
Kevin baru menyadari jika kini ia tengah berada di dalam sebuah ruangan rapat. Tatapan mata kolega bisnisnya menjurus tajam bak pisau belati menghunus ke arahnya. Buru-buru Kevin meminta maaf dan minta waktu untuk keluar ruangan tersebut agar dapat menyelesaikan masalahnya.
Di perusahaan Mahesa tampak Muna cekikikan sendiri sebab telah berhasil mengkondisikan agar Bara dan Siska bisa makan berduaan, walaupun iya harus rela menahan lapar karena tidak sempat makan di kantin itu.
Belum Muna membuka kulkas. Ponselnya sudah meronta-ronta di sakunya. Vicall dari Kevin.
"Assalamualaikum abang."
"Walaikumsallam, lagi di mana sama siapa?" berondong Kevin tanpa ba-bi-bu.
"Lagi di pantry bang, sendiri." Muna sudah mengedarkan kamera ponselnya pada seluruh isi ruangan pantry, yang benar saat itu Muna sedang sendiri saja.
Sejenak Kevin terdiam, sebab antara foto yang di kirim Ferdy dengan kenyataan yang ia lihat berbeda.
"Hmm... ga jadi makan di kantin 15?" tanya Kevin agak melunak dari nada di awal tadi.
"Kagak ***** ... kagak semangat, kaga ada abang."
Gubraaak
Hati Kevin langsung bagai berada di hamparan bunga tulip warna warni di negeri kincir, Belanda.
"Calon bini abang sudah pintar ngegombal ya sekarang."
"Iye niih kayaknye ketularan abang."
"Hadeeeh, kalo ada pintu ajaib doraemon. Abang udah samperin Mae sekarang deh."
"Abang kapan pulang siih?"
"Cie...cie ada yang kangen abang niih?"
"Abang kelamaan kerja di sananye. Abang punya bini ye di sono. Tiba abang di mari juga sibuk kerja melulu." Ternyata efek lapar Muna tadi justru dapat menstimulasi kejujuran Muna pada Kevin.
"Sayaaaang... apaan siih. Segala nuduh abang punya bini di sini."
"Habis abang kerja melulu, sampe Muna di cuekin. Abang benernye demen ame duit atau mae aye sii bang. Ngejer duit sampe sesegitunye. Kawin tuh ame kerjaan."
"Yaaah kalo abang kawin sama Kerjaan, Mae kawin sama siapa dong... Ga takut jad perawan tua Mae."
"Bodooo." Muna merengut kesal.
"Tolong bibirnya di kondisikan ya sayang... jangan goda abang."
"Abang... masih lama di sana?"
"Kerjaan mungkin 3 hari lagi selesai, cuma abang mau sekalian ke papi. Mau bicarakan soal hubungan kita sayang. Kan syarat dari Mae... Babe harus jumpa dulu sama papi."
"Serah deh, lama-lama empet juge jauhan sama abang."
"Halllaaah... abang deket juga Mae marah-marah."
"Ya... pan kita belum halal bang."
__ADS_1
"Hmm... ya sudah. Semoga semua usaha abang berhasil ya sayang."
"Iye... bang. Muna lapar banget ini mau makan ke lantai 2 aje, boleh pan."
"Sama siapa?"
"Sendirilah... emang ame sape lagi."
"Ya sudah, selamat makan sayangnya abang. Assalamualaikum."
"Walaikumsallam abang sayang"
Limbung, melayang tidak jelas yang Kevin rasakan sekarang. Tiba-tiba saja emosinya yang memuncak saat melihat foto Muna tadi hilang, raib bagai angin yang berhembus tidak nyata.
Hanya dengan melakukan vicall dan mendengar suara Muna saja sudah dapat meredakan badai amarah yang membuncah di dadanya.
Sehingga Kevin memilih percaya pada Muna. Ia percaya Muna setia, walau tak terang mencinta. Ia terlalu yakin, hati Muna luas seluas samudra, lautan maaf ada di sana, ketulusannya bagai hamparan bintang di langit malam itulah gambaran sosok seorang Muna bagi Kevin.
Jika melihat secara langsung, mungkin usia Bara tidak bertahan lama. Minimal UGD tempat tongkrongan Bara sekaramg dan Kevin di balik jeruji besi.
Tetapi, Kevin bukanlah Kevin yang dulu, kasar, tempramen, dingin dan arogan. Ia sadar Muna menganggapnya pria mesum, tentu akan lebih parah jika kini cap brutal akan di sandangnya, hanya oleh sestau yang belum teruji kebenarannya.
Gadis muda belia, Muna Hidayattulah adalah keajaiban bagi seorang Kevin, tak hanya mampu menyembuhkan luka batinnya, tetapi telah mampu merangkul jiwanya keluar dari segala roh jahat dalam dirinya. Muna adalah jembatannya menuju jalan Allah.
Jika kini Kevin terlihat sangat sibuk, itu semata karena ia ingin segera memulai hidupnya dari nol bersama Muna, walau mungkin tanpa embel-embel seorang CEO di Perusahaan Mahesa lagi.
Berbanding terbalik dengan Ferdy. Kini ia justru di landa kebingungan tiada tara, merasa kiriman foto yang dikirimnya bagai kacang. Ya... kacang yang hanya di kacangin alias tidak di tanggapi oleh Kevin.
Tidak ia dengar hardikan, makian bahkan permintan konfirmasi dari Kevin. Yang berarti Kevin tidak terpancing akan perihal foto tersebut. Ferdy meyimpulkan sendiri jika kini Kevin sudah kembali normal.
Keesokkan harinya suasana di perusahaan Mahesa pada kamis itu terlihat ramai. Sebab telah beredar berita bahwa pada sabtu lusa akan di laksanakan acara perpisahan pak Bondan sekretaris senior andalan Kevin.
Acara itu akan di laksanakan di Pantai Marina Ancol. Sudah sangat terbayang bagaimana mewah, dan megahnya acara itu di laksanakan. Bahkan untuk ukura pesta pernikahan pun sangat jarang di gunakan karena tentu akan mengeluarkan biaya yang tidak murah.
Namun, Kevin selaku CEO tidak pernah memikirkan berapa uang yang harus habis ia gelontorkan untuk acara tersebut. Sebab pak Bondan bagai ayah baginya, pak Bondan sudah menjadi sekretaris malah sejak Diendra Mahesa papinya Kevin memimpin perusahaan itu, hingga membimbing Kevin berhasil seperti sekarang ini, adalah bwrkat usaha dan tangan dingin pak Bondan.
Pekerjaan Muna sudah selesai, ia pun sudah pamit pada Kevin akan makan siang di gerobakan nya Time saja siang ini.
Namun, baru sampai di depan pintu pantry Muna kembali bertemu Bara.
"Haii Muna..."
"Iye mas Bara."
"Kamu bisa ikut kan di acara perpisahan. Pa Bondan itu papa ku lhoo."
"Oh... belum tau sii mas. Muna belom ijin ke orang tua dan pacar Muna."
"Sini, mas bantu ijinkan."
"Kagak use." Jawab Muna sedikit cuek karena tidak ada Siska di antara mereka.
"Muna mau ke mana...?"
__ADS_1
"Makan siang mas."
"Di mana...? Bareng yaa."
"Noh di gerobakan depan gerbang. nyak babenya Muna jualan ketoprak di depan sono." Dengan cueknya Muna mengakui dirinya adalah anak penjual ketoprak gerobakan.
Awalnya Bara kira Muna hanya bercanda. Mana mungkin seorang muna nan cantik jelita ini, hanya seorang anak penjual ketoprak. Tetapi Bara sedikit kagum dan menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat kini mereka baru tiba di gerobakan tersebut.
"Assalamualaikum be, nyak." Sapa Muna langsung mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Walaikumsalllam.
Tanam padi pake benih,
Nanamnye jangan sambil berlari.
Ada angin ape niih,
Jam segini, anak babe ude kamari." Sapaan khas babe pada Muna.
"Buat baju dari kain,
Udah jadi, taro di lemari.
Kaga use pake angin,
Mune lapar, pengen makan di mari." jawab Muna membuat Bara keheranan.
"Ikan lele di kasih pakan,
Simpen aer di dalam gentong.
Kalo lapar ya tentu makan,
Tapi babe bingung, cari si Entong."
"Ya elllah babe, si Entongnye babe masih sibuk di luar angkasa, Kejaannye ga ketulungan be." Jawab Muna yang menyiapkan makanannya sendiri.
"Permisi boleh pesan ketopraknya satu porsi...?" Bara bersuara merasa di cuekin Muna.
"Iye bentar ye." Jawab nyak Time ramah seperti kebiasaannya pada pelanggan lainnya.
"Muna... elu ngapa siih? Belom setaon kerje ude gonta-ganti aje bawa cowo kemari. Nyak kagak demen!" Nyak Time memelankan suaranya tepat di telinga Muna.
"Ish enyak. Sape yang ngajak, dienye yang ngekor aye." Jawab Muna membela diri.
Bersambung...
Iissh.... ga seru ye babang Kevin kagak ngamuk-ngamuk.
Padahal readers nungguin paan
Lop seKecamtan buat semua
__ADS_1
❤️❤️❤️