
Silahkan bayangkan dan rangkaikan sendiri apa saja yang bisa di lakukan pasangan halal itu, saat berada dalam jacuzzi elegan dengan ukuran pas untuk dua orang di mabuk cinta pula. Yang ajakan awalnya adalah membantu merontokkan daki di salah satu punggung sang istri.
Apakah itu berlanjut ke hal merontokkan daki yang lain?
Atau hanya terhenti dalam aktivitas berendam bersama di dalam air hangat saja?
Bisa jadi, itu hanya pembuka jalan untuk keduanya menuntaskan niat untuk melaksanakan ibadah ternikmat yang memang telah sah untuk mereka lakukan. Bukankah itu wajar saja. Dan, kali ini kita di berikan kebebasan seluas-luasnya untuk masuk ke dalam dunia halu itu menurut kreasi dan imajinasi masing-masing.
Pagi menyapa, Kevin tampak masih terlihat tertidur lelap. Di atas kasur yang porak poranda. Entah, apakah perang padri terjadi dalam durasi yang panjang semalam. Muna menatap kagum dengan ketampanan wajah suaminya. Merasa bahagia, dalam beberapa minggu belakangan ini ia dapat menutup dan membuka matanya dengan posisi di sebelah pria pujaan hatinya yang masih terasa bagai mimpi memilikinya.
Kevin, nama Kevin yang selalu ia sebutkan dalam untaian doanya. Semesta pun benar menyerah, walau dengan goncangan, penundaan dan seribu satu alasannya menolak, hanya Kevin yang tetap berdiri teguh menanatinya dengan segala kesungguhan.
Mengecup dahi pria itu sekali, lalu beranjak untuk menyiapkan setelan kerja sampai pakaian dalam untuk suaminya, kemudian menyampirnya di walk in closet kamar mereka. Beringsut maju, melangkah dengan gerakan tangan mencepol rambut ke atas seadanya, Muna pun siap mengeledah isi dapur rumah Kevin. Untuk membuat sarapan pagi mereka.
Muna memang sedikit berbeda kini, dalam urusan berpakaian. Terutama setelah menikah, ia lebih sering menggunakan pakaian minim bahkan jarang menggunakan kain bercup jika di rumah. Sehingga bentuk tonjolan kembar identik itu terlihat muncul, menonjol, nongol siap di pencet sang pecandu.
Hah... Siapa lagi kalau bukan Kevin. Gaya berpakaian seperti itu justru atas saran dari suami tercinta. Yang sangat tidak suka di persulit, jika tiba-tiba ingin menggigit kecil permen yupi bolicous tanpa bungkus itu.
"Pagi Mae mom." Sapa Kevin seadanya, yang langsung menyesap leher jenjang putih istrinya, dari belakang. Dengan tangan kekar yang susah nemplok di gundukan padat tak berbungkus tadi.
"Pagi sayang." Jawab Muna menngecup kepala yang menyeruduk itu seadanya.
"Bikin apa, hmm?" tanya Kevin seadanya di sela sesapannya, masih di area leher Muna.
"Nasi uduk, pap."
"Hmm... Panggil apa?"
"Pap."
"Suka mom." Greget Kevin yang sudah menggendong menjauhkan tubuh Muna dan mendudukannya di atas meja makan.
"Sekali-kali. Biar terbiasa nanti kalo kita sudah punya anak. Eh, Lupa tanya...?" ujar Muna tiba-tiba.
"Nanya apaan?"
"Itu... Kontrasepsi abang udah di lepas belom sih?" ujar Muna gamblang.
"Haha... Udah dong. Bahkan sebelom kita nikah dua tahun lalu. Asem... Musuhnya malah kabur. Untung balik." Aku Kevin malu-malu.
"Ya maaf." Kerling Muna genit.
__ADS_1
"Misi-misi, Muna mau cek nasinya udah mateng belom. Abang mandi gih."
"Mandiin."
"Manja."
"Mom... Mandiin."
"Ogah... Rambut Muna botak kalo keseringan keramas pap."
"Sapa suruh bis main sekali udah mandi wajib melulu. Si Otong mana pernah puas main kalo cuma seronde."
"Hiisssh... Sana buruan mandi, kerja. Udah lama banget kan kagak ngantor, ntar Belia kangen lho."
"Eh... Aseeem ni anak. Segala Belia di bawa-bawa. Yuk mandi bareng lagi Mae mom." Rengek Kevin manja.
"Kagak. Muna tunggu abang di mari aje. Ntar kalo Muna ikut mandi, Muna bakalan dipersuka oleh abang." Kekehnya riang.
"Pahala sayang, nambah pahala."
"Pahala sih, tapi lemes. Abang selalu dahsyat nembaknya, remuk-remuk dah badan Muna rasanya."
Muna cuek saja dengan tampilan ala rumahannya setelah menata hidangan sarapan pagi mereka dengan sepenuh hati.
Kevin sudah terbalut dalam setelan yang Muna siapkan namun sengaja hanya di pasang dengan tidak sempurna. Tentu saja itu hanya modus. Agar istri cantik kesayangannya yang merapikan hingga sempurna tampilannya pagi ini.
Muna bagai tanggap darurat bencana, tanpa di minta ia sudah mendekati tubuh wangi, gagah paripurna itu untuk melakukan kewajibannya sebagai istri yang selalu siap melayani suami 24 jam. Mempertemukan biji kancing dengan lubang pasangannya di sisi sebelahnya. Memasang dasi, melipat kerah lehernya, selesailah tugas negara. Tampan maksimallah penampilan suaminya.
Kevin tentu saja tidak hanya berdiam diri mendapat pelayanan itu, bibirnya tak berhenti menabrak bagian pahatan mana saja yang bisa ia tabrak di area wajah istrinya. Kegiatan yang tak pernah bosan untuk di lakukan Kevin hampir setiap saat.
"Seandainya kita bisa begini terus tiap hari Mae." Bisiknya lesu, tiba-tiba melow mendapatkan perlakuan manis dari Muna.
"Yang bisa di nikmati hari ini saja yang kita jalani yang. Ini juga karena Muna libur. Giliran Muna lulus kuliah, sudah ada rumah sakit yang menanti Muna untuk berbagi perhatian nantinya."
"Haha... Abang sampai lupa punya istri seorang direktur. Bakalan banyak pembagiannya ntar sayang. Yang adil ya, buat abang, buat kerjaan, buat anak-anak kita juga nanti."
"Insyaallah, abang bantu Muna ya. Biar semuanya seimbang. Atau, Muna ga usah kerja saja setelah lulus?"
"Jangan. Itu cita-cita Mae bukan? Abang cinta Mae mom. Cinta itu harus buat hati pasangan bahagia. Menggapai cita-cita pasti hal yang membuatmu bahagia. Jadi... Lakukan apapun asal hati mu senang, istriku sayang."
"Masyaallah, sedeeep dengernye bang." Muna sudah kembali ke gaya dialek Betawi ala-ala nyak Time.
__ADS_1
"Duduk, Muna suapin abang biar ga berantakan." Perintah Muna yang benar-benar ingin memanjakan suaminya selagi ada waktu.
"Hmm. Alhamdulilah indahnya dunia." Kekeh Kevin yang lagi-lagi meletakkan boko ng Muna di pangkuannya.
Ah... Benar-benar pasangan yang tidak tau pedihnya hati saat habis beras juga habis paket kuota internet. Dunia seolah benar-benar hanya terdiri dari dua orang ini saja. Apa boleh kita sirik?
Hmm... Sirik tanda tak mampu.
Jika iri janganlah dengki, tetapi lakukan hal yang sama dengan pasangan masing-masing. Sebab bahagia kita yang buat.
"Mae... Ikut kekantor abang ya. Pegawai abang tidak semua hadir di pernikahan kita, jadi mereka belum kenal istri pimpinannya." Terlintas di pikiran Kevin untuk mengajak serta istrinya untuk di perkenalkan secara resmi di perusahaan MK Farma miliknya.
"Hmm... Muna ga punya baju formal sayang. Boleh, Muna menyusul saja nanti siang, sekalian bawa makanan buat siang?"
"Boleh lah, boleh banget. Nanti, abang minta pak Min yang antar nyonya Kevin cari costumnya, lalu ke kantor."
"Siap tuan Kevin." Jawab Muna penuh kelakar.
"Tapi... Beli pakaian saja ya Mae. Belanja yang lain jangan." Lagi Kevin membuat aturan mulai posesif.
"Sejak kapan tuan pelit, sampai Muna kagak boleh belanja?" pancing Muna bingung.
"Yaaang, abang kangen belanja bareng Mae seperti masa pedekate kita dulu. Kapan perlu kita naik motor deh entar sore. Sumpah kangen masa itu Mae."
"Uuuluh...uluuuuh, so sweetnya. Iya... Muna juga kangen ser-seran duduk di belakang punggung abang kaya waktu itu."
"Emang dulu ser-seran yang?"
"Nyetrum-nyetrum hati adek, bang." Kekeh Muna yang ingatannya kembali pada masa-masa manis hubungan mereka. Saat semua masih baru, antara mau, malu dan tabu berdekatan dengan pria dingin, angkuh, arogan namun memiliki sejuta pesona itu. Ah, masa lalu.
Bersambung...
Ciiiee reader juga ikutan senyum nih ingat masa masa perkenalan itu.
Di lanjuuut ke BAB berikut yaaak👍
Terima kasih banyak buat kesetiaan reader semua.
Doa terbaik buat kita semua ya
Lope seIndonesia❤️❤️❤️
__ADS_1