OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 177 : KANTOR SUAMI


__ADS_3

Muna sangat paham jika kini statusnya adalah istri seorang pengusaha, pemilik sebuah perusahaan. Walaupun belum besar, segurita perusahaan Mahesa seperti sebelumnya, namun posisi Kevin tetaplah menjadi orang nomor satu di perusahaan tersebut.


Maka, walaupun di tangannya hanyalah box makanan berisi menu makan siang. Muna tetap terlihat tampil elegan dan memukau dalam setelan blezer biru muda dan celana 7/8 memberi kesan sopan yang sangat pas dengan lekuk tubuhnya yang proporsional.


Benar saja, di kantor Kevin tidak ada yang mengenalnya secara baik. Sebab, undangan penikahan lalu hanya banyak tersebar di wilayah ibu kota Jakarta. Sedangkan untuk karyawan di Bandung hampir tak tersebar dan tak tersampaikan secara merata.


Mungkin hanya Belia yang mengenal Muna, sebab secara langsung sebab ia hadir saat acara ulang tahun Muna beberapa minggu yang lalu.


Celakanya, saat Muna masuk ke kantor itu. Muna baru saja mendapat pesan teks dari suaminya. Jika ia mendadak ada meeting di sebuah restoran bersama klien juga di temani Belia tentunya.


Muna ingin mundur, tetapi seorang pria mendekatinya dengan ramah.


"Permisi... Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya ramah pada Muna yang seolah akan pulang.


"Oh... Saya ingin bertemu pemimpin perusahaan ini." Jawab Muna tak kalah ramah dan merasa senang ada yang menghampirinya demikian.


"Sebentar saya cek ya mbak." Ucapnya menghampiri meja resepsionis untuk memastikan keberadaan Kevin.


"Oh... Maaf mbak. Bapak sedang di luar, bertemu dengan klien. Apakah mbak bersedia menunggu? Agar saya sampaikan melalui sekretarisnya, bahwa di sini ada tamu yang menunggu." Pria itu masih berusaha meladeni Muna dengan sopan.


"Apakah saya boleh menunggu? Berapa lama dan di ruangan mana?" Cecar Muna yang merasa penasaran dengan ekspresi pria ini, jika nanti tau bahwa ia adalah ny. Kevin.


"Sebentar..." Ucapnya sedikit menjauh dan terlihat menghubungi seseorang.


Muna masih berdiri mematung patuh dengan permintaan pria yang belum ia ketahui namanya tadi.


"Hallo... Kak Almira. Ijin tolong sampaikan pada bu Belia atau pak Kevin. Di kantor ada wanita yang ingin bertamu. Apakah di suruh tunggu atau pulang saja?" tanya pria itu pada Belia melalui sambungan telepon.


"Suruh tunggu saja, di ruangan saya." Kevin bagai tau jika telepon itu menginfokan jika Muna lah tamu yang di maksud.


Pria itu mengakhiri sambungan telepon dengan anggukan kepala, lalu kembali mendekati Muna.


"Permisi mbak. Bapak bilang silahkan tunggu di ruangannya. Mungkin meeting beliau akan segera selesai."


"Baiklah... Tapi maaf. Boleh saya hanya menunggu di sini?" tanya Muna dengan nada santun.


"Oh... Sebenarnya tidak masalah. Asalkan mbak merasa nyaman."


Muna hanya tersenyum samar, merasa senang di perhatikan dengan baik oleh pria ini.


"Maaf... Boleh tau namamu siapa?" tanya Muna sembari melangkah mencari tempat yang nyaman untuk duduk.


"Gilang mbak. Nama saya Gilang Surenra." Jawabnya cepat masih mengekor kemana Muna mendarat.


"Bekerja di sini di bagian apa?"


"Saya karyawan magang mba. Di bagian sekretaris. Karena itu, saya merasa perlu meladeni tamu pak Kevin."


"Silahkan duduk dan temani saya ngobrol sampai mereka tiba."

__ADS_1


"Maaf tidak sopan mbak. Biar saya berdiri di sini saja. Ijin, mbak mau minum apa, bisa saya bantu pesankan."


"Oh... Nanti saja. Tidak usah repot-repot."


"Hmm. Minimal air mineral ya mbak. Saya ambilkan." Gilang masih saja memperlakukan Muna dengan baik, dan tanpa persetujuan sudah langsung ngacir mengambilkan air untuk Muna.


"Ini silahkan mbak, di nikmati seadanya."


"Berapa lama aturan di perusahaan ini menjadi karyawan magang?" tanya Muna pada Gilang yang masih tampak berdiri di dekat Muna.


"3 bulan mbak."


"Kamu sudah berapa bulan magang?"


"Baru 2 bulan. Tapi bekerja di sini sudah lebih dari setahun."


"Kok bisa?"


"Sebelumnya saya tukang kebun mbak. Sementara menyelesaikan kuliah saya."


"Jurusan apa?"


"Managemen perkantoran mbak."


"Berapa orang karyawan magang seperti kamu?"


"Di bagian Sekretaris kami ada 3 orang mba, satu perempuan namanya Almira yang saya telpon tadi dan dua laki-laki, mas Tio dan Haikal. Tetapi mereka Almira dan Tio sedang ikut bapak dan bu Belia. Jadi Haikal saja yang di ruangannya menyelesaikan tugas sedikit."


"Akan ada tes tertulis, juga tes wawancara langsung oleh pak Kevin dan pemegang saham lainnya. Yang di bidang lain juga masih banyak karyawan magang, sebagian sudah lebih 3 bulan masa magangnya, tapi masih menunggu pak Kevin tidak sibuk. Kata tim HRD." Jelas Gilang bagai guru yang tak lelah memberi informasi.


"Permisi Gilang, bisa tolong antarkan saya ke ruang pimpinan? Sepertinya saya mulai merasa tidak nyaman di sini." Pinta Muna seseungguhnya mulai melihat mobil suaminya mendekat ke arah pintu utama.


Gilang dengan senang hati, mempersilahkan Muna melangkah menuju pintu lift dan menenkankan tombol angka 5 di depannya.


"Terima kasih, sampai jumpa Gilang." Ujar Muna tersenyum manis tetap dengan wajah wanita terhormat.


"Tunggu...!!!" Teriak Kevin yang sudah berlari menuju lift yang belum tertutup sempurna itu.


Kevin masuk bergabung dengan Muna yang sudah berada di dalam.


"Kalian menyusul di lift berikut." Perintah Kevin pada beberapa staf yang mengekor di belakangnya.


"Maaf menunggu lama Mae." Ucap Kevin seadanya, yang kemudian sudah menyambar bibir merah istri yang selalu membuatnya rindu.


Muna mencubit perut sixpack itu pelan, sebagai pertanda minta segera mengakhiri serangan mendadak suami mesumnya.


"Sabar ngape...? Kaya di uber apa aje?" Kekeh Muna sambil merapikan penampilannya yang pasti telah kusut masai oleh Kevin.


"Kangen terus sayang."

__ADS_1


"Hmm..." Dehem Muna.


"Tadi sempet makan ga sih dengan klien yang?"


"Ga... Mana berani aku makan bareng klien kalo istriku sudah di kantor bawakan makan siang lahir batinku."


"Gombal. Ya udah... Makan bereng ya. Muna juga belum makan siang. Nungguin abang."


"Suapin lagi ya Mae."


"Gantian aja... Emang abang doang yang mau di manja?" Ledek Muna sambil membuka box makanan olahnnya sama seperti yang biasa ia lakukam saat menjadi OB serba guna di waktu lalu. Hanya saja, sekarang mereka lebih memilih makan dalam satu box berduap dan tidak canggung lagi sebab itu sudah seperti ritual yang wajib mereka lakukan sebisa mungkin.


Tok


Tok


Ceklek


"Oh maaf mengganggu. Silahkan di lanjutkan." Ucap Belia yang seolah sengaja ingin tau apa yang pimpinannya lakukan bersama tamu yang Gilang maksudkan tadi. Sebab ia memang tidak sempat melihat siapa wanita yang bersama Kevin di dalam lift tadi.


Kevin dan Muna tidak sempat menjawab apa-apa, sebab Belia tiba-tiba masuk dan bagai kilat pun segera keluar. Keduanya saling pandang dan melanjutkan makan siang yang sempat terganggu oleh Belia tadi.


"Sayang... Kapan Belia di ganti posisinya?" tembak Muna saat mereka sudah merampungkan makan siang mereka.


"Secepatnya akan di lakukan tes tertulis dan wawancara bagi pegawai magang."


"Boleh di lakukan saat Muna belum balik ke Belanda?"


"Boleh banget. Atau ibu pemegang saham terbesar di perusahaan ini mau ikut ambil bagian dalam penentuan karyawan tetapnya?"


"Dengan senang hati." Jawab Muna yang tau sejak perusahaan itu di buat, ia memiliki 75% saham atas namanya, sesuai janji Kevin saat mereka pacaran dulu.


"Oke. Lusa Wawancara. Sebab besok baru tes tertulis. Abang hubungi tim HRD dulu." Tegas Kevin yang sudah menjentikkan jarinya untuk menghubungi tim HRD agar segera memepersiapkan segala sesuatunya.


Muna mengitari sekeliling ruangan suaminya, samar senyumnya tersampir saat melihat mushola yang ada di ruangan itu.


"Terima kasih suamiku sayang, sudah benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jangan kendor, apa lagi loyo yaa pap."


"Mengapa kata-kata itu terdengar seolah sindiran terhadap otong ya, Mae?'


"Ciiih ... Otong sensi sekali siih."


Bersambung...


Makasiih komennya semua


Bikin nyak makin cepet ngetik walau di akhir pekan.


Happy Weekend gaiiis❤️

__ADS_1



__ADS_2