
Gilang dan Gita tetiba jadi patung. Malu lah obrolan mereka di dengar oleh Kevin. Tapi, Kevin paham, dan tidak meminta obrolan itu di ulang atau di perjelas.
"Maaf pak... Gilang permisi dulu ya."
"Kamu tidur di mana Lang?"
"Mungkin cari wisma, pak."
"Eh... tidur di rumah babe saja Lang
Nanti ku sharelok di whatsapp." Kode Kevin jelas donk. Pasti ibu dan Arum sudah mereka amankan di sana.
"Alhamdulilah. Iiyaa... siap. Terima kasih. Assalamualaikum." Pamit Gilang pada Kevin dan Gita.
"Iya... walaikumsalam." sahut keduanya.
"Isirahat Git. Besok kita ada acara di rumah."
"Rumah mana?"
"Rumah Mahesa lah." Jawab Kevin.
"Acara apa?"
"Keponakan mami mau nikahan di rumah. Mereka kerja di perusahaan, sama-sama merantau. Tapi udah kebelet nikah. Kakak tawarin aja nikah di rumah kita." Terang Kevin.
"Kok mama ga cerita ya kak?"
"Saking sibuknya kali."
"Hum... jadi sekarang rumah banyak tamu donk kak?"
"Iya."
"Aduh... kamar Gita di pake nampung orang ga ya?"
"Ya ga lah... kamar di rumah kan ga sedikit."
"Hmmm... iya juga. Ya udah, biarin deh. Gita cape... mau cepet tidur aja."
"Nah bener tuh. Oh iya... besok ada MUA datang rias kalian. Jadi pastikan jangan begadang."
"Rias kalian? siapa?"
"Mae dan kamu lah."
"Malas ah kak. Biasa aja boleh?"
"Gita ga menghargai ponakan maminya kakak?" efek Kevin ngena donk.
__ADS_1
"Ga Gitu kak. Iya. Siap." Jawab Gita merasa tidak enak, takut Kevin salah sangka jika Gita tidak mendukung acara dari pihak mami Beatrix.
Asli... Gita sungguh tidak menaruh curiga apa-apa dengan drama kejutan yang di kemas mereka dengan apik. Baru saja 2 lembar Gita membaca dongeng untuk Aydan. Keduanya sudah sama-sama terlelap masuk dalam dunia mimpinya masing-masing.
Gilang tak jauh beda dengan Gita. Sungguh raganya pun sejak tadi sudah merindukan bidang datar. Ibu Gilang, Arum dan kedua anaknya di perbolehkan tidur di kamar Muna. Sedangkan Gilang, kebagian tidur di atas, di kamar Siska.
Babe ingin lama ngobrol dengan Gilang. Tapi Muna sudah mewanti-wanti agar babe jangan banyak ngobrol dengan Gilang. Sebab, besok akan menjalani hal menakjubkan dalam dirinya. Perubahan status, akhir penantian pejuang buku nikah.
Adzan subuh mengudara, babe sudah ke atas untuk mengajak Gilang ke langgar terdekat.
"Gilang... makasih ye. Kamu berangkat nikah dari rumah babe. Babe terharu dan kagak nyangke. Pernah ngerasain nikahin anak cewek. Hari ini, malah seolah babe yang mau antar kamu nikah."
"Alhamdulilah, babe juga sudah kaya babe sendiri bagi Gilang. Allah maha baik dengan kita ya be. Bisa keremu dengam mereka. Walau kaya tapi rendah hati."
"Gilang... ngedapetim entuh mudah. Yang sulit adalah mempertahankan. Jangan sesekali berniat untuk mengecewakan mereka. Bukan karena mereka kaya dan terpandang. Tapi pandang Allah. Wajib bagi kita sebagai lelaki dan nanti jadi kepale keluarge jadi imam yang menuntun makmumnya ke surga. Susah senang pikul same-same, panjangin sabar. Letakan rumah tangga kalian di jalan Allah. bicara bae-bae tentang ape aje ama bini lu ntar, kudu jujur pokoknya. Jangan tinggalkan sholat." Petuah babe udah ngalahin ustadt deh kalo udah bicara kayak gini.
"Iya be... makasiih. Gilang jadi ngerasa kayak punya ayah kalo begini. Boleh peluk be?" Gilang terharu, dengan sosok seorang babe. Yang walau tidak ada hubungan darah, pada Muna, Kevin dan mereka semua. Tapi selalu ada telinga babe siapkan untuk mendengar keluham mereka. Ada saran bijak yang selalu ia berikan untuk memberi solusi dan semangat . Babe benar dapat menjadi teladan bagi mereka semua.
"Air mengalir ke tempat rendah
Turun berkumpul hingga muara,
Hari pernikahan hari yang indah
Babe doain bahagia hingga ke masa tua." Pantun babe keluar dong. Gilang mengurai pelukan mereka.
Lalu keduanya pun masuk rumah, akan siap menikmati sarapan yang nyak siapkan.
"Udah neng, ini baru pulang dari langgar sama babe. Neng udah sholat?"
"Udah... ini lagi di rias."
"Di rias. Mau kemana?"
"Kata Kak Kevin, hari ini keponakan maminya ada yang nikah di rumah. Jadi neng di suruh dandan."
"Oh... pasti tambah cantuk deh calon istriku hari ini. A.'a boleh hadir juga ga sih?"
"Ya datang aja... kali kita cepet ketularan nikah juga."
"Mau nikah cepet?"
"Ah... ga. Becanda a."
"Serius deh, a'a hubungi pengurus KUA kemarin gimana?"
"A'a... neng cuma becanda." Gita sampirkan emot kiss pada ujung kata.
Di balas emot kiss berkali-kali oleh Gilang. Dan chat tidak berlanjut."
__ADS_1
Tiga jam kemudian.
Penunjuk waktu sudah mengarah pada angka 9 tepat. Gilang sudah tampak rapi, tampan dan sedikit nervous untuk mulai beranjak ke rumah kediaman Mahesa. Tentu saja sudah tampak lengkap dengan seserahan yang akan di berikan sebagai mas kawinnya nanti.
"A'aaaaa.....". chat Gita pada Gilang.
Gilang memilih menelpon Gita.
"Ada apa neng?"
"Neng kesel sama mama...!" Serunya.
"Kenapa?"
"Masa mama ngirim baju ke rumah Kak Kevin yang mestinya Neng pake buat akad."
"Lho memangnya kenapa?"
"A'a.... itu kan udah spesial neng pilih buat kita couple an. Masa Neng pake duluan. Sebel deh. Kan ga surprise A..., masa nanti neng pake yang udah second?"
"Ga usah marah gitu. Neng lupa? Kita masih punya cek darki pak bos. Kita beli baru lagi aja nanti gimana?"
"Tapi ini kan baju spesial yang neng pilih buat hari bahagia kita. Jangan nyesel deh tuh pengantin, kalo aja kalah pesona dari eneng." Umpat masih kesal.
"Udah... ga papa deh. Mungkin mamanya neng ga tau. Pake aja. Nanti kita cari yang lebih spesial lagi. Oke.? A'a pamit mau urusan dulu ya neng. Maaf ga bisa lama nenangin neng."
"Ya udah... a'a hati-hati."
"Siap. Makasih ya neng." Gilang menutup sambungan telepon. Kemudian masuk ke dalam mobil yang ia setir sendiri walau sebagai calon mempelai pengantin pria. Ngenes ga sih jadi Gilang.
Tiga puluh menit berlalu. Rombongan Gilang sudah tiba di kediaman Mahesa. Sempat keder juga hati Gilang dan keluarga melihat rumah tersebut. Tapi, sekarang bukan waktu untuk mikir ini dan itu. Fokus mereka adalah prosesi akad nikah.
Diendra kesenangan akan punya mantu yang datang tidak hanya penghulu. Tapi juga ketangga dan kerabat lainnya yang sempat ia beri kabar seadanya.
Rumah itu pun sudah di dekor sedemikian rupa ala rustic, natural namun elegan. Ada pelaminan di bagian depan rumah yang sudah mereka siapkan untuk nanti mereka gunakan untuk menerima doa dan restu dari para tamu.
Kevin sudah menyesuaikan kedatangan mereka, sehingga tepat. Saat Gilang di dalam berjabat tangan dengan Diendra di dalam. Gita bagai tamu saja duduk santai dengan pakaian dan riasan lebih mencolok dari Muna.
Sayangnya, saat ia akan protes pun. Muna tak ingin meladeni umpatan dan kekesalan Gita.
Bersambung...
Kebayang ga sih jadi Gita gimana?
Nyak undang online nih buat semua readers, jam 10 nanti hadir yee
di prosesi akad nikah duo G kesayangan kita.
Nyak double up demi kalian
__ADS_1
Makasih timpukannya yaaa
Lope readers dehπππ