
Setelah Kevin puas tertawa eh, menertawai kasus pengantin baru yang kena tangkap razia oleh satpol PP akhirnya tegurannya pun keluar.
"Makanya Git, kakak sudah bilang. Jadi cewek itu harus bisa masak. Mie godok doang, pake acara makan di luar. Mending masak berduaan di rumah kan bisa sambik peluk-pelukan. Romantis." Saran Kevin.
"Pengalaman pribadi ya kak?" tanya Gita sambil tersenyum.
"Oh iya donk. Kakak sama mamanya Ay mana pernah makan di luar."
"Masa... Kakak aja kali yang pelit."
"Maksudnya ga pernah makan di pinggiran sampe di tangkap gitu. Karena lebih sering masak di rumah. Banyak bonusnya Lang, kalo makan masakan rumahan. Kebersihan terjamin, porsinya lebih banyak, dissertnya pasti bisa dapat bibir." Itu mulut sudah ga pake saringan deh kayaknya.
Gilang menunduk menahan malu saja. Sedangkan papi dan mama Indira memilih diam saja, tak mau memperkeruh keadaan. Cukup tau betapa malunya anak dan menantunya tersebut.
Selanjutnya mereka sudah berada di Bandar Udara siap akan terbang menuju Switzerland. Untuk melakukan perjalanan dinas terselubung bulan madu.
Sejak awal berangkat memang hanya sebagai pasangan berpacaran, bukan suami istri sehingga tas merekapun satu-satu. Tidak terpikir untuk menggabung barang bawaan mereka agar menjadi satu koper saja.
Di antara mereka yang berangkat, hanya Kevin dan Ninik yang tau jika mereka sudah menikah. Sehingga pasangan baru itu lebih terlihat sangat menjaga jarak ketika sudah berbaur dengan rekan kerja yang lain.
"Git, kopermu mana?" tanya Ninik.
"Itu... deket A'a." Jawab Gita memonyongkan bibirnya untuk memberi petunjuk.
"Boleh aku letakkan sesuatu? Kemarin aku ada bawa kado buat kalian. Tapi ga sempat ngasihnya. Maaf ya." Ujar Ninik yang kemudian berjalan mendekati Gilang dan sempat meletakan kotak kecil itu di koper Gita.
"Oke... makasiih ya Nik." Balas Gita.
Suasana pesawat Emirats kelas bisnis tujuan Jakarta-Zurich tentu menjadi momen indah bagi beberapa karyawan Kevin yang bahkan inu merupakan pengalaman pertama mereka terbabg keluar negeri. Sehingga semuanya tampak tegang akan fasilitas yang di berikan untuk mereka.
Ini juga pengalaman pertama melalukan perjalanan jauh ke LN bagi Gilang. Tapi, tidak ia manfaatkan untuk banyak berbasa-basi dengan rekan yang kini menjadi anak buahnya. Sebab Gilang lebih memilih untuk tidur di dekat jendela, dengan tangan yang ia tautkan dengan tangan Gita yang mereka tutupi dengan syal milik Gita. Untuk menutupi pertautan itu. Jadilah kedua pasangan itu lebih banyak diam dalam tidur mereka, untuk membalas waktu kemarin yang memang hampir tidak punya kesempatan untuk memejamkan mata.
Penerbangan tujuan Swiss memakan waktu hampir 26 jam. Karena itu mereka berangkat di hari sabtu, agar tiba di hari minggu. Memiliki waktu yang banyak untuk beristirahat, sebab senin mereka mengadakan kaji tiru tersebut.
__ADS_1
Rombongan tersebut telah tiba dengan selamat di negara tujuan. Karena perbedaan waktu, maka mereka tiba di pagi hari. Tentu sangat banyak waktu mereka untuk beristirahat.
Kevin memang kebetulan mau repot kali ini demi adiknya. Walau Danu yang di tugaskan untuk mengurus kamar, tapi Kevin memang sempat meminta Danu menyiapkan satu kamar mewah untuk pengantin fenomenal itu.
"Pak... ini akses kamar yang bapak minta." Ucap Danu yang sedikit bingung dengan kamar president suit yang Kevin pesan, padahal nyata-nyata dia tidak membawa pasangan. Tapi Danu memilih patuh saja dengan segala perintah atasannya.
"Iya terima kasih Dan" Jawab Kevin pada Danu.
"Temui kakak di Lobby." Isi. chat Kevin pada Gita. Ia sesungguhnya bingung akan tidur di mana dengan siapa. Antara ingin gabung dengan Ninik sesuai daftar yang mereka buat sejak awal. Atau tidur bersama Gilang, tapi bagaimana caranya. Namun tetap melangkah saja memenuhi panggilan Kevin.
"Nih... akses kamar kamu dan Gilang. Dia sudah menunggu di depan pintu. Buruan samperin, ga pake lama." Ucap Kevin yang ternyata justru sudah meminta Gilang berada di lantai yang akan mereka tempati bersama.
Gita tergopoh menarik koper yang sempat di letakkan di kamar Ninik. Kemudian pamit akan tidur di kamar lain bersama suami.
"Maaf lama nunggu A'a." Sumringah Gita pada Gilang yang benar sudah bertampang bete menunggunya.
"Ga papa neng." Jawab Gilang datar. Lalu keduanya masuk dan terpana bersama.
"Mungkin ini buah dari ke sabaran kita menuju persatuan Indonesia yang haqiqi neng." Celetuk Gilang yang sudah hilang rasa jetlagnya.
"Kesabaran atau keapesan ya a' ?" tanya Gita yang sudah meletakan kopernya dalam lemari yang tersedia.
Sedangkan Gilang sudah berkeliling menggeledah tempat-tempat dalam kamar luas dan lengkap itu.
"A... mandi." Perintah Gita.
"Dingin neng. Makin dingin ntar kalo kena air."
"Kan ada air panas, mau saingan sama kambing a' ?" ledek Gita pada Gilang yang lenyeh-lenyeh di atas sofa.
"Mandiin neng." Manja Gilang yang sudah berdiri memeluk Gita dari belakang saat Gita nungging-nungging mencari pakaian gantinya.
"Eeh... omnya Hani manja juga ternyata." Gita berbalik dan langsung di sergapi ciuman ganaz dari Gilang.
__ADS_1
Kali ini Gilang tidak mau gagal lagi, pokoknya ga peduli di sana masih pagi, dan terang benderang. Toh mereka bisa menutup tirai dan mematikan lampu agar suasana kamar itu menjadi temaram.
Jangan tanya bagaimana lengketnya pertautan bibir pengantin baru yang sudah melewati berbagai halangan untuk melaksanakan kewajiban sebagai pasangan yang sudah sah itu.
Gita juga sudah sangat candu dengan sesapan dahsyat benda kenyal yang kadang terulur, kadang tertarik menyapu deretan gigi, juga kadang terasa memaksa menarik dan mengisap bibir atas juga bagian bawah bergantian, tanpa jeda itu.
Awalnya pelan, tapi musuh hebat. Selalu melawan tiap manuver serangan Lidah Gilang.
Tangan Gita mengalung di leher Gilang, kompak dengan kakinya yang sudah melingkar melengkung erat di pinggang Gilang.
Sebab Gilang sudah menggendong Gita, menepikan tubuh mereka nempel di dinding. Mirip cicak.
Ada leng uhan keluar sendiri saat kini bibir Gilang sudah memburu leher Gita dengan penuh gelora. Gejolak keduanya terbakar, tak ada malu apalagi ragu. Bukankah kesempatan ini memang telah mereka nanti-nantikan.
Gita meremas kepala Gilang, semakin membuat Gilang hilang kendali, untuk terus mencumbu wanitanya semakin merosot ke bagian bawah leher dekat dada. Hemmm...
Gilang tak bisa berbuat banyak saat kedua tangannya masih mempertahankan bamper belakang dalam gendongannya tersebut. Maka ia pun bergerak menuju tempat tidur yang sudah terbentang bagi mereka berdua.
Masih dengan pertautan di bibir mereka yang sulit terlerai. Sama halnya dengan Gita yang sudah mirip bayi koala yang tak mau turun dari tubuh kokoh suaminya tersebut.
Bersambung...
Readers...
Cie...cie
Udah siap nonton pelem unyil yaah
Rencana nyak double up niih
Jangan lupa sawerannya
🤭🤭🤭
__ADS_1