OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 246 : JANG GANGGU


__ADS_3

Gita sudah menutup pintu setelah Gilang sudah pamit dan berlalu. Tapi Gita hanya mampu menutup pintu itu kemudian terperosol, duduk di balik pintu sambil mengelus kening yang baru di kecup Gilang.


Baskoro sering melakukan itu padanya, tapi tadi. Kenapa berasa ada ribuan kupu-kupu beterbangan saat ia memejamkan mata saat kecupan itu mendarat di keningnya.


Gita sungguh tak percaya jika akhirmya kini mereka telah pacaran. Kenal Gilang kurang lebih 2 tahun. Sebenarnya cukup bagi mereka saling kenal karakter masing-masing. Tapi, bukankah jadi pasangan kekasih baru dua hari, terlalu cepat rasanya untuk mengakhiri semua di pelaminan.


Belum lagi ultimatum sang mama, jelas bahwa yang akan menikah di akhir tahun adalah Daren dan Zahra. Juga masih banyak yang harus mereka siapkan jika benar, nanti mereka akan berumah tangga. Kasih slow... kasih slow.


Gita bekerja di bagian sekretaris, jangan heran jika mereka lebih banyak tampak dekat saat bekerja bahkan di lapangan juga. Tapi si ulat keket Sita, sudah memposisikan dirinya sesempurna mungkin tak ingin jauh dari Gilang.


Gilang bahkan menangkis saat Sita akan menyeka keringatnya saat mereka jauh berjalan.


"Maaf, saya bisa sendiri." Ucap Gilang sambil melihat ke arah Gita yang tampak memeluk buku tab, pengganti buku catatannya.


Saat istirahat siang pun, Sita memang selalu jeli untuk melayani Gilang. Duduk yang selalu dempet, menyodorkan makanan apapun untuk Gilang, dapat membuat Sita masuk dalam catatan rekor Muri karena kecepatannya.


Juga saat bus kemudian akan melanjutkan perjalanan menuju Lembang. Gita sudah duluan masuk dan duduk di sebelah jendela, mengosongkan tempat di sebelahnya. Tentu berharap Gilang akan duduk di situ. Tetapi, saat Gilang dengan senyum ke arah Gita. Sita sudah bagai banteng kesurupan menyeruduk dan menarik tangan Gilang hingga mereka terduduk bertumpuk di satu set kursi di depan Gita.


"Sita...!!!" Hardik Gilang.


"Maaf kak Gilang. Sengaja." Bangga Sita dapat kesempatan dekat dengan Gilang walau hanya karena sebuah insiden.


"Permisi." Tegas Gilang menuju kursi di sebelah Gita. Akhirnya, dua sejoli itu bisa duduk bersebalahan di perjalanan.


Sita kesal, dan memilih duduk sederat dengan kursi yang di duduki pasangan 2 G itu. Walau berjarak jalur jalan, Sita keukeh. Tetap saja sesekali menawarkan cemilan pada Gilang. Namun tak di tanggapi, karena telinga Gilang sudah di pasanginya headsed, untuk mendengarkan musik. Sedangkan tangannya menyilang di atas perut, sama seperti Gita. Karena tangan mereka sesungguhnya saling bertaut tersembunyi di antara himpitan tubuh mereka.


Lagu yang Gilang putar adalah kumpulan lagu romantis enak di dengar. Di mana kabel headset tersebut sudah mereka bagikan ke telinga mereka masing-masing. Gita hanya tinggal meletakan kepalanya di sisi lengan kanan Gilang untuk melelapkan diri, rela tidak menikmati pemandangan di luar jendela. Sebab dengan ia memejamkan mata, ia sudah masuk dalam dunia halu. Sekedar membayangkan kedepan bagaimana manisnya kebersamaan mereka.


Perjalanan itu memakan waktu hampir 3 jam, ditambah lagi waktu menuju Vila yang tidak berada di dalam kota. Tentu menambah lama durasi Gilang dan Gita yang terlihat sama-sama nyenyak tertidur saling menumpuk kepala satu dengan yang lain.


Pemandangan itu membuat Sita dongkol setengah mati. Sungguh menyesal mengapa tidak bicara baik-baik saja pada Gilang, jika ia sangat ingin duduk dekat lelaki pujaannya tersebut.


Sesampai di Villa matahari hampir pulang, yang tersisa hanya semburat jingga yang tadi mengantarnya pulang ke peraduan. Kegiatan malam sabtu adalah bebas, sebab semuapun merasa lelah di perjalanan, namun mereka bukan anak kecil yang tidak boleh keluar.


Tentu saja tidak ada larangan untuk menikmati kemewahan dan kemandirian yang tidak di batasi di sana. Mereka boleh menikmati ruangan yang tersedia, dapat memasak, bersantai dan berpetualang di waktu senggang mereka. Layaknya di rumah sendiri.

__ADS_1


Pekerjaan sudah selesai, Gilang kali ini tidak mau di serobot Sita. Walau lelah, ia sudah dengan terang mengajak Gita jalan-jalan menikmati suasana malam di Lembang. Ia sudah menyewa motor untuk mereka sekedar berkeliling-keliling saja berdua.


Sabtu tiba, hari terakhir libur mereka. Sesuai kesepakatan mereka akan mengadakan acara bersama, mereka semua sekantor tapi beda bidang, tentu saja mereka hanya saling kenal tapi tidak akrab. Dan itulah gunanya Kevin menyarankan agar mereka liburan ke Lembang, untuk refersing juga menjalin ke akraban antar sesama pegawai di perusahaannya.


Usai magriban, beberapa orang sudah menyusul mereka yang tidak melaksanakan sholat untuk bergabung ke lokasi titik kumpul di adakan makan-makan dan bernyanyi bersama. Ya... berjoged juga pasti.


Hah...!!! Jangan tanya gencarnya Sita yang selalu ingin menempel dengan Gilang dengan berbagai alasan. Bahkan ia susah meminta DJ memainkan lagu 'Bilang Pa Mama Mantu' Sontak musik itu menguar dan mengundang riuh tepuk tangan dan sorakan yang mengira Gilang dan Sita ada hubungan spesial.


Awalnya Gilang tersenyum saja sambil terlihat sibuk membolak balik sosis yang sedang di panggangnya.


Tapi gerakan Sita yang semakin menempel pada Gilang, tidak membuat Gita nyaman. Awalnya dia biasa saja melihat keganjenan Sita, tapi kali ini sudah tidak dapat Gita tolerir lagi, sebab pinggang Gilang sudah di kepung tangan Sita. Dan Gilang berusaha melepas, dengan kepala yang celingukan mencari Gita. Sosis bakarnya sudah matang, ia ingin berbagi dengan kekasihnya dong.


^^^"Oh adoh-adoh jang ganggu^^^


^^^Yang itu sa punya jang ganggu^^^


^^^Ko pi cari yang lain sudah^^^


^^^Tra usah jadi pengganggu^^^


^^^Jang ko datang toki dengan ko pu drama^^^


^^^Sio tabe sayang ko tabuang"^^^


Akhirnya Gita merapalkan lagu 'Jang Ganggu' yang pula telah ia minta DJ mainkan, untuk membalas demonstrasi yang Sita tampilkan tadi di tengah teman lainnya. Juga berusaha melepas tangan yang melingkar di pinggang Gilang lalu membawa Gilang menjauh dari Sita. Masih dengan wajah yang tersenyum manis. Manis sekali.


Gilang senang, satu tangannya memegang piring dan satunya lagi memeluk pinggang Gita.


Sita keki dong... malu pasti. Sebab riuh sorak teman lainnya semakin ramai saja menertawakannya.


"Kak Gilang." Teriak Sita mendekati pasangan 2 G yang memang memilih duduk berdua agak jauh dari kerumunan yang lain.


"Ya..."


"Kakak ada hubungan apa sama Gita?"

__ADS_1


"Hubungan baiklah."


"Kakak pacaran?"


"Kami...?"


"Iya...!!"


"Otw halal, lagi nunggu antrian kakaknya dulu yang nikah. Kami mungkin awal tahun depan. Ya kan sayang?" Gemesh Gilang memandang ke arah Gita.


"Insyaallah." Jawab Gita senyum bahagia.


"Ada masalah...?"


"Kak Gilang jahat. Kan kakak tau Sita udah lama suka dan berjuang juga. Sita bela-belain antar bekal buat kakak. Berusaha ngajak kakak kemana juga. Apa sih baiknya Gita. Masa depan cerah gemilang kak Gilang itu aku bukan Gita...!!" Bentak Sita tidak jelas.


"Terima kasih usaha dan segala bentuk perjuanganmu. Tapi tulang rusukku cocoknya di Neng Gita bukan Sita."


"Huh... Kamu nusuk aku dari belakang ya...? Kamu kan tau aku suka dia, kenapa malah so sama kak Gilang. Kalian akting kan?" Sita mendekati Gita dengan geram.


"Yang nusuk dari belakang siapa? Kamunya yang maju ga liat sent. Main terobos ajak, ga liat ada lampu merah." jawab Gita santai.


"Kak Gilang bilang... kalian bohongan. Ini cuma rekayasakan. Biar Sita mundur...? No... big, big no."


Gilang tidak menjawab ucapan Sita. Tapi justru memilih mencuri ciuman di bibir Gita sebentar. Menghipnotis Sita dan beberapa mata lainnya yang melihat adegan itu. Membuat dunia seakan berhenti berputar untuk beberapa menitm


Bersambung...


Aduuh kepepet si A'a mah.


Udah males ngomong


๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ


Maafin nyak yang khilaf

__ADS_1


Suweeer๐Ÿ™


__ADS_2