OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 194 : JENUH


__ADS_3

Satu purnama terlewat bersama suami tercinta dan nyak babe kesayangan Muna. Ia di perlakukan bak ratu oleh orang-orang yang menyayanginya dengan sungguh.


Muna hampir tak sempat beraktivitas berat, bahkan memegang sapu,pel, kemoceng dan penghisap debu pun di larang oleh nyak, apalagi Kevin.


"Ya Allah... Nyak. Abang... Muna ini cuma hamil, kagak stroke juga. Masa mau bebersih aja kagak boleh. Muna perlu bergerak nyak, olahraga gitu." Kesal Muna saat akan beraktivitas sedikit saja sudah di teriakin duo posesif itu.


"Jaga kandungan mu sayang. Abang ga mau Mae cape." jawab Kevin pelan.


"Bebersih doang. Bosan tau, mingkem doang di rumah kagak ngapa-ngapain ini." Kesal Muna, mungkin hormon kehamilan juga sudah mulai bereaksi, membangkitkan bakat bar-bar terpendamnya selama ini.


Kevin menarik tangan istrinya untuk mengikutinya ke kamar mereka. Tak mau nyak Time menonton aksi drama unfaedah bumil dan papos (bapak posesif).


"Kenapa...?" Peluk Kevin saat mereka sudah berada di kamar mereka.


"Jenuh yang. Bosan di rumah saja. Muna pan biasa sibuk, kuliah dan ngerjain semuanya sendiri. Tiba di sini, nyuci pan tat aje yang sendiri. Mandi aje kadang abang yang mandiin." Tangis Muna pecah dalam pelukan suaminya.


Kevin pelan-pelan mendudukan Muna di atas tempat tidur mereka.


"Maaf yang. Mungkin Mae belum terbiasa saja. Biasa jadi aktivis kampus, sekarang harus jadi putri raja. Abang juga, mentang-mentang ada istri tiap malam nemenin tidur jadi jarang nanyain kabar ya." Muna justru makin menangis membenarkan ucapan suaminya.


"Mau baby moon sayang? Kita bahkan belum sempat honeymoon lho, keburu umroh saja setelah menikah." Tawar Kevin yang cukup membuat Muna berhenti manangis.


"Apa itu aman bagi ibu hamil pap?"


"Ya kita konsul dong dengan dokter kandungan." Kevin memang pandai dalam urusan tawar menawar seperti ini.


"Huum. Muna takut cape, babynya juga." Muna gengsi dong jika langsung setuju saja.


"Takut atau mulai nervous sih mau jadi mom yang seeungguhnya?" tebak Kevin mentowel dagu Muna dengan gemas.


"Semuanya pap."


"Besok kita cari terapis deh, atau kita ikut kelas ibu hamil saja. Biar bisa mengatasi kepanikan jelang persalinan."


"Yes pap. Aku setuju. Abang ikut juga kan?" Muna mengelus perutnya senang.


"Iya... abang ikut juga dong. terus babymoonnya?"


Muna manyun... Berpikir sejenak, antara mau dan tidak atas pikirannya yang rada ga jelas.


"Mau siih. Tapi pulangnya paling di pingit lagi pan bang. Malas." Tubuh Muna sudah pindah ke atas pangkuan Kevin. Dan tangan Muna tanpa di perintah sudah mengalung di leher suaminya.


"Maunya apa?" sabar Kevin menghadapi manja Muna yang semakin terlihat.

__ADS_1


"Mau kerja, biar ga bosan di rumah yang." Rengeknya lagi.


"Hamil gini bisa kerja apa sih?" serak Kevin mengendus ceruk leher istrinya untuk mengambil kesempatan.


"Ke rumah sakit, boleh?" Muna mengajukan proposalnya masih dengan posisi di atas pangkuan Kevin, lalu pelan-pelan memutar tubuhnya menghadap Kevin dengan kaki terbentang melingkar di pinggang Kevin.


"Ngerjain apa sih di sana?" Kevin sengaja mengulur waktu dengan tangan yang terus bekerja meloloskan dres Muna melewati kepala hingga tersisa kain renda putih yang melintang di gundukan yang ukurannya semakin membesar, ah. Makin menggiurkan untuk di sesap.


"Muna harus mulai belajar mimpin rumah sakit yang." Rayu Muna di telinga Kevin, dan mengigit kecil daun di sisi kepala suaminya itu.


"Kalo Mae kerja... Kita tinggalnya gimana? Masa pisah lagi, kantor abang di Bandung sayang, lupa?"


"Inget... Tau kok. Kita tinggal di rumah mama Rona. Di komplek ga jauh dari rumah sakit pap." Bibir Muna sudah nemplok menyesap leher suaminya.


"Jadi... Abang ngelaju Bandung-Jakarta tiap hari nih?" pancing Kevin yang sepertinya harus mengalah dengan kemauan ibu hamil ini.


"Mau Muna yang ngelaju Jakarta-Bandung...?" Muna mendorong tubuh Kevin hingga rebah, dan ia masih terduduk di atasnya.


"Apa abang tega liat kalian yang bolak-balik nyantronin abang?" tarik Kevin pada tubuh yang sangat menggodanya itu.


"Kalo abang maunya gitu, Muna bisa apa?"


"Huuumm... Abang mikir dulu ya sayang. Soanya, abang sebulan ini sudah seneng banget pergi kantor ada yang rapiin baju, sarapan bareng calon anak dan istri, ada yang liat punggung abang pas berangkat kerja, pulang juga sudah ada istri yang nyambut dengan senyum manis. Apa iya... Sebulan saja abang nikmati itu, karena istri abang malah mau jadi wanita karier ?"


"Ga tiap hari juga yang. Asal Muna ada kegiatan saja. Pliis, 2 bulan saja. Sampe usia kandungan Muna 8 bulan. Setelah itu Muna ngedekem deh nunggu waktu lahiran." Pinta Muna yang menikmati saja, dadanya sudah di tato bulan sabit, hampir penuh di bagian yang masih kosong di luar kain bercup tadi.


Muna hanya terkekeh, mulai bergelinjang antara geli dan sedap. Ah nikmat, suara suara desa han Muna pun sudah keluar tak beraturan saat mendapat hentakan dari Kevin yang selalu mampu membuatnya terbuai dan hanyut di dalam dasar samudra cinta penuh gelora. Syukurlah, kamar mereka sudah di lengkapi dengan dinding yang kedap suara. Sehingga, walau teriakan luck nut sekalipun, tidak akan memekakkan telinga nyak dan babe yang juga berada di rumah yang sama.


Basah


Negosiasi selesai, keduanya bersimbah peluh dengan keadaan tubuh yang bagaikan terkena penyakit cacar air. Penuh bercak merah ke unguan. Sepertinya mereka baru saja melewati pertarungan sengit, entah siapa pemenangnya.


"Jadi...?"


"Apanya?"


"Kan udah nego, hasilnya?"


"Abang lupa, otong ga bisa mikir. Mana bisa kasih keputusan Mae." Kevin ngeles aja kayak bajai.


"Abaaaaang." Kesal Muna merasa di permainkan.


"Ha...ha. Babymoon dulu dong. Baru dapat jawabannya."

__ADS_1


"Huh... Abang nunda waktu nih ceritanya?"


"Emang Mae saja yang dulu pintar ngulur waktu, sampe abang harus nunggu?"


"Oh bales dendam nih ceritanya?"


"Ga gitu juga sih. Tapi... Udah di tuduh gitu ya sudah lah."


Muna mengalungkan tangannya ke leher Kevin, mencium wajah itu bertubi-tubi.


"Maafin soal yang dulu ya..."


"Bercanda sayang. Kan kita sudah janji ga bahas yang dulu lagi. Yang penting tuh yang besok."


Muna mengeratkan pelukannya di perut Kevin.


"Mau lagi?" Otong ready sayang." Kevin memberi informasi.


"Oh tidak terima kasih tong. Istirahat saja, ntar sore kita ke klinik lho, cek kandungan."


"Tong... Sabar ya. Jatahmu sekarang cuma sekali, ga boleh berkali-kali. Iyain aja ya tong, timbang kita puasa berkepanjangan lagi. Nasib-nasib." Kekeh Kevin seolah ngobrol sama si otong.


"Eh... pap. Hari ini kayaknya jenis kelamin baby bisa di ketahui deh."


"Ga masalah siih abang, mau laki-laki mau perempuan. Yang penting tuh sehat sempurna. Dan akan punya adik lagi, lagi dan lagi."


"Mau berapa siih?"


"Empat."


"Eh buseeeet. Ngape?


"Biar mama, abah, nyak ama babe ga rebutan. Jadi tugas abang cukup jagain Mae aja." Ujar Kevin yang sudah menggendong Muna ke kamar mandi, ngapain lagi kalo bukan berrendam di jazucci yang ada.


Bersambung...


Kira-kira Kevin ijinin Muna kerja ga ya?


Yuks ke part berikut


Nyak khilaf nih tetiba mau up lagi.


Demi di kasih vote

__ADS_1


Udah jelang senin ini🙏


Makasiih semua❤️


__ADS_2