
Resepsi sudah berlalu. Jangan tanya mereka ngapain di malam pengantin. Sebab keduanya hanya menghabiskan malam lelah mereka dengan tidur berpelukan saja hingga pagi menjelang.
Pengantin baru mana tidak merasa berat saat baru kemarin ijab qobul, hari ini sudah harus saling berpisah lagi. Ngenes ga siih? Siapa suruh mendadak nikah.
Muna tidak berani meminta dengan gamblang, dengan kata lain tidak berani memaksa agar Kevin ikut serta menemainya ke Belanda.
Muna galau, di satu sisi ia tentu tak ingin pisah lagi. Namun mengingat sulitnya beban UAS yang akan ia hadapi tentu saja ia yakin tidak akan bisa maksimal melayani suaminya nanti. Walaupun belum tentu seribet yang Muna pikirkan, sebenarnya.
Belum lagi, kondisi fisiknya belum bisa di gerayangi karena keadaan alami. Dengan berat hati, Muna menyetujui saja saat Kevin pun terlihat tidak antusias untuk mengikutinya ke Belanda. Entah apa yang ada dalan pikiran Kevin sesungguhnya.
"Lu yakin Tong, kagak ngikut ke Belanda? kalian pengantin baru loo." tanya babe pada Kevin yang terlihat hanya ikut mengantar sampai di area lepas landas yang berada di menara rumah kediaman kekek Hildimar di Jakarta Selatan.
"Insya Allah yakin be." Jawab Kevin sedikit sendu.
"Haah... taruhan dah. 3 hari, babe pastiin elu bakalan nyusul si Muna dah." Tantang babe pada Kevin.
"Anak babe masih ujian be, kalo 3 hari. Lagian entar juga Muna bakalan pulang liburan semester. Masa 2 tahun Kevin sanggup nunggu, tiba di minta sabar seminggu lagi, ga sanggup." Kilah Kevin meyakinkan diri sendiri.
"Ya ... pan sekarang beda Tong, elu dah jadi lakinye Muna." Babe tetap saja nyinyir, sesungguhnya sedikit kecewa melihat tingkah Kevin yang di mata babe ga ada takutnya jika harus berpisah lagi dengan anak gadisnya.
"Kevin mau nyelesaikan pekerjaan sebentar be. Kayaknya setelah itu Kevin bakalan cuti lama deh."
"Cuti apaan?" cecar babe penasaran
"Cuti menghamili anak babe." Bisik Kevin mengundang tawa babe, gemesh.
"Emangnye ada gitu cuti begituan, yang ade-ade aje lu Tong, Tong." jawab babe di sela tawa senangnya.
"Ya di ada adin lah be." jawab Kevin yang kemudian memeluk tubuh Mun tanpa ragu dan malu walau semua orang masih berada di antara mereka.
"Pulangnya sabtu aja sayang. Kalo sabtu abang ikut. Abang masih ada meeting besok," bisik Kevin yang ternyata belum rela untuk berpisah dengan jantung hatinya itu.
"Waktunya mepet yang kalo Muna pulang sabtu. Senin UAS sayang. Ga ada persiapan ini." Jawab Muna masih bernegosiasi.
"Nanti abang bantu belajarnya." Kevin kembali mengoyahkan keinginan Muna untuk pergi tanpa suami.
__ADS_1
"Kagak percaya. Muna kagak yakin bisa fokus kalo ada abang di samping Muna." Ujar Muna sambil menepuk halus tangan kekar suaminya tersebut.
"Heey.. sama suami sendiri su'udzon aja niih bocah." Kekeh Kevin meledek Muna.
"Emang kalo sabtu, kerjaan abang udah bisa di tinggal?"
"Bisa. Meetingnya cuma besok sayang. Oke... yang. Tunda ya Pliiis." Rayu Kevin yang masih gelonjotan bernegosiasi sembari menunggu kakek tiba di area itu untuk segera pulang ke negrinya.
"Abang... staf atau CEO sih, masa kerjaan ga bisa di wakilkan." Greget Muna pada Kevin seolah iapun menginginkn Kevin mengalah lagi untuknya, ga jelas.
"Jadi ceritanya abang di paksa ikut niih...?" canda Kevin yang masih tidak melepas peluknnya yang melingkar erat pada pinggul Muna dari belakang tubuh istrinya.
"Kagak maksa juga sih. Ya terserah abang aja. Aslinya ... Muna nyeri nyeri sedap ntar kalo ada abang di dekat Muna." Jujur Muna pada Kevin.
"Nyeri nyeri sedap. Kaya udah tau rasanya saja. Bilang aja dah mau kenalan sama si Otong." Kekeh Kevin segera melepas pelukannya, saat kakek sudah di dekat mereka.
"Kevin... Tidak ikut?" tanya Kakek serius.
"Kevin akan menyusul kek." Jawab Kevin tegas.
"Yakin kek. Setelah Muna selesai ujian saja Kevin sekalian jemput dia pulang ke sini lagi."
"Huum... Baiklah. Kakek tunggu kedatanganmu ya. Ingat... Statusmu sudah berubah menjadi suami cucuku. Jaga sikap dan tetap setia pada cucu kakek satu-satunya ini." Pesan kakek pada Kevin.
"Siap. Insya Allah Kek. Titip istri Kevin juga ya kek. Takut lupa, kalo sudah bersuami." Canda Kevin sambil mencubit dagu istrinya gemesh.
"Pasti, tentu saja kakek bantu kamu dalam urusan itu. Baiklah... Kami pergi dulu." Pamit Kakek sembari melangkah menuju tangga helikopternya.
"Abang, Muna pergi dulu ya. Sayangku jangan nakal. Assalamulaikum." Pamit Muna mencium punggung tangan suaminya penuh takzim.
"Walaikumsallam. Hati-hati istriku sayang. Abang pasti merindukanmu banyak-banyak." Ucap Kevin mengecup bibir Muna sekejap.
"Udeeeh... Ikut pergi aje ngape Pin." Umpat nyak Time yang geregetan (kayak readers juga) karena Kevin tak ikut serta bahkan memilih bersabar lagi sampai ujian kelar.
"Entar Kevin nyusul nyak. Tunggu lapangan kering, dan tidak becek." Jawab Kevin penuh tawa, yang sempat di dengar oleh Muna. Membuatnya hanya tersenyum cengegesan kemudian buru-buru menaiki tangga helikopter di depannya.
__ADS_1
"Hari hujan jalannya becek,
Pukul paku ya tentu pake palu.
Lapangan masih becek,
Haha...haha kasian deh lu."
Ledek babe pada Kevin, saat Muna kini telah benar masuk ke pintu helikopter yang akan membawanya ke Belanda kembali.
Kevin tidak sanggup berkata-kata, apalagi membalas pantun dadakan yang memojokkan dirinya. Halllaah bubrah. Kevin memilih masuk dan menyiapkan dirinya segera pulang ke Bandung. Kembali menjadi bujang lokal, berstatus sudah menikah namun tanpa istri di sisi.
Hati suami mana tidak gusar, bahkan sehari setelah menikah sudah harus berpisah. Persiapan pernikahan spektakuler secara dadakan kemarin tentu saja banyak menyita waktu dan tenaganya.
Jika ia akan kembali bertolak ke Belanda bersama Muna, apa jadinya perusahannya tersebut. Besok pun, ia kedatangan tamu, koleganya yang bertugas untuk mengawas kinerja perusahaannya, sekaligus penentuan, apakah kerja sama mereka layak untuk di lanjutkan atau tidak.
Sebut saja Kevin dan Muna sama-sama egois. Yang satu membela diri akan ujian akhir semesternya, dan yang satu lagi menyatakan tak dapat meninggalkan pekerjaannya. Lalu pemirsa bisa apa? Saat yang bersangkutan pun tak merasa saling keberatan, juga tidak ada acara ngambek-ngambekan. Jadi... Kita akur saja, memisahkan pengantin baru tersebut untuk sementara.
Di dalam Light Jets yang sudah terbang menabrak awan, sesungguhnya Muna mengakui ada rindu yang belum sepenuhnya padam pada seorang Kevin. Yang saat ia datang masih berstatus kekasih, dan ketika pulang sudah menjadi suami.
Bagi Muna, semua yang terjadi bagai mimpi. Kejadian itu, tak dapat terelakkan lagi. Ingin menunda kembali, tetapi jujur ia pun telah cinta mati pada Kevin Sebastian Mahesa.
Muna mengaku telah melanggar janjinya sendiri. Yang ingin menjadi sarjana sebelum menikah. Tetapi, ia yakin kesempatan menjadi istri Kevin tidak akan datang untuk ke tiga kalinya, ia sudah pernah menunda di dua tahun yang lalu, masa ia harus meminta penundaan lagi, saat usia sang suami pun semakin beranjak tua.
Ah... Muna.
Serasa nelangsa memandang gumpalan awan dari balik kaca pesawat kecil yang akan membawanya menjauh dari tanah kelahirannya Indonesia. Seakan baru tersadar jika kini, ia telah pergi tanpa suami di sisi. Membalik arah tubuhnya, membelakangi jendela, berharap kantuk segera datang, agar mempercepat waktu mengantarnya ke negeri kincir, tempat yang telah ia pilih untuk mencapai cita, yang tak sempurna ia raih.
Bersambung...
Sabar ya readers
Menyan buat nyak otor selalu kurang nih😩
Masih selalu ngarep di timpuk sayang oleh reader tertjintah❤️❤️😂👍🙏
__ADS_1