
Gita tidak semanja yang ibu Gilang kira. Terlihat dari cepatnya tangan itu saat menanak nasi dan mengocok telur juga merajang bahan bahan penunjang omeletnya. Syukur semua bahan tersebut ada dalam lemari es ibu Gilang.
"Git... kata mama mu. Kamu di rumah ga pernah kerja rumahan ya?" telisisk ibu Gilang mulai kepo.
"Iyalah bu. Kan Gita serumah dengan mama hanya sampai SMP. Lalu pas SMA Gita sekolah di asrama, makanya Gita jarang masak. Semua sudah tersedia oleh ibu asrama. Beda dengan nyapu dan ngepel, Gita bisa lah mengayun ayunkannya hingga lantai bersih, karena membersihkan kamar itu sesuai jadwal yang di buat." Jelasnya sambil terus memasak.
"Lalu pas kuliah?" tanyanya lagi.
"Kuliah Gita di Inggris bu. Di belikan apartemen sudah lengkap dengan ARTnya. Makanya Gita makin ga bisa apa-apa. Semua di lakukan oleh bi Mirah." Cerita Gita membuat ibu Gilang mengangguk angguk.
"Kalau mama dan papa Gita makan biasanya siapa yang ambilkan nasi untuk papanya?" tanyanya lagi penasaran.
"Ya semua ART yang lakukan bu." Jawab Gita polos.
"Mama apa ga pernah ambilkan nasi gitu buat papa?"
"Pernah sih... tapi jarang juga. Masing-masing saja kayaknya." Ujar Gita apa adanya. Sebab sepertinya keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu.
"Ibu kasih tau ya Git. Kalau sudah jadi istri apapun yang sifatnya melayani suami itu, akan menjadi pahala. Membuatkan minuman, menyambut suami dengan senyum, termasuk hal kecil seperi mengambilkan nasi untuk suamipun, termasuk bakti dan akan menjadi pahala." Paparnya dengan jelas.
"Oooh... pantesan tadi malam ibu cemberut pas liat a'a ambilkan nasi buat eneng. Artinya itu karena ibu sayang banget sama eneng yaah? karena kehilangan kesempatan dapat pahala. Hmm... ntar neng bilangin a'a, jangan lagi ambilkan makanan buat eneng. Rugi banyak ntar enengnya." Kekeh Gita di balas tatapan lucu dari sang mertua yang baru mengenal karakter polos menantu pilihan anaknya ini.
"Okeeh... sudah masak nih. Eneng, ijin mandi dulu ya bu. A'a kemana juga? eneng kira sholat ke masjid, tapi udah hampir jam 7 kok belum nongol ya?" umpatnya tak mengharapkan jawaban dari siapapun. Dan langsung ngelonyor ke kamar untuk menyiapkan pakaiannya.
Ibu Gilang lirik lirik sejak tadi melihat omelet buatan menantunya. Yang sepertinya menggiurkan. Ingin mencoleknya malu. Membiarkannya saja, tapi penasaran. Mau ikut makan juga malu sebab tadi bilang tak biasa sarapan pagi. Akhirnya dia hanya berani memandang saja, dengan menelan salivanya sendiri.
"Assalamualaikum." Sapa Gilang ceria dari arah pintu dan langsung masuk merujuk dapur di mana ibunya sedang bertengger.
"Walaikumsallam. Dari mana sih Lang?" tanya ibu penasaran.
"Sholat subuh bu. Tapi sekalian olahraga pagi lanjut ke rumah ketua RT. Laporan kali Gilang sudah nikah. Malu kan jika tiba tiba Gilang di gerebek, di kira bawa cewek kumpul kebo." Kekeh Gilang sembari mencuci tangan lalu membuka tudung saji yang tadi ibu gunakan untuk menutup omelet buatan Gita yang mengganggu pikirannya.
"Waw... tumben ibu buatkan masakan ini. Kirain ada nasi goreng ala ibu pagi ini." Ujar Gilang dengan cueknya mengambil sendok akan mencicipi masakan itu.
"Bukan ibu yang buat itu. Tapi istrimu." Jawabnya datar.
"Hah...? masa. Kata eneng, dia ga bisa masak." Suara Gilang tertahan saat potongan omelet itu sudah masuk dalam mulutnya.
"Ehmm... enak bu. Cobain deh. A...a." Pucuk di cinta ulampun tiba. Akhirnya ibu Gilangpun menikmati makanan yang sedari tadi ingin ia rasakan. Dari suapan Gilang.
"Gimana bu?" tanya Gilang antusias.
__ADS_1
"Iya... enak." Jawab ibu singkat.
"Mau sarapan?" tanya Gilang.
"Masih kenyang Lang. Nih susu ibu baru habis dan biskuit." Tolaknya penuh sesal padahal tiba tiba mau sarapan nasi pagi ini.
Gilang mengecek nasi pada alat pemasak nasi listrik, mengaduk aduk sebentar, kemudian menutupnya kembali.
"Gilang ke kamar sebentar ya bu. Cari eneng." Pamitnya pada ibu.
"Seger dan wanginya istriku." puji Gilang pada Gita yang kepalanya sudah tergelung handuk kecil untuk memepercepat proses pengurangan basah pada rambutnya yang baru selesai di keramas.
"A'a dari mana sih. Curang ga bangunin eneng. Malu tau, sampe ibu yang duluan bangun dari eneng." sungutnya saat bibir Gilang sudah nemplok di lehernya.
"A'a sholat aja awalnya, eh... kebablasan ngobrol sama ketua RT. Takut di kira kita bufallo gathering."
"Buffalo Gathering...baru denger a..?"
"Kumpul kebo neng. Ha... ha... ha. Cukuplah kita di giring satpol PP di Jakarta. Jangan sampai kita di arak massa gegara ga tau kalau kita udah sah." Terang Gilang.
"Ada ada aja a'a mah."
"Bye the way.... rencana resepsi kita di percepat saja ya neng? Dua minggu lagi gimana? Terus acara di sini di laksanakan di rumah kita yang baru. Kita undang teman sekantor dan semua karyawan pabrik. Biar semua tau kita udah nikah."
"Kali gaunnya harus yang spektakuler gitu." Canda Gilang.
"Ngapain...? udah ga vera one inih." Kekeh Gita melirik Gilang nakal.
"Hahahahaa... hilang di mana neng?" colek Gilang pada Gita.
"Di benua Eropah." Kekehnya yang sudah di atas pangkuan Gilang, dengan pinggang yang di gelitik Gilang dengan sengaja.
"Eh... ada omelete di dapur. Eneng yang masak?"
"Ya iya lah."
"Katanya ga bisa masak?"
"Ya goreng telur doang masa ga bisa... kan udah pintar ngrepek ngrepek telornya a'a." bisiknya di telinga Gilang.
"Heeeiii... udah mesyum ya sekarang. Baru seminggu lho jadi istri, apalagi setahun." Cium Gilang di segala tempat di mana ia ingin di seputar wajah istrinya.
__ADS_1
"A' ... sarapan yuk. Neng lapar." Ajak Gita manja.
"Ayo... A'a gendong ya sampai dapur. Kali lemes saking laparnya." Goda Gilang pada Gita.
"A'a lebay. Ga mau ah. Nanti di liat ibu, cemberut lagi deh sama eneng."
"Hum... iya juga."
"A' nanti sebelum pulang ke rumah. Kita ajak ibu belanja bahan makanan buat stoknya ya, A. Sekalian jalan jalan, tadi eneng udah janji sama ibu ngajak jalan."
"Cie... cie... yang akur sama mertua." ledek Gilang senang, jika istrinya sama sekali tidak menanggapi sikap kasar ibunya semalam.
"Apaan sih?" ujarnya tersipu.
Keduanya sudah berada di dapur. Gita langsung menuju rak piring untuk mengambil dua buah piring dan melangkah ke alat pemasak nasi tadi. Gilang mengikutinya dari belakang.
"A'a... duduk saja di situ ya. Biar eneng yang ambilkan nasinya. Okeeh." Celetuknya memaksa Gilang untuk duduk manis di kursi meja makan itu.
"Baik nyonya Gilang." ujar Gilang patuh. Dan interaksi itu tidak luput dari sorotan mata ibu Gilang dengan telinga yang ia sendengkan.
"Oh iya... pagi pagi a'a biasa minumnya apa ya?" Oh Tuhan, Gita bahkan belum sempat tanya apa minuman yang biasa Gilang konsumsi tiap pagi. Sebab selama ini mereka sarapan di resto hotel.
"Susu coklat." Jawab Gilang.
"Bentar... neng buatkan." Gita membalikkan tubuhnya bergerak ke arah rak yang kemungkinan di gunakan untuk meletakan susu, kopi, teh juga gula, mungkin.
"A... neng ga tau di mana susu coklatnya. Teh aja mau?"
"Masa ga ada?" tanya Gilang menautkan alisnya terkejut.
"Stt... nanti kita beli. Ga enak di dengar ibu." Gita menghindar takut ibu malu di rumahnya tak punya stok susu.
"Stt... yang eneng gendong susu coklat bukan?" bisik Gilang pelan di telinga Gita.
Plakh...
Bahu Gilang jadi sasaran tepukan Gita. Hilang semua pahala yang susah payah di buatnya sejak pagi, karena sudah sukses memukul suaminya.
Bersambung...
Nyak double up niih
__ADS_1
ayooo di kasih apa???