat cucuku mampu memimpin rumah sakit miliknya itu."


"Tetapi cucumu bahkan baru lulus SMA pa. Tentu belum memiliki pengalaman dalam hal memegang sebuah perusahaan sebesar itu."

__ADS_1


"Jangan mengalah sebelum berusaha. Segera kuliahkan dia, carikan lembaga khursus secepatnya agar segera dapat mengisi otaknya dengan pengetahuan dan wawasan yang luas, terutama di bidang manajerial, bisnis dan kepemipinan. Dia satu satunya penerus nama ku. Maka aku yakin darah bisnis dan intelektual yang tinggi telah ia miliki." Diktator, kakek tua itu sungguh masih terdengar sangat diktator penuh ambisi.


"Tetapi dia bahkan hampir akan menikah. Jika tidak di bawa ke sini, mungkin sekarang statusnya sudah menjadi istri orang"


Plakh


Tangan tua itu gemetar memukul tangan kursi.


"Mengapa kalian para wanita selalu mengutamakan cinta dari pada usaha dan dunia pekerjaan. Tidak boleh... Cucuku tidak boleh menikah sebelum sukses dalam kariernya." Si kakek rupanya masih belum benar berubah, selalu di penuhi dengan jiwa pemaksaan dan kebegisannya.


"Papaaaa... Cukup sekali aku kehilangan anak karena ke egoisan papa yang menghalangi kisah percintaan ku. Tapi tidak dengan cucumu." Rona tak tinggal diam.


"Katakan di mana letak salahku? Aku hanya tak ingin saat kalian menikah kalian di injak injak suami kalian. Sebagai wanita kalian tak perlu menengadahkan tangan meminta minta pada suami, Jadilah wanita yang tidak bergantung dengan lelaki"


"Papa ... Suami yang baik tidak akan pernah merasa istrinya bagai pengemis saat hanya untuk meminta uang belanja bulanan. Itu mutlak tugas mereka sebagai pemimpin rumah tangga. Sebagai pencari nafkah." Balas Rona yang masih dalam mode marah pada papanya sang penguasa kejam.


"Aku tidak peduli papa setuju atau tidak. Malam ini kami akan pulang ke Indonesia. Aku harus mengembalikan posisi Muna sesuai tempatnya seperti sedia kala."


"Apa kau sudah gila Rona? Kamu bahkan baru sepekan menemukannya, mengapa harus kamu kembalikan? Muna itu milikmu, papa tidak setuju."


Selama tinggal di Belanda, bagi Muna tak bedanya bagai hidup di sangkar emas. Muna hanya menghabiskan waktunya berdiam diri di rumah, bercengkrama dengan sang kakek. Sedangkan abah Dadang telah lebih dahulu pulang. Hanya tersisa Rona yang ia kenal pun masih dalam kurun sepekan ini.


Maka menghubungi babe dan nyak adalah satu-satunya hiburan baginya. Yang isi obrolan mereka tidak lain hanya tentang kekuatan, kesabaran dan hati yang luas untuk ikhlas menerima keadaan yang tentu sulit bagi anak gadis mereka.


Suasana hati Rona tentu tidak baik-baik saja. Setelah bertengkar hebat, beradu argumen dengan sang papa. Kini ia lebih dapat merasakan jika jiwa Muna pun harus tetap di menangkan.


"Muna sayang... Siapkan dirimu 2 jam lagi kita akan pulang ke Indonesia." Tukasnya pada Muna yang sedari tadi hanya mematung memandangi apa saja yang dapat netranya tangkap dari atas balkon kamarnya.


"Hah....?"


"Maaf... Mama terlambat bertanya. Mama telah egois memisahkanmu dari calon suamimu, juga orang tua angkatmu. Kakek mu sudah jauh lebih sehat setelah bertemu dengamu, mama dan abah benar bersyukur telah menemukanmu. Maka hatimu lah satu-satunya yang harus kami bahagiakan. Bukankah abah kemarin bilang, kamu berangkat hanya untuk menjenguk kakek?"


Dua bola mata Muna berbinar bahagia. Muna sangat pandai menutup rapat kerinduannya pada Kevin, babe juga nyak, namun ia tak pandai menyimpan rasa bahagia dan senang dalam hatinya yang tampak meluap begitu saja.

__ADS_1


Sontak ia menyambar tubuh Rona, mengucap rasa syukurnya bertubi-tubi.


"Alhamdulliah....Alhamdulilah ya Allah, Engkau kabulkan semua inginku. Terima kasih mama." Muna terisak, menyadari hati Rona terbuat dari titisan dewi penyelamatnya.


"Apa yang membuatmu bahagia?"


"Muna bisa balik ketemu babe dan nyak lagi."


"Bagaimana dengan rindumu pada calon suamimu?"


"Kagak tau mam. Sampai sekarang Muna belum kasih kabar apepun ame abang."


"Astagafirullahalazin. Muna...!!! Kamu apa-apaan siih. Dia pasti khawatir Mun. Mengapa kamu setega itu?"


"Biarin begini dulu mam. Muna mau liat sesetie ape abang nunggu Muna."


"Muna belum cinta? Mengapa hampir memutuskan untuk menikah kalau belum yakin."


"Itu... Anu. Ehm... Muna terima abang dengan cepet hanya karena takut dosa. Soalnye abang mesum." Muna memilih jujur dengan sedikit malu mengakuinya.


"Bukan mesum... Tapi lelaki mana yang tahan melihatmu, kamu cantik sangat cantik sayang. Tentu banyak laki-laki yang mengincarmu."


"Muna kaga mikir soal lelaki mam. Makanya Muna ampe rela jadi OB karena sangat ingin jadi sarjane. Muna benernye kagak mau nikah muda, Muna mau kuliah, Muna mau jadi wanita karier dulu bari menikah."


Rona mengerlingkan matanya, mendadak merasa bingung. Mengapa pemikiran anaknya bisa sama dengan sang kakek. Apakah ia akan menguliahkan Muna di sini saja, hingga tamat. Lalu mengembalikan Muna pada kedua orang tua angkatnya?


Bersambung....


Gimana readers....?


Masih ngambek, geram dan geregetan?


Tarik nafas dulu yaaa...

__ADS_1


Di sini yang perlu disalahkan hanyalah nyak otor ye...


Timpuk kopi, mawar ame vote deh sekalian. Biar otak nyak otor kembali ke asalnye😂😂😂


__ADS_2