
Gita sudah berlari menubruk tubuh tegap yang sudah berbalik meninggalkannya. Sampai Gita sudah tidak peduli dengan gundukan kenyal kembar di depannya. Tubuhnya di buat menempel, dempet mereka mirip bayi kembar dempet… pet… Pet… pet.
“A’a… maafin neng.” Lirihnya pelan memeluk Gilang posesif.
“Neng yang egois tak memberi kesempatan untuk A’a jelaskan semuanya hingga tuntas.” Gita masih memeluk Gilang dari belakang.
“Cinta itu penuh pemberian, bukan meminta untuk di berikan, cinta itu ketulusan, bukan penuh dengan paksaan. A’a tidak mau neng hanya kasiha pda a’a.” Gilang mencoba memegang tangan yang terkepal erat di atas perutnya oleh Gita.
“Maafin neng. Sepertinya kadar cemburu neng berlebihan sama a’a. Sampai ga bisa mikir logis gitu. Neng takut kehilangan a’a. Apalagi dengan orang di masa lalu a’a.” Mata Gita berkaca-kaca, malu bercampur pasrah jika kini seluruh isi hatinya sudah ia tumpah ruahkan tanpa batasan lagi.
“Mencintai seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang, dan bukan siapa dia sebelumnya, Neng.”Gilang sudah membalik tubuhnya, membalas pelukan posesif itu, dengan rangkuman yang tak kalah erat pada tubuh kekasih yang mampu membuatnya selalu merindu itu.
“Maaf A.. Neng mau jadi satu-satunya pasangan yang a’a pilih.” Manja Gita keluar dengan mebenamkan kepalanya pada dada Gilang.
“Jatuh hati tidak bisa memilih pada siapa berlabuh neng, Tuhan memilihkan, kita hanyalah korban. Kecewa adalah konsekuensi, bahagia adalah bonus. Menurut neng, kita pada posisi yang mana?”
“Agi hadir memberi cinta, membawa bahagia. Dan memberikan rasa rindu yang tak pernah ada habisnya.” Entah itu gombalan Gita saja atau serius. Hanya Gilang sudah terlanjur mengamini, bahwa yang Gita katakana semua benar.
“Jika saatnya tiba, sedih akan menjadi tawa, perih menjadi cerita, kenangan akan menjadi guru, rindu akan menjadi temu, kau dan aku akan menjadi kita. A’a mau ini adalah keraguan neng pada a’a untuk yang pertama dan yang terakhir. Janji..?”
“Janji a’. Neng tanpa A’a tuh kaya ambulan tanpa uwiw uwiw A’. Hamvaaah.” Nah… gombal Gita sudah kumat artinya hati Gita benar sudah baik-baik saja.
“Dan a’a rela di tangkap polisi jika tuduhan itu adalah tentang pencurian hati eneng.” Kekeh Gilang tak mau kalah.
“A’a…. Sejak kenal aGi.. neng udah ngalahin anak SD baru masuk sekolah yang selalu suka belajar.”
“Masa… belajar apa?”
“Belajar jadi yang terbaik untuk a’a.”
“Parah… ini udah makin parah aja neng. Plafon rumah pak bos bisa jebol neng.”
“Kenapa?”
__ADS_1
“A’a… melayang neng. Dapet gombalan neng dari tadi.”
“Ichh.. serius kali a’…”
“Udah.. aGi, balik ke kator lagi ya. Udah ga marah lagi kan sama A’a. Nanti sekali-kali kita ketemuan sama Risna ya. Empat tahun lalu a’a udah anggap hubungan kami putus, karena lamaran a’a di tolak. Tapi dianya ga nganggep itu selesai. Dan kemarin, secara tegas a’a putus ulang deh, biar beres dan clear masalahnya.”
“A’a yakin dia terima di putusi?” kepo Gita.
“Insyaallah. Untuk itu tetaplah di samping a’a. Jangan lari, apalagi ngumpet. Kita hadapi sama-sama sebenarnya lebih cepat selesai lho, neng. Tapi… ya gitu ternyata calon istri a’a sempat mau nyerah aja. Kita baru mau nikah aja, neng udah segininya. Jangan lemah lagi saat sudah jadi istri a’a nanti. Jadilah wanita terkuat dalam hal percaya bahwa jiwa raga a’a sudah neng kepung dalam kubangan cinta eneng.” Timpal Gilang lagi.
“Siap a. Eneng bakalan berhenti cinta sama a’a, kalau gajah sudah bisa terbang sendiri.” Kekeh Gita manja.
“Masyaallah… sari manisnya kebanyakan atuh neng. Tanggal merah sekalipun a’a ga akan libur untuk selalu mikirin eneng seorang.”
“Udah… pergi deh A. Eneng mau mandi kembang tujuh rupa. Ruwat buang sial, di gombalin terus ama a’a.”
“Laaah… yang ngegombal siapa, yang ngerasa korban siapa ya?” Tanya Gilang.
Cup
“Oh Tuhan, cobaan apalagi ini neng?”
“Kenapa?”
“Lamaan neng.” Tagih Gilang.
Yang Kemudian mendorong tubuh Gita merapat ke dinding ruangan itu. Menyandarkan tubuh Gita di sana, memegang rahang Gita dengan posesif, mengigit-gigit kecil bibir tipis yang tadi berani menyerangnya lebih dahulu. Membuat bibir Gita terbuka, tak tahan dengan serangan gigitan itu, tentu saja memudahkan lidah Gilang masuk tanpa hambatan untuk menelusuri bagian dalam rongga mulut Gita.
Sepersekian menit akal sehat keduanya terbuai dalam bujuk rayu setan yang sangat nikmat, sungguh dosa itu sangat manis. Membuat keduanya lupa jika label halal belum mereka kantongi. Gilang tidak bisa selama itu melu mat, bibir Gita tanpa respon yang sama dari lawan mainnya. Nafas Gilang bagai pemburu, mendapatkan balasan nakal sedikit lincah di dalam sana. Tapi, cubitan di pinngang Gilang membuatnya melepas ciuman penuh gelora itu. Wajah keduanya sama-sama mirip kepiting rebus. Keduanya berbalik, Gita sudah menghadap dinding, begitu pula dengan Gilang, sudah dengan cepat menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah kesalahan.
“Maaf Neng. Bablas.” Ucap Gilang menahan hasrat yang sempat bangkit berharap mendapatkan bagian lebih dari sebuah bibir saja.
“Hmm…” Gigit Gita pada bibirnya sendiri. Menyadari memang dia biang kerok ciuman yang sempat meningkatkan adrenalin keduanya. Dengan kecupan di kening Gita dan salam khas agama mereka, Gilang pun akhirnya dapat keluar dari tempat itu, dengan senyum sedikit terkembang. Bukan hanya kesalah paham yang mereka dapat luruskan, bahkan bonus perdamaian itu mampu membuat bibirnya tersenyum sendiri dari rumah Kevin hingga kantor.
__ADS_1
“Gimana, beres?” Tanya Siska saat menemukan Gilang sudah ada di dalam ruangan barunya sebagai wakil CEO.
“Alhamdulilah, sudah Sis.” Jawab Gilang dengan senyum manisnya.
“Kok aku ngeri ya liat senyum kamu Lang…?” kekeh Siska.
“Kenapa?”
“Entahlah, oh iya. Ini bukannya proposal Gemini Corps. Kok bisa ada di mejaku. Bukannya kemarin ini ga sempat kita bawa ya Lang?” Tanya Siska agak bingung.
“Oh.. iya. Kemarin pas Risna ke rumah. Dia memintaku untuk membawa dan mempelajarinya.”
“Harus ya kita terima kerja samanya?”
“Tidak juga, pelajari saja dulu. Jika memang tawarannya menguntungkan kedua belah pihak. Mengapa tidak.” Jawab Gilang serius.
“Kamu yakin berani kerja sama dengan perusahaan ini, bahkan di dalamnya ada mantan mu yang pasti akan ikut bekerja di dalamnya?” Tanya Siska mengingatkan.
“Profesional dong Sis. Jangan karena masa lalu, kita menghambat rejeki orang. Kita rapat dengan TIM saja, apakah tawaran mereka bisa di terima atau tidak.” Ujar Gilang kemudian.
“Ya semoga baik-baik saja. Tapi saranku, jika memang bisa di hindari, sedapat mungkin jangan beri celah untuk sesuatu yang mungkin saja membuat hubungan kalian tidak dalam posisi aman. Jangan menantang, yang namanya musibah itu ga usah di cari. Bisa datang sendiri.” Pesan Siska yang sepertinya merasa inscure dengan kehadiran Risna kemarin.
“Hmm… kita baru menerima proposalnya saja Sis. Belum menerima kerja samanya. Jika proposal saja tidak kita terima, justru akan lebih mengecewakan pihak itu. Dan orang kecewa bahkan lebih jahat dari orang yang sedang jatuh cinta lho.” Bela Gilang pada pendapatnya.
“Iya… aku hanya sekedar saran.” Jawab Siska kemudian.
Bersambung…
Fix nyak ngaku suka khilaf, selalu gagal alim sebelum halal. Maaf ya🤭
Besok udah senin aja.
Boleh dong di kasih Vote🙈
__ADS_1