OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 135 : KENYATAAN


__ADS_3

Hari Jumat telah tiba. Tubuh Muna sudah jauh lebih sehat dari sebelumnya. Muna sudah bisa mengkonsumsi nasi walau di masak agak lembek oleh ambu yang tampak tulus mengurusnya selama sakit, tampak kulit Muna wajahnya sudah kembali berseri merona merah, tak tampak pucat pasi seperti tiga hari lalu.


Lebam bekas bogem para penculik tak jelas itupun sudah tidak tampak di sekujur tubuhnya. Jarum infus sudah tak terlihat tertancap di pergelangan tangannya. Fix, Muna sudah benar-benar sembuh.


Suasana hati Muna juga sudah lebih baik, tentu saja ia sudah tak sabar menantikan kedatangan Asep dari Jakarta. Bukan karena Asep adalah pria bening nan tampan. Tetapi, apalagi kalau bukan ingin menggunakan ponsel milik Asep.


Sebenarnya Muna bisa saja meminjam ponsel dari Eta saat sesekali datang memeriksa cairan infusnya. Tetapi, ia benar-benar tak berdaya untuk melakukan apa-apa. Sehingga bersabar adalah pilihan terbaik bagi Muna yang sekaligus ingin menenangkan dirinya. Sengaja memberi ruang kosong untuk dirinya berpikir akan semua hal yang terjadi pada dirinya.


Penunjuk waktu dengan tegas menunjukkan angka 3 pada jam yang tergantung di dinding bercat putih bersih pada rumah besar itu.


Rumah yang terdiri dari empat kamar pribadi yang


masing-masing kuncinya di pegang oleh pemiliknya, anak ambu yang tidak tinggal bersamanya, namun kadang sesekali datang untuk menjenguk ambu dan mengantarkan stok bahan makanan untuk ambu dan juga Asep.


Asep satu-satunya cucu ambu yang bersedia tinggal untuk menemani ambu di rumah itu. Sebab hanya dia yang belum menikah dari dua kakak perempuannya, yang kini sudah hidup bersama keluarga kecil mereka di kota Bandung.


Asep adalah cucu ambu yang paling beruntung, dapat di terima sebagai PNS walau hanya berbekal ijazah diploma 2. Sehingga kini ia bekerja sebagai staf di kantor Kecamatan Bandung Kulon.


Jarak tempuh antara Desa tempatnya tinggal dengan kantor Asep kurang lebih 15 menit saja. Sehingga tidak begitu banyak menguras tenaga dan bensin bagi Asep untuk pulang pergi dari desanya ke Kecamatan.


Cuaca berangsur teduh, sebab matahari sudah tidak segalak siang tadi. Ambu dan Muna terlihat duduk bersantai di teras rumah ambu. Menikmati sepoi angin bersama teh hangat aroma melati dengan sepiring biskuit, sambil memandang pekarangan yang di penuhi tananam hias juga toga yang di rawat dengan apik oleh ambu.


Muna merasa hatinya terlonjak gembira, saat di lihatnya dari kejauhan seorang pria tampan yang sudah di kenalnya mengendarai motor binter butut, bergerak semakin dekat ke arah rumah ambu.


Siapa lagi kalau bukan Asep si cowok kasep, yang Muna yakini pasti dia adalah cowo idaman para wanita di desanya.


Senyum Muna seketika memudar, saat motor itu sudah terparkir di garasi. Dan Asep pun juga sudah tampak turun dari motornya, lalu berdiri menyambut datangnya sebuah mobil mewah keluaran terbaru.


Siapa gerangan tamu yang di bawa Asep datang bersamanya?

__ADS_1


Ambu segera berdiri mengikuti Asep yang sudah terlebih dahulu menyambangi seseorang yang keluar dari pintu penumpang.


Leher Muna memanjang memastikan adegan di balik pintu tersebut, jika ia tak salah. Sepertinya ambu tengah bercipika-cipiki dengan orang yang baru keluar mobil.


Muna belum sepenuhnya dapat melihat siapa yang keluar di dari balik pintu itu. Matanya kini justru lebih mudah melihat pria paruh baya yang masih terlihat guratan ketampaman di masa mudanya keluar dari pintu balik kemudi.


Dari cara berpakaiannya Muna dapat mengenalinya, bahwa mereka adalah orang kaya. Muna sudah sangat paham dengan berapa harga mobil yang mereka gunakan. Bahkan Muna juga sudah hapal mana sepatu yang ada di box diskon dan mana yang benar-benar original. Apalagi dari corak motif pakaian yang di gunakannya. Benar-benar berkelas.


Kini kedua tamu itu sudah berdiri sempurna menuju rumah ambu. Asep dan ambu tampak mengikuti dari belakang pasangan itu.


Jantung Muna hampir jatuh di buatnya, saat mata Muna bersirobok dengan wanita berambut sepunggung yang berjalan mendekat ke arahnya berdiri.


Muna memang tampak berdiri, tetapi ia seolah tak merasa berpijak di bumi. Mengapa Muna merasa sedang menghadap cermin, saat kini tubuhnya berada tepat di hadapan wanita yang baru tiba tadi.


"Mona... anakku. Monalisa. Tuhaaan, apakah aku sedang bermimpi?" Wanita itu tanpa permisi sudah mengepung tubuh Muna yang limbung tak percaya dengan serangan dadakan untuknya.


Sepersekian menit Muna membiarkan dirinya berada dalam pelukan wanita dan pria yang tak di kenalnya sama sekali. Namun perlahan gerakan Muna dalam dekapan itu mengisyaratkan bahwa ia minta di lepaskan.


Pertautan mendadak tersebutpun terlerai dengan sendirinya. Dengan mata basah wanita itu kini telah benar melepas Muna dan merogoh tasnya sendiri.


Wanita itu kemudian menyodorkan beberapa foto seorang bayi kecil bermata biru. Ada foto bayi itu sedang tidur, ada pula sedang dalam pangkuannya, ada saat mata bayi itu melek sehingga mata birunya sangat jelas terlihat. Dan foto berikutnya adalah foto bayi dalam keranjang yang pada dadanya tersampir sebuah kalung berliontin hati, dalam dua versi. Sehingga saat di buka ada ini sial MH di dalamnya.


Muna reflek merogoh lehernya. Dimana di sana kalung yang pernah babe katakan jangan pernah di lepas itu, selalu di pakainya kemanapun.


Muna tau, bahkan sering membuka tutup liontin berbentuk hati yang di dalamnya ada ini sial MH itu. Muna tidak mempermasalahkan apapun, bukankah namanya adalah Muna Hidayatullah. Sehingga wajar saja pikirnya ia mengenakan liontin berinisial MH.


"Monalisa Hildimar. Kamu adalah anakku... Ini mama nak. Dalam tubuhmu mengalir darah kami. 9 bulan kamu bersemayam di rahimku, namun hanya 3 bulan Tuhan ijinkan mama merawat mu. Maaf ... Maafkan kami telah bertindak gegabah. Ampuuni kami." Ucap wanita yang benar mirip dengan Muna itu menangis bahkan sudah merosot ke kaki Muna.


Muna shock luar biasa. Dadanya bergemuruh membuncah tak beraturan mendengar pengakuan seorang wanita yang baginya sangat amat mirip dengannya.

__ADS_1


Namun Muna segera meraih tangan yang tadi memeluknya, menarik sehingga kini tubuh keduanya kembali sejajar berhadapan.


"Maaf nyonya dan tuan. Muna kagak ngarti dengan ucapan kalian." Ucap Muna dengan tegas dan tak sedetikpun mengedipkan matanya memandang tanpa makna ke arah wanita yang bahkan kini mengaku sebagai ayah dan ibunya.


"Hayu urang ngobrol di jero."


(Sebaiknya kita bicara di dalam saja). Ajak Ambu dengan ramah sambil mengusap matanya yang sedikit sembab setelah melihat adegan dramatis di depan mereka.


Mereka semuapun melangkah menuju rumah besar tersebut.


Tetapi tidak dengan Muna.


Ia lebih memilih mendekati Asep. Yang sedari tadi ikut melihat dan mendengar semua pembicaraan mereka.


"Asep.. Sep. Boleh pinjam hapemu kagak?" Muna tetap saja berinisiatif untuk menghubungi Kevin dan kedua orang tuanya.


Bersambung....


Maaf jika nyak salah menerka.


Semakin banyak komen yang bilang bertele-tele dan membosankan bagi nyak adalah bentuk apresiasi yang membuktikan bahwa sesungguhnya, nyak otor udah berhasil mengalihkan dunia reader ke dunia halu tingkat provinsi. Bikin gumuusssh reader🤭🙏


Tetap setia ya...


Lope buat semua❤️


Rona & Muna


__ADS_1


__ADS_2