OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 136 : MONALISA HILDIMAR


__ADS_3

Asep segera menyodorkan ponselnya pada Muna. Sebab ia tau jika Muna tentu sudah sangat ingin menggunakan benda canggih yang akan menghubungkannya dengan orang-orang yang resah dan gelisah menanti kepulangannya.


Muna hampir saja melempar benda itu, saat menyadari ponsel Asep mati tiada daya.


"Buseeet dah, hape mati gini. Ngape lu kasih ame aye sih, Sep." Hardik Muna so' akrab dengan Asep yang semakin tersenyum semakin manis rupa wajahnya.


"Ya maaf atuh neng. Kan si eneng tadi mau pinjam hape. Ya, A' kasih lah." jawab Asep cengegesan.


"Ye kagak yang mati juge kali, ah. Aye gibeng juge lu." Muna sudah sepenuhnya sembuh. Buktinya sisi galak harimaunya sudah kembali.


"A'a... Muna. Sok.. kadieu." Panggil ambu pada kedua orang yang masih terlihat di depan rumah.


Dengan pikiran yang masih belum sepenuhnya mengerti, Muna pun melangkah masuk dan duduk di kursi tamu di mana orang orang tadi sudah menunggunya.


"Sebelumnya. Kami minta maaf untuk semua kesalahan yang tidak dapat kami gambarkan betapa kami menyesal atas waktu yang terbuang selama ini untuk kita bisa bersatu membuat kita terpisah." Ujar pria yang masih Muna tidak tau dia siapa?.


"Hasil DNA memang belum keluar. Mungkin seminggu lagi. Tapi kamu berbeda dari anak gadis bermata biru lainnya yang pernah kami tangkap, untuk memastikan jika saja itu adalah bayi yang dulu pernah kami letakan di suatu tempat." Pria itu masih berusaha menjelaskan dengan kata-kata yang sulit Muna cerna.


"Maaf tuan. Bisa kagak ceritanya jangan muter-muter. Aye kagak paham." Tegas Muna terdengar apatis.


"Begini. Saya adalah Rona Margaretha dan ini suami saya Dadang Sudrajat. Dulu, kami adalah pasangan kekasih yang saling mencinta, namun terhalang restu orang tua saya. Ayah saya, Hildimar Herold."


"Alasan hubungan kami tidak di restui karena kang Dadang ini adalah seorang supir di keluarga kami. Ayah saya orang yang diktator, kejam dan sangat tidak peduli dengan perasaan orang lain bahkan anaknya, walaupun saya adalah anak tunggalnya." Rona memulai cerita dengan kata-kata segamblang mungkin. Mengingat Muna hanya anak lulusan SMA kemaren sore.

__ADS_1


"Singkat cerita kami menentang segala peraturan yang kejam itu, dan memilih kabur kerumah ini. Untuk mengikrarkan janji suci pernikahan dan menghalalkan hubungan kami di mata hukum dan agama." Lanjut Rona sembari terhenti untuk sejenak bernafas dan menelan salivanya sendiri.


"Saat itu ayah benar tidak menaruh curiga, sebab kami kembali ke kota dan berlagak antara kami tidak terjalin hubungan dekat. Ayah, hanya tau kami berpacaran, namun tak menyangka telah menikah. Sebab kami sangat pandai menjaga jarak."


"Ayah memang banyak memiliki urusan bisnis, hingga saya hamil pun beliau tidak menyadarinya. Sebab pada masa itu beliau sering berdinas keluar kota bahkan lama di Luar Negeri. Sementara saya sudah terlihat sibuk bekerja di salah satu perusahaan milik ayah."


"Hingga saya melahirkan, barulah ayah mengetahuinya. Murkanya sudah tentu memuncak, kang Dadang sudah di usir karena di anggap telah merayu dan segala macam hinaan lainnya. Dan saya tidak dapat berbuat banyak sebab terkendala ruang gerak yang semakin ketat oleh para penjaga yang ayah pasang di setiap sudut ruangan."


"Hanya ada satu pelayan yang baik hati dan bisa mengerti keadaanku waktu itu. Bi Aida namanya, beliau yang membantu menghubungkanku berkomunikasi melalui ponsel jadul yang sangat terbatas dengan kang Dadang."


"Ayah tak bergeming untuk melihat cucunya. Padahal jelas nyata ... Bayi itu bahkan mewarisi bola mata biru seperti miliknya." Rona tampak mengenang masa pahit dalam hidupnya waktu itu.


"Saya di ancam akan di kirim ke luar negeri, dan anak yang ku lahirkan akan di buang ke panti asuhan atau kemana saja. Sebab bagi ayah, bayi itu hasil hubungan terlarang, dan memiliki seorang ayah yang tak sebanding dengan kastanya." Rona masih dengan terang benderang mengisahkan masa lalunya.


"Atas dasar ancaman itulah, maka bayi tersebut, rencananya ku serahkan pada kang Dadang. Maksud saya... Lebih baik anakku dirawat ambu dan kang Dadang di desa. Daripada harus di buang atau di rawat di panti asuhan sekalipun."


Muna reflek meraba lehernya yang masih menggunakan kalung yang ciri-cirinya sama seperti yang wanita itu sampaikan.


Muna membukanya, dan sejak pertama menggunakannya saat duduk di bangku SMP pun Muna sudah tau jika di dalamnya ada inisial yang bahkan sesuai dengan namanya, maka Muna tidak pernah menaruh curiga apapun.


Muna hanya diam seribu bahasa, nalarnya tak mampu berpikir, menerka bahkan mengambil kesimpulan. Haruskah ia langsung percaya dengan semua cerita yang mungkin saja bisa di karang oleh wanita di hadapannya sekarang.


"Mungkin kamu terkejut dengan semua cerita kami, bahkan kami tidak boleh langsung memaksamu menerima kami. Sebab kami adalah orang tua yang telah kurang lebih 18 tahun seolah membuangmu, karena keadaan. Namun sungguh, keadaan yang membuat kita terpisah. Apapun yang kamu minta akan kami lakukan sekaang, asalkan kamu bisa memaafkan dan menerima kami sebagai orang ta kandungmu."

__ADS_1


"Maaf nyonya... aye kagak bisa langsung percaya kayak gitu aje. Jika hanya karena kalung ini aye tetiba bisa jadi anak nyonya n tuan, di pasar juga banyak yang jual kalung seperti ini." Ucap Muna menyodorkan kalung yang sudah di lepasnya sendiri.


"Benar... kalung bisa di beli di mana saja. Tetapi tanda lahir di punggungmu, berpola abstrak seperi peta Australia tentu tidak bisa hilang dengan mudah." Jawab Rona yang membuat Muna tergidik, merinding heran akan tebaan wanita itu semacam cenayang.


Muna kalang kabut di buatnya, ia tidak dapat memungkiri tentang tanda lahir di punggungnya. Yang hanya pernah di lihat nyak dan babe yang merawatnya.


"Bagaimana...apakah benar di punggungmu ada tanda lahir itu nak?" tanya Rona dengan getir berharap kali ini tidak salah lagi, saat bertemu dengan gadis bermata biru.


18 tahun mereka menanti datangnya hari ini, sudah dengan cara wajar bahkan cara tidak wajar sekalipun mereka lakukan. Demi mendapatkan gadis manapun asalkan berbola mata biru, hanya untuk mendapatkan anak kandung mereka.


Jangan tanya sudah berapa uang, waktu dan tenaga mereka habis hanya untuk membayar orang untuk mencari anak mereka. Walau secara kasat mata, apa susahnya bagi mereka melupakan anak yang pernah mereka letakan, bahkan di dekat tempat pembuangan sampah. Bukankah mereka tinggal melahirkan kembali saja agar mendapat keturunan kembali...?"


Dunia tidak seramah itu untuk perjalanan cinta Dadang dan Rona. Saat Rona tau anaknya tidak di temukan oleh Dadang, ia bahkan berontak dari kekejaman sang ayah.


Memilih kabur dari rumah, meninggalkan semua kegelimangan harta yang di miliki orang tuanya, hanya demi memburu anak mereka juga ingin bersatu dengan suami pilihannya.


Setelah Rona sudah berhasil meyakinkan ayahnya hanya akan hidup bersama Dadang, ia bahkan mengidap penyakit kista yang ganas. Yang saat itu mengharuskan ia kehilangan rahimnya. Fix, harapan satu-satunya adalah mereka harus mendapatkan kembali anak mereka. Monalisa Hildimar.


Bersambung...


Maaf jika cerita FTVnya sudah mengarah ke Ikan terbang ya.


Mohon bersabar ini ujian readers

__ADS_1


Pliissh percaya sama nyak ini akan happy ending


lope yu all❤️❤️


__ADS_2