OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 77 : BREAK


__ADS_3

Muna memang tampak masih betah mengunci mulutnya, seolah ingin mogok bicara pada Kevin. Walau tidak ia pungkiri, betapa hatinya mulai bercokolan dengan rasa rindu ingin bersenda gurau atau sekedar beraktifitas bersama dengan Kevin.


Muna tau masa lalu Kevin hitam bahkan kelam, tetapi ternyata hatinya berkhianat dengan logikanya. Rasa ingin selalu dekat, bahkan kesepian dalam keramaian saat tanpa Kevin atau sekedar tidak mendapat kabarnya saja, membuat ia resah dan gelisah.


Cintakah sudah Muna pa Kevin?


Tetapi bagaimana dengan suatu kenyataan bahwa pria yang berhasil mencuri bahkan sudah mulai memguasai hatinya dan membuatnya selalu ingin dekat ini, ternyata ayah dari bayi seorang wanita lain. Muna benci jika ingat hal ini.


Muna ingin di berikan bukti konkret bahwa itu adalah bohong. Tetapi bukan penjelasan yang ia dapat, justru berlindung dengan setumpuk pekerjaannya. Membuat jarak mereka semakin merenggang. Menghindar bukan solusi, hanya memperpanjang durasi dalam kesalah pahaman berkepanjangan. Muna masih bocah, masih ingin di kejar dan selalu di yakinkan, wajar bukan?


Kevin menepuk paha Muna dengan lembut, sebab sepertinya Muna begitu tenggelam dalam lamunannya sendiri. Yang sudah melanglang buana kemana saja, walau masih seputar tentang pria yang berada di sampingnya sekarang.


"Mae... tanyain Siska kita ke arah mana?"


Muna terkesiap dan tergugu. Menghela nafas sejenak untuk memgembalikan nyawa dan pikirannya piknik kemana suka.


Membangunkan Siska agar menjadi penunjuk, jalan mana yang menjadi tujuan mereka.


Rupanya Siska tidak tinggal di kota Bantennya langsung. Melainkan di sebuah desa Cikoneng Kabupaten Serang.


Pemandangan menuju desa Cikoneng sangat indah dan sangat sejuk, mata Muna di manjakan dengan sebuah hamparan pantai yang ada di sisi sejauh mata memandang. Hari pun telah menuju senja, jangan tanya betapa indahnya warna langit jingga kala itu, cantik dan begitu indah sempurna.


"Waaah... desa lu dekat pantai Sis?" Muna tak sanggup menahan keterpesonaannya akan indahnya bentangan alam yang tentu baru baginya.


"Iya... besok deh kita ke Pantai Anyer. Ini sudah tidak jauh dari tempat tinggalku." Jawab Siska antusias.


Sedangkan Kevin terlihat terkurung dalam rasa bingungnya. Melihat desa yang mereka susuri semakin kecil. Tentu saja ia tidak tau, bagaimana nasibnya, walau hanya sekedar untuk tidur saja malam ini.


Kini mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti di sebuah bangunan rumah sederhana, cendrung bisa di katakan kecil bahkan dari rumah keluarga Muna.


Dapat di lihat dari bangunan tersebut, Siska terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Menjadi buruh tani dan nelayan lepas adalah pekerjaan ayah dan ibu Siska wajar saja orang tuanya dapat terbelit hutang, sebab Siska memiliki 3 orang adik dan ia merupakan anak sulung dalam keluarga tersebut.


Siska sangat merasa segan dan malu sebenarnya dengan sebuah kenyataan jika kini justru CEO di kantornya yang datang mengantarnya pulang ke rumah. Sangat jauh dari perkiraannya.


"Maaf Mun dan pak Kevin. Apakah boleh saya masuk dulu sendiri ke dalam rumah? Sebab saya belum tau situasi di rumah ku sekarang." Pinta Siska saat mereka belum turun dari mobil Kevin.


"Tapi sekarang sudah magrib Sis." Jawab Muna yang sebenarnya tau, jika Kevin tentu sudah sangat lelah setelah menyetir dalam waktu yang lama.

__ADS_1


"Biarkan saja dia turun dulu. Kita cari langgar, masjid atau musholla dulu untuk sholat Mae." Kevin memberi solusi. Yang sesungguhnya ingin mencari tempat untuk sekedar mengencangkan kakinya barang sebentar.


Muna pun setuju.


Siska pun turun dari mobil melanjutkan langkahnya mendekati rumah yang sangat di rindukannya. Sekaligus menyelesaikan beberapa permasalahan yang ia buat sendiri sebelum meninggalkan rumah tanpa kabar berita.


Kevin dan Muna pun kini bahkan sudah menyelesaikan sholat mereka. Memarkirkan mobil di halaman sebuah mesjid, tentu akan lebih aman.


Keduanya pun memilih untuk berjalan kaki mencari warung makan terdekat untuk mengisi kampung tengah yang tentu sudah meronta, di kala matahari benar telah kembali keperaduannya mengarah ke malam akan tiba.


Sesaat Muna melupakan kekesalannya berhari-hari tanpa Kevin, tatkala kini bukan waktu yang benar untuk mereka membahas permasalahan mereka berdua.


Walau hanya makan di warung makan sederhana, Kevin tetap menunjukkan sisi romantisnya pada Muna, menarik kursi yang akan Muna duduki dan menyerahkan terlebih dahulu daftar menu makanan yang di sediakan di sana, untuk Muna pilih terlebih dahulu.


Mata Muna tertuju dengan menu sajian Sate Bandeng yang merupakan khas makanan di kota itu. Sedangkan Kevin yang memang penyuka daging lebih memilih sayur lada atau biasa di sebut dengan angeun lada punya arti "sayuran pedas". Tapi uniknya, makanan satu ini justru tak mengandung sayur. Sebab bahan dasarnya terdiri dari daging kerbau.


"Ibu... sayur ladanya pedes kagak?"


"Namana teh angeun lada, ya pedes atuh, neng." Jawab sang pemilik warung dengan logat bahasa Sundanya yang kental.


"Kagak bisa di kurangin gitu pedesnye...?" tanya Muna yang tentu khawatir dengan kondisi lambung Kevin.


"Bang... die ngomong ape ? punten antosan apaan?"


"Punten bukannya tolong...ya?


antosan apa ya... kalo atos kasar ...? Mungkin kita di minta jangan kasar, minta yang aneh aneh sama dia." Jawab Kevin asal-asalan.


"Haalllaaahhh...ini nih Muna cari di google bang. Artinye kite di suruh nunggu. Ha...ha...ha. Repot juge ye bang." Jawab Muna yang benar seolah lupa dengan marahnya.


"Kenapa tadi pesannya jangan pedes?"


"Ntar perut abang sakit lagi. Kite pan lagi di tempat orang. Ribet kalo abang pake acara sakit segale."


"Mae khawatirin abang niih ceritanya?" Goda Kevin yang sudah yakin Muna sudah tidak marah padanya.


Muna hanya buang muka, takut Kevin mendapati kulit pipinya yang memerah karena sedikit malu.

__ADS_1


"Mae... udah ga marah lagi kan sama abang?"


"Masih dikiiit."


"Percuma dong kita sholat tadi kalo marahnya lama sama abang."


Muna terdiam membenarkan dengan yang Kevin sampaikan.


"Ya ... masa Muna percaya gitu aje. Saat abang bilang entuh bukan anak abang. 3 bulan terakhir pan emang Muna kaga pernah liat sampah begituan, tapi pan abang masih pernah bawa cewek ke ruangan abang. Tuh, ngapain coba kalo kagak begituan. Lagian tuh cewek, ape iye mau aje pergi setelah di kasih uang. Tanpa maksa abang nikahin. Ude, ah bang. Nyesek Muna ngebayanginnye." Kesal Muna kembali datang mengingat kasus mereka yang masih menganga belum tertuntaskan.


"Maaf kemaren abang seolah menjauhimu, selain abang sibuk kerja, sebenarnya beberapa hari lalu abang..."


"Nikah ye... iye pan abang nikahin cewek itu pan. Ngaku deh bang." Potong Muna sekehendak hatinya.


Pletaakh


Jidat Muna berhasil di jitak pelan oleh Kevin.


"Bisa ga siih dengerin abang sampe selesai ngomong dulu?" Kevin sedikit terkekeh.


"Hapunteeen.


Silahkan atuh di nikmati seadanya." Ujar ibu tadi menyodorkan menu pesanan di atas sebuah baki berisi lengkap dengan minuman yang mereka pesan tadi.


"Terima kasih bu." Kevin melemparkan senyum ramahnya pada ibu tadi.


"Berantemnya kita break dulu ya Mae. Kita isi tenaga dulu biar kuat menghadapi kenyataan." Cengar Kevin dengan senyum di kulum. Seolah sedang menyimpan sebuah rahasia dan kejutan besar untuk Muna.


Bersambung...


Yaeelllaaah keburu 1k aje ini nulisanya🤭


Di lanjut yeee


Tenaaaang setelah ini mereka baikan.


Lopeeeh deh buat yang masih setia nungguin masalah ini kelar

__ADS_1


❤️❤️❤️🙏🙏🙏😘😘😘


__ADS_2