
Motor yang di lajukan oleh Gilang sudah tiba di rumah. Nampak ibunya sudah mereka gotong ke dalam mobil Gilang di bantu oleh beberapa tetangga yang di mintai teh Arum tolong.
Tanpa banyak bicara, Gilang langsung mengemudiakan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Gita duduk di sebelah kursi kemudi. Sedangkan teh Arum bersama kedua anaknya duduk di belakang mangku ibunya.
"Tadi teh bagaimama prosesnya jadi ibu pingsan?" tanya Gilang sambil mengemudi.
"Tadinya ibu terlihat baik-baik saja. Beraktivitas seperti biasa. Tapi setelah makan siang, di merasa sesak atau nyeri di dada, leher dan punggungnya seperti tembus begitu rasa sakitnya. Lalu ibu limbung hampir jatuh tergeletak, tapi ada Riswan di dekatnya. Jadi, Riswan sempat berteriak. Lalu teteh loncat aja, berlari menahan jatuhnya agar tidak terbentur, Lang." Jelas Haniyah.
"Terima kasih ya Riswan, selalu dekat nenek. Jadi jatuhnyan tidak parah." Tukas Gilang bersyukur ada keponakannya yang walau baru kelas 2 SD memang sangat dekat dan perhatian pada nenek mereka tersebut.
Sesampainya di rumah sakit, ibu Gilang segera di tangani oleh tim medis yang bertugas di UGD. Melewati serangkaian pemeriksaan di sana. Sementara Gilang mengisi beberapa data identitas ibunya untuk melengkapi berkas.
"Om gendong." Rengek Haniyah pada Gilang yang memang selalu manja pada Gilang.
"Hani... sama mama saja gendongnya." Tukas Arum merasa tak nyaman dengan Gita.
"Mau sama om Gilang." Rengeknya lagi. Dan Gilang segera meraih Haniyah ke dalan gendongannya.
"Hani teh sudah makan?"
"Udah om."
"Udah minum susu?" tanya Gilang sambil mengendus pipi kiri dan kanan Hani dengan gemes. Membuat Gita semakin kagum dengan kehangatan yang Gilang berikan pada keponakannya itu.
"Sama ponakannya saja sayang dan perhatian gitu, apalagi besok sama anak-anak kami. Ups... aku ngehalu ga sih, ga sabar punya anak sama A'a Gilang." Batin Gita memandang Gilang dan Haniyah.
"Udah... dua kali om." Hani menempel-nempelkan kepalanya ke dada Gilang.
__ADS_1
"Pinter... nanti kita beli susunya yang banyak lagi ya. Biar Hani cepat besar." Gilang membelai rambut Haniyah dengan sayang.
"Keluarga pasien atas nama Misnah ...?" panggil perawat.
"Iya... kamk sus."Jawab Arum menoleh kesuara perawat itu.
"Silahkan masuk." Perintah perawat pada mereka.
Gilang dengan cueknya walau masih menggendong Haniyah. Berjalan menuju tempat yang di peruntukkan bagi mereka. Gita mengekor walau tidak di minta.
"Ah... begini. Pasien mengalami serangan jantung. Hal itu biasanya terjadi ketika gumpalan darah menghalangi aliran darah ke jantung. Tanpa darah, jaringan kehilangan oksigen dan mati. Dan keadaan pasien ini cukup parah. Dalam artian harus segera mendapatkan pengobatan antara lain dari perubahan gaya hidup dan rehabilitasi jantung untuk obat, sten, dan operasi bypass. Ini sifaynya emergency sebaiknya jangan di tunda atau nanti-nanti. Kami tidam bisa jamin kondisi selanjutnya bagaimana?"
"Lakukan saja mana yang paling baik untuk ibu kami dokter." Jawab Gilang dengan cepat. Sedangkan Arum memilih menangis saja. Tak kuat otaknya berpikir, yang tentu saja tidak jauh dari urusan keuangan. Apalah dia, seorang janda beranak dua hidup menumpang masih dengan orang tua, memiliki usaha isi ulang air minum itu, yang hasilnya hanya cukup untuk di putar untuk makan mereka sehari-hari. Selama ini hanya Gilang yang banyak membantunya. Membelanjakan anak-anaknya agar dapat tersenyum layaknya anak kecil lainnya yang bisa bermain di tempet umum dan berbayar. Gita memberanikan diri, untuk mengelus pundak calon kaka iparnya. Memberikan dukungan agar Arum kuat menerima keadaan yang terbentang di hadapan mereka kini.
"Baiklah... kita cek lengkap pasien dulu ya pa. Pasien akan di rawat inap terlebih dahulu sampai keadaannya stabil. Terutama tekanan darah beliau yang harus kita turunkan. Dan hal itu juga yang memacu aliran darah yang tersumbat. Tertutup oleh plak-plak pada saluran aliran pembuluh darah tersebut." Terang dokter kembali.
"Iya... dokter. Kami siap dengan semua yang dokter anjurkan.
"Iya... baik dokter.
"Kurang lebih 3 jam kemudian pasien bisa di pindah ke ruang rawat inap. Silahkan ke bagian administrasi untuk memilih kamar rawat inapnya." Tukas dokter kemudian.
"Baik terima kasih, saya akan segera ke sana." Ujar Gilang yang masih dalam posisi menggendong Haniyah dan ternyata tertidur di dalam pelukan Gilang tersebut.
Gilang beranjak akan menemui ibunya. Tapi langkahnya tertutup, sengaja Arum halangi agak mepet ke dinding. Gita melihat hal itu, memilih menarik tangan Riswan. Mempercepat langkahnya untuk menemui calon ibu mertuanya.
"Gilang... kamu sadar tidak. Ibu kamu bawa ke rumah sakit swasta. Dan kamu tai Lang. BPJS ibu tidak akan mampu mengklaim semua biaya ibu jika di rawat di sini." Ujarnya tajam setengah berbisik pada Gilang.
__ADS_1
"Iya.. Gilang tau ini rumah sakit swasta. Lalu teteh mau bagaimana?"
"Kita pindah ke rumah sakit daerah saja. Yang BPJSnya bisa di layani 100%. Kita tidak akan sanggup bayarnya jika ibu di rawat di sini, Lang. Tabungan teteh masih sangat sedikit. Kamu tau biaya pasang ring itu mulai dari 70-150jt Lang. Duit dari mana kita punya sebanyak itu hah?"
"Teh... duit bisa kita cari. Tapi teteh bisa pastikan nyawa ibu bisa tertolong?"
"Di rumah sakit daerah juga dokter Lang, yang menanganinya."
"Iya... tapi teteh juga dengar kan tadi. Keadaan ibu cukup parah. Artinya pengobatannya tidak bisa di tunda-tunda."
"Iya... tapi kita uang dari mana? Kamu baru saja membeli mobil. Dan akan menikah juga apa kamu masih punya banyak tabungan Lang?" tanyanya makin pelan memastikan keuangan Gilang.
"Insyaallah ada teh. Tenang saja, Allah tidak kasih cobaan di luar kemampuan kita teh." Gilang menenangkan.
"Amiin. Maaf Lang. Teteh tidak bisa banyak bantu nantinya Lang."
"Jaga ibu juga sudah sangat membantu teh." Jawab Gilang mulai melangkah menuju tempat ibu di rawat.
"Iya... semoga rejekimu lancar terus ya Lang. Kasihan kamu yang akan menikah harus terganggu dengan segala urusan keluarga kita seperti ini." Lirih Arum mengasihani adik laki-lakinya yang selalu ada untuk mereka sekeluarga. Besar harapan Arum, besok hidup Gilang akan lebih baik karena kejujuran, dan keikhlasannya mengurus ibu, dia dan anak-anaknya.
"Sudah... jangan pasang wajah cemas dan tidak mampu begitu teh. Percaya diri dan semangat selalu. Nanti ibu makin banyak pikiran." Saran Gilang pada kakak perempuannya.
"Makasih ya Lang." ucap Arum dengan sungguh.
"Teteh... seperti dengan siapa saja."
"Lang... kamu akan menikah. Sebaiknya nanti kamu sampaikan dengan jujur. Jika selama ini kamulah tulang punggung keluarga kita. Supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam hal kamu memberi nafkah untuknya. Apalagi dia berasal dari keluarga yang kaya. Semoga harga dirimu sebagaj suami tidak di injak-injak olehnya da keluarga." Ungkap Arum yang sesungguhnya resah dengan hubungan adiknya dan Gita.
__ADS_1
"Insyaallah... aman teh. Sejak awal Gilang juga sudah katakan perihal keadaan keluarga kita." Jawab Gilang. Kemudian diam, sebab sudaj semakin dekat dengan posisi ibu di rawat.
Bersambung....