OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 172 : SELAMAT PAGI SUAMI


__ADS_3

Pertarungan sengit telah usai bahkan berakhir dengan sholat berjamaah. Walaupun kemudian keduanya memilih kembali masuk dalam selimut yang sama, membayar waktu tidur yang tersita semalam.


Keduanya masih bergelung sempurna, bahkan tak peduli dengan belalakan matahari yang sudah melewati pukul 9 pagi.


"Selamat pagi suamiku." Cicit Muna mencium pipi kanan berjambang itu.


"Selamat siang istriku." Jawab Kevin mengecup kening Muna hangat.


"Yang... Lapar."


"Sama."


"Semalam kerja rodi banget sih."


"Siapa suruh santapan malamnya lezat gitu, bikin nagih terus sayang. Nih... Pegang. Otong dah on lagi." Tuntun Kevin pada tangan Muna ke arah pusaka keramat kesayangannya itu.


"Busyeeeet dah. Kurang kerjaan lu Tong. Udah nyaingi tentara yang jaga tapal batas deeh ah." Jentik Muna pada kepala otong kesayangan Kevin itu.


"Iish. Sakiit yang." Hardik Kevin lebay mendapat jentikan itu. Muna hanya terkekeh dan berusaha bangun dari peraduannya, mencari sandal rumahan. Dan siap mengecek isi kulkasnya.


"Kemana?"


"Masak lah bang. Kita bedua bisa mati muda, kalo cuma ubek-ubekan di kasur. Ini tulang udah pada geser dah rasanya." Dumel Muna sambil melangkah pelan agak tertatih menahan perih di bagian tengah tubuhnya.


"Mae ga ikhlas melayani suami?" Pancing Kevin yang sudah mensejajarkan langkahnya bahkan memeluk tubuh itu dari belakang. Rindu lagi dengan istri tersayangnya.


"Ikhlas lahir batin yang. Tapi, kita perlu asupan gizi juga pan." Jawab Muna tegas.


Kevin sudah meraup istrinya, agar bisa lekas sampai dapur mini di apartemen itu. Muna terima saja, perlakuan manis suaminya, yang seolah tau jika berjalan saja masih tak berasa. Dan sedikit tertatih. Dan tugasnya hanya mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya, sambil sesekali mengendus pipi dan leher yang masih beraroma wangi plus kecut itu.


"Alhamdulillah. Mama nih pasti kerjaan mama." Tebak Muna saat melihat ada Mackaroni schotel yang hanya tinggal di panaskan 5 menit di mikrowavenya.


"Kenapa yang?"


"Ini... Ada mackaroni schotel tinggal di panaskan sebentar. Hum, ada susu pra hamil juga nih yang, di siapin mama."


"Sini biar abang yang buatkan buat Mae." Semangat Kevin mengambil kotak susu itu, membaca aturan buat. Lalu menyeduhnya untuk Muna.


"Ish... Suamiku semangat sekali sih. Denger susu pra hamil. Udah mau punya anak yang?" Goda Muna.


"Ya iyalah... Jangan lupa abang bentar lagi 35 sayang. Teman abang sudah pada nongrong di parkiran SD bahkan SMP nungguin anak-anaknya sekolah. Lah abang... Baru berhasil jebolin tanggul semalam." Kekeh Kevin menyadari keterlambatannya dalam urusan membina keluarga.


"Rejeki jodoh mereka lancar dong. Lah si abang pake acara ngambekan dulu siih. Trauma, trauma kagak jelas." Kevin langsung menyambar bibir yang berceloteh ria itu, supaya segera diam.


"Ga usah di bahas." Ucap Kevin menyudahi ci pokannya.

__ADS_1


"Yaaang..."


"Apa... Kurang lama?"


"Iis... Mesumnya kumat."


"Sama istri ini. Ga papa kan?"


"Iye... Pahala juga." Jawab Muna suka.


"Naah... Tuh pintar."


"Yang... Ntar kalo Muna hamil pegimane?"


"Ya Alhamdulilah dong."


"Tapi... Muna masih kuliah yang."


"Masalah? Punya laki ini." Jawab Kevin santai.


"Tapi kita jauhan. Ntar yang temenin Muna sape?"


"Tenaaang, ntar abang kerjanya dari jauh deh."


"Bisa ? Abang ga punya aspri gitu kayak kak Ferdy."


"Sekretaris abang... Sape tuuh?"


"Belia... Hah. Tunggu brenti aja tu orang. Ganjen dianya." Sarkas Kevin singkat.


"Cie...cie. Aslinya cantik lo dia ternyata. Setelah Muna perhatiin pas malam Muna ulang tahun. Itu dia kan yang ngekor di belakang abang." Walau tidak mendetail, Muna kenal dengan Belia. Dari kisah-kisah Kevin saat mereka menikmati mada LDRan.


"Mae sempet liat?"


"Ya iyalah. Untung iman suamiku kuat. Pisah lama, di perhadapkan dengan cewek cantik tiap hari, lama-lama bisa aye labrak dah tu cewe."


"Hah. Baru juga dapat laporan dari versi abang yang minimalis saja sudah meradang. Abang males aja bilang selengkapnya, kalo dia sering mengkondisikan kamar hotel saat dinas luar, kadang dia pesannya cuma satu buat kami berdua lo, sayang." Kevin memanas-manasi berharap istrinya cemburu.


"Hah... Rejeki nomplok dong si otong." Ledek Muna tanpa beban.


"Sorry ya... Sejak ketemu Mae, otong dah tobat sayang."


"Alhamdulilah. Terserah abang saja. Besok kita jauhan lagi, itu si otong mau tobat kek, mau kumat kek. Muna kagak peduli. Ada Allah yang udah banyak bantu kita buat bersatu. Banyak aral sebelum kita bener-bener halal. Jadi, sebaiknya kita harus lebih kuat dalam hal mempertahankan pilihan kita ini. Ngeraihnya kemarin saja kita udah berdarah-darah. Masa... harus kita hancurkan dengan mudah, seolah lupa. Kita hampir gila dengan semua peristiwa yang kagak semua pasangan lain rasakan seperti yang kita lewati. Setuju pan bang?" Panjang lebar Muna mengungkapkan isi hatinya.


"Banget Mae sayangku. Terima kasih untuk semuanya. Sejak awal abang yakin Mae di kirim Tuhan untuk abang kembali ke jalan yang benar, sebagai jembatan abang menuju surga, Mae wanita sempurna yang Tuhan kasih spesial buat lengkapi hidup abang. Tidak ada alasan kuat untuk abang sekedar bermain, apa lagi berpaling dari mu sayang." Peluk Kevin lagi pada tubuh yang selalu mengundang rindu itu.

__ADS_1


Tiiing


Suara mikrowave membuyarkan dialog pasangan pengantin baru mengumbar janji dan beradu rayu.


"Duduk saja, nanti abang yang ambilkan." Kevin benar-benar memanjakan bidadari surganya itu, mengingat semalam Muna benar-benar memberikan layanan dahsyat untuk ukuran pemula.


Muna tersenyum saja, menerima perlakuan manis suaminya itu, yang entah selama apa bisa ia nikmati kebersamaan mereka, ah. Nanti saja berbicara tentang besok di mana dan apakah masih bersama. Yang penting menikmati hari ini saja dengan maksimal bersama orang yang tersayang, seolah hari ini adalah hari terakhir di lalui dengannya, maka ciptakan bahagia itu seindah mungkin hari ini.


"Huuum... Sayang. Abang tau niih. Kenapa mackaroni schotel buatan Mae dulu sangat mirip buatan mami. Sepertinya darah mama mu benar ngalir di tubuhmu sayang. Dan mama satu server sama mami dalam urusan memasak. Kan mereka sahabatan." Ungkap Kevin tak berjeda.


Muna mengangguk pelan, membenarkan ujaran suaminya.


"Dan sepertinya, semua resep makanan ala Belanda yang pernah Muna buat untuk abang dulu juga naluriah ya bang. Sebab darah Belanda emang ada di tubuh Muna." Celetuk Muna membenarkan.


"Huuum... Begitulah kentalnya darah. Walau bagaimanapun didikan, gen tetap akan turun dan di wariskan dengan sendirinya, tanpa di sadari."


"Iya... Terlalu manis Allah arahkan jalan hidup Muna ye bang. Punya orang tua kandung yang baik, juga kasih orang tua angkat yang berhati bersih kayak nyak dan babe. Makasih, selama Muna jauh abang udah perlakukan mereka seperti orang tua abang sendiri." Tukas Muna menerawang teringat akan kedua pasangan Betawi yang kocak juga sangat banyak membentuk kepribadiannya dengan baik.


"Sejak kenal babe dan nyak, abang bukan hanya jatuh cinta sama anak gadisnya. Tapi, sama mereka juga Mae." Jujur Kevin.


"Masa...?"


"Beneran... Mereka tulus menyayangimu. Fisik saja yang membuat perbedaan kalian menjadi jomplang. Dalam hal mendidik anak, dua jempol buat mereka."


"Aiiisssh... Abang terlalu memuji nyak babe."


"Maaf sayang. Hidup mereka tidak berlebihan, bahkan pas-pasan. Tapi tidak serta merta nyerahin anak gadisnya gitu saja. Padahal yang ngelamar anak mereka waktu itu seorang CEO tampan yang mapan loh. Tapi mereka tidak terpengaruh. Hah... Konyol. Abang bahkan sempat gelut sama babe. Orang tua yang sangat memiliki harga diri yang tinggi. Mana anaknya susah di ajak mesum lagi. Bikin abang makin penasaran aja dapetinnya."


Muna...


Muna sudah kaya soang saja, main sosor bibir Kevin yang masih menganga, setelah bercerita kilas balik awal kisah cinta mereka bermulai.


Bersambung...


Cie...cie readers kalo udah baca beginian


Susah brenti


Lanjut nyak


Kurang panjang


Up lagi dong


Gemeeeesh juga baca komen lucu kalian gaees

__ADS_1


Makasiiih buat readers setia nyak di mana saja berada.


Salam sehat buat semua ya❤️


__ADS_2