
Gita geli sendiri mendengar perintah suaminya yang jarang jarang menggunakan nada sekasar tadi. Jika ia tidak salah seperti menggunakan tanda seru deh, tidak boleh di bantah.
Di luar matahari masih nyala ya, baru on the way saja condong ke arah sebelah barat, sebab masih hampir pukul 4 sore. Jika mau tidur sore pun, mungkin masih sempat barang satu jam.
Tapi sesuai perintah pak suami untuk mematikan lampu tadi, dan tirai yang memang belum sempat di buka berwarna gelap itu membuat suasana kamar mereka mirip pukul 7 malam.
Gita mengelus kepala Gilang lembut.
"Neng kira udah tidur pas eneng dan bibi tadi nyelesaiankan nyusun pakaian." Belai Gita sengaja nempel nempelin dadanya dekat kepala Gilang yang masih menghadap bantal.
"Gimana bisa tidur, neng sama bibi berisik gitu ngobrolnya." suara kesalnya terdengar kesal.
"Ya kenapa ga coba rebahan di sofa luar, kali lebih tenang suasananya."
"Sulit jalan neng." Jawabnya masih posisi tengkurap.
"Kenapa? Cape banget ya nyetirnya?" tanya Gita baru sadar mungkin suaminya lelah.
"Si jaka masih bediri neng, ini ga pake lapisan lagi." Tangan kekar Gilang sudah nemplok saja di dada istrinya yang mustang itu ( mulus susu tanpa ku tang). Sambil membalik tubuhnya dengan wajah memerahnya.
"Hah.... otak a'a mesyuum banget sih." kekeh Gita. Yang tiba-tiba senang dengan remesan tangan suaminya pada squishynya itu.
"Sekali ya neng... pusing lho tadi gagal nembak." pinta Gilang yang kemudian mulai mengitari paha mulus Gita dengan jemari tangan yang mulai melipir ke bagian pangkal dan menabrak kain penghalang di dalam sana.
"Buat suami tersayang, apa sih yang ga a'...?" goda Gita dengan senyum ikhlasnya.
Mendengar itu, Gilang langsung meloloskan dress mini tadi lewat kepala Gita. Dan langsung nyungsep menambrak bulatan berbentuk sempurna nan menarik itu, untuk di emute nya.
Celakanya lagi, tangan Gita justru menekan kepala Gilang di sana. Agar Gilang lebih dalam dan lama lagi mengisap dua benda itu bergantian kiri dan kanan secara adil dan merata.
"Kenapa kepala a'a di tekan ke situ sih neng?" tanya Gilang di sela kegiatannya untuk bernafas barang sejenak.
"Suka a'... enak di isep isep." Gita menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Gilang geregetan melihat wajah malu istrinya itu. Dan langsung melepas pakaian dan boxernya sendiri. Lalu menuntun tangan halus istrinya ke arah jaka yang sudah siap sejak tadi.
"Kalo gagal nembak... emang sakit ya a'...?"
"Banget neng. Dua duanya yang sakit, kepala atas poseng, kepala jaka juga tegang. Nahan muntah itu berat neng, kaya nahan rindu." kekeh Gilang yang senang kini tangan Gita sudah pandai maju mundur di batang si jaka.
__ADS_1
Jari Gilang tak mau kalah memberi stimulus mulai nyasar melipir sepanjang tepian kain segitiga yang masih tertempel menutup si ting-ting yang sudah ga ting-ting lagi itu.
Kadang ritmenya pelan, kadang cepat. Ke atas, ke bawah, menekan, mengocek ngorek dalam belahan bibir iting.
"Eeeuuugh... a'a." rintih Gita mulai tersiksa oleh belaian itu.
"Hssshh... sshh." Balas Gilang yang mulai keenakaan batang jaka di ubek ubek Gita hanya dengan tangan.
"Pelan neng... ntar muncrat di luar ga jadi anak lho. Ga dapat enaknya juga itingnya." Racau Gilang yang hampir seluruh organ tubuhnya di aktifkannya, untuk memanjakan sang istri agar keduanya dapat melakukan forplay yang lama hingga mereka sebentar lagi benar merasa akan meroket ke bulan.
"Lepasin a' itu. Eneng udah rasa mau pipis." Jujur Gita yang sejak tadi merasa sekujur tubuhnya berge linjang, akibat sentuhan pada itingnya.
"Bareng ya neng biar lebih nikmat." Gilang sudah duduk melepas kain kecil, tipis itu lalu melempar ke sembarang arah.
Entah Gilang sudah dapat refrensi dari mana, sehingga dengan bertumpu di dua kakinya masih dengan posisi duduk menghadap iting, dan Gita dalam posisi telentang, dengan rentangan paha selebar tubuh Gilang.
Bemper Gita di angkatnya sedikit, agar batang jaka benar benar tertanam sempurna dalam lubang iting.
Maju mundur cantik cantik.
Tubuh Gita sampai terguncang guncang dengan ritme yang lumayan cepat dan kuat.
"Aaakh... a'a." Gita mulai menjerit mendapat hentakan hampir tak berjeda dari suaminya.
"Agi..." Rengeknya makin manja.
"Iya nengGi sayang." jawab Gilang yang terus menghajar iting tanpa ampun dan makin cepat cendung ganas.
"Mau keluar Aa..."
"Sama Neng... shhh...hhhsss.." desah Gilang yang juga akan menuju puncak.
"Aaoouuuooooohhh aaa...." Lemes eraangan Gita, pertanda sudah mencapa kliimaksnya.
"Muuuaaach. Makasiih ya neng." Baru tubuh Gilang melengkung menuju wajah istrinya yang sempat ia siksa dengan lesakan jaka yang ternyata bisa ganas, kuat dan lama juga.
Gita hanya mengangguk hampir tak berdaya. Peluhnya sudah membanjir, ingin berontak dari pergulatan itu. Tapi memang nikmat. Mau minta berenti karena terasa tanpa jeda, tapi ternyata membuat candu. Ah... kawin sebegini nyamannyakah?
Gilang berdiri mengambil kotak tisue, lalu membersihkan sisa sisa cairan yang belepotan di area iting. Tak lupa juga membersihkan batang jaka yang masih berlumuran cairan putih setelah menyelam tadi.
__ADS_1
"Eneng jangan gerak dulu, biar pelurunya makin masuk ke rahim enang. Biar kita cepet punya anak." Ujar Gilang kemudian menutup tubuh istrinya dengan selimut. Lalu ia pun memasang boxernya kembali, dan merebahkan tubuhnya miring menghadap Gita.
"Udah mau banget ya punya anak a'?" tanya Gita menatap wajah tampan nan rupawan suaminya.
"Mau lah... eneng usianya sudah sangat matang untuk hamil dan punya anak." Jawab Gilang pada Gita.
"A... malam ini kita nginap di rumah ibu saja ya a'..." Gita tiba-tiba berubah pikiran.
"Kenapa?"
"Kasian ibu, mungkin belum siap anak laki-lakinya pergi. A'a udah seminggu dinas luar, kalo kita ga nginap di sana dan langsung bawa barang a'a malan ini. Kok eneng kayak ngerebut a'a dari ibu ya?" papar Gita pada suaminya.
"Alhamdulilah jika eneng maunya begitu. Tadinya a'a juga mau bilang mulai senin saja kita tidur di sini, biar dua malam kita di ibu dulu. Biar ga terkejut ibunya kehilangan a'a."
"Tadi waktu di telepon ibu terdengar kecewa tau kita langsung pindah. Mana antusias lagi masak buat a'a. Dan itu mungkin akan jadi kelemahan eneng a'..."
"Kelemahan apa?"
"Ga bisa masak buat suami." jujur Gita yang hanya terampil berberes rumah ketimbang memasak.
"Tapi tadi pinter kok memuaskan suami." Puji Gilang yang hanya dengan mendengar jeritan Gita saja sudah membuat mood boster batang jaka meronta, melesak dan menumbuk membabi buta.
"A'a..." rengek Gita.
"Pelan pelan belajar. Nanti a'a bimbing. Tapi, kalo bakatnya ga di situ ga usah maksa. Ada bi Inah yang masakannya tak kalah enak dari masakan ibu." Terang Gilang.
"Oke. Nanti neng belajar sama bi Inah. A'... ini neng udah boleh gerak belum?" tanyanya yang takang sejak tadi dalam posisi telentang.
"Eh... iya mau kemana?" tanya Gilang heran.
"Mau peluk suami aja, sambil merem sebelum magrib datang." Ujar Gita yang langsung melingkarkan tangannya di perut suaminya
Bersambung...
Haiii readers
Apa kabar suka??
Mohon di maklumi ya, pengantin baru masih ranum dan miskin pengalaman. Belum sehandal pengantin lawas
__ADS_1
❤️❤️❤️