OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 206 : MAHASISAWA BERANAK SATU


__ADS_3

Kevin, Muna, baby Ay dan bunda Laras kini sudah berada di Apeldoorn. Tentu hal itu adalah suasana baru bagi mereka semua.


Kakek Hildimar tentu sangat menyambut baik kedatangan cucu buyutnya. Maka beliau tidak mengijinkan Muna tinggal di apartemen, melainkan harus tinggal di kediamannya. Di istana 7 lantainya tersebut.


"Muna... mengalah saja demi cucuku Ay. Nanti akan ada supir yang selalu mengantar jemputmu ke kampus." Pinta kakek di hadapan Kevin dan Muna.


Mereka saling pandang, ingin menolak namun tak enak, ingin menerima mungkin nantinya mereka yang tak enak.


"Maaf kek. Tapi jarak tempuhnya sangat jauh. Mae... berjanjilah pada kakek, jika nanti kita akan sering ajak Ay main ke rumah kakek. Terutama saat weekend." Jawab Kevin pada kakek. Yang tentu nanti tak akan bebas jika jadwal kunjungnya tiba.


"Hmm... tepatilah janji kalian agar kakek tidak merasa kesepian." Kakek terdengar setuju bersyarat.


Kakek Hildimar sekarang bukan Hildimar yang keras kepala, arogan dan tidak pernah peduli dengan saran orang lain. Maka saat Kevin menyarankan tetap tinggal di apartemen dan berjanji akan selalu menjenguk kakek Hildimar di waktu senggang jadwal kuliahnya.


Suasana apartemen tentu berbeda dengan suasana di Bandung. Jika tiga bulan lalu Ay sudah terbiasa berada di kamarnya dan selalu mendengar celotehan nyak dan babe. Namun tidak untuk sekarang.


Bayi yang belum sepenuhnya berusia 4 bulan itu, saat masih di Indonesia, tepatnya di Bandung sangatlah tidak rewel. Berbanding terbalik dengan keadaan di Apeldroon.


Muna dan Kevin merawat Ay di bantu oleh bunda Laras yaitu seorang baby sisiter, namun bukan berarti beliau tau semua urusan apa saja yang di alami dan terjadi pada bayi. (hanya author yang posisinya satu strip di bawah Tuhan saja yang maha tau pada karyanya sendiri🤭)


Mereka bertiga di buat bingung dengan kelakuan Ay, yang sejak mereka tiba Ay sangat cengeng.


Terutama setelah Muna tinggal untuk masuk kuliah, yang awalnya masih baik-baik saja. tetapi di malam harinya Ay menangis hampir 3 jam bahkan di sertai dengan teriakan keras secara terus menerus keadaan itu terjadi bahkan lebih dari 3 hari dalam minggu itu.


Jangan tanya bagaimana rempongnya Muna. Bunda Laras pun tak tau harus berbuat apa. Tugas yang seharusnya hanya mengasuh bayi pun berubah menjadi tukang masak dan tukang maksa agar Muna mau makan.


Belum lagi Kevin, yang sebenarnya ingin puas-puas bermanja dengan Muna sebelum kembali ke Indonesia, tapi memilih menunda ke pulangannya sampai keadaan Ay menunjukan kebaikan.


Di hari yang ketiga Muna mengalah untuk tidak ke kampus, wajahnya kusut masai, di bawah matanya mengalung kehitaman. Bola matanya keruh dan bengkak sebab saat Ay mengamuk pun Muna hanya bisa ikut menangis.


"Mae... sudah sayang bagaimana Ay bisa diam, bahkan mamanya juga begini. Sayang... istri abang itu jawara. Kenapa begini, come on beeiiibph." Kevin bingung harus menenangkan yang mana dulu antara Muna dan Ay.

__ADS_1


"Ini tuh kagak ada hubungannya dengan jawara pap. Ini anak kita tiba-tiba nangis, treak-treak kaga jelas bahkan sudah tiga hari dia kayak gini. Ini tuh aneh."


"Iya... abang liat. Tapi tangisan mu juga tidak membantu untuknya lebih tenang."


"Makanya dulu Muna ga mau nikah sambil kuliah. Yang kayak gini nih, yang Muna kagak mau. Ngenes ga sih jadi Muna bang. Mestinya abang nunggu Muna selesai kuliah dulu baru ajak eh bukan maksa nikah."


"Heiii... ngomong apa sih. Itu sudah berlalu. Yang harus kita pikirin tuh Ay ngamuk ini, nenanginnya gimana? Kita sedang ga punya waktu untuk cerita kilas balik kaya malam tahun baru ya Mae."


"Ini tuh bukan cerita kilas balik bang, tapi yang Muna takutkan nikah muda sambil kuliah itu begini...!!!"


"Sudah kejadian ini, ngapain di ungkit, coba?"


"Mestinya abang jangan cepet buat Muna hamil, masih kuliah ini."


"Kok abang yang salah. Sendirinya yang mau."


"Abang enak, cuma tau buntingin. Muna nyandang perut besarnya, ngerasain sakitnya ngelahirin. Besok jaga bayi tanpa suami, sambil ngadepin tugas kuliah. Bayangin jadi Muna bang.!!"


"Lhoo... aye kagak bakalan kuliah di mari ye bang, kalo kagak abang yang so' so an ngijinin Muna. Akhirnya... ketahuan pan, abang kaga ikhlas Muna di mari."


"Siapa yang ga ikhlas ijin kamu Mae?"


"Laaah abang bilang siapa suruh kuliah, maksudnye apaan? Enak kan tinggal pulang ke Indonesia, ntar paling cuma nelponin doang, kagak bisa banyak bantu juga."


"Oh gitu. Ya sudah kalo kamu anggap abang ke enakan dan seolah ga ada tanggung jawab. Abang bawa pulang Ay ke Indonesia saja, supaya dia ga ganggu ibunya yang sedang menjadi mahasiswi beranak satu." Gusar, marah, kesal semua menyatu dalam otak Kevin. Beringsut keluar dari kamar mereka berdua, dan akan mendekati Ay yang masih menangis ga jelas dalam gendongan Laras.


"Laras tolong siap kan pakaian Ay." ujar Kevin mengambil Ay dari gendongan Laras.


"Maaf tuan, baby Ay mau di bawa ke mana?"


"Pulang ke Indonesia." Jawab Kevin singkat.

__ADS_1


"Kagak... abang kagak boleh bawa Ay pulang." Muna menghambur mendekati Kevin dan berusaha mengambil Ay dari gendongan Kevin.


"Ga usah mikirin kami. Aku dan Ay hanya mengganggu dan menghalangi cita-citamu." Jelas kemarahan Kevin. Sementara Ay masih kuat menangis dan berteriak.


"Pulang!!! kalau mau pulang. Tapi jangan bawa Ay." tegas Muna.


"Ini anakku!! Dia tanggung jawabku, karena aku yang membuatmu hamil. Dengan tidak adanya kami tentu kamu bisa melanjutkan kuliahmu dengan baik dan benar." Kevin masih menggendong Ay yang tak ada tanda-tanda untuk diam.


"Maaf tuan, nyonya. Maaf, apa tidak sebaiknya baby Ay di bawa ke dokter saja, sebab ini sudah hari yang ke tiga dia menangis begini.


Muna dan Kevin menoleh ke arah Laras.


"Ya sudah kita berangkat sekarang, bawa peralatan dan pakaiannya Laras." Perintah Kevin.


Yang akhirnya mereka pun pergi ke dokter, dalam keadaan melancarkan aksi diam-diaman. Tidak seperti Ay yang tampak belum lelah untuk menangis.


Waktu di sana menunjukkan pukul 11 malam. Rumah sakit yang buka 24 jam menjadi tujuan mereka. Ay segera di periksa dan di tangani oleh doter jaga, kemudian di rujuk pada salah satu dokter anak.


Beberapa menit berlalu, Muna dan Kevin di panggil untuk di mintai keterangan perihal sebab dan sejak kapan Ay demikian.


Akhirnya di dapatkan kesimpulan baby Ay di duga mengidap kolik. Yaitu suatu keadaan gangguan pencernaan yang terjadi karena bayi masih menyesuaikan diri, ketidakmampuan untuk menenangkan diri, dan alergi terhadap suatu makanan. Ciri-ciri bayi mengidap kolik yaitu menangis selama beberapa jam, terutama dari jam 6 sore hingga tengah malam, tanpa alasan yang jelas. Bayi yang mengidap kolik biasanya akan sering bersendawa. Dan hal itu cocok dengan yang di alami Ay.


Dokter tersebut menggendong Ay tidak dengan dua tangan di depan dada. Melainkan menyatukan dada mereka berhadapan, mengaitkan kepala Ay di pundaknya, lalu menepuk halus punggungnya.


Ay jauh lebih tenang dalam pelukan dokter itu, bahkan tertidur. Yang kemudian pelan-pelan berpindah ke dalam gendongan Muna.


"Nyonya, selalu pastikan bayi tidak kelaparan. Sering-seringlah mengganti posisi bayi dengan menggendongnya. Berikan rasa ternyaman untuknya agar tenang. Pelukan adalah obat termujarab untuk bayi kolik." Ujar dokter itu sambil menuliskan resep untuk membantu mengurangi rasa nyeri pada lambung Ay.


Ajaib, Ay benar tenang dalam tidurnya sepanjang perjalanan pulang ke apartemen. Namun kini yang tersisa adalah kerusuhan dalam hati Kevin dan Muna yang belum pecah sempurna.


Bersambung...

__ADS_1


Kemarin yang minta RT Muna agak rusuh, ngaku yaaaa🤭


__ADS_2