
Kevin, Muna, Aydan, Gita dan Gilang sudah berada di apartemen Kevin. Penampakan tempat itu bersih terawat, sebab selalu ada ART lepasan yang datang seminggu sekali untuk membersihkan tempat itu.
Hari masih siang, saat mereka sudah tiba di sana.
"Gilang... mau ikut belanja atau di rumah jaga Ay?" tanya Kevin pada Gilang yang sudah mengenakan pakaian santai.
"Belanja apa pak? Biar Gilang yang cari."
"Ibu negara mau jadi ibu rumah tangga. Kamu pasti ga nyangka, masakannya itu enak-enak Lang. Besok kalo cari istri yang paket komplit kaya ibu. Udah cantik, pintar masak, pintar menghemat uang lagi." Puji Kevin tentang Muna.
"Insyaallah nemu yang kayak gitu pak." Jawab Gilang.
"Gimana, ikut ga?"
"NengGi ikut?" tanya Gilang pada Gita yang masih terlihat bermain dengan Ay.
"Ya ikutlah A'. Ngapain jauh-jauh ke sini ngedekem di rumah doang." Jawab Gita.
"Ya udah. Ikut deh pa."
Kevin tersenyum, sambil melempar pandangannya pada Gita dengan tatapan curiga.
Jadilah mereka pun tampak berduyun-duyun berjalan menuju pusat perbelanjaan terlengkap di negara itu. Dengan formasi Gilang dan Gita di belakang, dan Ay ada di depan dada Kevin seperti anak kanguru. Muna cukup menggandeng tangan Kevin saja dan memegang tas berisi perlengkspan Aydan.
Berkali-kali tangan Muna di tarik menuju etalase tas dan sepatu bermerk, tetapi mental. Muna lebih memilih segera masuk ke bagian bahan makanan, persis seperti saat mereka berdua dulu di awal kenal.
Muna masih seperti yang dulu, terbalut dalam kesederhanaan, jauh dari kata mewah. Tampak selalu bersahaja, ya walau pakaiannya yang berangsur dengan model biasa tapi harga yang luar biasa. Akibat Kevin yang selalu membelikan untuknya. Dengan alasan, tak ingin istrinya terlihat buluk jika saja, akan bertemu dengan kolega bisnisnya.
"NengGi... tangan A'a teh ga di gandeng gitu kaya tangan ibu dan pak bos?"
"Nanti... tunggu AGi jadi pak bos juga."
"Dasar cewek mantre. Jangankan ngegandeng, ngelirik aja cewe mah ogah sama A'a, ya neng."
Gita menghentikan langkahnya sejenak, membuat Gilang menoleh. Sadar Gita tidak di sampingnya lagi. Lalu berjalan berbalik ke arah Gita.
"Kenapa?"
"Biar AGi ada yang liat, ga cuma di lirik."
"Iih so sweet banget siih. NengGi tau ga."
"Ga...!"
"Kan belum AGi kasih tau neng."
"Hihihiii... iya apa?"
"Sakit hati sama sakit gigi itu pemyebabnya sama."
"Masa?"
"Iya... sama-sama disebabkan oleh yang manis-manis. Termasuk nengGi."
"Eaaa...ea..ea. Pinter nge gombal ternyata si a'a iiih."
"Wooiii... niat ngawal apa mau pacaran siih." Seru Kevin melihat Gita dan Gilang dalam mode mesra-mesra anyep.
"Iiyaaa pa, maaf." Jawab Gilang yang langsung mendekati Kevin dan Muna.
"Sini." panggil Kevin agar Gilang lebih dekat.
__ADS_1
Gilang patuh dan segera dempet, sebab biasanya kalau begitu. Akan mendapatkan tugas khusus.
Kevin segera melepas gendongan di dadanya dan memindahkannya pada dada Gilang. Lalu meletakkan Aydan di gendongan tersebut.
"Ay... sama Om Gilang dulunya. Papap ga boleh capek nak. Mamamu bisa marah nanti."
"Abaaang." Bisik Muna sangar di telinga Kevin.
"Bercanda sayang."
"Kalian bawa Ay duduk di tempat makan deh. Saya belum selesai belanjanya. Gita, tolong kasih Ay biskuitnya ya. Minumannya juga ada di tas ini." Perintah Kevin yang langsung merebut tas perlengkapan Aydan dari tangan Muna.
"Baik siap pa." Jawab Gita patuh.
Muna sesungguhnya tidak enak, tapi tentu saja dia tidak punya kesempatan dan alasan untuk menolak. Sehingga akhirnya mengikuti keinginan suaminya saja. Toh, mereka pun memang jarang punya waktu berduaan, berbelanja pula.
"Sini... sini. Biar AGi saja yang kasih makan Ay. Gini-gini AGi sudah terlatih urusan ngurus anak kecil. Apalagi kalo cuma kasih makan." Ujar Gilang membuka ransum makanan Ay.
Gita hanya melongo melihat, benar saja Gilang memang terlihat cekatan dalam urusan menyuapi bayi 9 bulan itu. Gita hanya kebagian membersihkan bekas makannya saja.
Entah, Muna dan Kevin sengaja atau memang benar tersesat. Sehingga lebih dari 60 menit pasutri itu tidak muncul ke tempat Gilang dan Gita yang tiba-tiba bertugas menjaga bayi.
"AGi... neng lapar." Gita memegang perutnya sambil menatap kasihan pada Gilang yana Ay jadikan tempat bersandar dan tertidur nyenyak di gendongan Gilang.
"Sama. Pesan makanan deh Neng."
"Nasi Ayam Hainan mau A ?"
"Iya boleh Neng."
"2 ya... minumnya?"
"Es jeruk saja, kalo ada."
"Neng tambah ice kachang juga deh. AGi mau?"
"Ga usah. Susah juga ntar makannya." Ucap Gilang yang sebenarnya bingung nanti makannya gimana.
Sampai pesanan tiba pun, Kevin dan Muna belum tiba. Gita dan Gilang lapar. Tapi Ay, masih tidur pulas di dada Gilang, kepalanya tertumpuk manja di atas tangan Gilang.
"AGi, gimana makannya?"
"Ya... ntar deh. NengGi aja duluan. Baru di pindahin ke nengGi."
"Ntar ke bangun dianya."
"Ga papa, udah lama ini tidurnya."
"Kalo gitu bangunin sekarang aja."
"Eeh jangan yang ada dia malah rusuhin kita makan."
"Ya udah, neng suapin deh." Usul Gita tanpa meminta persetujuan Gilang. Dan langsung mengaduk makanan yang mestinya milik Gilang.
Menyodorkan sendok berisi makanan ke depan mulut Gilang.
"Bismillah dulu A'. " Perintah Gita.
Dengan agak sungkan Gilang patuh, hanya bisa menerima suapan demi suapan dari Gita. Entah, apa ayam Hainan itu memang enak, atau karena makannya di suap oleh perawan, sehingga rasanya lebih spesial dari biasanya.
Kevin dan Muna sudah sejak 30 menit lalu berada di tempat makan yang sama. Tetapi atas usul Muna, mereka tampak menikmati saja dari jauh, pemandangan yang bagi mereka manis itu.
__ADS_1
Aydan juga semacam satu server dengan mamam dan papapnya. Begitu, makanan keduanya habis, tanpa di bangunkan dengan riangnya ia membuka mata, tanpa menangis. Tampak ia puas dengan tidurnya di dalam dekapan Gilang.
"Yee... ini anak pak bos. Giliran makanan udah habis bangun deh. Tau gitu, lebih baik nunggu aja. Kan ga enak makannya di suapin."
"Masa?"
"Iya neng... ga puas rasanya."
"Ya maaf. Dari pada AGi kelaperan."
"Ga... maksudnya ga enak itu neng. Takut kecanduan di suapin terus oleh nengGi." Canda Gilang pada Gita.
"Yee... itu sih maunya AGi aja."
Olok-olokan keduanya terhenti. Saat ada panggilan Video Call meronta pada ponsel Gita.
Gita menoleh ke arah Gilang, setelah melihat nama siapa yang meronta-ronta pada icon biru tersebut.
"Angkat atuh neng."
"Ga ah. Males." Jawab Gita datar.
"Kali aja penting."
"Ga... ngbrol sama dia mana pernah punya topik yang penting." ujar Gita lagi.
"Kaya peramal saja, belum ngobrol sudah tau itu ga penting, siapa sih?"
"Mantan."
"Cie...ciiiieee." Goda Gilang pada Gita yang langsung bete.
Panggilan itu sempat terhenti, lalu berdering kembali.
"Angkat." Perintah Gilang.
Gita tau, percuma tidak meladeni Baskoro. Pasti akan selalu di kejarnya hingga dapat.
"Hallo."
"Haaii babby. Lagi di mana sayang?"
"Di VivoCitty." jawab Gita singkat.
"Singapura babby... dengan siapa kesana? Mas susul ya sayang, kamu pasti kangen sama mas."
"Sama suami." Jawab Gita asal dan langsung mengarahkan kamera ponsel itu ke wajah tampan Gilang.
Gita segera menginjak kaki Gilang, agar Gilang menoleh.
"Apaa? suami? Kamu sudah menikah bebby...?"
"Iya... dan sudah hamil juga. Oke... tolong jangan ganggu aku lagi ya. Terima kasih." tutup Gita pada sambugan Vicall itu.
Menyisakan raut heran di wajah Gilang yang tak mengerti dengan maksud ucapan Gita tadi.
Bersambung...
Thx votenya ya reader setia nyak.
Semoga limpahi rejeki berlipat kali ganda yaak
__ADS_1
Kita dalam keadaan sehat selalu, Amin