
Muna tidak habis pikir akan kepercayaan yang Kevin berikan padanya. Masih menggenggam tak percaya kartu sakti di tangannya. Lebih penasaran lagi dengan isi nominal yang katanya paling sedikit tersebut.
"Muna... gimana di dalam tadi?" sapa Vera mengejutkan Muna yang sudaah beranjak masuk ke ruang pantry.
"Eh Vera, ga ada apa-apa. Cuma ngebersihin bekas makan si bos aja." Vera menatap tak percaya pada Muna sebab ia melihat wajah itu tampak bingung seperti sapi ompong.
"Kok lama?" Trus tuh, muka mu udah kaya sapi ompong tau ga...? Kamu ga di marahin kan Mun?" jejal Vera meminta penjelasan dari wajah itu.
"Kaga..., emang apa salah aye sih. Benernya tuh, aye bingung sama loe pada, tiap aye ketemu tuan Kevin pasti curiganya aye di marahi. Emang tuan Kevin sekejam apa sih?" Ganti Muna yang bertanya pada Vera yang selah takut tingkat dewa sama manusia bernama Kevin Sebastian Mahesa itu.
"Aku sih ga pernah secara langsung tau. Hanya kabarnya saja beliau orangnya dingin, gitu aja sih yang ku tau. Makanya penasaran Mun."
"Dingin...dingin... noh mpok pegang es batu deh, trus pegang tangan tuan Kevin, sama kaga dinginnye?? udah ah mpok aye balik dulu ye." Pamit Muna pada Vera yang hanya nyengir kuda setelah mendapat jawaban dari Muna.
"Balik... ini tuh masih jam 2 Muna. Kamu beran pulang jam segini?"
"Kalo aye pulang sore, malah di marahin tuan Kevin. Aye ada tugas khusus dari pak boss. Jadi babay... aye pulang duluan, okeeh?" pamitnya lagi seaya masuk ke toilet untuk mengganti pakaiannya dan melepas kontak lens yang tentu sudah membuat matanya perih terlalu lama menggunakkan alat itu demi memancarkan warna hitam legam pada netranya.
Mungkin lingkungan tempat Muna yang membuat penampilannya sedikit agak norak. Sehingga dalam keseharianya jaket levis dan semacamnya selalu hampir tak pernah di tanggalkan.
Di samping itu juga karena ia selalu mengunakan kendaraan roda dua yang tentu akan selalu menuntutnya terkena sinar matahari dan debu yang berlebihan. Tetapi kebiasaan itu tidak merubah tatanan kecantikan haqiqi yang Muna miliki. Walau pun ia tidak pernah melakukan perawatan seperti kebiasaan wanita pada umumnya.
Muna tidak langsung pulang, ia melajukan kendaraan itu menuju pasar tradisional berharap masih bisa mendapatkan apa saja yang bisa mendukung masakann yang besok akan ia buat.
Senyum sumringah Muna sunggingkan tatkala netranya melihat tumpukan jengkol tua di hadapannya. "Semur jengkol...eddeewwwh. Kesukaan Muna niih. Besok Muna buatkan buat tuan Kevin aacch. Jamin pasti ketagihan. Secara sambel goreng pete aja kayaknya do'i demen banget." Seloroh Muna dalam hatinya.
Lumayan lama dan banyak sekali tampaknya Muna berbelanja hari ini. Sampai-sampai ia lupa jika uangnya tadi hanya tersisa tiga ratus ribu. "Ya ellah... Mun. Loe mau dorong motor ntar. Sampe uang tiba sisa dua ribu doang ini dalam dompet. Kayaknya aye harus segera cari box ATM terdekat deh. Ambil uang si pak bos sekalian liat berapa saldo si tuan itu." Muna bermonolog dalam hati sambil ketar ketir berharap tidak mendorong Scoopy merahnya sebab spedonya udah menunjukan huruf E di sana.
__ADS_1
"Haus ya ... Maaf ya neng. Mestinya sebelom kepasar tadi loe dulu yang minum, baru deh aye belanja. Yang kuat yaa..., jangan bikin aye ndorong." Muna mengelus kepala motornya penuh sayang berharap agar segera menemukan tempat mengambil uang.
"Bussyett dah..., banyak juga yang antri di mari. Terpaksa dah aye antri, demi menerapkan sila ke dua Pancasila, kemanusiaan yan adil dan beradap. Eh, bener ga sih?" Muna bergumam sendiri sembari berdiri di belakang 3 orang di depannya. Sambil menggulirkan benda pipih untuk sekedar membuka aplikasi membaca novel online yang baru-baru ini ia sukai.
Muna sudah berada di depan pintu box itu, artinya selangkah lagi ia lah yang berkesempatan untuk masuk mengambil uang di dalamnya.
Muna mengikat kembali rambut panjangnya, dan mulai melangkah ingin masuk. Tapi tangannya di tabrak seseorag dari belakang sambil berkata : "Misi ya dek, saya mau ambil duit di dalam" Ujarnya dengan cueknya menyelip Muna yang sudah rapi mengantri sejak tadi.
"Eh, mpok !! Loe kira dari tadi aye bediri di mari mau antri air wudhu. Ya ialah, aye juga mau ambil duit juga kali, budayakan antri, ngarti kaga mpok...?" marah Muna dengan ibu-ibu yang seenaknya mau mengambil giliran antrinya.
"Minggiiir...!!" Dengan cueknya Muna masuk juga dengan menabrak tubuh ibu-ibu tadi dan memasukan kartu yang memang sudah siap di tangannya.
"Iya tuh, si ibu main selonong aja. Ibu...ngulang antrinya dari belakang sana." Ujar seseorang yang tadi berdiri di belakang Muna. Membuat wajah ibu tadi, menoreh pias rona merah menahan malu pada wajah ibu tadi.
Kekacauan oleh ulah ibu tadi membuat Muna lupa akan rencana awalnya yaitu melihat isi saldo. Buru-buru ia mengambil uang sebesar 1jt, lalu segera keluar tanpa memperhatikan sisa saldo yang tertera di monitor ATM tersebut.
Muna gadis cantik berwajah blesteran namun selera lidah Betawi asli. Pagi itu seperti biasa ia selalu bangun pagi melaksankan sholat subuh kemudiann berjingkrak di dapur untuk menyiapkan makanan untuknya dan tuan Kevin.
"Kecambah wortel isian bakwan,
Tambah udang biar lebih bergizi.
Selamat pagi kawan-kawan,
Apa kabar kalian pagi ini?"
Muna menyapa empat orang yang sudah tampak hadir lengkap di depan pantry untuk melakukan breafing pagi sebelum berpencar ketempat tugas mereka masing-masing.
__ADS_1
"Pagi Muna tumben agak telat pagi ini?" kali ini Koco yang menjawab sapaan Muna.
"Lidi di ikat kawat biar kuat,
Memotong ikan di atas papan.
Muna hampir telat.
mohon di maafkan."
"Udah pantunnya, buruan baris kita berdoa bersama dulu." Jali mengakhiri sapaan Muna yang mungkin 2 jam tidak selesai-selesai urusan pantun.
Kemudian mereka pun sudah tampak tenang dan khusuk memulai doa demi kelancaran pekerjaan mereka selanjutnya.
"Kawan-kawan, siang nanti kita makan bersama di mari yak. Muna ada buatkan semur jengkol banyak tuh, ntar Muna juga masak nasi sebelum mulai kerja."
"Semur jengkol... iih. Aku ga bisa makan jengkol Mun. Bau mulut ntar." Ujar Monik.
"Tenang, yang kaga makan jengkol Muna siapin telor rebus dengan bumbu semur tadi. Gimana, oke kan...?" Jawab Muna.
"Ahssiiiyaaaap deh Muna cantik. Makin semangat kerja kalo begini. Mari teman-teman, selamat bekerja semua." Dengan penuh semangat Monik dan lainnya pun berpendar memulai aktivitas pagi mereka dengan suasana hati yang merekah ceria.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seseorang yang bersembunyi di bagian dalam ruang pantry tersebut, terjebak saat ingin membuat kopi. Namun tidak dapat keluar karena para OB di sana satu persatu sudah memasuki ruangan itu.
Bersambung...
#Ayoo...siapa yang tau siapa yang sembunyi itu??
__ADS_1
Tolong ya... like gratisannya di kondisikan demi OB cantik ini😁