OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 67 : MENEBUS WAKTU


__ADS_3

Oleh-oleh yang Kevin bawakan tentu sudah ia berikan pada nyak dan babe yang tentu saja di terima dengan senang hati oleh keduanya.


Kevin sudah mengantongi ijin dari babe Rojak untuk mengajak Muna pergi, yang katanya akan di ajak bertemu dengan mama Leina. Walaupun Muna sudah pernah kenal dan bertemu saat bersama dengan Prety malam minggu kemaren.


Mobil sport mewah itu sudah melaju di atas jalan beraspal, menembus jalan ibukota di hari minggu yang lumayan lenggang saat itu.


"Rumah tante Leina kagak jauh dari apartemen abang?" tanya Muna saat ia sadari kendaraan roda empat yang di kemudiakan oleh Kevin itu sudah memasuki area apartemennya.


"Tidaklah Mae. Ini kita ke apartemenku sebentar."


"Ngapain kite ke apartemen abang...?"


"Lanjutin yang di kamar tadi. Abang masih kangen Mae." Jawab Kevin sambil melepas sabuk pengaman yang melintang di dadanya, untuk siap turun keluar dari mobilnya.


Muna melotot ke arah Kevin.


"Ayo Mae masuk dulu."


"Ogah... Muna takut."


"Bentar doang."


"Jangan mesum ye bang."


"Tidak... beneran." Kevin sudah berdiri membukakan pintu dan mengulurkan tangannya untuk menuntun Muna agar segera keluar mengikutinya.


Muna ogah-ogahan mengikuti Kevin yang memang tidak mungkin bisa di bantah. Tangan Muna tidak lepas dari pegangan tangan Kevin yang begitu posesif. Belum lagi sisi hati Muna yang lain bagai mendapat bisikan setan untuk mengikuti saja keinginan Kevin untuk masuk ke apartemen yang dulu sering ia masuki terasa biasa, namun entah dengan hari ini Muna merasa sedikit takut, untuk berdua-duaan dengan Kevin dalam waktu lama di sana.


Sesampai di apartemennya. Kevin langsung memeluk tubuh Muna lama. Sesekali menghirup aroma khas dari ceruk leher gadis kecil yang selalu berhasil mengalihkan dunianya.


"Baaang..."


"Bentar, gini dulu."


"Ingat pesan babe..."


"Iya..abang meluk doang Mae. Dua minggu lho, kangen abang numpuk banget." Jawabnya terdengar jujur masih dengan meletakan kepalanya dengan manja di pundak Muna.


Muna terdiam mematung. Kemudian memberanikan tangannya bergerak menepuk pelan punggung lelaki yang juga sangat ia rindukan itu.


Kevin dengan sendirinya melepas pelukan itu, merenggang dan menarik tangan Muna menuju sofa di tengah ruangan apartemennya tersebut.


"Mae... kalo lagi ga da kerjaan. Muna ngapain?" tanyanya dengan lembut, tanpa mengubah sedikitpun tatapannya dari wakah cantik Muna.


"Baca novel."


"Suka...?"


Muna mengangguk.


"Ada bawa ga?"


"Ini bacanya pake hape bang."

__ADS_1


Muna menunjukkan aplikasi dalam ponsel tersebut.


"Oh ... Biasanya lama ga kalo lagi baca...?"


"Lumayan... kalo emang ga ada kerjaan bisa sampe 2 jam."


"Woow, lama juga ya. Oke, duduk. Dan Mae, baca novel kesukaan Mae yang sekira buat Mae lupa waktu."


"Ngapa...?"


"Abang ngantuk, penerbangan abang pagi sekali tadi, buru-buru ke rumah Mae. Malah dapat guyuran calon mertua. Sorean ya kita ke mama Leina." Terang Kevin pada Muna yang masih belum mengerti dengan yang Kevin maksudkan.


"Terus...?"


"Permisi, pinjam pahanya buat bantal abang ya. Buat bantal doang, abang janji ga ngapa-ngapain Mae." Ucapnya mengangkat kedua jarinya, menunjukan tanda sumpah di hadapan Muna.


Muna hanya diam mendengar permintaan Kevin yang terdengar sungguh-sungguh.


"Boleh Mae...?" tanya Kevin memelas.


Muna mengangguk kecil, mengijinkan kepala Kevin untuk tidur beralasakan pangkuannya.


Kevin segera meluruskan kakinya dan meletakan kepalanya di atas pangkuan Muna.


Muna sebenarnya risih saat mata Kevin masih terjaga, memandang wajahnya dengan intens. Membuka aplikasi novel pun tidak fokus. Muna salah tingkah, takut dan sebagainya. Di perhadapkan dengan lelaki yang memang sulit ia terka apa maunya.


Kevin tersenyum melihat wajah resah Muna. Ia paham dengan yang Muna khawatirkan.


"Mae... terima kasih pahanya. Abang cuma mau menebus waktu yang lama hilang untuk dekat dan memandang wajah cantik kekasih hatiku."


Lama Muna memandangi wajah lelah pria yang ia ijinkan meminjam pahanya untuk jadi bantal kepalanya tadi. Muna mengakui..., walau Kevin adalah pria mesum menurutnya. Tetapi sejauh ini, ia memang tidak pernah bertindak brutal terhadap Muna bahkan cendrung sopan memperlakukannya. Sedikit demi sedikit bayangan mesum, cap arogan dan dingin yang pernah di di berikan untuk seorang Kevin, terkikis musnah oleh sikap yang ia tunjukan pada Muna, yang terlihat memang tidak di buat-buat.


Mungkin Kevin sungguh-sungguh ingin menjadi pelindung yang tidak ingin merusak Muna sebelum waktunya. Sehingga, akhirnya benar saja kini Muna tampak nyaman membaca novel dengan perasaan tenang dan tidak was-was lagi seperti tadi.


Entah Muna kurang tidur atau lelah apa. Sehingga ponsel yang ia gunakan membaca tadi tampak tergeletak di sofa dengan tangan yang terkulai, karena ia pun tertidur di sana.


Kevin tersadar dan bangun lebih dahulu dari Muna. Ia membalik tubuhnya, dalam posisi tengkurap. Menopang dagunya dengan kedua telapak tangan terbuka dengan siku sebagai porosnya.


Lama Kevin memandangi tiap inci, pahatan sang pencipta yang bagi Kevin sangatlah sempurna di matanya. Sesekali merapikan anak rambut yang jatuh berderai di area wajah Muna. Menyusuri tiap lekuk wajah itu, menggunakan telunjuknya dengan pelan. Mulai dari dahi, turun ke hidung, bibir dan berhenti di dagu gadis yang masih asyik tertidur dalam posisi duduk di depannya.


Pelan-pelan Kevin beranjak bangun duduk merapatkan tubuhnya, mencuri ciuaman di kening mulus itu, membuat sang pemilik membuka mata dan terbangun.


"Abaaang...?"


"Eh... sudah ba dingun calon bini abang."


"Muna ketiduran juga ye bang. Abang kagak ngapa-ngapain Muna kan?"


"Memang mau di apain siih...?"


"Ya kali abang mau ca..."


"Stt... jangan di biasain curiga terus sama abang." Kevin buru-buru memotong kata-kata Muna dengan meletakan telunjuknya pada bibir kekasihnya itu.

__ADS_1


"Maaaaf... masih trauma."


"Abang bilangin ya Mae. Kalo sampe abang gituin Mae, saat Mae tidur. Yang rugi itu bukan abang..., "


"Mang sape...?"


"Ya Mae lah. Sebab itu tuh, rasanya amaziiing banget. Rugi kalo cuma di nikmati sendiri Mae."


"Haalllaaah abang modus aje."


"Ga percaya...? Mau bukti?" Kevin sudah meletakkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Muna, dan satu tangannya lagi di tengkuk Muna. Seolah posisi itu siap menggendong gadis kecilnya tersebut.


Plookh


Plokh


Tangan Kevin sukses mendapatkan pukulan dari Muna.


"Mo ngapaiiin...??" geregetan Muna dengan mata melotot.


"Mau abang angkut ke kamar abang. Yaah... kali Mae sudah bosan sama janji, jadi sekarang aja di kasih bukti." Kilah Kevin cerdas.


"eM Oo De Uu eS...!!!"


"Biariin." Jawab Kevin terkekeh.


"Mae... ci**-k bibir ya??" ijin Kevin.


"Kagaak."


"Katanya asal permisi boleh...?"


"Ya ga di bibir juga."


Cup


Kevin sudah tidak tahan mendengar negosiasinya dengan Muna, bibir Kevin sudah ketemu aja dengan bibir Muna, mirip pesawat yang mendarat darurat, sekejap. Basah.


"Tu kaaan."


"Itu cuma nyicip sayang..., bukan nyip0_k."


"Banyak alasan. Udaah yuuk pulang atau ke rumah tante Leina niih? Hawa-hawa ruangan ini udah banyak setan mesum penggoda iman deh." Ujar Muna yang sudah tampak berdiri sambil merapikan pakaiannya.


Bersambung...


Gimana reader...


Pacarannya ke gitu-gitu aje boleh pan...?


Nyak usahaiin akan terus jaga gawang pertahanan, sampai ude waktunya halal.


Setuju pan...😘😘😘

__ADS_1


Lopeh-lopeh buat semua


β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ™πŸ™πŸ™πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2