
Rona menunggu jawaban Muna dengaan hati deg-degan. Harap harap cemas menanti dengan penuh harapan. Tentu saja ia ingin Muna melanjutkaan studi di sana, selain berkualitas ia pun dapat mendekatkan Muna dengan sang kakek. Menjalin kedekatan antar cucu dan kakek yang mungkin hanya memiliki waktu bersama dalam kurun waktu yang sedikit.
"Muna yes ma. Setelah Muna pikir-pikir Muna harus adil ame kedua pasang orang tua Muna. Babe dan nyak ude ngerawat dan nyekolahin Muna sejak SD ampe SMA. Semoga adil jika sekarang Muna memilih dan meminta mama dan abah yang kuliahin Muna. Pegimaane ma...? Boleh kegitu?" tanya Muna seolah meragu. Akankah maksudnya dapat di mengerti.
"Alhamduliah. Asalkan itu adalah keputusanmu sendiri. tanpa ada paksaan dan dorongan dari orang lain, mama tentu sangat dengan senang hati mendapatkan jatah untuk ikut memberikan pendidikan juga melimpahimu dengan kasih sayang mama yang sempat hilang. Terima kasih ya Mun."
"Sama-sama Ma. Muna bahagia punya mama yang benar terasa menyayangi Muna. Terima kasih ude kembalikan Muna ke nyak babe, terima kasih kagak maksa Muna untuk harus hidup ame mama dan abah. Untuk itu, Muna merasa perlu ambil hak Muna sebagai anak dari mama dan abah. Supaya mama dan abah juga dapat pahala." Timpal Muna so bijaksana.
"Amiiin. Terima kasih sayang. Tapi Mun, jika kamu akan kuliah di sana. Sebaiknya mulai awal tahun ini kamu sudah harus di sana. kamu harus mulai mengambil khursus bahasa dan lainnya, untuk menunjang ketika mulai masuk kuliah nanti, agar kamu tidak mengalami keterlambatan dalam mengikuti pelajaran di kampus dengan mudah. Bahkan bisa lebih cepat meyelesaikan pendidikanmu."
"Insyaaallah, Muna siap ma. Sebab, yang Muna pikirkan nanti hanya pelajaran pan? Kagak yang lainnye." Tukas Muna memastikan.
"Maksudnya?"
"Maksud Muna... Muna kagak harus pusing mikirin biaya khursus dan kuliahnya pan?" polos sekali pertanyaan itu lolos dari mulut seorang Muna.
"Haha...ha. Muna lucu. Sayang, kamu adalah pewaris tunggal keluarga Hildimar, bahkan rumah yang di diami kakek kemarin akan menjadi milikmu. Menurutmu, apa iya biaya kuliah mu akan di bebankan padamu?"
"Busyeeeeet. Mama kalo becanda ga kire-kire ye. Ngeri Muna ngebayanginnye ma." Muna bahkan merasa kata-kata Rona hanya sebuah lelucon semata. Masih belum sadar tujuan orang tua kandungnya mencarinya, semata-mata hanya karena ingin menyerahkan bagian yang sejak awal sudah menjadi haknya.
Oke kite udah sampe." Ucap Muna yang mengeluarkan kepalanya pada penjaga depan gerbang. Yang sudah mengenalnyaa sebagai tunangan Kevin.
"Muna???" Seru mama Leina, kaget akan kedatangan Muna yang ia tau dari Kevin sempat di culik dan menghilang.
Muna melangkah mendekat, membuat wanita yang berjalan seperti bayangan di belakangnya semakin dekat dan terlihat oleh netra Leina.
"RONAAA...!!! Kamu benar Rona? Apa ini mimpi??" tanyanya terbata.
"Kak Leina." Pekik Rona tak kalah histeris. Kemudian keduanya saling berpelukan dalam tangis bahagia. Sahabat kecil yang telah lama tak saling jumpa.
"Tolong jelaskan bagimana bisa kalian datang berdua?" pertanyaan itu segera keluar dari mulut mama Leina yang di buat bingung tak bermuara.
__ADS_1
"Kak Leinaa. Muna anakku." Jawab Rona dengan menyeka airmata yang sempat membasahi pipinya akibat terharu.
"Bagaimana bisa...? Bukannya Muna anak pasangan Betawi itu? Ah... tapi sejak pertama aku bertemu dengannya pun, hanya namamu yang aku sebut. Kamu ingat Mun, waktu kita bertemu di cafe setelah acara pertunangan Prety?" tanya mama Leina ke arah Muna.
Muna memindai ingatanya, dan benar saja nama Rona memang sempat mama Leina sebut waktu itu.
"Ya Allaah..., dunia sangat sempit ternyata ya Ron." Tukas Leina sembari menarik tubuh Rona untuk jatuh dan duduk bersama di atas sofa yang tergolek di tengah rumahnya.
"Iyaa..., Alhamdullilaah. Kami masih memiliki kesempaataan menemukannya. Bahkan aku ingat betul saat kak Beatrix baru punya Kevin. Aku sering menimangnya, kelak besar akan menjadi menantuku." Rona mengingat semua kenangan bersama almarhumah Beatrix.
"Dan ternyata obrolaan iseng kaliaan Menjadi doa dan akan terwujud Ron." Jawab Mama Leina girang.
Muna dengan heran mencerna percakapan kedua sahabat lama itu. Ingin terus menyimak tetapi panggilan VC dari Kevin sudah mengharuskannya menerima panggilaan tersebut.
"Assalmualaikum abang."
"Walaikum salam sayang, lagi di mana?"
Muna tidaak menjawab, segera membalik kamera mengarahkan pada mama Leina dan mama Rona yang masih asyik bercengkraama.
"Iye bang. Muna nganter mamanye Muna ke mari. Katenye kenal ame mama Leina." Jawaab Muna seadanya yang di dengar oleh mama Leina.
"Vin... ini tante Rona. Sahabat mami mu. Kamu hanya lupa padanya. Dulu sering main dengan mu saat kamu masih balita." Mama Leina sudah merebut ponsel Muna yang sedang tersambung dengan Kevin.
"Kevin lupa ma." Jawab Kevin jujur sambil menggaruk kepalanya yang terasa tiba-tiba gatal.
"Kamu di mana? Buruan pulang. Kalian segera menikah saja." Perintah. Kata itu persis sebuah perintah bukan lagi permintaan dari mama Leina.
"Belum bisa pulang ma. Kevin di Singapur dua minggu. Ngurus kerjaan." Jawab Kevin dengan nada kesal.
"Ya... nikah saja dengan kerjaan Vin. Ga usah mikirin Muna." Nada suara mama Leina terdengar lebih kesal dari Kevin.
__ADS_1
"Mama... tanya Muna deh. Bener mau nikah sekarang? Kalo iya... sekarang juga Kevin pulang." Tukas Kevin bernada tegas.
Sontak kepala mama Leina menoleh ke arah Muna.
"Kamu belum siap nikah Mun?" tanya mama Leina dengan panggilan yang masih terhubung.
Muna mengangguk, tanda benar belum siap menikaah.
"Gimana Ma? tanya Kevin berharap obrolaan semalam sudah berubah.
"Kasian deh lu Vin, gadismu belum siap nikah sekarang. Ya sudah kerja yang benar saja, kumpulin duit buat mahar yang gede, soalnya yang kamu lamar ini anak milyarder. Bisa-bisa lamaranmu di tolak sama mama dan papanya. Hahaa...haa" Mama Leina justru meledek Kevin dengan semangat.
"Kakak... jangan bicara begitu. Kasian Kevin." Tukas Rona yang jauh merasa bahagia akan mendapat menantu sesuai idamannya di masa muda, bahkan jauh sebelum Muna tercipta, Rona sudah memilih Kevin menjadi menantunya.
"Mama..., Kevin VC buat ngomong sama Muna. Balikin dong ma... Kevin masih kangen dia."
"Iya bucin maaf mama menggangu." mama Leina masih terbahak dan menyerahkan ponsel Muna kembali.
Panggilan teleponpun segera Kevin alihkan ke panggilan biasa, agar apa yang ia sampaikan pada Muna tidak di dengar langsung dan jelas oleh mama Leina pun mama Rona.
Leina dan Rona, sudah tidak menggubris Muna yang memilih berada di pojokaan ruang itu untuk melanjutkan obrolannya dengan Kevin.
Sementara dua sahabat lama itu pun, tidak ingin melewatkan kesempataan untuk bertukar cerita, menghapus rindu, berbagi duka juga merengkuh suka atas semua jalan yang menjadi bagian hidup mereka, selama tak saling bersama.
Adakah kata yang lebih dari bahagia untuk mewakili perasaan Leina dan Rona saat ini?
Itulah yang mereka rasakan sekarang. Menuai rindu, menghapus perih, dan benar saja. Cinta yang membuat Muna kembali. Kembali dekat tak berjarak dengan keluarga Kevin yang sepertinya memang telah ditakdirkan untuknya.
Bersambung...
Cie...cie reader nyak makin guummuuuzzh yak
__ADS_1
Sabar ya... Pelan pelan kita akan liat pelangi sehabis badai🤭
Lopeh buat semua❤️