
Kedua pasangan di mabuk cinta yang sempat terpisah jarak kurang lebih dua tahun setengah itu masih berunding di atas rooftop gedung hotel itu.
Sesekali melempar pandangan ke arah pemandangan Jakarta di waktu malam. Angin sepoi mengusik anak-anak rambut yang tergeraai lepas di area wajah cantik Muna.
Tampak beberapa menit terdiam untuk berpikir dan menjawab teka-teki hati selama ini, akan menerima ajakan menikah yang kesekian kalinya dari orang yang sama.
"Bismilahirohmanirohim. Muna siap jadi pengantin abang." Ucap Muna lantang tanpa keraguan.
"Alhamdulilah. Makasih sayang. Lop yu more beibhp." lega Kevin menunggu jawaban Muna.
"Terima kasih untuk kesabaran abang sayang selama ini. Maaf, sudah sangat sering melukai hati abang."
"Abang yang terima kasih sama Mae. Sudah membuat hidup abang seperti di rollcoaster. Abang ikhlas asal Mae bahagia."
"Maaf yaaang." Manja Muna pada Kevin.
"Ulang...." Goda Kevin.
"Maaf yaaang."
"Bocah pintar. Terus gitu aja manggilnya lebih kerasa sayangnya Mae." Seloroh Kevin tak kalah mesra.
"Mae... Sayang."
"Iya yang... Ada apa?"
"Dua tahun lebih di negara orang. Bikin Mae makin cantik." Puji Kevin yang sedari tadi sudah menahan diri untuk ingin memuji tampilan elegan Muna.
"Hmm... Biasa aja kali yang."
"Nanti setelah nikah kita pisah tinggal lagi ya sayang?"
"Ya.... Gitu deh." Jawab Muna singkat.
"Ah... Nanti saja memikirkan hal itu. Sekarang... Yuk kita minta ijin dan restu dari semuanya untuk niat baik yang baru kita sepakati ini."
"Siap abang sayang." Ucap Muna yang sudah berada di dalam pelukan Kevin.
Keduanya sudah saling melingkarkan tangan di pinggang pasangannya, terbelit rapat tak berjarak. Sebab akan memberi pengumuman kabar terkini hubungan keduanya.
Tamu sudah berangsur berkurang, tanpa permisi atau sekedar mencari pasangan yang baru saja saling melepas rindu.
"Abah... Bang Kevin mau ngomong." Bisik Muna pada Dadang yang baru saja mengantar tamu pulang ke ambang pintu.
__ADS_1
"Ada apa?" kerling Dadang ke arah Kevin penuh tanda tanya.
"Bismilahirohmanirohim, jika di ijinkan Rabu besok, Kevin dan Muna akan melaksanakan akad nikah bah, boleh?" Ucap Kevin dengan sekali tarik nafas. (Udah kaya baca kalimat qobul aja🤭)
"Alhamdullilah. Silahkan, segera lengkapi semua persyaratannya, Vin." Jawab Dadang bahagia.
"Siap... Segera bah." Kevin tak kalah lega.
"Sekarang kita akan maju ijin sama kakek Muna. Semoga tidak alot. Sebab, beliau yang keukeuh ingin Muna menyelesaikan kuliah terlebih dahulu, baru boleh nikah." Ujar Dadang, langsung melangkah menuju ke arah kakek Hildimar berada.
"Biar Muna saja bah yang bilang." Serobot Muna pada abah.
"Muna... Sini cu. Bawa calon suamimu. Ada yang ingin kakek sampaikan pada kalian semua." Belum sempat Muna angkat bicara, kakek Hildimar sudah memanggil Muna dan Kevin mendekat padanya.
"Muna dan semuanya... Mungkin, oh tidak. Pasti. Di masa lalu kakek pernah salah terlalu ikut campur bahkan arogan dalam mengambil keputusan. Terutama dalam hal menentang hubungan Rona dan Dadang. Itu salah, sangat salah dan kakek mengaku salah. Semoga kalian memaafkan semua perbuatan kakek."
Kalimat itu sudah tidak terstruktur dengan runtut dan jelas, tentu saja di karenakan perkembangan sel otak kakek sudah mengalami kemunduran termakan usia. Tetapi mereka cukup paham dan mengerti dengan yang kakek maksudkan.
"Maaf jika kali ini kakek akan ikut campur kembali dalam urusan percintaan cucuku Muna... Monalisa Hildimar."
"Maksud kakek?" Muna sudah tidak sabar dengan maksud dan tujuan pria jompo itu berbicara.
"Maaf jika ini lancang. Tetapi kali ini bahkan kakek akan mengalah dengan prinsip yang kakek sendiri buat selama ini." Kakek menghela nafasnya sebentar.
"Kamu... Cucu menantu. Tolong..., Jadilah imam yang baik untuk cucuku satu-satunya, bimbing dan tuntun dia. Ringankan beban di pundaknya, bantu dan lindungi dia dengan setulus hatimu. Kasihi dan cintai dia, sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri. Segera nikahi Muna, selagi nyawa ini masih di pinjamkan pada kakek." Tak berkedip kakek Muna menuturkan permintaannya ke arah Kevin.
Bahkan Muna sendiri ternganga akan ucapan seorang Hildimar Herold yang bahkan di tengah semua orang meminta Kevin menjadi imamnya.
"Siap kek. Rabu, sebelum kakek dan Muna kembali ke Belanda kita akan melangsungkan akad nikah." Jawab Kevin tegas.
Membuat jantung mereka semua yang berada di sana, kecuali Muna dan abah, hampir copot berloncatan setelah mendengar jawaban Kevin yang begitu lugas.
"Bagus... Kakek senang dengan anak muda yang siaga sepertimu. Silahkan mulai bekerja. Kakek mau istirahat." Ucapnya cuek dan berdiri siap akan meninggalkan ballroom hotel untuk kembali ke rumah dan beristirahat
Semua melongo dengan kata-kata kakek 'silahkan mulai bekerja' hallo kek. Ini sudah hampir pukul 11 malam. Besok minggu pula. Apa yang bisa di kerjakan di jam yang hampir tengah malam ini.
"Oh... Iya. Kakek tidak hanya mau sekedar akad nikah. Tapi resepsinya juga. Harus di laksanakan di hari yang sama." Ucap kakek berbalik menoleh berbicara pada siapa saja yang ingin mendengarkan perkataanya.
"Busyeeet daah... Rabu pan 4 hari lagi yak." Sambar nyak Time yang kagum dengan perintah kakek Muna tersebut.
Sementara yang lain tak sanggup menjawab, menanggapi atau pun membantah perintah kakek. Mereka terlihat sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Minggu pagi datang menghadang, ponsel Kevin hampir tak berhenti mengudara. Mulai dari menghubungi pihak mesjid di area perumahan rumah kakek Muna, sampai pihak WO yang sanggup gerak cepat dalam hal pembuatan undangan serta penyebarannya.
__ADS_1
Untungnya Muna tidak sekatro dulu, saat seperti 2 tahun lalu. Yang terdengar repot hanya masalah memilih gaun, memilih paket wedding dan segala macam besar kecil urusan pranikah.
Mungkin Kevin setara dengan Bandung Bondowoso di jamannya. Yang di minta harus bisa menyelesaikan pembuatan candi dalam satu hari. Dan untungnya, sekarang jaman canggih. Di mana uang akan dapat membantu semua permasalahan dadakan semacam itu.
Apalah arti sebuah perhelatan pernikahan sekelas sultan. Yang penting berkas pada kantor urusan agama semua telah lengkap. Memastikan tidak adanya jadwal pemakaian masjid yang di pilih, lalu menghubungi pihak WO untuk memastikan gedung mana yang siap dilangsungkannya resepsi. Selesailah semua persiapan itu dalam satu hari.
Tak usah tanya bagaimana pakaian yang akan mereka gunakan beserta keluarga. Sebab Kevin sudah mengijinkan seluruh keluarga yang merasa berkepentingan mengenakan busana apa saja yang mereka inginkan, di Butik High milik Stephany. Gratis, semua biaya Kevin yang tanggung.
Sama dengan kebaya untuk akad dan gaun Muna. Mereka pasrah hanya menggunakan gaun jadi, yang jauh hari sudah di buat namun tak bertuan. Yang tentunya adalah edisi khusus.
"Yang ... kita cari tempat makan dulu ya. Kusut banget tu muka. Kaya cucian di peres 3 kali lhoo." Tawar Muna pada Kevin saat mereka sudah selesai fitting baju pengantin.
"Hmm... Ini rasanya bahkan lebih dari di peres yang. Ini tuh menakjubkan." Ujar Kevin yang tidak dapat menyembunyikan rasa hidupnya yang makin asam manis.
"Maaf yang. Ribet dan ekspres ini buat kita makin yakin nikah tuh merepotkan. Jadi... Inilah pernikahan yang akan kita lakukan sekali untuk seumur hidup yang." Ucap Muna sambil menyeka keringat Kevin lembut.
"Setuju Mae. Kapok. Dua tahun lalu persiapan mateng eh pengantin wanitanya kabur. Giliran ga ada persiapan gini....eeeh si belut ngajak gelut. Sabaaaar, sabar. Hidup kok begini amat yaa?"
"Terima nasib deh bang. Muna lebih parah, pulang-pulang sudah harus siap menghadapi UAS. Kaaan... Yang Muna hindari kejadian."
"Tenang, nanti abang temenin UASnya. Kan sudah halal, bebas hambatam dong."
"Gimana....?"
"Mulai..., Belagak beg0. Ga usah akting." Jawab Kevin mencubit pinggang Muna mesra.
"Tangannya di kondisikan yang..."
"Siap... Apalah arti 2 hari lagi. 2 tahun saja abang sudah terbukti bisa jaga diri dan jaga hati." Kerling Kebin mesra yang sungguh sudah tahan uji.
"Iya percaya sayang. Dan terima kasih." Jawab Muna menepuk punggung tangan Kevin.
"Sayang, pulang ini kita ke mami sebentar ya. Abang lama ga nengok, sekalian minta restu lagi."
"He...he... Iya siap bosku." Jawab Muna dengan senyum manis semanis madu.
Bersambung...
Hallo...
Ga usah drescode-drescode an yaaah...
Dadakan inih, pake baju yang ada aja.
__ADS_1
Udah kebelet🤭
Kayaknya Nyak otor yang nyerah mereka LDR an😂