OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 91 : MEMILIH PERCAYA


__ADS_3

Kevin buru-buru meminta maaf karena telah merusak jalannya meeting. Lantas meminta ijin permisi keluar sebentar untuk menyelesaikan sedikit masalah yang mengganggunya.


Sesampainya di luar Kevin segera melakukan panggilan VC dengan Muna.


Dengan perasaan tidak bersalah Muna pun menerima panggilan yang saat itu, ia baru saja tiba di pantry seorang diri.


"Assalamualaikum, abang."


"Walaikumsallam Mae. Lagi di mana sama siapa?" berondong Kevin.


"Di pantry lah... sendiri niih." Muna mengedarkan pemandangan keseluruh penjuru pantry dengan rinci. Membuat dada Kevin seketika mereda dari amarahnya tadi.


"Ga jadi makan di kantin?"


"Udah sebentar, tapi ga *****. Ini mau ke gerobakan nyak babe aje, boleh pan bang."


"Iya boleh sayang." Kevin merasa lega dan aman jika Muna berada di gerobakan babe dan nyak. Setidaknya Muna akan terhindar dari manusia bernama Bara itu pikirnya.


"Abang ga kerja ... jam segini ude nelpon Muna"


"Kerja laah."


"Terus ngapa sekarang malah nelpon kaya kurang kerjaan aje. Pegimane bisa cepet pulangnye, kalo kerja ga serius gini."


"Abang kangen."


"Kalo kangen pulang." Jawab Muna sambil mengigit bibirnya sendiri.


"Belum bisa sayang... masih seminggu lagi kayaknya."


"Iiish... abang punya bini ye di sono. Perasaan abang lebih sering di sana dari pada ame Muna di mari." Tiba-tiba saja Muna menaruh curiga pada lelaki yang katanya akan melamarnya itu.


"Yaaah... segala nuduh abang punya bini. Kerjaan abang di sini 3 hari lagi selesai. Seminggu kedepan, sisanya abang ke papi. Atau ketemu papinya abang tunda saja, biar abang pulang cepat?"


"Serah abang deh. Kesel Muna di tinggal mulu."


"Cie...cie ternyata gadis abang jadi sensi ya kalo lama ga ketemu abang. Ntar kalo abang pulang, Muna nginap di apartemen abang ya, biar puas peluk abang sampai pagi."


"Dasar mesum. Sape juga yang mau di ajak tidur bareng. Sebelum halal."


"Ya... habis Mae kan kangen berat sama abang."


"Ude aah bang. Makin kagak mutu ni obrolan. Abang lanjut kerja aje, biar cepet beres tu kerjaan."

__ADS_1


"Iya sayangku, cintaku. See u beeiibph. Assalamualaikum."


"Walaikumsallam." Jawab Muna yang masih rada kesal dengan kesibukan kekasihnya yang menurutnya sudah di luar batas kesabarannya. "Ternyata tu orang emang ngangenin juge." Desah Muna sendiri dalam hati.


Ferdy kebingungan sendiri dengan Kevin yang tidak merespon kirimannya. Merasa ada yang aneh dan berubah dalam sikap sepupunya yang ia tau tempramental setelah mami Beatrix tiada.


Tetapi jika foto tadi tidak menyulut emosinya, artinya Muna benar-benar telah mengembalikan Kevin yang dulu. Kevin yang lembut, selalu berpikir panjang dan jauh kedepan. Ferdy senang untuk hal itu.


Sesungguhnya Kevin bukannya tidak tersulut emosinya, tetapi ia lebih memilih percaya pada Muna. Sedemikian yakinnya dengan gadis itu, yang walaupun tidak pernah secara terang-terangan menerima cintanya, walau selalu tampak meragu dengan desakan cinta Kevin. Tetapi terselip betapa ia tulus ingin menerima Kevin apa adanya.


Kevin terlalu percaya jika Muna adalah gadis kecilnya yang setia dan teguh pada pendiriannya. "Ah... Bara. Aku yang seorang CEO saja butuh waktu berbulan-bulan untuk meyakinkannya. Apalagi kamu orang yang baru datang kemaren sore. Akan aku buat kamu menyesal pernah mengincar kekasihku." Kevin mengepal kedua tanganya dan meremasnya sendiri.


Pada Kamis pagi kantor di kejutkan dengan sebuah berita hangat tentang perpisahan pada pa Bondan sang Sekretris senior di perusahaan Mahesa. Tidak tanggung-tanggung, acaranya akan di laksanakan di Pantai Marina Ancol yaitu termasuk 6 kawasan utama yang wajib di kunjungi di Jakarta. Dengan destiniasi wisata pantai dan lautnya yang akan memanjakan mata siapa saja yang berada disana.


Pa Bondan adalah tangan kanan di perusahaan Mahesa sejak papi Kevin menjabat sebagai CEO hingga ia pun yang berhasil membimbing Kevin kini menjadi CEO yang handal, bahkan kini dapat membuat perusahaannya sendiri.


Kevin tidak pernah berhitung soal berapa uang yang harus ia gelontorkan demi untuk mengadakan perpisahan dengan pak Bondan. Bahkan benar saja, saat pa Bondan meminta pekerjaan untuk anaknya Bara, tanpa pikir panjang Kevin sudah menerima saja bahkan tanpa wawancara sebelumnya. Mana ia tau, jika kini keberadaan Bara justru akan mengancam hubungannya dengan Muna.


Pihak kantor sedang memastikan berapa jumlah karyawan yang dapat ikut hadir dalam acara akbar tersebut, tanpa terkecuali. Semua di mohon memberikan konfirmasi untuk masalah kehadiran.


Bara... tentu saja Bara tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menikmati indahnya pantai Marina Ancol itu bersama Muna, gadis baru gebetannya itu.


"Mun... sabtu sore besok bisa ikut kan ke acara perpisahan. Pak Bondan itu papa ku lhoo Mun." Bara seolah membanggakan posisinya sebagai anak dari pa Bondan.


"Oh... Pak Bondan babenya mas Bara. Liat entar deh mas. Aye belum ijin sama babe, nyak dan abang. Soalnya acaranya sampe pagi pan. Muna kagak pernah ikut acara begituan."


"Kagak use bang... Muna bisa ijin sendiri kok."


"Sudah jam makan siang nih, mau mas temenin makan siang?" Bara masih getol aja memburu Muna ke pantry saat Siska tidak bersama Muna.


"Kagak use repot-repot mas. Eniih Muna mau makan di gerobakan depan sono aje. Di situ ada nyak ame babe Muna yang jualan ketoprak." Jawab Muna jujur dan cueknya.


Kedua alis Bara bertaut, merasa tidak percaya kembali. Pertama wajah bule Muna yang berprofesi sebagai OB, kedua merasa tidak yakin jika Muna hanya anak seorang pedagang ketoprak gerobakan.


"Mas boleh ikut makan di situ ya Mun?"


"Yeee... terserah mas Bara lah."


Dengan dipenuhi rasa penasarannya, Bara benar-benar mengikuti Muna ke gerobakan Nyak Time. Dengan mengendarai motor masing-masing Bara dan Muna sudah berada di gerobakan milik babe dan nyak.


"Assalamualaikum be... nyak."


"Walaikumsallam." Sahut keduanya bersamaan.

__ADS_1


"Tanam padi pakai benih,


Nanamnye kagak boleh sambil berlari.


Ada angin ape nih?


Anak gadis babe jam segini udah kemari." sapa babe Rojak saat melihat Muna datang ke warung pun lagi tidak sendirian.


"Bikin baju dari kain,


Udeh beres taro di lemari.


Kagak use pake angin,


Muna laper aje mau makan di mari." Kekeh Muna sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya yang tentu tidak luput dari perhatian Bara yang makin terpesona dengan Muna.


"Bikin rumah dari papan,


Isi aer di dalam gentong.


Kalo laper ya harus makan,


tapi babe bingung cari si Entong."


"Huuum... abang masih dinas luar angkasa be. Kaga use di cari-cari. Ntar kalo die udah dateng, Muna suruh seharian ngobrol ame babe." jawab Muna yang langsung mendekati nyak Time untuk membuat sendiri makanan untuknya.


"Permisi... boleh pesan 1 porsi ketopraknya bu." Pinta Bara dengan sopan.


"Eh... iye bentar nyak buatin." Jawab nyak Time dengan senyum manis semanis madunya memandang ke arah Bara.


"Eeetttdah Mun, elu ngapa siih. Belon setaon kerja ude ganti-ganti bawa cowo ke mari." Nyak Time memelankan suaranya dekat dengan telinga Muna agar tidak terdengar oleh Bara.


"Sape yang bawa... orangnye ngekor sendiri." Kilah Muna dengan tuduhan nyak Time.


Bersambung....


Bara getol banget ye


yang setuju Bara ame Muna


Mana suaranyeee...?😁😁😁


Lopeh-lopeh buat semua yeee

__ADS_1


🌹 & β˜• selalu nyak nanti


πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2