
Muna terperanggah melihat ekspersi terkejut wajah mama Leina. Ia sangat mendengar pengakuan Muna, bahwa ia hanyalah seorang OB di kantor Kevin
"Iii...iya tante. Muna cuma OB di perusahaan milik bang Kevin." Muna mengulangi pengakuannya, sambil melirik ke arah Kevin yang masih bergelayut pada mama Leina dengan wajah santainya.
"Hanya OB... cuma OB. Memangnya kenapa? OB kan juga manusia. Mama tidak mempermasalahkan status manusia, yang penting anak mama serius dan tidak hanya ingin mempermainkan anak gadis orang." Terang mama Leina dengan nada bersahabat.
Jujur Muna sempat merasa rendah diri, rasa takut, cemas, malu bahkan pilu. Mungkin saja statusnya sebagai OB akan teralang restu atau malah akan mendapat cibiran atau makian seperti kebanyakan kisah novel yang sering ia baca. Ternyata jauh meleset dari perkiraannya.
"Muna akan jadi gadis pertama dan terakhir yang Kevin perkenalkan sebagai calon istri ke hadapan mama." Ujar Kevin menyela pembicaraan mama Leina dan Muna.
"Masa pertama...bang?" tanya Muna tak percaya mengingat betapa banyaknya wanita-wanita yang sudah sering Kevin ajak bermain di kantornya.
Pletaaaakh
Sebuah jitakan sukses mendarat di dahi Kevin oleh sang mama.
"Tuuh... rasain udah ketahuan bawa banyak cewek nih anak mama."
Kevin hanya nyengir sambil menggosok bekas jitakan mama Leina.
"Benar Muna, kamu gadis pertama yang Kevin bawa ketemu sebagai calon istrinya ke mama. Sering sih mama denger selentingan ia dekat dengan beberapa cewek. Tapi, mama ga menganggap mereka calon mantu, kalo ga pernah di ajak langsung ke hadapan mama seperti sekarang ini." Terang mama panjang.
"Tuh... Mae. Benerkan, abang seriusnya cuma sama Mae."
"Jadi kapan niih, mama di ajak ketemu orang tuanya Muna...?" tanya mama Leina antusias.
Muna tolah toleh mencari wajah Kevin yang berada di sebelah mama Leina. Seakan tak ingin di dekatnya, dan mencari pembelaan dari mama Leina.
"Ketemuan aje siih ga papa. Tapi jangan ngelamar yak." Jawab Muna sambil senyum ke arah mama Leina.
"Kenapa ga mau di lamar? Muna ga takut di ajak Kevin kawin saja, tanpa nikah?" tembak mama Leina yang ternyata juga memiliki kemampuan verbal yang tidak bersaringan.
__ADS_1
"Ya bukan gitu juge siih. Muna masih mau kuliah dulu tante."
"Hm... ma-ma. Jangan tante." Perbaiki mama Leina pada Muna.
"Iya... mama. Muna, belum mau di kawinin, juga belum siap di nikahin ame bang Kevin. Mau selow dulu, mau menikmati masa muda sebelom repot urus anak-anak ntar kalo dah jadi emak-emak."
"Siapa bilang kuliah ga boleh sambil nikah. Kalo punya anak, nanti mama yang urus. Mama biasa kok ngurus cucu. Tuh, si Ferdy dan Manda, mama minta punya anak banyak-banyakbaja. Biar rumah rame."
"Kagak mau ma, kagak seru. Kuliah rame-rame ama teman. Lah Muna ntar kuliah bawa perut besar, kagak...kagak. Pilu Muna ngebayanginnye."
Mama Leina terkekeh melihat ekspersi kepolosan Muna yang lucu dan jujur. Sungguh hatinya sangat bahagia dengan sebuah kenyataan bahwa Kevin mendapatkan gadis baik dan berpendirian kuat seperti Muna.
"Ga usah nikah dulu, setidaknya kalian tunangan gih."
"Aduuuh... entar-entar boleh kagak ma?"
"Ya...terserah kalian sih. Mama ga bisa maksa. Hanya mama lebih khawatir si Kevin niih, yang ga tahan nungguin Muna. Takut dia khilaf sama Muna." Ungkap mama Leina jujur sambil mengelus rambut Kevin yang masih menyandarkan kepalanya di bahu mama Leina.
"Waaaw... ga nyesel ngelepas CEO lhooh si anak mama ini." Goda mama Leina menowel dagu Muna.
"Kagak ape-ape ma. Kalo abang ngebet kawin, ya ude ama yang lain aje, berarti Muna kagak jodoh ame abang."
"Dengerin tuh mam. Baru ketemu kan... ada gadis yang berani nolak Kevin."
"Yang sabar ya bos." Kekeh mama Leina meledek Kevin.
"Iya terserah kalian saja, yang pasti mama menghargai kejujuran Muna. Mulai dari status pekerjaan, juga keinginan Muna untuk kuliah terlebih dahulu. Menurut mama, itu hal yang wajar. Semua orang punya cita-cita dan harapan masing-masing. Dan itu harus di hargai. Kevin kalo sayang sama Muna, sebaiknya mendukungnya. Jangan di ganggu, cukup di giring saja. Sampai Muna benar-benar yakin dan akan dengan sendirinya menyerah dan setuju untuk di ajak beribadah, yaitu menikah." Mama Leina sangat bijak dalam membantu keduanya berpikir jernih.
"Kevin sudah sangat menunjukan keseriusannya pada Muna, mama bangga akan hal ini. Tetapi, mungkin Muna masih ragu saja. Mama tidak menutup mata, dan belum tuli juga dalam hal betapa anak mama ini pernah suka berganti-ganti pasangan. Dan Muna tau itu. Maka, sangat wajar Muna tidak mudah untuk yakin menyerahkan diri dan cintanya pada Kevin." Muna dan Kevin hanya diam, mencerna setiap ucapan mama Leina.
"Terus saja tunjukan keseriusan mu ya Vin. Pelan-pelan rubah kebiasaan burukmu. Dan Muna, jaga diri baik-baik sampai cita-citamu tercapai. Mama akan menikahkan kalian, kapanpun kalian siap. Mama titip bantu Kevin menjadi laki-laki yang bertanggung jawab ya Mun. Mama yakin kamu pilihan terbaik, mama juga akan memohon pada Tuhan, agar kalian berjodoh." Mama Leina manyatukan kepala Kevin dan Muna di depan dadanya, serta mencium kening keduanya penuh sayang, sebab ia duduk di antara Kevin dan Muna.
__ADS_1
"Entah kenapa sejak mama pertama kali kenal Muna, mama langsung klik Vin. Apa lagi mata birunya, buat mama ingat sama mami mu." Ucap mama Leina berubah lirih.
"Sama... tapi, awalnya Kevin kira Mae waktu itu pake kontak lens. Makanya Kevin ga suka aja, ada OB yang so' bule. Segala pake lensa biru, bikin Kevin ingat mami saja. Eeh, ternyata asli." Kevin menyebrangkan tangannya, melewati dada mama Leina untuk mencubit hidung bangir Muna.
"Abang iiih, sakit." Muna sudah membalas cubitan pada tangan usil Kevin.
"Gheeemmmeeeuuussh tau."
Plookh
Tangan Kevin di pukul oleh mama Leina untuk melerai keduanya yang mama Leina tau hanya saling bercanda.
"Maa... Kevin ke kamar dulu ya. Mae.. ikut yuk."
"Kemana?"
"Kamar abang." Jawab Kevin dengan alis yang di naik turunkannya menggoda Muna.
"Ogah."
"Ha...ha... ga usah jawab. Abang juga udah tau jawabannya apa. Mam... tuh parfum kesukaan mama, Kevin beli kemarin buat mama. Kevin mau magriban bentar. Sebelum antar Muna. Mae, ga sholat?"
"Ntar di rumah aje, sekalian bang." Jawabnya sambil memandang tubuh kekar yang semakin menjauh dari posisi mereka tadi.
"Subhanallah... Muna. Terima kasih hadir dalam hidup Kevin. Mama sudah lelah memohon agar Kevin kembali hangat, penuh sayang seperti saat maminya masih ada. Dulu, jangankan sholat, di ajak ngobrol saja susah. Muna benar-benar bisa membuatnya kembali menjadi Kevin yang sebenarnya. Tolong, jangan kecewain Kevin ya nak." Pinta mama Leina penuh kesungguhan.
Bersambung...
Hmm... mama Leina baik bener yak. Semoga Muna segera luluh hatinyaπ
Lopeh-lopeh buat semua yak
__ADS_1
ππππππβ€οΈβ€οΈβ€οΈ