OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 267 : RUMAH BABE


__ADS_3

Rencana pembangunan, rehab atau apapun tentang tempat berdirinya PAUD itu telah Muna sampaikan pada Zahra. Yang kemudian Zahra sampaikan lagi pada Daren suaminya.


Bak gayung bersambut, ternyata Daren yang lebih berminat untuk menyalurkan bakat istrinya agar memiliki kesibukan di luar rumah. Asalkan tetap menomorsatukan dia.


Urusan bertemu dengan anak pemilik yayasan pun Daren. Hingga mencari konsultan dalam hal merancang, mengawas, dan membuat hingga selesai. Kevin hanya kebagian urusan dana dalam hal pembebasan lahan yang mereka beli di sekitar lokasi itu, agar lebih luas seperti anjuran Zahra pada Muna tempo hari.


Saat di tanya Zahra mengapa suaminya sangat antusias membuat itu, ternyata jawabannya klasik. Karena suka melihat banyak anak kecil yang polos, ceria tanpa beban. Dan masa kecil tersebut harus di isi dengan benar, di buat sebahagia mungkin. Sebab masa kecil tak bisa terulang kembali. Daren ingin, anak-anak Indonsia pada umumnya dan anaknya sendiri khususnya, nanti mendapatkan pilar yang kuat, pondasi yang sejak dini sudah terlatih bermental baik. Sungguh Daren trauma dengan masa kecilnya yang tidak bahagia. Bahkan menjadi pebisnis ini pun bukan cita-citanya. Ia sebenarnya ingin menjadi Psikolog. Daren ingin benar mempelajari ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia serta hubungan-hubungannya antar sesama manusia. Sehingga ia sangat ingin membantu orang lain dalam memperbaiki ahklak manusia. Tapi, semua juga tau. Diendra dulu adalah orang yang tidak bisa di bantah. Maka, jadilah Daren seorang pebisnis sesuai dengan kehendak sang papi.


Weekend tiba. Muna membebaskan Laras untuk ber me-time. Dari jumat sore hingga pagi minggu, sudah harus kembali ke rumah Hildimar. Sebab sesuai janji, mereka akan menginap di rumah babe.


Rumah sederhana dengan beragam kenangan. Mulai dari ser-seran Kevin yang hanya meminjam motor satpam apartemem, agar bisa ngantar Muna ke rumah, benerin genteng untuk ambil hati babe, yang di siram nyak Time karena salah sasaranlah, sampai pernah curi-curi pelukan di kamar Muna yang dulu sebelum di rehap.


Semua kenangan itu masih sangat terbingkai manis dalam ingat Kevin dan Muna yang begitu berdarah-darah memperjuangkan cinta mereka.


Mengubah Kevin si CEO dingin, arogan yang trauma dengan wanita. Meyakinkan Muna untuk percaya bahwa Kevin bisa di percaya, hingga kini akhirnya mereka berdua benar-benar bucin akut.


"Kong... ini lumah engkong?" tanya Aydan saat melihat beberapa foto keluarga babe Rojak, juga tentu ada foto saat Muna kecil bahkan balita.


"Iye... tuh liat. Entuh engkong waktu masih muda." Tunjuk babe ke beberapa foto masa lalu.


"Ini capa?"


"Entuh emak elu. Mamamnya Ay dan Nay."


"Haaa... entuh dede bayi kong. Ini kaka bayi ... ya kong?"


"Bukan dede bayi. Entuh semua foto emak elu. Mamammu." Jelas babe pada Aydan.


"Mamam becal kong. Itu bayi... keciil." Ujar Aydan menjentik jari kelingkingnya.


"Iye... sekarang mamamu sudah besar. Dulu juga pernah kecil kaya elu, Ay."


"Ay nanti becal kong...?"


"Ya iyelah..."


"Becal cegini?" tanyanya menjangkan kedua tangannya ke atas dan ke bawah.


"Iye..."


"Bica kaya papap...?"

__ADS_1


"Bisa..."


"O..."


"Kong ini capa?" tanyanya lagi.


"Entuh engkong."


"Ngape gini?" gerak Aydan menirukan foto babe yang sedang melakukan aksi gedan barai dalam karatenya.


"Oh entuh... engkong lagi olah raga karate." Jawab babe sabar. Sejak sering bersama Aydan, babe jauh lebih tenang. Nyak Time juga, sudah jarang suka nyolot sebab menjaga hati Aydan. Apa lagi saat Aydan hidup terpisah dari Kevin dan Muna saat masih di Apeldorn lalu. Sedapat mungkin mereka menghindari Aydan sedih atau merajuk, agar dia tidak mencari Muna. Ah... lika-liku perjuangan hidup. Ga kaya, ga miskin selalu ada saja ujiannya.


"Ka Ay... mau gitu kong."


"Ntar engkong ajarin ye. Tunggu umurnya begini." Babe Rojak menujukkan lima jarinya.


"Umuy apa kong?"


"Ah... eeh.. ape ye? Oh... Aydan ulang tahunnye lima kali."


"Uyang tahun... oh... banyak balon cama menan ye kong?"


"I' iiye yang banyak balonnye." Bingung babe menjelaskan arti umur pada balita itu.


"Papap aja.... boyeh mam?"


"Boleh sayang. Sini mamam ganti bajunya dulu ya." Gendong Muna pada Aydan lalu membawanya ke kamar mereka yang sudah ada fasilitas kamar mandi di dalamnya.


"Pap... jangan pura-pura tidur. Kaka mau papap yang baca ceritanya malam ini." Pukul Muna pelan pada kaki suaminya yang memang akting lagi ngantuk berat.


"He...he...he." Cengir Kevin ke arah Muna dan Aydan yang masih sibuk memasang piayama Aydan.


"Papap cape ya...?" tanya Aydan mendekati Kevin.


"Kalo cape kenapa?" Kevin balik bertanya.


"Bunda Yayas bilang, kalo cape di pijit... gini." Aydan sudah mengacak-acak kaki Kevin dengan susah payah.


Kevin langsung menyambar Aydan yang berada di kakinya... lalu mendudukan di atas perutnya.


"Kaka... kalo cape ga usah di pijit, tapi bobo aja nak."

__ADS_1


"Oh... bobo. Papap mau bobo?"


"Belum, kan belum baca cerita buat kaka." Peluk Kevin mesra pada anak pertamanya itu. Lalu mengambil buku bacaan yang memang selalu ada kemanapun mereka tidur.


Aydan tidur berbantalkan lengan kokoh Kevin. Mata Aydan mulai mengecil, sayup lima watt dan tak lama Aydan terlelap. Berbeda dengan mata Kevin yang justru makin melotot saat melihat Muna berani menggunakan dres panjang tali satu tapi berbahan putih susu transparan. Parahnya ********** justru merah maroon, tentu saja sangat mencolok dan menggiurkan.


"Tumben pakai dres tipis gitu?"


"Baru liat ada di lemari bang. Kayaknya stok lama nih waktu masih hamil Aydan. Abang yang beli deh pastinya."


"Hmm... masa? Sini abang pegang bahannya. Abang yang beli bukan?" modus Kevin ingin Muna mendekatinya.


Muna juga tak sadar itu hanya modus. Lalu merujuk mendekati Kevin.


Buka bahan kainnya yang di raba, tentu saja bagian kain merah maroon yang di dalamnya yang Kevin remas.


"Eeh modus yaa. Ampun dah ini laki, punya anak dua masih aja mesum."


"Sayang... kalo ga mesum sama istri sendiri. Terus abang mesumin siapa?"


"Iiye juga siih. Sini... Muna amankan Kaka Ay dulu ke kasur yang bawah. Takut kena gempa."


"Senangnya punya istri pengertian begini. Pintar banget melayani suami." Puji Kevin.


"Pahala bang... pahala." Kekeh Muna menebarkan senyum penuh pesonanya.


"Pahala... bilang aja emang suka." Kevin sudah menarik tubuh Muna ke dekat tubuhnya. Lalu membuka kaitan kain melintang merah maron tadi.


"Naluri lah pap. Manusia ini, siapa sih yang ga suka beginian?" tangan Muna tak kalah nakal, merayap di sela kolor yang masih terpasang sempurna pada pinggang Kevin.


"Heeem... tangannya di kondisikan Mae. Cari apa siih?"


"Cari bor pap." keduanya tertawa, kemudian sama-sama sibuk meraba, merem as, juga memilin bagian favorit masing-masing sebagai foreplay sebelum ke gerakan inti.


Bersambung...


Ga papa lambat up


Yang penting tetap double kan gaees.


Happy Reading

__ADS_1


❤️


__ADS_2