OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 113 : MUSANG BERBULU DOMBA


__ADS_3

Pertemuan dua keluarga yang baru saling kenal tadi, tidak hanya mengenyangkan perut mereka, tetapi juga menenangkan jiwa mereka-mereka yang penasaran dengan hasil keputusan akhir dari maksud utama pertemuan diadakan.


Di akhiri dengan sebuah kesepakatan bahwa minggu depan adalah hari yang akan mengukir sejarah. Dimana sang cassanova akan mengakhiri masa lajangnya. Memilih berhenti dan menautkan hatinya pada seorang OB di perusahannya. Tanpa merasa ragu apalagi malu. Sebab semua restu sudah semua ia dapatkan.


Diendra merogoh ponsel dari kantongnya. Membaca sekilas. Kemudian meminta ijin untuk keluar dari ruangan privat itu.


"Maaf sebentar saya permisi menerima panggilan di luar, tunggu sebentar." Ijinnya pada Keluarga Muna. Kemudian setengah berlari meninggalkan room private itu degan tergesa, sambil melirik ke arah Kevin, seolah memberi sebuah kode.


Pelayan datang membawakan makanan penutup untuk mereka yang berada di sana. Kemudian Kevin yang beringsut keluar dari ruangan itu, setelah menerima sebuah notifikasi dari ponselnya.


"Be... Kevin keluar sebentar ya." Pamit Kevin. Di balas anggukan oleh ketiganya.


Ternyata notifikasi pada ponsel Kevin itu dari papinya, yang memintanya untuk menemuinya di tempat lain masih di area restoran tersebut. Kevin tampak tergopoh menuju tempat di mana sang papi sudah menungguinya.


Berdiri tegap dengan kedua tangan yang berada dalam kantong celananya.


"Ada apa pi...?" tanya Kevin begitu berada di dekat papinya.


"Kamu benar telah yakin akan menikahi gadis berwajah bule itu, sedangkan orang tuanya berwajah orisinil seperti itu?" Pertanyaan itu bagai bom yang meledak di telinga Kevin. Sebab nada suara itu sungguh jauh berbeda dengan yang ia dengar saat berhadapan dengan kedua orang tua Muna di dalam tadi. Bagi Kevin sungguh papinya bagai musang berbulu domba.


"Iya... Kevin sangat yakin 100%. Bukankah tadi pun papi sudah terlihat setuju Kevin akan menikah dengannya...? Bahkan kita sudah saling menyepakati tanggal acara." Kevin balik bertanya.


"Kevin... kenapa sebelumnya kamu bahkan tidak pernah bilang kalau calon kamu itu hanya seorang OB. Apa kata dunia jika tau seorang Diendra Mahesa hanya berbesan dengan orang miskin. Mau di taruh dimakan muka papi hah...?" Suara itu terdengar berapi-api penuh amarah. Rupanya jawaban manis dari Diendra tadi hanya akting belaka.


"Heeiii... mengapa papi mengatakannya di sini, mengapa tidak katakan langsung pada mereka tadi...? Apa masalahnya dengan status OB itu. Bahkan dia adalah OB yang terhormat. Dia bukan seperti wanita-wanita yang pernah papi bawa silih berganti sesukahati kerumah." Kevin mulai meradang.

__ADS_1


"Jangan kau ungkit soal kisah masa lalu itu. Kita sedang membahas masa depanmu. Agar jangan salah langkah."


"Kenapa...? malu ? menyesal...? atau sudah terlalu bahagia hidup dengan Yolanda. Kekasih pertama Kevin yag bahkan kini menyandang status sebagai ibu tiri Kevin? Apakah wanita itu yang cocok menjadi menantumu...? apakah orang tua Yolanda itu yang pantas menjadi besan seorang Diendra Mahesa.?" Kevin tersulut emosinya. Meradang dengan kata-kata sang papi.


"Jaga ucapanmu soal hubunganku dengan Yolanda. Lebih baik kamu tak usah ungkit lagi nama wanita ular itu. Yang bahkan kini sudah tidak berstatus sebagai ibu tirimu lagi." Jawab Diendra yang membuat Kevin agak terkejut.


"Lalu ... jika tidak ada hubungnya dengan Yolanda. Apa masalahnya dengan Muna? Apakah tidak boleh Muna terlahir seperti bule?" Kevin memberondong papinya.


"Bukaaaan. Bukan itu yang papi maksudkan. Tidakkah kamu terlebih dahulu menyelidiki siapa sesungguhnya calon istrimu itu. Pandang dengan baik, berapa lama kamu mengenalnya? seberapa jauh kamu mengenal keluarganya." Diendra tampak masih berkelit dan mencari alasan demi menunjukkan ketidak setujuannya pada Muna."


"Tak perlu waktu bertahun-tahun untukku menilai pribadi seseorang. Bahkan hanya sekedar membuang waktu seperti kebersamaanku dengan Yolanda yang kandas oleh seorang bedebah." Umpat Kevin dengan kata-kata kasarnya.


"Dengar kan papi dulu."


"Masih layakkah panggilan itu kamu sandang?" Hardik Kevin masih dengan emosi yang menguasai kepalanya. Merasa arah pembicaraan papinya yang seolah tidak menyetujui hubunganya dengan Muna. Yang sungguh Kevin rasa berbeda 180 derajat dengan saat berbicara di depan kedua orang tua Muna tadi. Kevin gusar, ia sudah ingin menghajar saja pria tua, yang semula ingin kembali ia hormati sebagai ayahnya. Dan ingin memulai untuk berdamai pada lelaki yang sangat maminya cintai ini.


"Persetan dengan hubungan darah antara mereka, yang ku tau mereka mendidik Muna dengan baik."


"Mohon dengarkan papi dengan kepala dingin. Wanita itu sangat mirip dengan mamimu, tidakkah kamu terpikir untuk mengetahui latar belakang keluarga yang sesungguhnya. Jangan menyesal di akhir, sebelum semuanya terjadi dan terjalin terlalu jauh." Diendra melunakkan suaranya. Berbicara lebih pelan dan mencoba sedikit mendekat untuk meyentuh bahu anak yang sesungguhnya sangat ia banggakan dan sayangi tersebut.


"Apa setelah menyakiti hati mami, dengan membawa perempuan tidak jelas berganti-ganti kerumah. Kini papi akan menuduh mami memiliki anak lain, selain aku? Dan berhubungan dengan pria lain di belakangmu...? Oh Tuhan... aku bahkan sama sekali tidak memiliki kecurigaan untuk hal semacam ini." Kevin masih dalam keadaan emosi menanggapi semua yang papinya sampaikan padanya.


"Tidak Vin, sama sekali papi tidak bermaksud menuduh mamimu pernah melakukan hal itu di belakang papi. Hanya... tidak ada salahnya kamu harus mencari tau yang sebenarnya tentang latar belakang wanita pilihanmu itu." Diendra terdengar menahan suaranya untuk tetap menjaga emosinya saat menghadapi putra kesayangannya ini, yang telah terlanjur membencinya.


"Apa yang papi inginkan sebenarnya bahkan tanggal pernikahan kami pun telah di sepakati." Ujar Kevin melemah.

__ADS_1


"Pastikan latar belakang calon istrimu. Hanya itu!!" Jawab Diendra yang kemudian berlalu meninggalkan dan beranjak kembali ke room privat yang ia tinggalkan tadi.


Kevin yang tiba-tiba di serang rasa galau akibat permintaan sang papi. Sungguh selama ini Kevin tidak merasa perlu untuk tau secara detail tentang Muna.


Walau sedikit menggelitik akan rupa Muna yang berbeda dari kedua orangtuanya. Tetapi Kevin merasa tidak masalah akan tampilan Muna tersebut.


Kevin hanya bisa mengusap wajahnya kasar, demi mengembalikan rasa tenang dan baik-baik saja dalam dirinya. Sebelum kembali menemui papi dan Muna sekeluarga dalam room private tadi. Juga telah mendapat notifikasi pesan dari Muna.


"Abang di mane, kok lama. Kami pulang pake taksi online ye bang?" Isi chat Muna yang seolah mendorong kaki Kevin untuk berjalan lebih cepat.


Sementara di tempat lain, tidak jauh dari Kevin dan Diendra berbicara. Tampak babe Rojak berdiri mencermati semua obrolan kedua ayah dan anak tersebut. Babe sangat dapat mendengar dengan jelas bahwa sesungguhnya keluarga Mahesa tidak sudi berbesan dengan keluarga Rojak Baidillah. Bahkan mencurigai jika anak gadsinya Muna Hidayatullah itu bukanlah anak kandungnya.


Babe Rojak hanya mampu memegangi dadanya, pada bagian jantungnya. Melipat semua yang ia dengar dalam hatinya, menyimpan sendiri semua yang dapat ia tangkap, inti dari perbincangan tersebut, kemudian beringsut masuk kembali berkumpul dengan Muna dan nyak Time dengan raut muka yang di buat tetap cerah ceria seperti sedia kala.


Bersambung...


Tuiiing... tuiing.... tuiing


Harap tenang ini ujian


Jangan ada yang meninggalkan arena apalagi unfav.


Kita kupas sampai tuntas akar permasalahanye yee.


Like, komen, gift adalah power nyak untuk terus nulis ini hingga halal.

__ADS_1


Lopeh se-Indonesia raya buat semua


❤️❤️❤️


__ADS_2