
Gilang belum sempat menghindar ataupun menangkis, tapi Risna sudah menyambarnya, memeluk bahkan mencium pipi kiri dan kanannya. Hmm… wanita itu adalah Risna, mantannya Gilang. Siska sedikit geram untuk Gita melihat pemandangan di depannya. Ini sungguh pengalaman pertama bagi Siska, yang notabene bahkan pernah jadi sektetaris di perusahan Mahesa sekalipun. Lah ini, belum seminggu dampingi Wakil CEO tapi sudah ketemu wanita agresif seperti ini.
“Maaf…” Dorong Gilang tegas pada Risna. Dan segera mundur.
“Siska, kita janjian di meja berapa?” Gilang mengabaikan Risna.
”Di meja ini pak Gilang.” Jawab Siska seolah mereka benar adalah pasangan Wakil CEO dan Sekretaris yang professional yang tidak saling akrab.
“Oh, jadi kita akan bekerjasama dengan wanita ini?” Tanya Gilang ke arah Siska.
“Benar pak, ibu ini perwakilan dari Gemini Corps. Benar demikian bu?” Jawab Siska.
“Oh.. iya benar sekali. Silahkan duduk. Kita bahkan belum kenalan secara langsung ya mbak Siska? Benar?” Siska merasa perlu kenal sedikit dengan wanita yang terlihat genit ini.
Gilang mengerling tajam ke arah Siska, tiba-tiba jiwa Wakil Ceonya keluar begitu tajam dan terlihat emosi. Tidak ada kelembutan seperti yang biasa ia lihat dalam kesehariannya.
“Saya Risna, kepala bagian pemasaran di Gemini Corps. Saya di sini sebagai orang yang di percaya oleh pimpinan saya untuk mengajukan proposal kerjasama dengan perusahaan kalian. Kevin Sebastian Mahesa, demikian saya baca pfofil perusahaan yang sedang kalian wakili ini. Benar?” papar Risna yang sudah berhasil duduk di samping Gilang dengan kursi yang sengaja di dekatnya.
“Siska… plis. Aku ga mau berurusan dengan wanita ini. Sebaiknya kita pulang dan jangan lanjutkan kerja sama apapun dengan perusahannya. Nanti aku jelaskan alasannya.” Dengan cepat Gilang mengetik pada ponselnya. Sementara Risna sedang membuka tasnya berisi proposal yang akan mereka bicarakan.
“Maaf bu Risna, pimpinan yang ibu maksudkan tadi sudah resign. Sehingga maksud kami datang kesini bukan tentang melanjutkan hubungan kerja….”
“Malah sebaliknya, kami ingin menegaskan bahwa perusahaan kami sama sekali tidak tertarik dengan tawaran apapun yang kalian tawarkan. Selamat siang.” Tegas Gilang memotong pembicaraan Siska tadi, kemudian berdiri meninggalkan Risna yang bahkan belum mulai beraksi.
“Pak Gilang tunggu. Maafkan saya bu Risna. Permisi.” Siska tergopoh baru kali ini dia bahkan berlari ala Betty La Pea mengejar bosnya.
“Gilang… Gilang. Kita bahkan belum pernah putus…!!” Teriak Risna horror.
Membuat Siska menoleh melihat ke arah Risna juga mempercepat langkahnya mengejar Gilang.
“Gilang… dia siapa sih?” Tanya Siska penasaran.
“Tolong jalan pak Min. Balik ke kantor ya.” Perintah Gilang dengan nada rendah pada pa Min sambil melonggarkan dasinya.
“Dia siapa?” Ulang Siska lagi.
“Kamu dengar sendiri tadi?”
“Mantanmu?”
__ADS_1
“Hmm…”
“Tapi dia bilang kalian belum putus Lang?” tanya Siska.
“Bagi dia, tapi bagiku sejak lamaranku di tolak itulah putus.” Siska terdiam.
“Gita tau soal ini?”
“Dikit.”
“Gimana?”
“Tau saja, kalau aku pernah punya pacar namanya Risna.” Jelas Gilang pada Siska.
“Maaf Lang. Cewek itu urusan jadian maunya di resmiin dengan tegas berduaan. Sama dengan soal putusnya. Ga bisa otomatis gitu. Bisa jadi hanya kamu yang anggap putus, tapi dia masih cinta sendiri. Kamu akan menikah dengan Gita, Lang. Sebaiknya selesaikan urusanmu dengan Risna sampai tuntas. Dan jangan tutupi ini dari Gita. Untung dia cuti, kebayangkan jika dia yang bersama kamu tadi, ketemu cewek langsung main sosor peluk Gitu. Kalian udah deket banget ya dulu pacarannya...?” tebak Siska.
Gilang hanya diam, menyimak yang Siska sampaikan.
“Maaf ga usah di jawab.” Siska merasa terlalu lancing menginterpertasi Gilang.
“Kita belum sempat makan siang, mau makan dimana?” Tanya Siska lagi.
“Aku makan di area perkantoran bareng oppa Asep. Mau gabung?”
“Tidak. Aku pulang kerumah saja. Ada Gita di rumah.” Jawab Gilang saat mobil mereka sudah berhenti di parkiran perusahaan mereka.
Ponsel Gilang dalam mode silent, ternyata sudah puluhan panggilan tak terjawab dari nomor kontak Risna yang memang masih tak pernah Gilang hapus dari ponselnya. Dan nomor kontak Gilang pun tak pernah berganti. Sehingga keduanya terkadang masih bisa stalking.
“Assalamulaikum.” Sapa Gilang di depan pintu rumahnya. Yang langsung disambut senyum manis Gita, ingin rasanya ia menyambar tubuh itu untuk merangkumnya dalam pelukan. Apalah daya masih haram.
“Walaikumsallam. Agi… meetingnya selesai?” sahutnya antusias.
“Batal.”
“Kok bisa? Kenapa A?” Tanya Gita penasaran.
“Boleh makan dulu ga neng?” Tanya Gilang.
“He..he..he. Maaf A. Ya iyalah boleh.” Kekeh Gita.
__ADS_1
“Cuci tangan dulu Lang.” ibu mengingatkan.
“Iya bu. Gimana enak di rumah di temenin calon mantu bu?”
“Menyenangkan lah Lang. Ini Gita yang masak lho. Tadi ngakunya ga bisa masak, ternyata kalo gini rasanya mah udah jago dia mah.” Puji ibu Gilang pada Gita.
“Ibu yang kasih bilang bumbu rempah dan tahapan mana yang di masukkan duluan A. Neng cuma ngikutin aja.” Jawab Gita merendah. Gilang mendusel pucuk kepala Gita gemas.
“Terima kasih calon istri.” Ucap Gilang menmyambut piring yang sudah di isi nasi oleh Gita.
“Ingat ya, masih calon. Jangan sampe kebablasan kalian berdua.” Pesan ibu Gilang melihat kemesraan anak dan calon menantunya tersebut.
“Iya bu… dia masih haram untuk Gilang.” Kemudian merapalkan doa sebelum benar menikmati makan siangnya dengan menu sederhana tetapi rasa luar biasa. Mungkin efek di masak dan di temani oleh orang yang special jadi berpengaruh dengan rasanya.
Selesai menikmati makan siangnya, Gilang memilih masuk kamarnya untuk melaksanakan sholat dhururnya.
“Neng ga sholat?” Tanya Gilang saat melihat Gita masih membawa piring berisi pudding yang sepertinya baru jadi.
“Nanti sekalian di Jamak saja A, kalo sudah di kost.” Jawabnya yang sesungguhnya agak terganggu dengan getaran ponsel Gilang yang hampir tak berjeda.
“A’ kayaknya ada yang penting tuh, dari tadi ponsel a’a bergetar.” Gita memberi informasi.
“Hmm… biarkan saja.” Jawab Gilang melihat sebentar siapa yang dari tadi masih gencar menghubunginya. Lalu memilih bergabung dengan ibu dan Gita yang sedang menikmati pudding buatan Gita tadi.
“Kenapa tadi batal kerjasamanya A?” Gita masih saja penasaran dengan cerita Gilang yang tadi pagi pamit bertemu calon investor, tapi siang ini malah bilang batal.
Gilang tidak menyimak pertanyaan Gita, sebab ponsel itu memang tidak bergetar. Namun sudah berisi sebuah chatt.
“Alamat rumahmu masih yang dulu kan sayang, aku mampir ya. Ini aku sedang beli kue kesukaan ibu mu sebentar. Aku selalu merindukanmu.” Gilang gelagapan. Merasa aman sedari tadi mengindahkan panggilan dari Risna. Kini ia justru tak punya alasan menolak kehadiran Risna yang sudah memarkirkan mobilnya di halaman depan rumahnya. Bahkan dia tak sempat membicarakan apapun pada Gita. Meminta Gita pulang atau sembunyi pun tidak ada waktu.
Bersambung…
Sebelum halal
Micin juga perlu untuk penyedap rasa ya gaes
Selalu ingin buat hati kalian bahagia readers
Makasiiiih❤️
__ADS_1