
Ibu Gilang tampak sudah menutup matanya setelah diam diam sudut matanya lembab, karena perih mendengar yang di sampaikan anak laki lakinya.
"Bu... ibu sudah tidur?" tanya Gilang samar menghentikan usapan pada punggung ibunya.
Tidak ada jawaban.
"Bu... Gilang ke kamar ya. Selamat tidur ibuku sayang." Kecupnya pada kening yang sudah mulai berkerut di makan usia tersebut.
Hal itu justru membuat dada ibu Gilang makin sesak. Tadi matanya hanya berembun melembab. Tapi saat sudah sendiri di dalam kamarnya, ia menangis sesungukan bersembunyi di balik bantal agar tidak terdengar oleh Gilang.
Bukan tanpa sebab kenapa sikap ibu tiba tiba lebai. Karena saat sebelum acara akad selesai dan setelah akad nikah di gelar. Ibu Gilang sempat berbicara dengan mama Indira.
Flashback On
"Selamat ya bu, kita sudah resmi menjadi besan. Anak ibu sangat beruntung mendapatkan putri saya. Sudah cantik, mandiri, baik hati lagi. Seakan enggan melepaskannya dengan orang yang biasa biasa saja. Tapi gimana ya, anak saya menjatuhkan pilihannya pada anak ibu, jadi sebagai orang tua, kita hanya bisa mendoakan yang terbaik." Ucap mama Indira yang bermaksud untuk saling mengingatkan.
Tapi tidak tau bagaimana dengan tanggapan ibu Gilang. Sepertinya ia menyimpulkan sendiri bahwa kaliman 'orang biasa biasa' itu adalah sindiran bahwa mereka tidak sepadan. Menurut versinya sendiri.
"Oh... iya mama Gita, tugas kita sebagai orang tua tentu wajib mendoakan mereka." Jawabnya waktu itu.
"Denger denger, Gilang sudah punya rumah sendiri ya?" Ujar Indira lagi.
"Alhamdulilah, iya bu." Jawabnya agak sungkan.
"Syukurlah. Nanti saya tanya Gita rumahnya di lengkapi ART atau tidak. Sebab maklumlah bu, anak saya biasa saya perlakukan seperti putri raja. Jadi ga bisa kerja layaknya pelayan, atau ibu rumah tangga. Biasa di layani." Fix, kata kata inilah yang memicu perubahan pikiran ibu Gilang. Salah tanggap dan merasa terhina sendiri. Padahal mungkin maksud Indira agar besannya tidak terkejut jika anaknya memang tidak biasa kerja, kerjaan rumah tangga.
"Wah... maaf bu. Saya juga belum bertanya sejauh itu pada Gilang. Apa sudah menyiapkan ART untuk mereka saat tinggal berdua nanti." Jawab ibu Gilang agak bingung.
"Ga papa, kalo tidak ada. Bisa ambil salah satu ART di rumah ini. Mereka ada empat. Sebab sepertinya, Gita masih betah kerja kantoran. Saya tidak mau anak saya kelelahan." Ujar Indira lagi.
Memiliki anak perempuan yang di serahkan hidup bersama suaminya pun, tetap menghadirkan ketakutan tersendiri bagi para ibu. Dan hal itu tentu sangat wajar. Sehingga walau sudah menikah, sang ibu selalu masih ingin menunjukkan rasa sayang itu pada anak anaknya.
Flashback Off
Gilang beranjak meninggalkan kamar itu, menutup rapat pintu tersebut. Agar ibunya bisa tidur dengan nyenyak. Di tolehnya kepala mengarah pada jam dinding di sisi kanan rumahnya.
Gilang tepok jidat, ternyata sudah hampir setengah dua belas malam.
"Ya ampun, neng Gi udah ketiduran belom yah?" tanyanya sendiri dalam hatinya.
__ADS_1
Ke kamar mandi, untuk lagi membersihkan dirinya, agar istrinya tetap merasa nyaman saat dalam pelukannya nanti.
Gilang masuk dan langsung mengunci pintu, juga mematikan lampu dan menghidupkan lampu tidur memberi kesan temaram pada kamarnya yang tidak besar, juga tanpa penyejuk udara tersebut. Sederhana hanya ada kipas angin yang bergantian bergerak ke kiri dan ke kanan yang tertempel di atas dinding kamarnya, untuk membantu sirkulasi udara di dalamnya.
"Neng... udah tidur?" Gilang naik ke atas ranjang lalu membalik posisi tidur istrinya agar menghadap dia.
"Udah ngunci pintunya?" Suara Gita tiba tiba menguar dalam kamar tersebut.
"Oh... belum tidur. Maaf, lama neng. Sini a'a peluk." Gilang merasa bersalah sebab kelamaan di luar tadi.
"Berapa rumah yang a'a pastikan udah di kunci. Dua jam lebih eneng tunggu ga masuk-masuk." Kesal Gita.
"Maaf, tadi di luar ternyata ada ibu. Jadi a'a temani ngobrol terlebih dahulu. Eh, ternyata agak masuk angin jadi minta di kerok sebentar. Maaf ya neng." Ujar Gilang, lagi lagi bohong.
Gita tidak menjawab.
"Eneng marah?"
"Emang eneng boleh marah?"
"Ya terserah eneng sih. Yang pasti a'a minta maaf, ninggalin eneng demi ibu."
"Kalo eneng dan ibu sama sama lagi sakit. A'a nolongin yang mana duluan?" pancing Gita pada suaminya.
"Misalnya a'... harus di jawab." Paksa Gita.
"Kalo eneng sama ibu sakit, kalian berdua a'a masukan rumah sakit di kamar yang sama. Jadi dua duanya bisa a'a layani."
"Kalo masih di rumah, tetiba pingsan dua duanya gitu, a'a ngapain?"
"A'a keluar rumah aja neng. Panggil teteh atau tetangga supaya dua duanya sama sama bisa di evakuasi." Jawab Gilang sesuai logikanya.
"Jadi A'a ga bisa pilih antara ibu dan eneng?" tanya Gita masih memaksa.
"Kok pake nanya sih. Punya ibu itu, pemberian Tuhan, ga bisa milih mau jadi anak siapa. Sedangkan istri itu adalah pilihan yang sudah melewati beberapa rangkaian seleksi. Dan hati a'a kan udah mentok di eneng. Ga bisa di tawar tawar lagi kadar cintanya." papar Gilang sambil mengelus pucuk kepala istrinya.
"Tapi..."
"Udah... udah. A'a ga mau bahas apa apa lagi. Kalo soal omongan ibu di meja makan tadi. Ga usah di perpanjang. Eneng tau ga, ibu tuh cemburu sama eneng, takut a'a ga sayang lagi sama dia. Karena kulitnya udah keriput. Ya iyalah usia ibu berepa, usia istri a'a berapa. Skin care nya mahal juga, ngandung anti aging semua kan." Canda Gilang yang sudah mulai star ke dua bulatan yang belum puas ia sesap tadi.
__ADS_1
"A'a...."
"Hmmm."
"A'a beneran terima eneng apa adanya?"
"Pake nanya lagi?"
"Eneng ga bisa masak a'...."
"Tenang banyak jualan onlen. Ada bi Inah juga nanti kalo kita tinggal di rumah." Gilang tidak seribet yang mereka bayangkan sebenarnya.
"Tapi kalo kita di rumah ibu. Eneng ga bisa ngapa ngapain. Ntar di cemberutin ibu lagi." bantah Gita inscure.
"Jangan fokus dengan hal yang eneng ga bisa. Buktikan di hal lain yang eneng kuasai, talenta tiap orang itu beda-beda sayang." Kecupnya pada kening Gita.
"Hm..." Dengusnya.
"Tapi eneng bisa apa ya?" Gita memutar otak untuk berpikir akan kelebihannya.
"Kita coba bikin anak aja, kali jagonya eneng di situ." Kekeh Gilang yang tangannya sudah di bagian yang sudah mulai melembab karena ulah jari telunjuk dan jari tengahnya yang melipir di belahan liang surgawi.
'A'a...." rengeknya manja.
"Pengen lagi neng, boleh ya."
"Emang boleh nolak?" goda Gita manja.
"Dosa tau." Bahak Gilang yang memilih duduk untuk melepas semua atribut pengganggu ritual yang akan ia laksanakan yang sempat terjeda tadi.
Di larang sirik, mereka pengantin baru. Masih syukur banyak jeda waktu penyatuan yang haqiqinya. Ketimbang pengantin lawas si Kevin dan Muna. Kita di buat mukbang karena selalu berdurasi panjang, lama dan berkali kali.
Bersambung...
Nyak siih di sini milih tabah aja baca komen yang masih beraroma curhat setelah baca soal ibu Gilang.
Dalam hati nyak senang, semya komen adalah bukti cinta readers ke nyak bukan main main.
Jelas... cerita ini masih sangat di minati dan di tunggu kelanjutannya.
__ADS_1
Beneran... nyak ga bisa berenti nulis part selanjutnya dan selanjutnya.
Makasi semua❤️