
Kevin hanya menahan tawanya saat melihat wajah Muna yang masih merasa malu akan pikiran ngeresnya sendiri.
"Kalo ga mau mesum, terus ngapain abang tadi ngendus-ngendus leher Muna kayak anak kucing?"
"Tadi abang cuma mastiin, parfum yang di kasih abang sudah di pake atau belum?"
"Pan bisa nanya... kagak usah ngedeketin kayak gitu juga kali bang."
"Ya enakan langsung menghirup aromanya langsung lah Mae." Jawab Kevin dengan memasang wajah kakunya dan cueknya, Lalu Kevin melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Mae... sini." Kevin berucap sambil menepuk sisi tempat tidur yang masih kosong di sebelahnya.
"Ngapain...?"
"Abang lelah di tuduh mesum oleh Mae Muna."
"Terus...?"
"Ya dari pada abang di fitnah mendingan abang lakuin saja." Kevin sudah berputar menggelinding tubuhnya meraih tangan Muna sekenanya, dan dengan penuh kekuatannya berhasil mendudukan Muna di tepian tempat tidur di kamar penginapan tersebut.
"Abang ... " Muna seolah memelas, kembali cemas. Dadanya kembali resah, terguncang takut Kevin benar-benar akan melakukan hal yang belum boleh mereka lakukan secara sadar.
Kevin memegang kedua tangan Muna, dalam posisi tengkurap seolah sedang push up. Menjulurkan kepalanya, bagai kura-kura keluar dari cangkangnya. Sesekali mencium punggung tangan yang di remasnya itu.
"Dengerin abang ya. Abang dulu memang pernah salah. Abang bahkan melakukan perbuatan itu di depan mata Mae. Untuk itu abang minta maaf. Abang mau bilang abang nyesel, tapi penyesalan itu ga guna, tanpa di sertai perubahan." Kevin masih memandang lekat mata kekasihnya dan berbicara dengan nada pelan juga lembut terdengar sungguh-sungguh.
"Sejak awal, abang minta agar Mae bantu abang dan dukung berubah, agar bisa jadi orang yang lebih baik lagi." Kevin menghirup udara sejenak untuk kembali membicarakan hal yang baginya penting ini pada Muna dengan baik-baik.
"Abang sudah sangat sayang sama Mae. Abang sudah janji tidak akan merusak Mae sebelum waktunya dan tanpa seijin Mae. Abang lelaki yang pantang ingkar janji. Mae cukup pecaya sama abang, bahwa abang benar ingin menjadi pelindung Mae, walau abang tau Mae juga seorang yang sangat pandai bela diri. Kasih ruang sedikit saja buat abang dalam hati Mae." Kevin sudah memperbaiki posisinya, yaitu berdiri kemudian mengelus rambut Muna dengan lembut.
"Jadi... abang boleh minta sekali lagi. Tolong percaya, abang sayang Mae." Ucapnya sambil mengecup pucuk kepala Muna.
"Iye maafin Muna ye bang. Muna jujur masih takut ame abang."
Kevin memilih duduk berjongkok tidak jauh dari kaki Muna yang masih tampak betah duduk di tepian tempat tidur itu.
__ADS_1
"Mae takut apa? Hamil di luar nikah? Abang bahkan udah KB. Abang jamin ga bakalan bobol, jebol doang. Yuk, buat yuk." Ide jahil Kevin tiba-tiba muncul lagi. Oh... mungkin bukan jahil tetapi memang sedang dalam usaha merayu tipis-tipis.
"Tuh kan... abang gitu lagi." Muna cemberut menghadap Kevin memandang intens pada bola mata Kevin mencari kejujuran di sana.
"Yuuk... bentar doang." Kevin berdiri dan menarik tangan Muna agar Muna berdiri sejajar dengan tubuhnya.
"Abaaaang." Lagi suara Muna meninggi saat tubuh Kevin sudah mendekapnya erat.
"Tenang abang cuma peluk, dan memastikan ternyata wangi parfum yang abang kasih cocok untuk Mae."
Muna masih mematung dalam pelukan Kevin. Tidak berani, walau hanya sekedar mengangkat tangannya untuk menyentuh Kevin. Sebagai tanda balasan ia senang dalam posisi di dekapan Kevin tersebut.
Jangan tanya tentang kabar hati Muna, tentu sangat berbunga-bunga. Ia hanya bersandiwara akan tingkah mesum Kevin, bukan pula berharap, namun kini semakin percaya lelaki itu memang sangat menyayanginya dengan penuh kesungguhan.
"Ingat... abang cuma minta Mae percaya. Kalau abang sayang Mae. Dan.. ada satu tambahan lagi..." Kevin sengaja menggantungkan kalimatnya membuat Muna penasaran.
"Apaan...?" tanya Muna masih dalam pelukan Kevin tanpa respon balasan.
"Tolong jangan bar-bar sama abang. Jangan suka teriak-teriak lah sama abang." Bisik Kevin pelan.
"Makasih. Kita sama-sama belajar saja melatih diri kita agar lebih baik." Muna mengangguk kecil.
Kevin merenggangkan pelukannya, beralih mencium lekat kening gadis kesayangannya itu. Kemudian melangkah berbalik namun tetap menarik tangan Muna dengan posesif.
Muna bingung ia akan di tarik ke mana. Namun jika ia tak salah, arah tujuan mereka adalah memutar bahkan lebih mendekati tempat tidur tadi, yang sudah dengan susah payah mereka jauhi.
"Bang kita mau kemana...?" suara itu terdengar lirih, kembali ragu akan semua ucapan yang Kevin sampaikan tadi barusan.
Kevin meraih Kunci mobil yang letaknya di nakas sebelah kiri tempat tidur tadi. Di angkatnya benda itu, dan di acungkannya tepat di depan hidung Muna.
"Ngambil kunci. Abang mau antar Mae ke rumah Siska. Atau mau tidur di sini nemenin abang...?"
Kevin dengan gerak cepat kini justru sudah mendorong tubuh mereka berdua teronggok sempurna di atas tempat tidur dengan posisi Muna di bawah dan Kevin mengungkungnya tepat di atas tubuh Muna.
Muna sudah hilang kesabaran dengan menggunakan seluruh kemampannya, juga dengan gerakan gesitnya. Kini Muna justru sudah dalam posisi mengunci tubuh Kevin dengan posisi mengagumkan memegang kedua tangan di atas pimggang Kevin yang dalam posisi tiarap dan Muna duduk di atas bokong Kevin. Tepat seperti adegan ala-ala smack down, di mana posisi itu sangat menunjukkan pihak yang di bawah adalah yang kalah.
__ADS_1
"Abang mau ngapain Muna lagi...!!!"
"Adedeee.....dedeeeeh ampun Mae. Ampuuun abang cuma bercanda."
"Abang becandanye jangan di atas tempat tidur juge, kita sedang berdua aje ini. Udah banyak setan penggoda di mari, dengan gerakan abang ke tadi, abang bisa aje kesambet setan cabul."
"Percuma abang ngomong panjang lebar dari tadi, ternyata Mae masih curiga saja sama abang."
"Gimana kagak curige... ini tuh di atas kasur bang Ke!!!"
"Mae... pliiis jangan panggil abang ke gitu lagi. Maaf. Beneraaan abang cuma bcanda tadi."
"Becandanye kagak lucu. Susah ye...dasar otaknye ude mesum ya mesum aje."
"Yaaah... susah ya. Jadi orang pernah salah ya salah aja terus. Ga boleh becanda sedikit di kira mesum terus."
"Bukan masalah aye kagak percaya ama abang. Posisi kita ini yang bisa buat kite sama-sama khilaf abang." Pada kalimat terakhir Muna dengan sendirinya melepas pegangan dan beralih dari posisi duduknya di atas tubuh Kevin. Berdiri merapikan pakaiannya juga menyiapkan apa saja yang bisa ia bawa untuk kembali ke rumah Siska.
"Maaf ..." ujar Kevin yang sudah dalam posisi berdiri dan mengejar Muna yang sudah semakin dekat dengan pintu kamar hendak keluar.
"Abang... Muna percaya abang serius sayang ke Muna. Tapi jangan buat posisi kita hampir-hampir ke tadi. Muna ngeri sendiri bang." Ucapmuna yang lagi-lagi dalam pelukan Kevin dari belakang.
"Iya maaf, bang tau batas kok. Abang masih ingat janji. Abang hanya boleh peluk Mae. Kecuali Mae yang pancing abang buat bertindak lebih." Kevin terkekeh dan tanpa aba-aba sudah melepas sendiri pelukannya, sambil mendahului Muna membuka pintu dan mengajak Muna keluar dari kamar penuh setan mesum itu.
Bersambung...
Yaaah padahal kalo maunya nyak siih mereka buka segel aje di part ini. Tapi apalah daya, Muna emang kuat iman gaeees.
Semoga kagak bosan ngikuti lika liku jalan mereka menuju halal ye.
Makasiiih untuk tetap setia di mari.
Lopeh-lopeh sekecamatan buat semua
ππππππβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1