OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 215 : SATU SELIMUT


__ADS_3

Kevin dan Muna telah tiba di apartemennya. Melihat pemandangan rumah yang sunyi dan sepi. Sebab pemghuninya sudah tampak tertidur lelap.


Sepertinya, Gilang dan Gita tidak ingin memilih satupun dari 3 kamar yang ada. Sehingga berinisiatif memindahkan 1 kasur ke ruang tengah. Jadilah, ketiganya tertidur, dengan posisi Aydan di antara mereka.


Muna dan Kevin saling melempar pandangan. Melihat begitu besar tanggung jawab yang Gilang dan Gita lakukan dalam urusan menjaga anak mereka.


Selesai berganti pakaian tidur. Muna mengendap-ngendap menculik anaknya sendiri, memberi susu tanpa di minta agar tidur Aydan berlanjut dengan nyenyak. Dan bonus part tentu sudah di tagih oleh Kevin.


"Janji adalah utang Mae. Utang harus di bayar."


" Kok capenya baru terasa ya, pap. Di tunda boleh ya.... sayang."


"Hhaaaaalllaaah bohong. Dah, abang ambil sendiri aja, ga usah repot-repot menyajikannya." Kekeh Kevin meloloskan celana piayama Muna.


"Prasmanan pap??" goda Muna absurd.


"Ga abang bungkus baru tau nih." Tukas Kevin so' mengancam.


"Ooh... tolong. Jangan, jangan bang. Jangan, udaah iya...iya. Muna aja yang sajikan, ntar bocor, brabee aye bang." Muna langsung meloncat memposisikan dirinya bersiap ke arah sofa, untuk menghindar ganguan, gempa bumi kecil-kecilan, agar urusan pemersatu bangsa terjadi dengan damai sentausa.


Sementara di luar, suhu AC makin dingin, Duo G tampak semakin dekat tak berjarak, sebab bayi yang tadi sebagai penghalang sudah raib, tak lagi ada di tengah mereka.


Muna sempat menutup tubuh Gita dengan selimut, sebelum benar masuk dan mengunci kamar mereka. Sengaja membiarkan keduanya terlelap dalam mimpi yang berbeda namun di atas kasur yang sama.


Selesai mendapatkan bonus part, mendadak Kevin di landa rasa lapar yang lumayan hebat. Penunjuk waktu mengarah pada angka 3 dini hari. Ia pun keluar kamar, lalu masuk kembali untuk mengambil ponselnya.


Kemudian mengambil gambar, saat posisi Gilang dan Gita sedang tidur bersama dalam satu selimut, Gita membelakangi sedangkan Gilang memeluknya dari belakang, seolah itu adalah gulingnya.


Kevin hanya tersenyum nakal, memanaskan makanan sebentar lalu menikmati kudapan itu sendiri. Sambil terus menatap adik tirinya tidur bersama asprinya, di ruang tengah.


Sampai menyelesaikan sarapan nya yang ke malaman itu pun, ia tidak berniat membangunkan mereka, sehingga cukup memandang kedua insan itu dengan matanya. Tanpa doa, tanpa cita-cita dan tanpa curiga terhadap keduanya.


Kumandang adzan sudah bertalu-talu, Gilang dan Gita sama-sama terperanjat. Terbangun dengan tubuh yang berada dalam selimut bersama, dengan jarak yang tak terpisah se-inchipun.


"AGiiii."


"NengGi..."


"Agi ngapain peluk eneng?"


"Agi kira guling, neng maaf." Gilang segera duduk membuat jarak.


"Agi meluk doangkan... ga ngapa-ngapain eneng?"


"Emang mau di apain sih? Ay... Aydan mana neng?" tanya Gilang pada Gita.


Gita meloncat bangun dan mencoba membuka kamar Muna dan Kevin. Lalu berlari melihat sepatu atau sandal dan apa saja, sebagai petunjuk jika Kevin dan Muna benar sudah di apartement itu.


"Kayaknya Ay sudah dengan pak Kevin dan ibu, A'." Jawab Gita mencoba tenang.

__ADS_1


"Ya sudah. Buruan balikin kasur ini saja. Biar jejak kita tidak tercium pak bos."


"Jejak apaan?"


"Tuh... akhirnya kita beneran bobo bareng ya neng."


"Niat banget ya A...?"


"Ga juga... takdir kali." Kekeh Gilang.


"A... a'a ga ngapa-ngapain Gita kan?"


"Ya Allah Neng. Istigfar. Tuh kancing baju aja masih bederet rapi, jejeran kayak anak SD mau masuk kelas. Curiga banget sih sama a'a. Dosa tau gituan sebelum nikah."


"Ya kali, neng ga sadar gitu."


"Kalo ga salah, gituan tuh bakalan heboh deh neng. Jadi ga mungkin sampe ga tau. Tapi liat bulan depan deh, kalo neng hamil. A'a tanggung jawab deh." Tawa Gilang mengolok-olok.


"Mang bisa bikin hamil dengan pakaian lengkap gini."


"Neng ribet ya. Udah di bilang kita tidur bareng doang. Neng sendiri bilang. Tidur bareng itu ga papa, asal jangan satunya tidur, satunya bangun, lupa?"


"Huumm... iya juga ya. Oke lah."


"Neng..., Agi minta rela ya. Maaf udah meluk eneng. Sumpah empuk neng, semoga iler a'a teh ga nempel di rambut eneng."


"A'a... iih. Keramas... keramas deh pagi ini."


"Huaaaa... a'a. Dah keluar sana." Gita melempar bantal ke wajah Gilang yang keluar masih dengan tawa jahilnya. Beranjak masuk ke kamar lalu menunaikan sholat subuhnya.


"Ya Allah... apa neng Gita jodoh Gilang? Hati Gilang rusuh ya Allah saat dekat dia. Apa itu cinta? Allah, tolong hamba ampun, bukan ingin mengatur, hanya meminta jika boleh. Buat jauh-jauh saja Gita, kalo bukan untuk Gilang. Deket dia aja hati Gilang mau lepas, apalagi besok kalo dia kecewain Gilang, kuatkan hamba ya Allah, tolong." Pinta Gilang absurd.


Muna memang cekatan, sudah terbiasa bangun pagi dan memasak bubur untuk Ay juga menyiapkan sarapan untuk mereka. Terlebih-lebih mereka hari ini akan kembali ke Indonesia. Tentu saja, persiapan Muna lebih lengkap dari biasanya.


Kevin pagi itu lebih banyak bersama Aydan, benar-benar menjalin ke hubungan yang baik sejak dini dengan anaknya.


Mengetuk pintu kamar Gita bersama Aydan.


"Git... ga malu jam segini belum keluar kamar. Bantu nyuci sayur kek di dapur. Tuh, kaka ipar loe aslinya direktur rumah sakit. Istri CEO juga, masih sempet pulang ke dapur. Jodoh loe jauh ntar kalo pemalas." Hardik Kevin dengan suara yang di tahannya agar tidak terdengar sampai keluar.


"Iya... tadi Gita sempat masak nasi kok. Tapi ketiduran lagi."


"Itu ga masak namanya, tapi ngigo. Dah... buruan bangun." Ujar Kevin lagi.


"Iya....iya. Maaf kak." Jawabnya beringsut mencuci muka.


Ternyata Gilang tidak ada di dalam. Ia sudah keluar mengantar tas yang sudah Kevin letakan di depan kamarnya. Tanpa di perintah, Gilang paham itu artinya harus segera di bereskan.


"Ada yang bisa Gilang bantu bu?" tanya Gilang sopan mendekati Muna yang sedang beraksi di dapur.

__ADS_1


"Ga ada sih Lang. Itu nasi udah mateng pas ibu bangun. Siapa yang masak?" tanya Muna pada Gilang.


"Bukan Gilang."


"Oh... mungkin..."


"Gita... yang masak nasi. Sementara baru nasi yang bisa Gita masak. Kalo lauknya, takut ga cocok selera." Jawab Gita yang sudah bergabung dengan Gilang dan Muna di dapur.


"Oh.... terima kasih Gita."


"Lang... tadi mau bantu?"


"Iya bu."


"Buang sampah deh. Takut ARTnya lama baru datang. Banyak sampah basah tuh. Tolong ya..."


"Baik siap bu."


"Pa... boleh bawa Aydan keluar. Temenin Gilang buang sampah." Pinta Gita pada Kevin.


"Keren juga modus kalian, mau jalan-jalan pakai acara bawa Aydan. Niih. Jaga baik-baik, hati-hati ya."


"Iyaa... sini Ay ikut anuty." Girang Gita menyambut Aydan, kemudian merekapun berjalan keluar ruangan itu.


"Berduaan niih Mae... ngamar yuks."


"Abaaang iih. Pagi-pagi dah mesum. Semalam udah sampe jam berapa?"


"Bentar aja... janji."


"Ga."


"Main cepet deh." gendongnya pada tubuh yang memang sudah beres menyiapkan sarapan pagi mereka.


"Bang... bau bawang ini."


"Bodo."


"Abang... urus Ay nanti di jalan. Muna pengsan."


"Iya bawel. Kita belum pernah main di tempat tidur Mae, di sofa melulu."


"Helm bang."


"Ga... ntar abang cabut."


"Awas bohong."


Udah ya... udah. Ga usah author bimbing travelnya. Silahkan nge-halu sendiri. Kalo hamil nyak ga mau tanggung jawab.

__ADS_1


Bersambung...


Suka jika kalian senang readers.


__ADS_2