
Mata Gita sembab menyadari ponselnya tidak ada. Sudah seperti polisi nyisir, ngelacak maling saja malam itu, Ninik dan Siska di buat sibuk juga ikut mencarinya.
Akhirnya, dengan bantuan Siska. Yaitu menggunakan ponselnya untuk menghubungi petugas jaga malam dikantor, ponsel Gita di temukan di atas meja kerjanya tadi.
"Heem... artinya. Setelah ku bilang ga pulang bareng kamu. Aku letakan gitu aja Nik. Terus Agi datang, aku cabut deh."
"Ya... namanya juga orang lagi jatuh cinta, apalah arti benda pipih itu kalo udah ketemu orangnya." Ledek Ninik pada Gita.
"Nik... Siska udah bantu aku nelpon penjaga malam. Pliiis giliran kamu yang bantuin aku."
"Bantu apaan?"
"Pinjam hape mu, ku mau bilang Agi. Ponselku ketinggalan."
"Buat kamu apa sih yang ga...?" Ninik menyerahkan ponselnya. Lalu Gita membuka aplikasi WA dan mengirim notevoice.
"Agi... hape Gita ketinggalan di kantor tadi. Jadi belum bisa jawab yang tadi." Gita lega, sebab sudah menyampaikan pesannya pada Gilang. Walau tidak dapat balasan, setidaknya Gilang sudah tau.
Pagi datang, matahari telah menyapa menghangat menjalar, pada sela-sela jendela. Gita sudah terlebih dahulu bangun sebelum matahari muncul tadi. Ninik, Siska dan goggle banyak membantunya selama ini dalam urusan memasak di dapur. Ya kalo untuk menu sarapan sih, Gita sudah mulai bisa di adu lah.
"Pagiiii." Sapa Ninik saat melihat sudah ada omlet telur yang komplit dari daun bawang, paprika, jamur sampai keju semua tercampur rata untuk sarapan mereka bertiga. Ya... mereka saling melengkapi terutama dalam pembagian tugas rumahan, saat hidup bersama. Gita benar banyak menemukan sisi lain kehidupan setelah keluar dari kerajaan Mahesa. Ia benar seolah menemukan diri sendiri, saat menjadi orang biasa - biasa saja.
Sesampai di kantor Gita bagai kesurupan melihat ponselnya sendiri. Meraih benda pipih itu lalu menyambungkan dengan alat charge yang memang ia bawa.
Ada 5 panggilan dari nomor baru. Kemudian nomor itu mengirim pesan.
"Hai... aku Sailendra. Anak teman mama kamu. Boleh call?" chatt pertama terbaca.
"Sibuk ya... maaf ganggu." Lanjutnya lagi.
"Besok ada waktu kan? kita makan siang bareng ya." Tetap keukeh.
"Pliiis jawab." Mulai maksa.
"Ga jawab berarti iya." Chat sepihak itu ternyata dari Saildenra si anak temen mama.
Gita mendengus pelan. Lalu menscroll chatt lainnya.
"Nenggi... kok belum kasih jawaban. Katanya lewat chatt." Isi pesan dari Gilang. Tertera pada pukul 9 malam. Tepat 2 jam dari perjumpaan mereka di fepan kost.
"Tuh kan... Agi nunggu jawabanku." Batinnya. Lalu memencet icon gagang telepon untuk memanggil Gilang.
Tapi ponsel Gilang tidak aktif. Jadilah Gita nelangsa, seolah tak bersemangat untuk melakukan aktivitas di kantor hari itu. Apa lagi sampai waktu hampir jam makan siang Gilang benar tidak muncul dan tanpa kabar tentang keberadaannya.
"Di PT. MK Farma kan tempat kerjanya. Saya sudah di depan." Isi chatt dari Sailendra.
Belum sempat Gita membalas chat itu. Ponsel Gita sudah berbunyi.
Mama
"Assalamualaikum ma."
"Walaikumsallam. Git, Sailendra sudah ke kantormu katanya. Awas nolak, buruan."
"Iih... mama maksa deh."
"Kenalan saja dulu, bagaimanapun nambah teman itu baik Git. Plis deh. Gita mau mama sakit lagi?"
__ADS_1
"Ya ga lah ma."
"Udah... pergi lah. Makan siang saja kok. Ga sama dia juga ga papa sih, tapi jalan aja dulu, kali aja kalian cocok."
"Janji ya ma, ga maksa Gita harus sama dia"
"Iya... janji. Asal kamu punya pilihan sendiri yang baik juga."
"Deal." Jawab Gita kemudian sambungan telepon di tutup.
"Iya... sebentar saya keluar. Maaf menunggu." Balas Gita pada chatt Sailendra.
"Agi kemana? Kok hapenya ga aktif. Nenggi keluar makan siang. Agi sehatkan?" tulis Gita pada notes lalu meletakannya di meja Gilang.
"Hai... saya Sailendra Mahardika. Panggil Endra saja."
"Oh... iya. Gita Putri. Panggil Gita saja." sahut Gita penuh dengan senyuman.
"Mari..." Endra menyilahkan Gita menuju parkiran motornya.
"Iya terima kasih." Sahut Gita ramah.
"Maaf ya... pake motor saja. Mobil sedang di servis." Ucap Endra.
"Ga papa. Gita juga biasa naik motor kok." Jawab Gita yang berjalan menuju motor Ninik untuk mengambil helmnya sendiri.
"Oh... punya helm sendiri."
"Hm... iya."
"Naik tuan putri." Endra dengan manis menyilahkan Gita. Ia hanya tersenyum dan patuh pada tawaran Endra. Tapi, saat motor gede itu masih di area kantor akan melewati gerbang. Mereka berpapasan dengan Gilang yang baru akan masuk kantor.
"Agi... kenapa baru ke kantor?" Chat Gita saat motor yang di kendarai oleh Endra itu masih melaju membawanya ke tempat makan entah di mana.
Tidak ada balasan.
Keduanya sudah berada di satu tempat makan yang lumayan mewah. Terlihat sekali jika selera pria ini bukan kaleng-kaleng. So aja merendah cuma pake motor, tapi moge. Ah... Gita udah dudukin berapa duit tadi...? jangan-jangan setara sama mobil yang dia punya.
Sailendra sikapnya manis, ramah dan sopan. Terlihat jika dia orang yang berpendidikan baik. Hanya fokus Gita terganggu. Sebab Gilang baru saja membalas chat Gita.
"Neng maaf, semalam ponakan sakit. Panasnya ga turun-turun. Jadi, Agi yang antar ke Rumah Sakit."
"Oh... terus gimana keadaannya sekarang?"
"Udah baikan."
"Alhamdulilah."
"Sekarang Nenggi di mana sama siapa?" kepo Gilang. Dia tau dong Gita kemana, hanya tak tau di mana.
"Neng lagi makan siang. Sama anak teman mama."
"Yang akuntan itu?"
"Kok Agi tau?"
"Kira-kira aja, soalnya waktu Agi makan bareng pak bos. Katanya mamanya eneng mau jodohin eneng sama seorang akuntan gitu. Bener neng?"
__ADS_1
"Iya gitu A."
"Hmmm..."
"Kok cuma hmmm. Ga cemburu?"
"Emang boleh? Agi siapanya Eneng?"
"Suami pura-puranya Nenggi. Sekaligus calon suami benerannya Nenggi." Gita menjepit kedua bibirnya, sambil memejamkan mata, dengan pipi agak merona antara malu dan senang.
"Ini gombal bukan?"
"Serius lah A. Kan neng janji jawab lewat chatt."
"Jadi jawabannya Agi di terima nih neng?"
"Di terima deh."
"Kok deh sih Neng? Kayak terpaksa gitu."
"Ga terpaksa... asal Agi jemput Neng di sini."
"Ga papa perginya sama siapa? Pulang di jemput siapa?"
"Jaman ini A'. Pacaran sama siapa juga nikahnya sama siapa kan?"
"Sharelook. Agi mau jemput calon makmun. Ntar di sambar orang. Eh, itu orang atau buaya ya?"
"Belum tau juga sih. Tapi kayaknya masih spesies kelinci deh, manis dan lucu gitu."
"Neng ada yang panas tapi bukan api."
"Apaan?"
"Hati Aa Neng."
"Hahaa... buruan sini. Culik Eneng, A."
"Meluncur bebeph." Gubrak. Kaki... kaki. Gita kehilangan kaki, serasa ga nyentuh ubin. Ga percaya dengan dialog itu. Ini beneran mereka udah jadian, kok kaya ga berasa gitu ya.
"Hallo tuan putri. Sudah di bumi atau masih di kayangan." Endra menyadarkan keterpesonaan Gita, yang menggigit bibirnya sendiri, menscroll kembali isi chatnya dengan Gilang.
"Gimana?" respon Gita pada Endra.
"Mas Endra yang mestinya tanya. Tuan Putri ada apa? Hape aja yang di senyumin, mas di cuekkin." mas...? masam nasibmu, mas... mas.
"Oh maaf. Eh... nanti boleh pulangnya ga bareng?"
Bersambung...
Pasti berasa kurang panjang ya
Timpuk masal deh. Biar nyak cepetan nulis lanjutannya
Lope buat semua😘
Titip Sailendra Mahardika yang sebentar lagi kecewa, merana, kalah sebelum berjuang.
__ADS_1