OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 28 : MENGGALI INFORMASI


__ADS_3

Sulit bagi Kevin menutupi perasaan senangnya setelah makan ketoprak buatan nyak Time , enyakknya Muna.


Ia tampak tersenyum-senyum sendiri mengingat babe Muna yang menganggap ia adalah seorang OB seperti Muna.


Tok


Tok


Tok


Daun pintu ruangan Kevin di ketuk oleh seserang dari luar.


"Ya... silahkan masuk." Ijin Kevin dari dalam ruangannya, setelah kini dasi, dan lengan kemejanya yang di lipat Muna tadi sudah kembali ketempat semula, rapi.


Sementara di hadapan Kevin sudah berdiri seorang lelaki yang dari raut wajahnya terlihat sangat gugup dan takut. Sebab kini ia tengah berhadapan denan orang nomor satu di perusahaan tempatnya bekerja.


"Selamat siang Pak Kevin. Bapak memanggil saya?" Idris berkata dengan sangat sopan dengan kepala agak manunduk.


"Oh...iya. Idris, silahkan duduk santai saja, jangan tegang." Kevin berbicara sambil melangkah menuju sofa pada bagian tengah ruangannya tersebut.


Idris sedikit bernafas lega mendengar suara yang baginya sangat santun dan bersahabat padanya. Sungguh isu tentang ketegasan Kevin telah berhasil membuat seluruh karyawan tidak berani dan segan pada Kevin.


"Ada sedikit hal yang ingin saya ketahui dari mu, Idris." Kevin memulai percakapan mereka.


"Tentang apa ya Pak?" Idris mendongakkan kepalanya menghadap Kevin.


"Tentang Muna yang OB itu. Apakah benar kamu yang sudah memberikan lowongan pekerjaan untuknya?"


"Ampun maaf jika saya lancang pak. Ada apa dengan Muna...? apakah dia tidak bertanggung jawab dengan tugasnya. Aduh.. saya jadi tidak enak dengan bapak. Saya siap menegur Muna jika memang dia salah pak. Maaf."


"Iya Idris kamu harus bertanggung jawab. Karena Muna sudah berani memporakporandakan keyakinan hatiku terhadap wanita selama ini." Kevin menggumam dalam hatinya tanpa suara, dengan tetap memasang wajah datarnya.


"Saya hanya memastikan, apakah benar kamu yang sudah merekomendasikan Muna untuk bekerja di sini, itu maksud pertanyaan saya." Kevin berujar kembali pada Idris.


"I...iya pak. Maaf saya lancang. Katakan saja pada saya pak. Apa salah Muna, saya siap menegurnya bahkan akan melaporkannya pada kedua orang tuanya. Agar mereka ikut mengingatkan anak mereka tersebut. Sebab, jika bukan Babe Rojak yang meminta tolong waktu itu, saya juga tidak akan memberikan lowongan itu pada Muna."


"Kamu kenal dengan kedua orangtuanya...?"


"Iya pak, dulu kami tetangga waktu mereka masih tinggal di Kebayoran Baru. Tapi setelah mereka pindah, saya lama tidak berjumpa. Sampai akhirnya, kami bertemu di depan perkantoran. Karena sekarang mereka jualan ketoprak di sana."


"Sekarang mereka tinggal di mana?"


"Kalo mampir sih belum pernah, hanya babe bilang sekarang mereka tinggal di daerah Jakarta Barat. Saya sudah bisa ketemu di tempat mereka mangkal saja sudah sangat senang."


"Kalian dekat...?"


"Ya namanya pernah tetanggaan pak, pasti dekat lah. Babe dan nyak adalah sosok tetangga yang baik, ramah juga suka menolong dan berbagi. Waktu itu Muna belum lahir pak."

__ADS_1


Kevin mengangguk-angguk.


"Jadi gimana soal Muna pak. Dia ada salah ya? Bapak bilang saja ke saya, pasti saya akan tegur. Tapi, jika boleh meminta. Jangan langsung hukum atau pecat Muna ya pak. Kasian dia."


"Kenapa?" Kevin mengeryitkan kedua alisnya.


"Maaf pa. Muna sangat memerlukan biaya untuk melanjutkan kuliah. Makanya bela-belain kerja walau jadi OB, asalkan bisa menabung. Karena pendapatan orang tuanya hanya dari hasil berjualan itu saja. Sebenarnya, sempat ada tabungan... tapi babe sempat sakit kemaren. Sehingga uang mereka menipis dan jatah buat Muna sekolah di ambil dari situ, begitu cerita dari babe."


Kevin mengangguk saja mendengar cerita Idris.


"Tidak... selama kurang lebih 3 bulan ini. Muna kerjanya baik-baik saja. Saya hanya memastikan kalau memang benar kamu yang merekom dia bekerja di sini."


"Oh... begitu." Idris memandang heran pada CEO yang kabarnya arogan itu, tapi selama ia di dalam ruangan itu tidak sedikitpun ciri itu muncul.


"Baik...Idris. Kamu boleh kembali ke ruanganmu. Terima kasih atas informasinya." Kevin menjulurkan tangannya pada Idris.


Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Pekerjaan Kevin tampak telah selesai ia kerjakan, segala jadwal pekerjaan di hari esok pun sudah semuanya ia salin pada ippadnya bahkan ia pasang alarm untuk mengingatkan dirina sendiri.


"Muna... keruangan saya." Isi chat Kevin pada Muna.


Muna yang hanya berposko di lantai yang sama tentu tidak memrlukan waktu yang lama untuk menuju ruangan Kevin.


Tok


Tok


"Ada yang bisa Muna bantu ...Tuan?"


"Sini... dekat sini!!!"


"Panggil apa tadi?" Kevin menempalkan tubuhnya dekat tak berjarak dengan Muna.


Membuat jantung muna berloncatan, aliran darahnya berdesir-desir kuat menyembur pada sisi-sisi tepian hatinya.


"Buseeeet dah ni orang wangi bener, gagah lagi. Jangan gini bang...jangan di lepas" Ronta Muna di dalam hati.


"Iya... abang. Ada yang bisa Muna bantu...?"


Tiba-tiba Kevin sudah memeluk tubuh Muna dengan erat.


"Ih abang keapa gini... lepasin!" Verbal Muna tentu tidak sesuai dengan hatinya dong.


Tapi Kevin semakin mengeratkan pelukan pada tubuh Muna, untung saja Muna sempat meletakan kedua tangannya di depan dadanya sendiri. Sehingga aset berhaga gunung kembarnya tidak langsung mengenai dada bidang milik Kevin.


"Ini akan abang terus lakukan di mana saja, jika Muna panggil abang, tuan lagi."


"Ii...ya maaf. Inikan masih di kantor bang. Kalo ada yang denger Muna kagak enak."

__ADS_1


"Kalo gitu, Muna berenti kerja aja. Biar abang ga pernah di panggil tuan lagi oleh Muna." Kevin sudah melepaskan pelukannya tadi, yang juga sudah berhasil memacu aderenalinnya, sempat terbuai dengan pelukan pada tubuh proporsional Muna.


"Kalo Muna brenti kerja. Muna kaga bisa cepet ngumpulin uang lah bang."


"Emang Muna perlu duit berapa? abang kasih. Tuh kartu yang ada sama Muna pakai saja, Kenapa di ambil baru dikit?"


"Pan ntuh buat modal makan abang. Bukan hak Muna bang."


"Nikah aja ama abang... biar semua kartu abang bebas Muna gunakan... gimana Mun?"


"Ha...ha...ha... abang masih sakit yak. Segala ngajak Muna nikah.?


"Ya.. kamu sih, kartu abang udah sama Muna tapi cuma di icip-icip isinya. Muna perlu duit berapa sih dan untuk apa?"


"Kagak berani bang. Kartu abang pan cuma di titip buat ngelola makan abang. Jadi Muna pake ya sesuai itu lah. Kalo Muna kerja nih, supaya dapat uang. Muna mau nabung buat biaya kuliah Muna taon depan."


"Kenapa tidak sekarang saja kuliahnya.?


"Udah telat abang. Keburu masuk ini orang-orang. Udah pada belajar. Ga papa, tunggu tahun depan aje, biar duitya udah banyak dan Muna bisa sambil baca-baca buku aja dulu."


"Muna kuliah buat apa?"


"Buat pinter laaaah."


"Ya iyaa... maksud abang mau jadi apa?"


"Mau kaya abang, punya perusahaan sendiri. Kerja pake baju rapi masuk ruangan ber AC, pokoknya kerja kantoran idaman Muna banget deh."


"Muna sebenarnta ga mau jadi OB...?"


"Abang lucu, kalo Muna ga mau, lalu ngapain Muna masih tetus kerja di mari. Oke abang..., tadi Muna kemari mau di suruh ngapain yak. Si abang ngajak ngobrol jadi lupa pan, kasih tugas buat Muna."


"Oh...iya. Abang lupa. Ayo kita pulang bareng ya. Abang mau makan di luar bareng Muna." Dengan cueknya Kevin berjalan dan sudah menarik satu tangan Muna.


"Bang...Abang.


Abaaang...


Muna siap ngikut di belakang abang. Tapi tangan abang jangan gini yaak. Tolooong."


Bersambung...


Yailaaah Mun... toloooong jangan di lepas bang wkwkwkk


Hayook like n komen para mpok reader akooh... yang kenceng


Ntar sore aku usahain up lagi

__ADS_1


lop buat klean semua yak❤️


__ADS_2