
Diendra, Rojak, Dadang, Gilang, Kevin dan Aydan sudah berada di restoran seafood. Dan benar saja, Aydan memang lahap makan udang besar yang ada di hadapannya tersebut.
Aydan duduk di antara Kevin dan Gilang. Parahnya Aydan lebih sering minta di layani oleh Gilang dalam hal mengupas kulit udang itu.
"Ka Ay... sini papap aja yang kupasin."
"Ga ucah pap. Ada om Gilang, om nanti temenin Ay main di mol ya om."
"Iya siap. Tapi ijin papap dulu, boleh ga...?"
"Boweh kan pap?"
"Sama papap saja."
"Angan ... papap keja."
"Ga... biar yang kerja om Gilang aja. Papap main sama ka Ay, oke."
"Mang celu main ama papap?"
"Ya di seru-seru in lah Ay." Kevin maksa supaya Aydan mau bermain dengannya.
"Kamu tidak dekat dengan anakmu Vin?" tanya papi Diendra.
"Ya iyalah pi.. Kevin baru sebulan ini pulang ke Indonesia." Jawan Kevin membela diri.
"Elu kelamaan ngelonin Muna, Tong. Sampe anak loe deketnye ame Gilang sama Gita juge. Karena mereka sering ajak Ay main." Celetuk babe.
"Ya gimana yah. Simalakama Kevinnya." Celos Kevin pasrah.
"Yang kemarin ya sudah. Yang besok harus segera di susul hatinya. Jangan sampai anakmu lebih nyaman dengan orang lain. Cukup kita yang pernah rasakan itu, jangan ulangi ke anak-anakmu kelak." Diendra menasehati Kevin.
"Iya pi, siap."
"Gita gimana? betah? kerjanya gimana?" tanya Diendra lagi.
Kevin agak bingung ingin menjawab, takut terbongkar kedok Gita. Secara di situ ada Gilang.
"So far... so good lah." Jawab Kevin kalem.
"Ada keliahatan dekat dengan seseorangkah? Atau masih belum bisa move on dengan mantannya?" tanya Diendra yang membuat Gilang agak curiga.
"Pi... Kevin lama di Apeldoorn. Mana punya waktu mantau yang begituan. Karyawan Kevin banyak, ga sanggup lah tau urusan pribadi mereka juga."
"Hahaa... benar juga. Tuh... mamanya Gita lagi ada misi datang ke sini. Mau jodohin dia sama akuntan publik. Kerja di sini dan katanya sudah punya kantor sendiri yang menerima jasa layanan pemeriksaan laporan keuangan dan sejenisnya. Orangnya matang dan mapan." Beber Diendra.
"Hek echeem." Mendadak Gilang tersedak mendengar kalimat yang baru Diendra sampaikan. Belum Gilang tau siapa lelaki yang Kevin panggil dengan sebutan pi itu, ia sudah di hadapkan dengan dengan isu tentang perjodohan Gita. Ajiiiir, apa kabar kisah mereka yang belom jadian ini??
"Om Lang... num. Makan na pelan-pelan. Atuk... cakit?" celoteh Aydan menoleh pada Gilang.
Gilang segera mengambil gelas untuk minum, lalu tersenyum ke arah Aydan.
__ADS_1
"Udah om ga sakit. Lupa minun saja, makasih ya Ay." Senyum Gilang pada Aydan.
"Oh iya.. pak lusa. Kita ada jadwal tinjauan lokasi buka pabrik cabang di Cisarua. Apakah bapak bisa ikut?" tanya Gilang mengalihkan topik pembicaraan.
"Tidak bisa Lang. Besok mamam Aydan pulang kerumah. Saya juga suda janji berenang sama Ay. Kamu saja yang pergi. Ajak Gita atau Siska, biar Haikal jaga kantor. Tim pemasaran juga di ajak, beberapa. Itu kan kamis, sekalian aja kalian weekend deket Lembang tuh. Banyak villa keren di sana. Kalian lama ga hang out. Gabungkan 3 divisi biar seru." perintah Kevin yang sejak dulu memamg selalu memperhatikan kesejahteraan karyawan perusahaanya.
"Oke.. siap pak. Nanti Gilang sampaikan." Jawab Gilang patuh.
"Lang... sudah bisa nyetir?" tanya Kevin lagi.
"Sudah pak."
"Sudah punya mobil?"
"Belum." Jawabnya malu-malu.
"Pakai mobil saya yang di garasi. Ada satu jarang di pake."
"Ga usah pa. Masih suka pake motor." Jawab Gilang lugu.
"Jabatan Gilang ini apa di perusahanmu Vin?" tanya Diendra sedikit tertarik dengan obrolan Gilang dan Kevin.
"Sebelumnya Gilang sekeretaris pi. Sekarang sudah jadi aspri saya."
"Kasih gajinya yang banyak, biar dia cepat beli mobil, jangan pelit. Aspri kok wara-wiri pake sepeda motor. Apa terkejar semua kerjaannya?"
"Alhamdulilah pa. Ke kantornya saja yang pake sepeda motor. Kalo urusan dinas di kantor kan ada pak Min. Jadi ga mubazir. Menuhin parkiran mobil." Jawab Gilang masih dalam nada sopan.
"Ka Ay... makannya udah?"
"Udah tenyang pap." pelo Aydan.
"Oke... kita pulang ya. Sama bunda Laras mau?"
"Ogah..."
"Yaah... dia bilang ogah. Babe niih yang ngajarin." Celetuk Kevin. Di balas tawa dari mereka semua.
"Ka Ay mau pulang dengan siapa?"
"Cama om Lang pap."
"Eh... ga bisa. Nanti k Ay ngantuk di jalan ga ada yang pegangin."
"Nanti cama aunty... om."
"Motormu di mana?" tanya Kevin.
"Di klinik tadi kan datang bareng nengGi."
"Ya udah. Oke..., kita ke mamam dulu bareng. Nanti pulang ke rumah di antar om Lang sama aunty. Oke son...?"
__ADS_1
"Ciap papap. Alapyu."
"Jiiiaaaah... anak papap pinter ngegombal." Kekeh Kevin menggendong Aydan gemesh.
Mereka pun kembali ke klinik. Di perjalanan masih di isi dengan tawa canda dengan celotehan Aydan yang ada-ada saja. Aydan sepertinya berbakat lucu seperti babe Rojak. Jangan-jangan juga akan jago pantun ntar.
Para khusus lelaki sudah tiba di klinik. Keseruan berlanjut ke ruang rawat Muna tentunya.
"Bu selamat ya... sudah lahiran. Maaf, mestinya tadi nyampenya. Tapi keburu di culik bapak." Ucap Gilang menyalami Muna.
"Oh gitu... iya ga papa. Makasih ucapannya ya Lang."
"Mamam... Ay puyang duyu yaa. Bunda Yayas, bye-bye. Ay puyang cama aunty." Celoteh Aydan yang masih menjadi bintang di ruang rawat inap itu sambil meraih tangan Gita dan Gilang.
"Mari kami permisi dulu semuanya Asaalamualaikum." Pamit Gilang agak kikuk dengan tatapan seorang wanita paruh baya yang memandangnya dengan intens dan penuh tanda tanya.
"Walaikumsallam" Jawab mereka kompak.
Gita lagi-lagi hampir semaput. Saat Gilang ada di tengah-tengah keluarga besarnya. Tapi untuk membongkar kedoknya iapun masih belum punya nyali.
Ingin jujur sudah punya calon pasangan hidup pada mama Indira juga belum punya hak paten. Secara Gilang memang sering terlihat boncengan sama Sita. Ngaku suka serius duluan gengsi juga.
Benar saja tebakan Gilang, belum 10 menit motornya melaju. Aydan sudah tertidur di pangkuan Gita. Terjepit di antara dua insan yang sebenarnya saling suka, tapi masih alot, lama kaya masak rendang sapi gaes.
"AGi... "
"Apaa??"
"AGi pacaran sama Sita?"
"Hah... ga kedengaran...!!!"
"A'a pacaran ya sama Sita." Teriak Gita mendekati telinga Gilang.
Gilang menepikan motornya, agar suara motor tidak terlalu bising.
"Apa...?" tanya Gilang.
"Ga jadi A... nanti aja." Jawab Gita yang kehilangan semangat.
"Kita anterin anak sultan ini dulu ya neng. AGi denger kok pertanyaannya tapi, nanti AGi jawabnya. Karena kalo Agi jawab sambil di jalan, yang denger tuh cuma angin. Terus kalo Agi jawabnya nyaring.... ntar di kita AGi teh, orasi. Di sangka mau kampanye neng." Kekeh Gilang menoleh ke belakang.
"Iya... iya. Maaf. Lanjut deh A'. " Jawab Gita lagi. Sambil semyum di balik punggung Gilanh agak malu.
Bersambung...
Ciiieee yang kangen Agi sama Nenggi pada senyum lagi niih.
Nyak kasih senyum manisnya Gilamg deh biar semangat nimpuk nyak.
__ADS_1