OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : TIDAK MARAH


__ADS_3

Tujuan untuk melakukan perjalanan dinas dalam rangka mengkaji dan meniru pada perusahaan besar dengan alur yang masih ada korelasinya dengan perusahaan yang Kevin miliki tentu menjadi mood boster tersendiri bagi 20 pegawai yang beruntung memiliki kesempatan perg saat itu.


Tahapan kegiatan berjalan sesuai jadwal yang mereka buat. Rekreasi ke tempat wisata khas negara itu pun tentu tak luput dari agenda yang telah menjadi bagian perjalanan tersebut.


Semua terlihat antusias dan bersemangat. Hanya Kevin yang memilih tidur saja di kamar hotel. Minta ijin dan minta maaf tofak fapat ikut bergabung pada acara tersebut.


Hingga di penghujung malam terakhir mereka di sana, benar saja Danu yang di perintahkan Kevin. Sudah berhasil mengurus dengan pihak hotel untuk menyiapkan malam malam kejutan untuk pengantin baru. Siapa lagi kalau bukan Gita dan Gilang.


Keduanya tak mengira jika, makan malam itu special di buat seindah mungkin, tata letak meja yang sengaja di buat menjorok membentuk segitiga. Dan di puncak itu lah Gita dan Gilang duduk beduaan.


Kevin mengamati dari pojok, dengan ponsel yang sedari tadi dalam posisi on sedang bervideo call dengan Diendra. Tak terbayang senangnya sang papi, melihat kesuksesan Kevin mempersembahkan malam terbaik untuk anak perempuannya itu.


Tak ada kata yang mampu Gita ungkapkan lagi malam itu, selain memproklamirkan bahwa hubungannya dengan Gilang sudah resmi menjadi suami istri. Juga Gita sudah tak segan menyatakan identitasnya bahwa ia benar adalah saudara satu ayah, beda ibu dengan CEO perusahaan mereka tersebut.


Sebagian sudah tau, sebagian juga baru tau. Tapi semua itu tak menjadi masalah bagi mereka. Toh, selama ini Gita tidak pernah di perlalukan spesial walaun sebagai adik pemilik perusahaan.


Di tambah lagi keseharian Gita yang sama sekali tak pernah menunjukkan kesombongan. Gita sama seperti pegawai lainnya, yang mereka tau hanya sebagai teman satu kost Ninik dan Siska.


Para pegawai kantor justru curiga pada Siska, sebab seolah langsung meloncat jadi sekretaris pribadi Kevin setelah Gilang jadi Aspri. Padahal, Siska hanya teman baik dari nyonya Kevin Sebastian Mahesa.


Makan malam romantis di resto hotel sudah berlalu, dan malam ini adalah malam terakhir mereka menginap di hotel tersebut, sebab pagi-pagi benar mereka sudah akan kembali terbang, pulang ke tanah air.


"Neng... udah tidur?" Gilang menggaruk-garuk kepalanya yang sesungguhnya tidak gatal. Agak manyun melihat istri cantiknya sudah masuk dalam selimut dengan posisi miring kekiri bahkan berada juga di bagian kiri tempat tidur mereka, menghadap dinding, artinya Gilang kebagian dapat punggung dong.


"Neng sayaaaang... masa di tinggal nelpon Hani udah langsung tidur neng?" Gilang ikut bergabung masih ke dalam selimut yang sama.


"Sayangkuuu... cintaku, denyut nadikuu..." rayunya lagi yang ternyata membuahkan hasil, yaitu gerakan berbalik ke arah Gilang.

__ADS_1


"Lebay banget sih, segala denyut nadi." jawab Gita agak kasar.


"Eneng ga suka kan tidur di kasih punggung. Sama beibph, a'a juga ga mau eneng kasih punggung. Kecuali mau minta lepasin pengait gendongan gunungnya." Bibir Gilang dah nempel-nempel di pipi Gita.


"Maaf." jawab Gita singkat dan tak merespon ciuman-ciuman kecil yang sudah di timpakan ke area seluruh wajahnya.


"Neng kenapa?"


"Apanya?"


"Setelah makan malam seromantis tadi, mestinya neng seneng dong. Tapi ini kok kayaknya ga semangat gini. Ada apa neng?" Gilang peka, sadar jika raut wajah istrinya tidak antusias terhadap ciuman-ciumannya, apa mungkin Gita lelah, pikir Gilang sendiri


"Ga ada apa-apa. Udah kita tidur aja, A." Gita menarik selimut hingga menutup dadanya. Agak mendongak sedikit untuk mencium pipi suaminya, sebagai balasan ciuman bertubi-tubi tadi.


Gilang merasa, ciuman tadi hanya sebagai formalitas saja. Bukan sebagai respon cinta yang menyala-nyala.


Gilang menarik kepala Gita, lalu meletakkannya di lengan, ia peluk tak berjarak. Sehingga nafas keduanya pun sejalur untuk saling berhembus.


"Kalau a'a ada salah, a'a minta maaf ya sayang. Maklum lah, kita bahkan belum seminggu jadi suami istri. Tentu saja banyak kebiasaan yang belum kita seling ketahui satu sama lain. Tapi, apapun itu. Tolong bicarakan, jangan diam. Jangan minta a'a menerka, nanti salah tafsir, bukannya selesai eh, malah muncul masalah baru ntar." Gilang mengelus rambut istrinya pelan dengan penuh sayang dan sabar.


Gilang merasa bagian dadanya dingin. Sepertinya basah. Dan basah itu berasal dari mata air yang sumbernya dalam pelukannya.


"Maaf ya neng... a'a nyakitin eneng ya. Sampai nangis gini.?" Gilang merasa ada gerakan menggeleng dari kepala yang ia peluk itu.


"Maafin a'a ya ...?" pintanya lagi pelan, padahal tidak tau salahnya apa. Tapi Gilang sudah paham isi perundang-undangan perihal peristrian, pasal satu istri ga pernah salah, jika salah pun penyebabnya adalah suami.


"A'a ga salah kok minta maaf...?" akhirnya Gita bersuara, dengan suara sengau menahan isaknya.

__ADS_1


"Kalo a'a ga segera minta maaf, nanti efeknya berlanjut neng. A'a bakalan ga bisa minta jatah." Sontak Gita mendongak lagi melihat wajah suami ketcehnya itu.


"A'a... iih. Mentang-mentang udah halal. Masa minta jatah hampir tiap malam sih?"


"Biar cepet jadi anak neng, jadi rumah tangga kita rame." Jawab Gilang mencium lagi dahi Gita lama.


"A... nanti, lain kali kalo nelpon Hani. Eneng di ajak ya." Tiba-tiba tanpa di minta Gita mengurai uneg-unegnya tanpa di minta.


"Hm... eneng marah karena a'a kelamaan nelpon Hani...?" Gilang baru sadar ternyata istrinya cemburu pada keponakannya itu.


"Dikiit..." Jawab Gita mengeratkan pelukannya pada Gilang.


"Maaf... a'a ga ngira aja. Kalo eneng merasa di cuekin tadi. Soalnya a'a nelponnya juga di deket eneng, ga sembunyi sembunyi gitu, terus Hani juga baru benar sembuh kan. Jadi a'a kira itu hal biasa, sebab kebiasaan Hani begitu sama a'a." Terang Gilang pada istri posesifnya itu.


"Iya... neng minta maaf. Belum tau kebiasaan a'a yang perhatian banget sama Hani. Tapi, setidaknya saat a'a telponan, eneng duduk lah di pangkuan a'a. Biar ga lupa, a'a udah punya istri." Ujar Gita mengeraskan dagunya, sesungguhnya malu sudah secemburu itu merasa tersaingi dengan seorang balita.


"Uuu.... uuu.. tayang... tayang ... tayang. Istriku umurnya tua doang, manjanya ga ke tulungan rupanya. Iyaa... a'a janji deh, ntar nelponnya ga lama, dan sambil peluk istri deeh." Gilang mencubit pipi Gita sambil mencuri ciuman di bibir yang baru saja selesai bicara tadi.


"A'a...." yess bibir Gita terbuka setelah memanggil mesra suaminya.


Gilang mana pernah gagal menyerang mulut itu, tentu saja lidahnya sudah melesat, menyapu bersih deratan gigi yang sesungguhnya sudah bersih setelah di gosok tadi.


Jangan tanya bagaimana respon Gita, dia sesungguhnya tidak marah. Hanya sedikit merasa terganggu, sebab durasi ber cintanya terpotong karena lamanya panggilan telepon antara Hani dan Gilang.


Bersambung...


Pelan pelan nyak usir malas yaa

__ADS_1


Maaf jika tak suka


πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2