
Muna sudah berada di kampus, melahap semua soal-soal ujian walau tidak dengan persiapan yang maksimal.
Matanya tercetak bagai panda, bergaris kehitaman sebab hampir semalaman tidak tidur dengan nyenyak. Menjelang pagi Muna baru dapat benar terlelap, itupun hanya dalam posisi duduk di kursi tepian bed pesakitan.
Muna memilih pasrah dengan hasil nilai ujiannya di semester ini. Seolah tak yakin dengan kemampuannya, akankah dapat mempertahankan nilai-nilai sebelumnya yang hampir tidak ada huruf B. Rata-rata A. Muna anak kuliahan yang sangat cepat mengerti dan cerdas.
Sepulang dari kampus, Muna memilih mampir sebentar ke apartemennya. Mengambil beberapa buku dan pakaian untuk besok. Sebab malam ini ia memilih untuk tidur di rumah sakit kembali, menemani kakek. Sembari menunggu rombongan, paketan lengkap yang pasti akan tiba malam ini di Belanda.
"Kakek belum sadar?" tanya Muna pada pengasuh kakek.
"Sudah nona. Tadi saat nona tinggal ke kampus tuan sudah sadar."
"Alhamdulilah. Apa kakek sudah bisa makan?" penasaran Muna bertanya pada pengasuh kakek.
"Juga sudah nona, tapi masih makan bubur saja sedikit. Lalu memilih tidur lagi." Jawabnya dengan hati-hati
"Iya... Tidak apa-apa. Asalkan sudah bisa makan. Silahkan jika, mbok mau mandi dan beristirahat. Nanti biar Muna yang jaga kakek sambil belajar." Perintah Muna pada pengasuh itu di balas anggukan dan permohonan untuk undur diri.
"Malam tuan... Bagaimana keadaannya malam ini. Sudah lebih baik?" Sapa dokter pada kakek yabg sedang makan di suapi oleh Muna.
"Ya... Baik. Tetapi rasanya masih sedikit lemah." Jawab kakek pelan.
"Perbanyak makan durian saja tuan, agar selera makan meningkat." Goda dokter yang sudab merinci makanan apa saja yang paling banyak di konsumsi kakek, setelah menginterogasi pengasuhnya.
"Ha...ha...ha. Kalian sudah lama tidak bekerja merawatku. Bolehlah sesekali di beri pekerjaan lagi." Jawab kakek tak mau kalah menggoda dokter itu.
"Iiih... Kakek. Kasih kerjaan buat dokternya ga lucu. Muna di buat spot jantung malam itu kek." Protes Muna tak senang.
"Maaf... Dan terima kasih sudah sangat mengkhawatirkan kakek." Ujar kakek mengacak pucuk kepala cucu kesayangannya itu.
"Jangan begitu lagi Kek. Jangan bercanda dengan kesehatan, Muna panik sepanik, paniknya waktu itu."
"Iya... Maafkan kakek." Jawabnya dengan pelan.
"Dokter... Apakah saya sudah bisa pulang kerumah. Saya di rawat di kamar pribadi saya saja. Saya tidak betah di sini." Pinta kakek pada dokter.
"Siap. Kita tunggu cairan infus itu habis ya tuan. Lalu kita lanjutkan di rumah. Dan sementara tuan, pakai kursi roda dulu, efek ngantuk bisa saja membuat tuan lemas dan limbung." Terang dokter pada kakek.
Muna masih tak terpisahkan dengan kakek. Saat mobil mereka meluncur menuju istana kakek, Muna masih terlihat menempel dengan tubuh renta itu.
__ADS_1
"Muna... Maafkan kakek kemarin membuatmu panik. Kakek janji tidak akan melanggar semua pantangan yang nantinya akan membuat kakek tumbang lagi." Ujar kakek meyakinkan Muna, seolah tau, Muna masih agak kesal dengan penyakit yang menyerang kakek.
"Sudahlah Kek. Yang penting sekarang kakek sudah sehat dan cepat pulih." Jawab Muna.
"Kakek mestinya kemarin telah waktunya untuk berpulang. Sinar terang dalam mimpi kakek bahkan terbuka lebar, melambai ingin menarik tubuh kakek masuk kesana. Suara itu jelas, memanggil bahkan mengajak kakek pulang. Tapi... Kakek sudah memohon, mengiba, meminta perpanjangan waktu. Untuk di ijinkan melihat satu saja, cicit kakek terlebih dahulu. Berjanjilah pada kakek, untuk menyambung nama Hildimar untuk anak kalian kelak, cu." Pinta kakek dengan serius.
"Kakek... Muna tidak suka dengan topik pembicaraan ini. Berusahalah selalu sehat, jangan hanya meminta satu cicit tapi sebanyak-banyaknya kek."
"Itulah cikal bakal kehancuran cu. Keserakahan, ketamakan dan tak pernah merasa puas. Jadilah pribadi yang tepat akan janji. Jangan pernah ingkar dengan janji yang di ucapkan sendiri. Jika, kita meminta satu saja, maka terima saja sesuai permintaan kita. Jika dalam penantian itu justru di berikan lebih, maka itulah buah kesabaran yang Tuhan perhitungkan layak menjadi milik kita. Jaga semua dengan sungguh." Nasihat kakek pada Muna.
"Kakek pernah menjadi serakah, tamak juga tidak adil. Kakek bengis, kejam bahkan kamu adalah korbannya. Namun, bahkan kakek telah bernazar akan meyerahkan semua kekayaan kakek pada panti asuhan yang sudah kakek bicarakan pada notaris. Kecuali Hildimar Hospital yang telah menjadi milikmu dan perusahaan yang di jalankan mamamu. Saat kakek tidak lagi di dunia, maka kekayaan kakek pun lenyap menjadi milik orang-orang yang layak mendapatkannya. Sebab, dapat bertemu denganmu, mendapat maaf darimu adalah satu permintaan yang kakek pohonkan selama ini."
"Subhanallah." Jawab Muna memeluk tubuh renta kakek yang memang patut di salahkan akan kisah hidup Muna yang berliku.
"Tidurlah di kamarmu. Malam ini, kakek akan tidur dengan nyenyak di kamar kakek sendiri. Maaf, gara-gara kakek. Persiapan ujianmu tentu kacau." Usir kakek dengan halus pada Muna.
"Yakin... Kakek benar baik-baik saja malam ini?"
"Tenang saja, tak lama lagi mama mu sebentar lagi juga akan tiba di sini." Jawab kakek pasti.
"Baiklah... Muna ke kamar ya Kek. Obat kakek sudah di minum?" tanya Muna kembali memastikan kondisi kakek.
"Iya... Assalamualikum kakek."
"Walaikumsallam." Jawab kakek sembari mengatur posisi letak tidurnya agar lebih nyaman.
Muna sudah masuk ke kamarnya yang ada di lantai 3 di istana kekek Hildimar. Memandang buku pelajarannya denga rasa bosan tiada tara. Mengutak-atik ponsel yang hampir seharian ini tak ia perhatikan dengan seksama.
Kemudian memilih merendam tubuhnya saja dalam bathup, walau penunjuk waktu telah mengarah ke angka 8 malam. Muna butuh rileksasi, setelah kejadian mengejutkan dari kakek, sambil menghadapi ujian yang tersisa besok dan lusa.
30 menit waktu yang Muna tentukan sendiri keluar dari rendaman wewangian bunga segar dalam kamar mandinya. Berwudhu, menggelar sajadah dan memasang mukena untuk melaksanakan sholat isya yang sudah terlewat.
Tanpa di minta, sepertinya saat Muna mandi ada pelayan yang masuk ke kamarnya. Untuk meletakan segelas susu dan beberapa sajian yang layak untuknya makan malam.
Muna memilih roti saja, untuk mengganjal perutnya, sembari tenggelam dengan buku-buku pelajarannya. Di atas sebuah karpet tebal dengan beberapa buku penunjang belajarnya.
Namun, bukan fokus membaca yang Muna lalukan, efek relaksasi saat mandi tadi, juga roti yang ia masukan pada lambungnya, justru membuat kantuknya melanda. Jadilah Muna bagai terapung-apung di antara hamparan buku-bukunya, persertan dengan soal ujian besok hari. Baginya merapatkan kelopak matanya adalah hal ternyaman yang ingin ia lakukan sekarang.
Sinar matahari menyusup masuk di antara celah tirai jendela kamarnya. Ada sebongkah rasa nyaman di rasakannya saat dapat tidur terlelap semalam.
__ADS_1
Muna mengerjabkan kedua matanya pelan sembari mengumpulkan nyawanya yang terberai, kocar kacir di alam bawah sadarnya. Ia menyipitkan matanya, mengintip kecil, samar melihat lantai dengan buku yang berserakan tempatnya terdampar dengan damai semalam.
"Abaaaaang....!!!" Muna terbelalak, baru sadar jika kini sudah berada di atas kasur empuk bersama suaminya.
"Iish... Toa. Apaan siih?" hardik Kevin yang semakin mengeratkan pelukannya di atas perut istrinya.
"Abang kapan datang...?' tanyanya lebih lembut dan memiringkan tububnya ke arah Kevin.
"Tahun lalu yang." Jawab Kevin malas-malasan.
"Iih... Sayang. Serius nanya."
"Ya tadi malam lah. Untung kakek punya kunci serep. Kalo ga, abang bakalan balik lagi ke Indonesia." Rutu Kevin yang sedikit kecewa, sebab tidak ada penyambutan istimewa dari istrinya.
"Maaf... Muna ngantuk banget yang."
"Tau... Sampai ga bangun waktu abang pindahin ke kasur."
"Maaf suamiku sayang. Kemarin... Muna full jaga kakek. Jadi, tidurnya kayak balas dendam gitu."
"Hmm..." Dehem Kevin malas-malasan sambil terus mengendus leher putih istrinya.
"Tapi... Abang ga apa-apain Muna kan." Polos Muna sambil memastikan kancing baju, atau apapun tanda-tanda adanya penyerangan sepihak dari Kevin.
"Ooh... Mau di apa-apain." Serang Kevin yang langsung memposisikan tubunya di atas Muna.
"Sabar... Sabar yang. Istri anda anak kuliahan. 30 menit lagi, masuk ujian. Babaaaay." Dorong Muna pada tubuh yang sudah sukses mengungkungnya tadi. Dan berlari menghambur ke kamar mandi.
Kevin hanya bisa melongo takjub, lagi lagi ia harus parkir bebas, justru saat lahan sudah pasti bisa di garap.
"Tunggu pembalasan si pitung. Malam ini tidak akan ada kata ampun bagimu." Serigai Kevin di dalam hatinya dengan malas beranjak turun dari tempat tidur yang mendadak terasa dingin itu.
Telat.
Muna kesiangan dan hampir telat, bahkan tak sempat belajar semalam.
Bersambung...
Echeeem... readers apa kabar?
__ADS_1
Ciee... ciie yang ga sabaran tunggu unboxing😍