
Kevin, nyak dan babe berangkat ke Jakarta. Tersisa Laras, Muna Adyan dan beberapa asisten rumah tangga lainnya di rumah.
Muna memulai aktifktasnya dengan mengecek isi kulkasnya untuk memastikan bahan untuknya membuat nasi uduk besok untuk Kevin. Kemudian meminta ARTnya untuk membeli kekurangan bahan dan box makanan yang jumlahnya cukup banyak. Hah... jiwa sedekah Muna melonjak lagj. Ia bahkan akan memasak untuk 85 orang yang ada di perusahaan itu, di bantu para ART tentunya. Dan yang untuk Kevin tentu spesial tidak di masak bersama yang dengan jumlah banyak.
Kemudian Muna sudah berbikini ala ibu hamil. Benar bercebur bersama Aydan, bertukar canda dengan anak yang sebentar lagi menjadi kakak itu.
ART tergopoh-gopoh mengantar ponsel Muna yang meronta-ronta ingin segera di sentuh icon birunya. Siapa lagi yang vicall kalo bukan si suami bucin.
"Assalamualaikum... mam. K 'Ay.
"Walaikumsalam papap."
"Papap... cini mandi yooo cini..." celoteh Aydan senang melihat papapnya meVC mereka yang sedang dalam kolam renang itu.
"Papap kerja sayang."
"Keja papap."
"Iya. K'Ay sama mamam dulu ya mandinya."
"Iya papap... bye-bye."
"Mam..."
"Iya pap..."
"Salah waktu ni papap nelpon."
"Kenapa?"
"Tuuh... pas lagi basah, tambah seksi."
"Papap omes." kekeh Muna.
"Mam... hati-hati. Kalo cape udahan ya, awas licin juga. Kasian ade Ay."
"Iya.... bentar lagi juga udahan pap."
"Setelah itu tidur ya mam"
"Iya papap pasti."
"Oke... udah dulu mam. Assalamualaikum."
"Walaikumsallam. Hati-hati bang."
"Iya... love you."
"Love you too."
Sambungan VC berakhir, Muna pun memutuskan untuk naik dan melihat Aydan saja yang sepertinya masih belum puas bermain di air.
Muna sudah memberikan resep untuk ARTnya perihal persiapan pembuayan nasi uduk komplit yang besok akan di baginya di kantor suaminya. Sehingga kini Muna memiliki banyak waktu untuk tidur, menetralkan kelelahannya.
Sholat subuh sudah mereka laksanakan, tapi Muna tetap memilih berbaring lagi kelonan dengan Kevin.
"Yang... ga jadi bikin nasi uduknya?"
"Jadi dong yang." Jawab Muna memeluk tubuh Kevin manja.
"Kenapa tidur lagi...?"
__ADS_1
"Kan buatnya cuma untuk abang, ei antar juga buat makan siang. Jadi mau leha-leha sebentar."
"Huum... sarapan apa pagi ini?"
"Ada ubi rebus tadi malam Muna udah minta ART buatkan."
"Tumben ga buat sendiri?"
"Hamil ade manja banget pap. Maunya di layani, awalnya karena mabuk berat. Kesininya jadi kebiasaan lho."
"Iya mana cemburuan lagi."
"Yee... cemburu Muna tu beralasan kan."
"Iya... bukan cemburu sih. Curigaan."
"Ya pasrahlah namanya apa, yang pasti pokoknya ga karena hamil juga tetep, abang ga boleh nutupin apapun dari Muna. Jangan sampai Muna tau dari orang lain apapun itu. Omes pap?" Muna mengangkat jari kelingking seperti Aydan.
"Omes." Kait Kevin juga. Lalu mencium kening dan perut Muna.
"Abang mandi niih, bareng?"
"Ogah... itu beneran omes jadinya." Ujar Muna yang memilih beringsut membersihkan tempat tidur mereka. Sengaja membuat gerakan sebanyak mungkin, sebab Muna mulai merasakan kontraksi di pinggangnya.
Ini pengalaman kedua Muna, tentu ia tau beda yang hanya ingin B.A.B atau akan lahiran. Tapi, Muna belum mau membuat Kevin panik
Saat Kevin sudah berangkat kerja, Muna menghubungi mama Rona.
"Assalamualaikum ma."
"Walaikumsallam nak, bagaimana kabarmu?"
"Iya.. iya. Ga papa sayang. Kamu yang kuat ya. Mama bawa apa nih ke Bandung."
"Bawa nyak sama babe aja. Kemarin mereka ke Jakarta bareng abang. Tapi... kalau mereka ga cape juga sih."
"Ya Muna telpon dululah nanti mama siap jemput."
"Iya nanti Muna kabari ya mah."
"Okey... semangat sayang. Assalamualaikum."
"Makasih mama, Walaikumsallam."
Muna kemudian menghubungi nyak, untuk melanjutkan info yang sama pada mama Rona tadi. Dan tentu saja nyak dan babe tak mau ketinggalan, sebab mereka ingin memberi dukungan secara live atas pelincuran baby girl Kevin dan Muna.
Waktu sudah menunjukan pukul 11 siang. Muna bergegas ke dapur untuk membuatkan nasi uduk pesanan sang suami tercinta. Walau kadang terhenti saat kontraksi tiba, tapi Muna tetap melanjutkan aktivitasnya.
Persiapan nasi uduk yang akan di bagikan untuk seluruh pegawai di kantor pun sudah beres semua di buat olah ART yang di percaya oleh Muna.
Pukul 12 tepat Muna sudah berada di kantor Kevin. Pak Min sudah mengangkat box makanan ke meja reseptionis dan membuat pengumuman agar setiap kepala divisi dapat mewakili untuk memgambil jatah makan siang mereka.
Kevin mendengar pegumuman itu melewati intercom. Mengeryitkan alisnya merasa bingung, akan tingkah istrinya yang selalu punya ide-ide dadakan, menyenangkan.
Belum Kevin keluar untuk menjemput Muna, tapi ibu dari anaknya itu sudah nongol di depan pintu ruangan suaminya.
"Assalamualaikum tuan Kevin."
"Walaikumsalam nyonya Mona." kekeh Kevin memencet hidung Muna gemash.
"Mae... pucat. Kamu sakit? Kecapean pasti. Tuh... yang di umumkan ngambil makan siang apaan?" cecar Kevin yang sudah menarik Muna untuk duduk di sofa tengah ruangannya.
__ADS_1
"Itu... Muna sekalian buatkan untuk pegawai sekantor."
"Semua...?"
"Dikit kok. Yang banyak itu pegawai di pabrik. Nasi uduk doang pap."
"Iya tapi kamu hamil Mae. Mau lahiran, jangan cape-cape lah."
"Muna cuma buat kan spesial yang punya abang. Yang lain ART yang buat pap. Tenang. Buruan makan."
"Huummm. syukur lah. Tapi kok pucet... cape banget ya bikin pesanan abang."
"Ga... buruan makan. Udah deket waktu sholat. Mae mau jama'ah sama abang di mari." Kevin menatap tak yakin pada Muna yang di lihatnya justru berkeringat di ruang berAC.
"Yang... beneran ga lagi sakit."
"Buruan makannya..." Kilah Muna yang kemudian menuju toilet, mulai beser.
Kevin tidak karuan menikmati nasi uduknya, sebab curiga Muna memendam sesuatu.
"Udah makannya...?"
"Iya..."
"Kok ga habis? beda rasa ya?"
"Sama kok enak. Tapi suasana hati abang yang ga enak Mae."
"Kenapa?"
"Mae sakit, pucet lho. Kenapa?"
"Iya.. nih barusan udah keluar tanda-tanda."
"Tanda apaan?? Mae mau lahiran? Kan minggu depan yang."
"Ade kayaknya mau hari ini, masa di larang."
"Iih... tau gitu kemaren kita ke Jakarya Mae."
"Ga sempat pap. Di sini aja, di klimik tempat biasa kita kontrol."
"Ya udah... kita ke rumah dulu atau kemana niih?"
"Jangan panik gitu bisa ga? biasa aja gitu. Ini tuh anak kedua sayang, tenang."Muna memberi penguatan justru untuk Kevin.
Kevin menarik nafas dalam.
"Eh... kita berdua. Yang mau lahiran siapa yang grogi siapa ya Mae. Maaf. Abang sempat sholat bentar ga?"
"Sempat lah... tapi Muna udah ga bisa nih."
"Oke... wait for a few minutes"
"Ok i'm ready to wait"
Bersambung...
Jeng... jeng
Yuuk ngejan virtual bareng Muna di part berikut yaaa✌️
__ADS_1