OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 134 : RONA MARGARETHA


__ADS_3

Tubuh Kevin menggelepar, jatuh lunglai tak berdaya. Bahkan sisi tegarnya sebagai lelakipun teruji.


Bagaimanpun Kevin juga manusia. Siapakah dia yang hanya seorang CEO bukan berarti serta merta telah serupa dengan superman, avengers, batman, atau pahlawan heroik lainnya. Ia juga punya hati, punya fisik yang juga butuh istirahat.


Jiwa dan raga Kevin terkuras atas segala tragedi di luar nalar baginya. Yang akhirnya membuatnya drop.


Perawat sudah buru-buru datang saat babe memencet tombol di ruangannya untuk segera menghampiri ruang rawat babe.


Kevin kini terbaring di atas ranjang pesakitan. Dengan aksesoris khas rumah sakit pada umumnya. Selang infus tampak tergantung di sisi kiri tubuhnya, dengan tancapan jarum di pergelangan tangannya. Fix Kevin resmi menjadi pasien di Hildimar Hospital menyusul babe.


Sesungguhnya Kevin bertubuh kuat, fisiknya tentu tidak selemah itu jika hanya di dera oleh bibit penyakit. Namun kali ini yang terserang bukan hanya tubuhnya. Melaikan hatinya yang bagai di rajam seribu pisau belati.


Rasa bersalah, rasa sesal, malu akibat gagal nikah dan marah juga semua berkecambuk datang bergentayangan dalam benaknya, membuatnya oleng. Hilang keseimbangan.


Untuk kali ini, ijinkan Kevin sedikit di beri waktu sebentar saja menikmati deritanya di atas sebuah bed pasien. Untuknya sejenak menangkan diri. Memberi asupan pada tubuh dan otaknya agar tak salah lagi dalam berpikir dan bertindak.


Papi Diendra dan mama Leina sudah tampak berada di dalam ruang rawat inap di sana. Untuk membesuk babe Rojak sekaligus Kevin yang di minta nyk bisa di rawat pada ruang yang sama. Untuk memudahkan nyak menjaga pria beda suku itu di sana. Dimana Kevin yang telah ia anggap seperti anaknya sendiri.


"Maafkan kami yang terlambat mendapatkan info tentang kecelakaan bahkan hilangnya Muna pa Rojak." Ucap Diendra penuh kesedihan. Sungguh terlihat di sana bahwa ia pun sangat prihatin melihat nasib putranya Kevin yang ia sendiri tak dapat menjangkaunya.


Diendra tak ingin kalah dalam usaha pencarian calon menantunya. Ia pun mengerahkan orang-orangnya yang selalu ia andalkan untuk menemukan atau mencari celah apa saja, di mana terkadang rival bisnisnya pun yang kadang bertindak curang padanya.

__ADS_1


"Ini memang pertemuan pertama kita bu Time. Tapi... maaf jika saya lancang untuk bertanya. Apakah benar Muna adalah anak pungut. Maaf jika pertanyaan saya menyakiti hati bu Time. Tidak usah di jawab juga tak mengapa." Terdengar pertanyaan yang katanya tak perlu di jawab itu terlontar dari bibir mama Leina yang sesungguhnya penasaran akan asal usul Muna.


"Iye bu Leina. Bener adenye. Sebenernya Muna entuh bukan anak kandung aye. Muna entuh kami tidak sengaja temukan di suatu pagi buta, tidak jauh dari tempat pembuangan sampah daerah Kebayoran Baru, Jakarta selatan. Sebab dulunye, kami kerjanye mulung, dan waktu itu. Babe masih jaya-jayanye jadi pelatih karate. Sering menang dan penghasilannye dapat untuk mencukupi kebutuhan kami berdua." Nyak Time mulai bercerita, saat Kevin samar-samar mulai kembali kesadarannya. Namun tetap memilih untuk terlihat seperti orang tidur.


"Mungkin mulai di situlah salahnye aye ama babe. Yang saat entuh sudah habis kesabaran menantikan waktu untuk ingin cepat punya momongan. Kami ude 10 tahun menikah, namun keguguran aje aye kaga pernah rasakan. Jadi, tiba liat ade keranjang berisi bayi cewek. Kami langsung membawa bayi entuh dan langsung memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Ke Jakarta Barat sampai sekarang." Cerita nyak, sambil menatap kosong ke arah dinding, seolah ingatnnya kembali ke masa lalu.


"Kesalahan kami sebenernye, kaga berhenti saat kami bawa kabur bayi berusia 3 bulan entuh. Tapi, salahnye lagi, kami bahkan masih berniat tidak memberitahukan ini pada Muna. Mestinya saat ia berusia 17 tahun, saat dia sudah berhak dapat KTP. Harusnye kami kagak boleh terus merahasiakannya. Sebab... jujur kami sangat takut kehilangan Muna. Kami takut dia akan lari dari kami, untuk mencari asal dan usulnye yang sebenernye. Dan ... kami belum siap akan hal tersebut." Babe Rojak menambahkan.


"Maaf sekali lagi jika saya lancang dan berprasangka sangat jauh. Jika boleh jujur... bahkan sejak pertama saya bertemu Muna. Ingatan saya langsung tertuju dengan teman kecil kami hingga beranjak dewasa. Usianya memang terpaut 4 tahun dari maminya Kevin adik saya. Tapi dulu kami sangat akrab. Sewaktu masih tinggal di berdekatan rumah di Belanda. Namanya Rona Margaretha. Ini saya masih punya fotonya di jaman dulu. Menurut saya mereka sangat mirip. Bahkan waktu itu saya bingung. Dan seenaknya menebak jika dia anak Rona. Tetapi setelah saya mendengar dialeg bahasanya. Barulah saya percaya jika dia tentu bukan anak Rona sahabat kecil kami itu." Mama Leina menyodorlan sebuah foto lumayan usang. Nampak gambar seorang wanita muda cantik sedikit seksi di lembar itu. Dan sungguh, bagai pinang di belah dua dengan Muna.


Nyak Time gemetar memegang lembaran yang di sodorkan mama Leina padanya. Sungguh tak menyangka anak gadisnya sungguh bagai memiliki kembaran identik.


Mama Leina tak kalah sedih saat sama sama yakin bahwa itu mungkin ibu kandung Muna. Sebab sejak mereka hijrah ke Indonesia, mereka lost kontak. Sama sekali tak pernah bertukar kabar. Dan kemudian mereka masing-masing sibuk dengan utusan keluarganya masing-masing.


"Saya yang lebih dahulu kembali ke Indonesia. Mungkin hubungannya dengan Beatrix masih terjalin setelah saya pindah. Namun, sekarang pun kita tak dapat menggali informasi apapun pada alm. Beatrix." Jawab mama Leina masih dengan nada lirih. Mengandaikan jika saja Rona benar ibu kandung dari Muna.


"Masih... sampai kami pindah ke Indonesia pun mami Kevin masih menjalin hubungan baik dengan Rona. Jika yang kalian maksud adalah wanita muda berbola mata biru persis seperti yang di miliki Muna." Papi Kevin ikut nimbrung pada obrolan serius itu.


"Iya mas Diendra..., Rona itu yang mbak maksudkan." Sergah mama Leina menaggapi sahutan Diendra.


"Seingat saya, bahkan sampai usia Kevin belum sekolah, Rona itu masih sering main kerumah. Dan masih berstatus lajang. Tetapi sudah memiliki calon suami. Hanya jika saya tak salah ingat keluarganya belum memberikan restu pada hubungan mereka tersebut." Diendra memutar otak, memaksa ingatannya kembali ke masa lalu. Saat rumah tangganya masih ruhuy rahayu dan keadaan ekonomi mereka tak semapan sekarang.

__ADS_1


"Maksud mas Dien. Rona sering main saat kalian juga sudah di Indonesia...?" mama Leina memastikan.


"Iya... saat kami sudah di Indonesia. Bukankan Kevin lahir di sini. Ia bahkan sering lama jika bermain-main di rumah. Tetapi... mbak Leina juga tau. Masa itu saya sedang gencar meniti karier. Sehingga tidak begitu perduli dengan siapa saja yang menjadi teman dekat Beatrix." Diendra sungguh tak memiliki informasi lebih tentang Rona Margaretha.


...Bersambung......


Oke fix yaak.


Nyak otor juga lelah sembunyiin siapa ibu kandung Muna.


So... nyak tunggu di bab selanjutnya


Nyak di kasih apa nih kalo seminggu ini dubel up🤭


Lopeh buat semua


❤️❤️❤️


Ini pic yang di sodorkan mama Leina ke nyak Time.


__ADS_1


__ADS_2