
Beda pola pikir itu hal wajar, tapi bagaimana menselaraskan perbedaan itu untuk mendapatkan kesepakatan itu yang utama.
Isi obrolan couple duo G sekarang memang lebih berbobot, sarat rencana dan misi kedepan untuk kelanjutan hidup yang akan mereka tempuh bersama.
Toyota Voxy hitam sudah terparkir rapi di garasi rumah kediaman Mahesa. Rumah di mana dulu Indira datang sebagai pelakor dan kini sebagai istri satu-satunya di sana. Diendra sebenarnya malu untuk tinggal di rumah itu, tapi Kevin meminta agar mereka akur dan tinggal di rumah itu bersama jika sedang berada di Jakarta.
"Asaalamualaikum." sapa Gita memasuki rumah.
"Walaikumsallam, Gita... sama siapa sayang." sapa mama Indira melihat kedatangan Gita.
"Sama A'a Gilang ma. Papi mana?"
"Main tennis sama kolega bisnisnya, sebentar lagi pulang. Masuk Lang." Ramah Indira pada Gilang.
"Iya bu." Jawab Gilang yang langsung menyalimi tangan calon mertuanya.
"Maaf ya Gilang. Kemarin di Bandung, sebenarnya mama tuh bukan tidak setuju sama kamu. Hanya, rasa khawatir terlalu mendominasi hati mama. Gita putri kami satu-satunya. Banyak airmata dan luka saat membesarkan mereka. Bukan perkara mudah dapat mempertahankan agar mereka selalu mendapat tempat pendidikan yang layak. Jadi, sebagai orang tua mama praktis saja. Ingin putri mama menikah dengan orang yang mama anggap mampu membahagiakan Gita dengan materi yang tidak susah lagi untuk di perjuangkan." Indira tidak berbasa-basi dalam hal mencurahkan isi hatinya.
"Maaf bu. Jika melimpahi Gita dengan materi yang berlebihan, Gilang pastikan belum mampu. Dan, benar. Bersama Gilang, Gita harus berjuang dari nol untuk mencapai yang sesuai standart keluarga ini. Gilang tidak bisa janji banyak, hanya berusaha menjadi imam yang baik untuk menuntunnya ke surga."
"Masyaallah. Itu yang sempat mama lupakan. Dan terlalu memandang sebelah mata, tanpa memikirkan perasaan anak mama sendiri. Mulai sekarang, mama titip Gita ya. Bimbing dia, jadilah imam terbaik untuknya. Doa mama menyertai kalian." Jawaban Indira di dengar oleh Diendra yang baru saja masuk rumah.
"Waah ada yang proklamasi nih." Ledek Diendra pada istrinya.
Gilang berdiri untuk menyalami papi Diendra dengan hormat.
"Iya... pi. Mama udah kasih restu untuk mereka. Mama pernah jatuh cinta, jadi tau benar rasanya was-was belum dapat restu. Mama tidak mau Gita gegabah. Mana tau dia malah nekat kawin lari, malah tambah malu keluarga kita."
"Ya ampun mama segitunya curiga sama Gita." Kekeh Gita.
"Jadi gimana? Mau langsung nikah atau gimana dulu?"
"Maaf pa... boleh ga akad saja, ga usah pake resepsi?"
"Kenapa? Putri saya ini satu-satunya lho. Masa tidak di pestakan?"
"Uangnya ga cukup kalo ngelar resepsi mewah pa." Peluh Gilang sebesar biji jagung udah ngucur saja di dahinya.
"Hahaaa... jangan pikirkan soal biaya. Tanggung jawab terakhir orang tua setelah memberikan pendidikan adalah menikahkannya. Jadi, pesta kalian urusan papi."
"Tapi ga enak pa."
__ADS_1
"Kita akan jadi keluarga, tidak usah sungkan. Saya membiayai pesta pernikahan anak saya, bukan berarti membelimu atau tidak menghargaimu. Yang penting itu kita sepakat saja."
Gilang hanya bisa mengeryitkan kedua alisnya. Berasa mimpi, ke sininya dapetin anak sultan tidak semenakutkan yang dia pikirkan.
"Kenapa? Masih belum setuju? Oke.. silahkan akad dulu. Resepsinya belakangan tunggu dana kalian siap. Berapapun kekurangannya nanti papi yang tutupi. Sebab bagi papi, yang penting kalian halal dulu. Tinggal di kota yang sama, kantor yang sama, membuat hubungan kalian rentan di cemari dosa. Cukup papi yang pernah salah, kalian tidak patut meniru yang tidak baik."
Gilang memandang ke arah Gita.
"Boleh... boleh." Jawab Gita.
"Ya sudah... urus pendaftaran nikah kalian mulai sekarang ya. Setelah Daren masih bisa bersabarkan?" tanya Diendra.
"Iiih papi. Kaya Gita kebelet aja."
"Ya kali. Soalnya kalo bareng sih agak repot kaliannya bagi waktu. Karena ibunya Zahra minta acaranya di Aceh. Karena ayahnya sudah meninggal. Jadi minta di laksanakan di tempat kakek dan nenekmya Zahra saja. Agar ada yang mendampingi beliau. Belum 6 bulan kehilangan pasangan hidupnya, tentu suasana hatinya masih sangat sensitif." Papar Diendra.
"Oh... jadi kita bakalan ke Aceh nih bulan depan." Tukas Gita semangat.
"Iya... Daren lho ya yang nikah bukan kalian yang bulan madu." Kekeh Diendra meledek Gita.
"Aaah papi. Paling AGi juga tidak ikut."
"Agi kan asprinya kak Kevin. Kalo kakak yang berangkat, siapa jaga gawang?"
"Iya benar juga. Ya.. bagus lah. Daripada kalian mau curi star."
"Papi kok hobby sekali candain Gita. Dia itu bukan anak SMP lagi pi."
"Haha... ha lupa ma, bahkan papi sudah jadi opa-opa. Jadi kapan kira-kira akad kalian? tanya Diendra kembali pada fokus mereka kembali.
"Sebulan setelah Daren saja mungkin." Jawab Gilang.
"Oke... tapi sebelum nikah usahakan jangan bikin malu ya. Kalian sudah dewasa, pasti paham dengan yang papi maksudkan." ujar Diendra penuh arti.
"Iya mengerti." Jawab Gilang. Apa dong yang ada di pikiran orang tua calon mempelai wanita, selain tak sanggup menyandang malu, jika perut putri mereka isi duluan, terindikasi hamil bayi kurang bulan saat lahiran. Akibat mungkin calon pengantin suka menabung dan bayar dp di depan. Haha...hahaa. Semoga tahan ya nunggu 2 bulan lagi menuju halal.
"Mama... ada masak?"
"Ga ada..."
"Boleh ga papi di traktir calon mantu makan di luar. Ada mobil baru juga tuh parkir di depan. Punya Gilang?" canda Diendra pada Gilang dengan senyum bangganya.
__ADS_1
"Maaf pa. Ga bisa beli mobil mewah untuk putrinya."
"Biar kata cuma mampu beli bajai, kalo putri ku bahagia. Papinya bisa apa?" kekeh Diendra.
"Maaf... adzan magrib. Bisa ibadah di mana?" tanya Gilang sopan.
"Biar Gita sama mama sholat di rumah. Kita ke langgar saja bagaimana?" ajak Diendra pada Gilang.
"Oh iya boleh-boleh." Jawab Gilang antusias.
Sepeninggalan Gilang dan Diendra. Mama Indira memeluk Gita dengan airmata.
"Terima kasih tidak memilih jalan seperti mama ya Git. Sungguh mama malu sekaligus bangga padamu. Jadilah makmum yang taat dan tunduk pada suami. Agar suamimu tidak berpaling. Mama sungguh takut karma berlaku dalam rumah tanggamu kelak. Mama takut dosa mama kamu yang tanggung."
"Mama... Allah maha pemaaf. Dan maha mendengar. Kita minta sama-sama saja pada Tuhan. Agar airmata pilu itu hanya jadi masa lalu kita. Jangan terulang padaku hingga cucu mama kelak." Peluk Gita pada mamanya.
"Maafkan mama ya sayang."
"Gita tidak pantas memberi mama maaf. Yang penting kita ikhlas saja. Dan tidak mengulangi ke gagalan juga kesalahan di masa lalu."
"Mama ga bisa sholat Git, lagi halangan. Kalo Gita mau sholat silahkan."
"Sama ma. Gita juga lagi dapet nih."
"Waaah kompakan. Btw, Git. Calon suamimu cakep sekali, ektra ketat nanti jaganya nak. Jangan sampe ketemu wanita kayak mama." Kekeh Indira mengingatkan.
"Ada Allah ma. Yakin saja A'a Gilang ga akan olengm Ada kak Kevin dan Kak Daren yang selalu mendukung Gita."
"Kamu beruntung memiliki mereka sayang."
"Kita sama-sama beruntung di sayangi mereka ma." Jawab Gita yang kemudian ke kamarnya untuk mandi.
Kemudian mereka pun selanjutnya menyiapkan diri untuk makan malam di luar bersama. Sungguh Gilang masih seolah tak percaya keluarga Mahesa sehangat itu. Membuatnya tak berkecil hati untuk melamar Gita yang bahkan lebih kaya dari keluarga Risna. Untuk itu, Gilang menyimpan niatnya untuk akan menjaga Gita selamat sampai di hari H. Sedapat mungkin akan menjadi pria yang dapat di pegang ucapannya pada ayah sang kekasih hati.
Bersambung...
Kita jaga sama-sama sampai halal ya gaes.
Nyak othor niih biasanya yang suka khilaf. Soalnya ser-seran gitu kalo belum halal. Banyak setannya.
πππ
__ADS_1