OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 154 : BOCAH LABIL


__ADS_3

Muna dan Kevin tampak masih betah berada di antara hamparan hijau tanaman teh di sekitar mereka. Anggap saja mereka seperti hama yang sedang betah hinggap di dedaunan teh di kebun itu.


Memilih duduk tanpa peduli, jika kini mereka hanya berada di atas jalan setapak di tepian belukar.


Muna terdiam tak mampu memaparkan isi hati yang sebenarnya.


Kevin sudah bertekad tidak lagi berani jatuh cinta. Menghindar kecewa dan tak ingin terpuruk dalam luka hati berkali-kali.


Maka kali ini ia kembali menegaskan meminta kepastian tentang perasaan Muna terhadapnya. Setuju bukan?


"Mae..."


"Iye bang."


"Sekali lagi dan mungkin ini yang terakhir kali. Abang hanya ingin jawaban yang jelas. Apakah Mae mencintai abang?"


Muna belum menjawab.


Masih memeluk kedua lututnya rapat dengan kedua tangan melingkar. Mulutnya masih terkunci, seolah patung orang-orangan sawah pengusir burung yang hendak mencuri benih.


"Terima kasih untuk kebersamaan kita selama ini. Maaf jika abang mungkin tidak seperti yang Mae mau. Sebab abang kira, Tuhan kasih Mae ke abang untuk memyempurnakan hidup abang. Ternyata abang salah." Kevin mengecup kening Muna pelan. Sembari berdiri bermaksud meninggalkan Muna dan tak peduli, Muna tau jalan pulang atau tidak.


Punggung Kevin sudah berlalu sempurna, meninggalkan Muna yang masih memilih diam dalam duduknya di atas jalan setapak.


Tap.


Punggung Kevin sudah di peluk sempurna dari belakang oleh Muna.


"Maafin Muna bang. Maaaaaf. Muna cinta ame abang. Muna juga kangen abang. Hati Muna juga kosong saat jauh dari abang. Abang selalu ada di hati Muna bang." Verbal Muna lancar terdengar tulus dari bibirnya. Mengundang senyum nakal di bibir Kevin yang sesungguhnya berbunga-bunga mendengar semuanya. Tapi, apa semudah itu hukuman untuk seorang bocah sekelas Muna?


"Tidak usah mengasihani abang, jika terpaksa. Tidak ada yang mengharuskanmu harus menerimaku." Datar dan dingin kata itu Kevin ucapkan, masih dalam posisi Muna memeluknya dari belakang.


"Abang maaf." Muna dalam posisi memelas di pada Kevin.


"Maaf di terima. Tetapi abang juga minta maaf. Jika Mae merasa hanya kasian menerima cinta abang selama ini. Abang bukan pengemis." Kevin berlagak akan meninggalkan Muna saja, ingin melihat sejauh mana Muna akan menahannya.


Muna melepas pelukannya memilih berjalan ke depan membalap laju tubuh Kevin.


Merentang kedua tangannya untuk menghalangi tubuh Kevin yang terlihat akan terus maju ke arah depan.


"Muna cinta ama abang. Bukan karena terpaksa, bukan karena sekedar kasian. Hanya maaf, kemarin sempet ragu. Saat kenyataan di hadapan Muna membuat posisi Muna serba sulit. Maaf... Mungkin abang lupa ude hampir menikahi seorang bocah." Dengan lantang Muna menyampaikan isi hatinya.

__ADS_1


"Terima kasih." Jawab Kevin masih seolah cuek dan terus saja berjalan maju menepis tangan Muna yang seolah menghalanginya. Kaki kevin seolah tegas tidak memperdulikan pengakuan Muna. Walau hatinya berbisik untuk segera memeluk lagi pujaan hatinya.


Muna gusar, merasa berang akan sikap cuek Kevin yang tetiba dingin, sedingin cuaca di kebun teh milik Asep.


Kevin sebenarnya lelah menahan dirinya, ia hanya sedang menggoda Muna sekaligus memberi pelajaran untuk bocah yang beberapa minggu lalu mempermainkan hati dan perasaannya.


Tanpa Kevin sangka sikap dingin dan cueknya mengundang aksi brutal dari Muna.


Muna sudah bagai menerkamnya kembali dari belakang. Melompat, menerjang punggung kokoh Kevin seperti posisi sedang bergendong, bagai bayi dan mengigit telinga Kevin dengan penuh rasa gereget.


"MAE... Apa-apain siih sakiit sayang." Kevin luruh, tidak sanggup melanjutkan sandiwaranya. Kevin sudah jadi bucin tingkat dewa. Mana sanggup ia melepas Muna begitu saja.


"Muna cinta abaaaang" teriak Muna di telinga Kevin lagi. Masih dalam posisi seperti ransel melungker di punggung Kevin.


"Ish... Abang belum budek, Mae." Kevin melepas paksa Muna dari punggungnya.


"Abang jangan marah."


"Abang tidak marah."


"Tapi abang ninggalin Muna tadi."


"Maaf abang sayang." Muna sedikit merayu dan tak berani memandang ke arah Kevin. Hanya menggeser memainkan ibu jari kakinya mengukir bentuk abstrak di jalan setapak di depannya.


"Coba saja Muna bayangkan sebentar jadi abang, sakit ga?" Kevin terus saja merusak suasana hati Muna, seolah ingin balas dendam akan sakitnya.


"Bilang sama Muna, ape yang harus Muna lakukan supaya abang kagak marah lagi ame Muna." Ujar Muna memberanikan diri memandang wajah tampan Kevin.


"Tidak ada." Jawab Kevin yang kemudian terus berjalan mendekat menuju pondok yang mulai semakin dekat.


"Abaaaang." Tangis Muna pecah. Memilih duduk berjongkok dan tidak ingin berjalan mengekori Kevin.


Mana Kevin tega melihat bocah itu tersedu, seolah benar telah menyadari kesalahannya.


Kevin memundurkan posisinya, mengulur tangannya ke arah Muna. Memilih mengalah memberi rasa nyaman pada gadis kesayangannya tersebut.


"Muna harus gimana supaya dapat maaf dari abang.?" tanya Muna penuh pemyesalan.


"Cukup ijinkan abang jadi satu-satunya orang yang bisa Mae andalkan untuk menjaga dan lindungi Mae saja. Jadikan abang belahan jiwa Mae. Tempat ternyaman untuk Mae mencurahkan segala isi hati Mae. Apapun yang Mae alami, dan terjadi dalam hidup Mae, jangan di pendam sendiri lagi. Dengan begitu, abang merasa menjadi orang yang lebih bermanfaat untukmu."


Cup

__ADS_1


Muna sudah berani menambrak pipi kanan Kevin dengan bibirnya terlebih dahulu. Entah di mana malunya. Etika dan takut dosa seperti yang digadangkannya selama ini, ia bahkan lupa yang di hadapinya adalah mantan buaya yang belum tentu sudah jinak.


"Heeiii.... Hilang 2 minggu dari abang si bocah sudah berani cium abang ternyata. Sana hilang 2 tahun, kali abang bakalan di perkosa oleh mu Mae." Kevin takjub sekaligus terkekeh sadar, sesadar sadarnya, bahwa benar yang kemarin membuatnya hampir gila adalah bocah labil.


"Abang ude maafin Muna pan?"


"Sudah abang bilang. Abang mana bisa marah sama Mae."


"Tapi... Tadi muka abang serem."


"Sudah ga usah di bahas. Dan jangan di ulang. Abang juga salah, sempat bentak Mae. Sehingga Mae sempat tidak merasa nyaman. Mulai sekarang... Kita lebih berkomunikasi dengan baik lagi sayang."


"Iye abangku sayang."


"Iih... Mau abang cicip aja itu bibir" ujar Kevin sambil menarik tangan Muna agar mereka bisa lebih dekat berjalan beriringan menuju jalan pulang ke pondok.


"Hmm..."


"Tenang... Itu baru mau. Belum saatnya. Ntar si bocah kabur lagi." Ujar Kevin yang sesungguhnya menahan diri untuk tidak melakukan hal lebih dari ciuman kening dan pegangan tangan saja.


Muna merasa lega, menyadari Kevin tetap memberi kesempatan untuk memaafkan kesalahan yang sungguh tidak di sadarinya.


"Bang... Katenye kerja abang di Singapura 2 minggu. Ini pan baru seminggu"


"Kerjaan no dua, dapetin bocah labil ini, sudah saingan sama belut sawah Mae."


"Iiish abang nyamain Muna ame belut."


"Ya emang... licin sayang." Gelak Kevin masih tak melepas pegangannya menuntun Muna kembali ke jalan yang benar dari ketersesatan jalan di kebun teh juga sempat riweh dengan perasaannya sendiri. Akibat pemikiran labilnya.


Bersambung...


Pegimane readers nyak otor tersayang?


Bisulnya ude pade pecah blom?


Maafin nyak otor ye


Muna n Kevin hanya wayangnya nyak. Sebab, nyak satu-satunya dalang di balik semua ini😂😂


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2