OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 84 : JANGAN MENGGODA


__ADS_3

Kini Kevin dan Muna sudah berada di dalam mobil menuju rumah Siska.


Sungguh Kevin tidak ada niat sedikitpun untuk melakukan hal seperti yang Muna takutkan, walaupun sangat di inginkannya.


Bohong besar jika Kevin tidak menggelepar, karena sesungguhnya perang batinnya terjadi di dalam hatinya.


Kevin seorang cassanova, jarang melewatkan moment berduaan dengan seorang wanita berdua saja tanpa berakhir keramasan.


Tetapi, ini Muna gadis kecil yang ia niatkan untuk menjadi istrinya. Tentu berbeda dengan wanita bayarannya di luar sana.


Dan Kevin sudah banyak membuang waktunya sekedar untuk meyakinkan dirinya, jika Muna adalah wanita berbeda dengan wanita-wanita pengejar harta di luar sana.


Sebuah keuntungan besar sebenarnya bagi Muna yang hanya bekerja sebagai OB yang berpenghasilan tidak besar. Bahkan orang tuanya hanya penjual ketoprak. Mestinya saat di awal sang CEO itu menyatakan cintanya, Muna tinggal bilang oke. Maka segala kesusahan hidupnya akan berubah drastis dan hanya tinggal ongkang-ongkang kaki saja menikmati status menjadi seorang nyonya Kevin Sebastian Mahesa.


Tetapi, Muna bukan OB sembarang OB, yang dengan mudah menyerahkan dirinya pada keadaan, yang sebenarnya sangat menjanjikan hidupnya lebih baik di mata dan pandangan orang lain. Muna terlanjur tercipta menjadi gadis keras kepala, yang tidak mudah takluk dengan keadaan, baik sekalipun.


Sesampai di rumah keluarga Siska, Kevin langsung pamit pada pak Herman. Ia mohon maaf, jika malam ini memilih tidur di penginapan saja, agar dapat tidur dengan maksimal, sebab besok akan menempuh perjalanan ke Jakarta kembali.


Pah Herman menyambut Kevin dengan antusias. Dan sepenuhnya mengerti akan maksud Kevin untuk tidak menginap di rumah itu.


Muna dan Siska sudah memilih masukke kamar untuk melepas lelah penat dari segala kegiatan mereka hari ini. Namun, hal itu tertunda karena pak Herman meminta mereka untuk mendengarkan cerita pak Herman.


Muna terkesima mendengar semua yang Kevin lakukan untuk keluarga Siska. Bahkan kini Siska dan ibunya pun sudah saling berpelukan, terharu, kesenangan dan sangat berterima kasih pada Muna.


"Nak... Muna. Terserah Nak Muna menganggap bapak apa. Tetapi yang pasti bapak yang sejak kini menganggap Muna adalah anak bapak sendiri. Sungguh nak Muna berhati malaikat. Tidak hanya menolong Siska, tetapi bahkan kini menyelamatkan keluarga kami." Ujar pa Herman dengan nada penuh kesungguhan.


"Ah... bapak jangan berlebihan. Mungkin aye lagi di pake Tuhan aje buka rejekinye bapak sekeluarge. Yah... Muna malah kagak tau bang Kevin tadi bilang sibuk, ternyata ngurus gituan."


"Iya, Allah sedang pakai nak Muna dan Kevin untuk menyelematkan keluarga kami. Untuk itu bapak mau bilang terima kasih sekali pada nak Muna."


"Santai aje pak, Muna kagak ngerasa ngelakuin ape-ape. Kebetulan aje ini. Tapi... ya syukurin dah. Kalo emang ude beres semuanye. Muna minta doanye aje, buat Muna dan Siska yang masih punya cita-cita untuk melanjutkan sekolah lagi. Doakan kamiberhasil dan sukses ye pak." Pinta Muna dengan tulus.


"Oh... nak Muna masih punya rencana kuliah...? bapak kira Muna akan segera menikah dengan pak Kevin."


"Ye, maunye Muna sih kuliah dulu baru nikah. Tapi..., kagak tau juge sih. Si abang emang pengen nikah sambil kuliah aje. Liat entar aje deh. Kemana Allah kasih jalannye, pa."

__ADS_1


"Maaf jika bapak lancang. Jika telah ada pembicaraan ke arah pernikahan, lebih baik di segerakan. Sebab itu niat baik, jangan di tunda-tunda."


"Iye minta doanye ye pak." Jawab Muna yang sesungguhnya sudah mulai mengantuk dan ingin segera mengendurkan ototnya di atas bidang datar.


Suasana pagi di desa Cikoneng begitu cerah, sepagi itu angin laut pun sudah terasa berhembus menerpa mereka yang berada di area itu.


Jika pada jumat lalu nyak Time tampak sibuk menyiapkan bekal untuk Mna dan Siska. Kini giliran ibu Tinah yang tampak sudah menyiapkan beberapa makanan oleh-oleh khas desa mereka untuk orag tua Muna.


Nyak babe dan kedua orang tua Siska sudah saling berkenalan melalui VC lewat Siska sepulang mereka dari pantai kemarin. Saat ponsel Muna tidak bisa di hubungi oleh kedua orang tuanya.


Kevin sudah tampak segar pagi itu, mengenakan kaos ketat yang melekat pada tubuhnya, mencetak dengan jelas lekukan pahatan sang pencipta, yang sangat pandai ia rawat sehingga sangat memanjakan mata, dan mengiurkan kepala wanita normal bersandar di bidang itu, tapi tampak tidak berlaku bagi Muna.


Mereka bertiga sudah pamit sehingga pada pukul 10 waktu setempat, mobil Kevin sudah tampak melaju meninggalkan pekarangan rumah itu, untuk segera kembali ke Jakarta.


Atmosfir dalam mobil yang mereka tumpangi saat pulang tentu sangat berbeda dengan saat mereka berangkat.


Jika saat berangkat, Siska hampir hipotermia saat menjadi penumpang yang seolah-olah berada di kutub utara, karena Muna dan Kevin saat itu sedang melancarkan aksi perang dingin. Tetapi tidak untuk kali ini.


Siska jutru merasa gerah, mungkin kini ia sedang berada di beranda neraka yang menghangat. Sebab sang pengemudi di depan mereka tak henti-hentinya menggoda dan sedikit membual gadis yang duduk di sebelahnya.


Muna semakin yakin bahwa Kevin sungguh tulus ingin berubah menjadi lebih baik.


Jika Kevin bukan CEOnya, Siska pasti sudah berteriak, atau mengeluarkan kata-kata ledekan pada kedua orang yang berada di depannya sekarang.


Siska hanya mau bilang, jika dalam mobil itu masih ada satu manusia jomblo yang juga punya hati untuk di hargai.


Hanya sesekali tangan kiri Kevin memainkan tuas persneling dan setir, namun lebih banyak tangan itu menggengam tangan kanan kekasihnya Muna yang berada di sebelahnya yang sesekali tampak menyuapinya dengan berbagai cemilan.


"Mae... tidak suka tubuh abang tetap altelis?" tanya Kevin pada Muna.


"Ngapa...?"


"Dari tadi Mae, tidak hanya menyuapi abang, tapi lebih mirip menjajal mulut abang dengan semua makanan itu."


"Laah kalo kagak mau, ngapaian abang mangap. Mingkem bang mingkem, tu mulut jangan iye-iye aje kalo di jejal makanan."

__ADS_1


"Huuum... mulaai. Bar-bar kan."


"Ude tradisi bang... maaaf." Jawab Muna tersenyum manis pada Kevin dengan pipi yang merona di sana.


"Jangan senyum kayak gitu, abang susah fokus nyetirnya Mae."


"Ngapa lagi senyum Muna...?"


"Senyum Mae itu seakan memaksa abang untuk menepikan mobil ini, buat berenti nyium Mae."


"Ya... abang juga mulai mesum pan." Muna kali ini yang berani mencolek pinggang Kevin yang memang tampak fokus menyetir.


"Jangan menggoda Mae. Kamu sendiri yang tanggung akibatnya."


"Emang... Mae ngegoda abang? Nyolek doang."


"Abang sudah pernah bilang, abang punya barang bagus, colek dikit ada yang bangun. Siapa tanggung jawab."


Muna justru mendekatkan tubuhnya ke arah Kevin dan berbisik di sana.


"Sabun di kamar mandi banyak pan." Goda Muna.


Cup... kedekatan Muna saat bermaksud menggoda Kevin malah di manfaatkan Kevin untuk mendarat darurat pada bibir yang baru selesai berbisik di telinganya.


"Abaaaang ...iih."


Bersambung...


Nyak kagak bisa bayangin ini Muna ributnya kaya ape kalo malam pertama ama Kevin.


Makasih masih setia ame cerita nyak ye, mohon maaf jika kagak suka. Nyak maksud menghibur aje.


Lopeh-lope buat semua


❤️❤️❤️🙏🙏🙏😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2